Hati yang Cukup

26 Nov

#Turn On 85

Sebuah keadaan yang terus berulang, setiap hari, dan tentu saja sebagian dari kita tentu ada yang memperhatikan, ada juga yang kurang memperhatikan. Matahari terbit dari sebelah timur dan tenggelam di arah barat. Setiap hari, matahari ini memberikan pancaran sinarnya yang luar biasa. Kalau dihitung secara ekonomis, entah, manusia mana yang mampu menukar manfaat yang diberikan oleh sang Surya ini. Tidak ada. Hal ini telah dicukupkan kepada kita.

Rembulan yang amat indah di malam hari. Apalagi kalau pertengahan bulan. Purnama menghiasi langit, juga menghiasi hati setiap manusia yang memandangnya. Bulan mengalami perubahan dari terlihat sedikit di awal bulan, menjadi sabit, menjadi separuh lingkaran, dan kemudian menjadi bulat sempurna. Rembulan yang menjadi sahabat bagi mereka yang akan melaut dan melanglang buana. Menjadi pertanda pasang surutnya lautan yang luas. Hal ini juga telah dicukupkan kepada kita.

Pepohonan yang menghijau. Apalagi di Nusantara yang konon katanya menjadi paru-paru dunia ini. apa yang bisa menandingi udara segar yang diberikan dedaunan hijau yang setiap hari menghiasi hari-hari kita?. Coba perhatikan di sekitar kita, bagaimana orang-orang membayar lebih hanya untuk udara yang diberikan lewat tabung-tabung penampung oksigen itu. Karena sudah kesulitan menghirup udara dari alam bebas. Udara yang ada di sekitar kita ini. Juga telah dicukupkan untuk kita.

Air yang menjadi komponen terbesar di alam ini. Lebih dari tujuh puluh persen isi bumi ini adalah air. Air yang sesuai dengan siklusnya, secara teratur menyegarkan berbagai belahan bumi ini. Menjadi salah satu hal penting dalam keseharian kita. Belum pernah ada kabar yang menyebutkan adanya makhluk hidup yang mampu bertahan tanpa adanya air. Hal ini sangat terasa sekali tatkala air di rumah kita tiba-tiba mati. Ada perbaikan saluran air semisal. Oleh Sang Maha Pencipta. Hal ini juga telah dicukupkan kepada kita.

Sama halnya dengan berbagai anugrah alam yang telah diberikan kepada kita. adanya orang-orang yang mampu memberi teladan, yang selalu mengingatkan, yang sering memberikan pelajaran tanpa berharap apapun, mereka ada di sekeliling kita. Ilmu yang mereka miliki terpancar ke sekeliling tiap mereka berada. Hanya saja, kita yang sering kurang peka terhadap hal ini. Sensitivitas indra kita terhadap hal ini terlalu rendah. Banyak yang mereka pancarkan, namun hanya sedikit yang mampu kita terima. Baru menerima, belum memahami. Begitu banyak kegiatan yang membuat hati kita menjadi bebal. Hal ini juga sebenarnya telah dicukupkan kepada kita.

Masih banyak hal lainnya yang sebenarnya dicukupkan kepada kita. Hanya saja, terkadang sikap kita ini seperti ikan yang lupa terhadap air. Lupa bahwa setiap hari air itulah yang memberikan kehidupan bagi sang ikan. Namun, entah mengapa, ikan ini bahkan lupa kalau air ini ada. Hal yang ada di sekeliling kita yang malah menjadi hal pertama yang kita lupakan. Menjadi salah satu hal utama yang malah sering kita tidak pahami.

Mengapa demikian?. Semua kembali kepada pilihan. Sekali lagi, kabar baiknya, kita bisa memilih. Apakah kita akan memilih akan merasa cukup, ataukah selalu merasa kekurangan.

Ada sebuah sajak dari Tere Liye yang berjudul “Cukup adalah cukup” yang mengilhami saya untuk menulis catatan ini. silahkan disimak.

***

Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang

Bukan semakin manis buah yang diperoleh

Melainkan busuk dan berulatlah dia

Ketika satu hamparan sawah dibiarkan terlalu matang

Bukan butir padi gemuk yang didapat

Melainkan gugur ke tanah butir-butirnya

Ketika kita masak mie rebus, terlalu matang

Bukan mie lezat yang terhidang

Melainkan mie besar-besar atau malah hancur

Cukup adalah cukup, Teman

Dalam situasi yang tepat, takaran yang jitu

Prinsip ini justeru bisa menyelamatkan kita dari situasi berlama-lama

Menyakiti diri sendiri, tidak bergerak maju-maju

Cukup adalah cukup, my man

Dalam situasi tertentu, kondisi terbatas

Prinsip ini justeru amat berguna

Agar kita bisa menutup lembaran lama

Untuk memulai lembaran baru

Dan berharap, semoga yang terbaik akan menggantikan

Pun ketentraman dan kedamaian akan tiba

Sungguh,

Ketika sebutir buah mangga dibiarkan terlalu matang

Bukan semakin manis buah yang diperoleh

Melainkan busuk dan berulatkah dia

***

Semoga Yang Maha Kuasa memberikan rasa cukup pada hati kita, pada hidup kita. Sungguh, hati yang cukup akan lebih tentram daripada yang terus merasa kurang. Walaupun terkadang oleh orang lain, ia terlihat berlebih materinya. Berlebih harta bendanya.

Begitu banyak diberitakan oleh media. Betapa banyaknya orang yang materinya terlihat sudah melimpah, namun karena hatinya belum merasa cukup. Akhirnya ada saja yang masih mengambil yang bukan halnya.

Begitu juga dengan kita. ada satu hal yang paling berharga di dunia ini. Yang oleh Sang Maha Kuasa, pemberian ini jumlahnya sama. Tidak dibedakan. Baik orang berada maupun kurang berada. Baik orang sehat maupun orang yang sedang sakit. Siapa saja. Hal ini adalah waktu. Namun, Kawan, segala hal ihwal tentang waktu ini sepenuhnya adalah rahasia langit. Hanya Sang Maha Kuasa yang mengetahuinya. Hanya saja, sekali lagi, kita bisa memilih. Menyibukkan diri dengan menggunakan waktu dengan bijak, ataukah hanya melauinya tanpa ada bekas sama sekali. Mempergunakannya dengan baik, ataukah menganggap ini tidak berguna sama sekali.

Ini menarik untun kita pikirkan, Kawan. Selamat malam, selamat beristirahat bagi Kawan semua. semoga hari esok senantiasa lebih baik.

Batam, 26 November 2013, 11.27 PM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: