Makhluk Malam

10 Des

#Turn On 89

Malam ini bulan menyabit. Mendekati bulan baru lebih tepatnya. Bintang gemintang bertaburan, disana, disini, beberapa membentuk pola yang telah dipelajari oleh mereka yang bepergian lewat laut. Berpetualang dengan mengandalkan petunjuk yang telah disediakan. Rasi bintang. Mungkin itu salah satu dari sekian banyak Mahakarya Sang Maha Kuasa yang tampak di langit malam.

Bulan yang menyabit mengabarkan bahwa malam akan beranjak menjadi pagi. Ya, sebentar lagi tengah malam akan menyerahkan jadwal jaganya kepada dini hari. Menemani setiap makhluk yang menikmati gelap malam sebagai selimutnya. Setelah seharian diterpa hangatnya mentari yang menemani setiap hal yang dilakukan. Entah yang belajar, bekerja, ataupun keduanya. Banyak yang menikmati waktu yang hampir tengah malam seperti ini untuk beristirahat. Hanya makhluk-makhluk malam yang belum mengatupkan kelopak matanya. Belum bergabung dengan mereka yang sudah mulai menarik selimut dan mematikan saklar lampu yang sering berada di sebelah pintu masuk kamar.

Dari sekian banyak makhluk malam yang diciptakan olehNya, sekarang, saya pun bergabung dengan komunitas ini. Setelah hampir empat minggu terakhir terbiasa dengan jadwal jaga siang. Kehidupan saya seperti dibalik. Siang digunakan untuk bekerja. bersama tim melakukan berbagai pembedahan dengan dokter bedah. Malam harinya tidak bisa langsung tidur, atau kadangkala, saat jaga oncall, bisa ikut operasi yang terkadang juga bisa semalaman berdiri yang tidak jarang sampai pagi.

Salah satu kebiasaan saya kalau malam semakin larut adalah menghambur keluar. Memandangi bulan.  Saya suka berlama-lama memandang bulan yang setiap hari seakan berubah bentuknya. Dan tentu saja paling menyenangkan melihat bulan yang sedang berada diantara tanggal empat belas sampai enam belas. Bulan purnama yang mengobati segala kelelahan.

Dari awal bulan yang terlihat malu-malu untuk menampakkan dirinya. Hanya terlihat sedikit semburat yang tampak. Malu untuk dilihat banyak orang. Keindahannya terus tampak seiring hari demi hari yang mengiringinya. Mulai menyabit. Berbagai cerita didongengkan oleh para orang tua. Adanya bidadari yang duduk di pangkuan bulan sabit. Saya sering memandanginya, hanya saja belum pernah melihat bidadari itu. Hehe.

Lalu, puncak dari keanggunan dari 30 hari bulan menemani bumi mengitari matahari. Bulan purnama. Apalagi kalau bulan sedang berbaik hati, menampakkan dirinya agak rendah ke bumi. Sungguh, terlihat lebih besar. Kalau sudah seperti ini, air-air di lautan pasang dengan ketinggian lebih daripada biasanya. keceriaan saya juga bertambah daripada hari-hari biasanya.

Memandang bulan. menjadi saah satu obat paling mujarab untuk menghilangkan rasa letih setelah ditempa berbagai kegiatan seharian.

Pernah, suatu malam saat saya pulang dari operasi. sekitar pukul dua dinihari. Setelah jaga siang dan lanjut operasi cito yang mengharuskan saya melanjutkan operasi sampai selesai. Letih terasa. Capek menggelayut di badan. Seakan bahu kanan dan kiri terasa lebih berat daripada biasanya. Namun. Malam itu, langit berbaik hati, menyimpan awan mendung dan menampakkan bulan purnama yang terlihat merekah. Anggun. Hati saya luluh. Melihat bulan yang seakan tahu bahwa saya sedang letih. Menemani sepanjang perjalanan. Perjalanan yang memang sebetulnya singkat menuju asrama semakin tidak terasa. Ah, bulan purnama, saya selalu menyukainya.

Saya semakin gembira karena tahu ternyata Tere Liye telah membuat sebuah novel yang bercerita dengan hal yang kurang lebih serupa. Saya baru selesai membacanya dua minggu yang lalu. “Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” judulnya. Berkisah tentang Rey. Anak panti asuhan yang pada masa tuanya menjadi pemilik salah satu imperium bisnis yang menggurita.

Lima pertanyaan dan lima jawaban yang diceritakan dengan cerita yang membuat pembacanya akan menemukan pesan moral yang kuat. Sebuah bacaan yang akan menggiring pemahaman menjadi baik. Dan yang paling utama. Sekeras apapun cobaan hidup yang dialami oleh Rey. Kebiasaannya memandang rembulan tidak pernah hilang. Sampai masa tuanya. Bahkan, rasa terima kasihnya kepada Sang Pencipta, karena adanya bulan yang indah, yang membuat dirinya mendapatkan kesempatan untuk lima jawaban dari lima pertanyaan yang paling ingin ia tanyakan sepanjang hidupnya. Termasuk didampingi oleh “Gigi kelinci”nya.

Kepenatan setelah bekerja. keruhnya pikiran dan hati akibat bergeseknya omongan yang kadang membuat hati menjadi ternoda. Seakan semuanya luluh oleh bulan yang tampak menggantung di langit malam.

Segala kesedihan, perjalanan yang sulit, sama seperti malam yang gelap, pasti akan ada pagi terang yang menjemputnya.

Sebuah pesan dari orang bijak menutup catatan saya kali ini,

***

Mau seberapa menyakitkan sebuah kejadian, jika kita mempunyai hati selapang lautan, ditumpahkan racun paling mematikan se-kontainer sekalipun, tetap akan larut, tidak terasa.

Tetapi kalau hati sempit, satu tetes berbisa saja cukup untuk membuat kita ‘binasa’ sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan.

Melapangkan hati adalah pekerjaan yang panjang, perlu latihan, berkali-kali jatuh-bangun, dan jelas membutuhkan ilmu dan pemahaman yang baik. Tidak mengapa gagal, besok lusa tidak terasa hatinya sudah semakin luas.

***

Semoga menjadi baik untuk difikirkan.

Oh ya, adakah yang menikmati indahnya bulan malam ini?

Batam, 8 Desember 2013, 00.20 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: