Selamat Datang Lembar Baru

13 Des

#Turn On 91

“Bahwa sesedih apapun hal yang telah terjadi, kehidupan harus berlanjut, .…”

Malam datang membungkus Kota ini. Malam kesekian semenjak kota ini diresmikan semenjak 184 tahun silam. Ah, kenapa saya tahu itu?. Barusan saya membacanya di sebuah baliho besar di tepi jalan. Dengan wajah-wajah petinggi di kota ini. Senyum merekah diantara mereka, yang terpampang disitu, terlihat oleh semua pengguna jalan. “Selamat malam warga-wargaku, kota ini sudah berusia 184 tahun, lihatlah, kota ini semakin ramai saja”, barangkali itu maksudnya dari senyum yang berbinar-binar di wajah yang hampir bulat itu

Malam kesekian semenjak saya menikmati keindahan setiap pergerakan bulan yang semakin mendekati posisi sempurnanya. Posisi purnama. Hal ini selalu saya tunggu. Belum purnama saja saya sudah suka. Apalagi kalau sedang purnama. Ah, waktu yang sedemikian entah mengapa terasa sangat cepat berlalu. Bagai peluru yang ditembakkan dari sarangnya. Cepat melesat. Setelah purnama lewat, perlu satu bulan lagi saya menunggunya. Tidak mengapa. Karena setiap purnama tiba, semua penantian itu selalu terbayar.

Oh ya, mengapa saya memulai tulisan ini dengan kalimat seperti itu. tentu ada maksudnya. Lebih tepatnya, saya akan mencoba merangkai kata selanjutnya untuk meneruskan maksud potongan kaimat itu.

Tadi pagi, setelah hampir tiga hari menenggelamkan diri dalam cerita Borno dan Mei dalam novel Tere-Liye yang berjudul “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah”. Alhamdulillah pagi tadi saya menyelesaikannya.

Kalau ada teman yang kecanduan main game, atau waktunya seakan takluk oleh tontonan di layar kaca, boleh jadi saya terpesona dengan rangkaian kata yang ditulis oleh penulis yang memiliki nama pena Tere-Liye ini.

Baru tiga hari yang lalu mulai membaca, setelah sebelumnya saya menyelesaikan novel “Ayahku (Bukan) Pembohong” yang juga dari penulis yang sama, insyaallah lain kali saya share beberapa pesan moral yang juga tak kalah menarik. Saya terasa seperti terhipnotis untuk terus membacanya. Hanya saja saya juga harus bekerja, jadi harus bagi waktu juga kapan harus bekerja, kapan berduaan lagi dengan dongeng-dongeng ini.

Kisah yang dimulai dengan keingintahuan seorang anak yang bernama Borno, yang tinggal di tepian sungai Kapuas. Menanyakan kepada siapapun yang dikenalnya tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan kalau kotoran hasil buang hajat seseorang di hulu sungai Kapuas bisa sampai ke muara. Hal ini saya sudah merupakan intro yang menarik bagi pembaca seperti saya.

Lalu deskripsi tempat dan budaya di sekitar sungai Kapuas. Tentang nama kota disana, yang saya juga baru tahu, ternyata kota Pontianak itu sebetulnya nama kota yang seram. Kita semua tahu, bahkan legenda hantu atau makhluk serigala jadi-jadian yang ada di luar sana saja, nama kotanya tidak ada yang diberi nama sesuai dengan nama hantu atau makhluk gaib yang ada disana. Seperti kota Vampir, kota Drakula, bahkan kota Manusia Serigala. Lah ini, nama kotanya diambil dari hantu yang konon bernama hantu Ponti yang telah ditakhlukkan oleh penguasa di zaman dahulu kala. Nama Pontianak mungkin mirip-mirip dengan kuntilanak, dan sejenisnya. Haha. baru sampai bab satu saja saya sudah tersenyum-senyum sendiri. Memang ada-ada saja ide yang muncul dari penulis yang satu ini.

Kisah berlanjut tentang anak Borno yang selepas masa SMA harus kesana kemari mencari kerja. Pontang panting dengan membawa map dan berkas-berkas untuk melamar kesana kemari. Mulai dari bekerja di pabrik karet, diceritakan baunya yang khas dan tidak mudah hilang, lalu ditawari mengurus sarang iler burung walet, ia tidak mau, takut sama binatang satu ini, lalu menjadi tukang penyobek tiket karcis di dermaga feri, baru tiga hari tidak kuat karena tahu teman-temannya curang dalam bekerja, hatinya menolak melanjutkan, dan yang terakhir, ia menjadi pengemudi sepit (dari kata speed, perahu motor tempel yang ada di sungai Kapuas). Disinilah cerita itu dimulai.

Cerita dilanjutkan tentang bagaimana kesedihan mengungkung hati dan pikirannya, tatkala ia masih sepuluh tahun, bapaknya yang sangat tangguh dalam menghadapi situasi di lautan, entah badai, kapal yang dikemudikan terbalik, dan hal-hal ekstrem lainnya. Namun, suatu hari, bapaknya jatuh pingsan setelah tersengat ubur-ubur, lebih tepatnya terkena racun dari hewan yang mirip agar-agar itu. bapaknya dilarikan ke rumah sakit, Borno berteriak bahwa ayahnya masih bisa diselamatkan, namun sesuai dengan yang diceritakan, ayahnya malah mendonorkan jantungnya, karena saat itu sudah didiagnosa oleh dokter yang menanganinya bahwa bapaknya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Namun Borno masih tetap bersikeras bahwa bapaknya masih bisa sadar kapan saja.

Akhirnya?.

Jantung itupun akhirnya didonorkan, dengan syarat keluarga yang diberikan jantung itu tidak boleh mengetahui alamat pendonor. Borno yang masih sepuluh tahun. Anak yang belum masuk masa baligh itu. sudah merasakan sebuah kehilangan anggota keluarganya, yang paling dekat dengannya setelah ibunya. Ia kehilangan bapaknya.

Dari sini, cerita demi cerita berlanjut. Sesedih apapun kehidupan yang telah terjadi, maka kehidupan itu sendiri harus berlanjut.

Setelah pekerjaan demi pekerjaan ia cari. Masuk, tidak cocok, lalu keluar, cari lagi, tidak cocok lagi, keluar lagi. akhirnya ia menjadi pengemudi sepit. Hari demi hari dilaluinya. Bertemulah ia dengan seorang gadis yang ‘sendu menawan’ itu. Gadis keturunan cina itu meninggalkan sebuah angpau  di sebuah amplop merah di dasar sepit. Ia merasa harus mengembalikan amplop itu. Jangan-jangan yang punya nanti mencari. Ia kesana kemari mencari alamat gadis itu. lama dicari tidak ketemu. Pencarian dihentikan, gadis itu malah tampak di dermaga penyebrangan. Terihat sedang membagikan angpau beramplop merah yang dikira sama yang dipegangnya, dikira biasa-biasa saja, namun ini adalah inti dari semua cerita ini. Karena hal ini disampaikan di bab paling terakhir dari seluruh rangkaian cerita ini.

Tokoh-tokoh berlatar budaya berbeda menghiasi jalan cerita. Mulai dari Borno sendiri, bujang yang paling lurus di tepian sungai Kapuas, asli daerah asal, lalu ada Pak Tua, asli Jawa, orang yang memiliki hobi mengemudikan sepit, setelah masa mudanya dihabiskan untuk berkeliling dunia, ada Cik Tulani, orang melayu yang berjualan nasi pindang ikan, ada Koh Acong, orang keturunan yang berjualan di toko kelontong, ada Bang Togar, orang asli medan yang juga menjadi anak angkat kepala suku Dayak, hal ini dilakukan karena ia cinta mati dengan perempuan suku dayak yang bernama Unai, ia harus menjadi orang Dayak juga, tidak boleh menjadi orang asing jika ingin mempersunting perempuan asli Dayak itu, akhirnya dia menginap di salah satu kampung suku dayak selama dua tahun, yang akhirnya ia bisa menjadi orang dalam, lalu ada orang bugis, Andi dan bapaknya yang menjadi montir di bengkel dalam cerita ini.

tidak lengkap jika tokoh Mei tidak saya sebutkan. Mei, nama panggilan masa kecilnya, gadis keturunan yang “sendu menawan”, merupakan intisari seluruh kejadian dalam cerita ini, memang tidak melulu tentang kesedihan, saya nanti dikira terlalu melebih-lebihkan bagian “kesedihan” ini malahan. Cerita tentang perasaan, cerita tentang cinta, juga mendominasi cerita dalam kisah ini. semua itu dibalut halus oleh sang penulis, dengan penuh pesan moral, tidak merendahkan siapapun, dan yang paling saya kagumi, cara penulis untuk menyampaikan pesan untuk selalu menjunjung tinggi kehormatan perempuan. Ah, saya jadi malu. Banyak sekali kesalahan yang pernah saya lakukan jika merenungi kalimat-kalimat dalam novel ini.

ada juga Sarah, seorang dokter gigi lulusan Jakarta yang membuka praktik di tepian sungai Kapuas. Saya kira tokoh ini biasa saja, namun, setelah melanjutkan bacaan, tokoh yang satu ini malah menjadikan cerita semakin hidup, bapak Sarah sangat berhutang budi terhadap keluarga Borno, termasuk keluarga besarnya. Hidup bapaknya terselamatkan, dengan bertambah Sembilan tahun, akibat kemuliaan hati bapak Borno. Ah, cerita ini memang punya banyak sekali pesan moral.

Bab “Hadiah Buku Memang Selalu Spesial” menjadi salah satu bab favorit saya. Saya jadi mengerti betapa sayangnya orang yang memberikan sebuah buku kepada yang diberinya. Betapa orang itu berlama-lama dengan berbagai buku yang ada di toko buku, memilih dan memilah, apakah buku ini pantas diberikan, apakah buku ini bisa berguna, apakah buku ini bisa memberikan hal yang baru bagi si dia. Aduh, betapa spesialnya hadiah buku itu.

Cerita tentang perasaan memang menarik untuk diceritakan.

Oh ya, rasa-rasanya tulisan di awal dengan di bawah kok agak kurang nyambung ya. Hehe. ada hal lain juga, terkait dengan kalimat pembuka, bahwa sesedih apapun hal yang telah terjadi, kehidupan harus berlanjut. Begitu juga dengan kita. dalam keseharian kita, dalam kegiatan apapun kita. Mulai dari kejadian demi kejadian yang menyakitkan. Mengirim lamaran yang belum dapat panggilan. Membuka usaha kok malah sepi.  Masuk pendidikan lagi kok ya tugasnya ampun-ampunan. Termasuk kehilangan anggota keluarga, termasuk juga anggota keluarga besar. Semua pasti merasa sedih. Kecewa. Pilu. Sakit hari. Namun kawan, hidup ini harus terus berlajut. Masih banyak hal yang bisa dilakukan. Masih banyak hal yang bisa dipikirkan, selain hanya diam, depresi, meratapi nasib yang terasa kelam terus, cahaya entah dimana. Hidup ini sungguh sangat disayangkan jika hanya meratapi kesedihan semata. Layaknya cerita Borno dalam novel ini.

Nah, penutup catatan kali ini, saya akan mengutip kalimat di sampul belakang novel,

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuhnya saja dari mereka pernah jatuh cinta, setidaknya aka nada satu miliar lebih cerita tentang cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, berharap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Selamat beristirahat kawan, terima kasih bagi yang menyempatkan diri membaca catatan-catatan saya, semoga keberkahan selalu menaungi kita semua, dimanapun kita berada.

Batam, 13 Desember 2013, 12.16 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: