Kisah Penjual Tempe

19 Des

#Turn On 92

Selamat siang kawan. Siang ini di kotaku terlihat awan-awan mendung bergerak pelan. Sehabis diguyur hujan semalaman. Suasana siang ini masih adem, atau beberapa orang mungkin merasakan dingin. Yang jelas, apapun yang terjadi di luar sana, entah hujan, sehabis hujan, terang, ataupun panas yang kadang terik, itu semua merupakan lukisan dari Yang Maha Menciptakan. Semoga rasa syukur selalu ada dalam hati kita.

Siang ini, saya ingin menulis cerita tentang seorang nenek penjual tempe. Cerita yang pernah saya dengarkan di radio ini, kiranya akan memberikan pemahaman yang baik tentang rasa syukur bagi kita.

Alkisah, di sebuah desa di tepian gunung yang asri, tinggallah seorang nenek yang setiap harinya berjualan tempe. Hidup sang nenek sederhana sekali. Berjualan tempe untuk hidup hari itu dan juga untuk membeli bahan baku, berupa kedelai dan ragi, untuk berjualan esoknya lagi. Setiap hari melakukan hal yang sama. Tidak pernah mengeluh sekalipun. Tidak pernah. Rasa syukurnya, ibarat awan tebal yang membungkus hatinya, selalu bersyukur setiap waktu. Terhadap apa yang terjadi dan apapun yang telah diberi.

Suatu hari. Seperti biasa. Selepas menunaikan shalat malam, yang waktunya kira-kira sekitar satu jam sebelum masuk waktu shubuh, nenek itu memeriksa kedelai yang telah dimasaknya tadi malam. Biasanya, waktu-waktu seperti itu, sang nenek akan mendapati kedelainya telah berubah sedemikian rupa menjadi tempe yang siap di jual. Namun, waktu itu, nenek itu mendapati keadaan yang berbeda. Kedelai-kedelainya masih berbentuk kedelai dan ragi-ragi itu belum merubahnya menjadi tempe.

Nenek itu tentu saja kepikiran. Karena jika hari itu ia tidak berjualan, maka ia tidak akan bisa membeli bahan baku untuk membuat tempe sekaligus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hari itu.

Dalam lamunannya, ia berharap kedelai-kedelai itu akan berubah menjadi tempe. Waktu shubuh pun tiba. Setelah menutup kembali tempat yang digunakan untuk membuat tempe. Ia segera berwudhu, lalu menunaikan shalat shubuh. Setelah shalat, ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Permintaannya? Sungguh sederhana sekali kawan. Nenek itu hanya meminta agar kedelai-kedelainya bisa berubah menjadi tempe. Ia berdoa khusuk sekali, karena tempe-tempe yang akan dijualnya itulah satu-satunya hal yang mampu ia kerjakan.

Setelah berdoa, ia bangkit dan melihat tempat yang berisi kedelai-kedelai tadi. Sungguh ia berharap setelah berdoa dengan sangat khusuk tadi, doanya dikabulkan. Lantas, apa yang terjadi kawan? Apakah kedelai itu akan berubah sedemikan rupa menjadi tempe? Ternyata setelah penutupnya dibuka, kedelai itu masih berwujud kedelai. Belum berubah menjadi tempe yang ia kehendaki.

Nenek itu tidak patah semangat. Seperti mentari pagi yang selalu menepati janjinya. Untuk selalu datang sesuai waktu yang telah ditetapkan. Menyapa setiap makhluk di muka bumi dengan segenap kasih sayangnya. Memberikan pancaran sinar hangat yang memberikan kehidupan. Begitu pula dengan nenek itu. Ia pun bangkit, menepati janjinya untuk selalu bersemangat dalam hidup ini. ia berdiri, membawa tempe – atau calon tempe itu, menuju ke pasar yang setiap hari ia berjualan disana. Dalam perjalanan, terus saja ia berdoa. Tak henti-hentinya hatinya berdoa, semoga setelah sampai pasar nanti, kedelai-kedelai itu telah bersatu sempurna dengan ragi dan berubah menjadi tempe.

Separuh perjalanan ia lewati. Karena jarak yang harus ia tempuh ke pasar itu, bagi sebagian orang  mungkin dirasa jauh, namun bagi sang nenek, itulah jarak yang harus ditempuhnya setiap hari selama hidupnya. Kalian tahu berapa jaraknya? Hampir sepuluh kilometer setiap hari jarak yang harus ditempuh untuk sekedar menjual tempe, untuk sekedar menyambung hidupnya, untuk sekedar membeli bahan baku untuk membuat tempe-tempe selanjutnya. dan sepanjang jalan yang ia tempuh, tak sedikitpun keluhan yang keluar dari mulut sang nenek. Yang keluar dari mulutnya hanya ungkapan rasa syukur atas segala pemberianNya, dan kali tentu saja doa dan doa yang terus dipanjatkannya. Semoga tempe – atau calon tempe itu, bisa dijual pagi ini.

Dalam separuh perjalanan tadi, ia mencoba membuka sekali lagi tempat yang dibawanya, berdoa dan penuh harap akan mendapati tempe. Namun, seperti yang ia dapati di rumahnya tadi. Ia melihat di dalam tempat itu masih berupa kedelai yang belum sempurna bercampur dengan ragi. Masih belum berubah menjadi tempe secara utuh. Atau banyak orang bilang, itu merupakan tempe setengah jadi.

Nenek itu tidak patah semangat. Terus saja ia berjalan. Sambil berjalan ia terus juga berdoa, semoga sampai pasar nanti. Tempe setengah jadinya itu bisa menjadi tempe secara utuh. Setelah tiba di pasar. Mentari sudah naik lagi. sinarnya menghangatkan setiap makhluk yang ada di bawahnya. Ia bergegas menuju tempat biasanya berjualan. Duduk duduk disitu, berdoa lagi, berharap lagi,, semoga ia mendapati tempe dalam tempat yang dibawanya, yang masih ditutup dengan selembar kain. Setelah ia buka, ia mendapati tempe yang masih setengah jadi. Ia menghela napas. Hanya berharap doanya dikabulkan. dan hari itu, ia mendapati keadaan yang tidak seperti harapannya.

Apakah ia menyalahkan Sang Maha Pencipta, Kawan?

Tidak. Ia masih meyakini ada sesuatu yang akan terjadi walaupun itu entah apa. Yang jelas ia hanya yakin, doanya pasti dilkabulkan. Hanya saja mungkin dengan cara yang berbeda. Ia tetap berjualan pagi itu. seperti biasanya. hanya saja, pagi itu ia menawarkan dagangannya berupa tempe yang setengah jadi. Tentu saja kebanyakan calon pembeli mencari tempe yang sudah jadi. Ia hanya berharap ada hal baik yang datang baginya. Ia terus meletakkan keyakinan itu di dalam hatinya.

Mentari semakin naik. Para pembeli yang datang ke pasar sudah banyak yang pulang. Begitu juga dengan teman-temannya sesama penjual tempe, dan beberapa penjual yang lainnya. Ia masih disitu. Dan masih berharap.

Sempurna mentari berada di puncak hari. Hanya tinggal hitungan jari tangan para penjual yang masih berada di pasar, itupun sebagian besar dari mereka sudah berkemas-kemas, mau pulang. Dan nenek itu? dagangannya masih utuh. Belum terbeli sama sekali. Nenek itu hampir juga mau mengemasi barang dagangannya. Mungkin hari ini memang belum laku. Tapi ia juga berfikir bagaimana untuk membuat tempe esok lagi? bagaimana ia bisa mencukupi kebutuhan hidupnya hari ini? Apakah memang Sang Maha Pencipta tidak mengetahui hal ini? oh, kawan, masih banyak rahasiaNya yang belum kita ketahui.

Ketika sang nenek hampir mengemasi dagangannya. Datanglah seorang wanita paruh baya. Datang ke tempat ia berjualan.

“Apakah nenek menjual tempe?”, tanya ibu itu.

“Iya Nak”, jawab sang nenek.

“Eh, maksud saya, apakah nenek menjual tempe yang belum jadi, atau  tempe yang setengah jadi?, soalnya saya mencari tempe setengah jadi daritadi belum dapat, dari ibu-ibu yang menjual tempe di seberang sana (sambil jarinya menunjuk), ada seorang penjual tempe yang tempenya belum jadi, jadi saya kesini”, ibu paruh baya itu bertanya sekaligus menjelaskan keadaan.

“Oh, iya Nak, saya memang menjual tempe, dan hari ini saya mungkin kurang beruntung, tempe yang akan saya jual masih berbentuk kedelai-kedelai yang belum sempurna bercampur dengan ragi. Jadilah tempe ini masih setengah jadi”, nenek itu kembali menjawab pertanyaan ibu paruh baya itu.

Wajah ibu itu tiba-tiba tersenyum, seperti mendapatkan apa yang sudah lama ia cari, dan memang keadaannya demikian, ia menemukan apa yang ia cari daritadi.

“Alhamdulillah, akhirnya saya menemukannya. Sudah dari tadi saya mencari tempe yang setengah jadi, Nek. Anak saya sore ini akan berangkat lagi ke London, untuk melanjutkan kuliahnya, dan ia meminta kepada saya untuk dibawakan tempe. Tentu saja kalau saya membelikan tempe yang sudah jadi, maka setiba disana akan menjadi busuk. Maka saya mencari tempe yang belum jadi dengan harapan akan menjadi tempe yang bisa dinikmati disana. Anak saya dan kawan-kawannya.”

“Kalau nenek boleh, saya ingin membeli semua tempe-tempe setengah jadi ini. Saya juga akan tambahi uangnya sebagai bonus, karena hanya nenek yang menjual tempe dalam kondisi setengah jadi ini.”, ibu paruh baya itu melanjutkan penjelasannya.

Sang nenek terdiam, matanya sungguh tidak bisa ditahan untuk berkaca-kaca. Berulang kali hatinya mengucapkan syukur yang tak terhingga.

“Bagaimana, Nek, Boleh saya beli?”. Ibu itu memecah lamunan sang nenek.

“Iya Nak, kamu boleh membeli semuanya”, jawab nenek dengan mata berkaca-kaca.

Begitulah cerita nenek penjual tempe yang pernah saya dengarkan. Begitulah mekanisme kerja berdoa. Tidak serta merta segala doa kita lantas dikabulkan seperti apa yang kita minta. Ada hal-hal yang menjadi rahasianya yang belum kita ketahui. Salah satunya tentang cerita nenek tadi.

Hal ini, insyallah menarik untuk kita pikirkan bersama. Semoga bisa memberikan pemahaman baik kepada kita.

Selamat siang, Kawan.

Batam, 19 Desember 2013, 12.44 PM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: