Benci, Tapi?

23 Nov

#Turn On 84

Hari sabtu pagi yang adem, maklum, habis hujan deras shubuh tadi. Sekarang suasana di luar masih ke abu-abuan. Kalau suasana lagi seperti ini,memang tidur-tiduran serta bermalas-malasan di atas kasur kadang jadi enak sekali. Apalagi jauh dari rumah. Wah. Bisa menjadi-jadi.

Sesekali memang tidak apa-apa. Itupun saya sering kalah dengan rasa kantuk di pagi hari, apalagi kalau habis sarapan, haha. Namun, itupun ada pengecualian semisal habis jaga malam atau operasi semalaman, tidur jam segini akan menjadi hal yang penting. Kalau tidak tidur, wah, bisa kacau sekali nanti jadinya.

Baik, itu tadi intermezzo sedikit. Saya tidak akan panjang-panjang menceritakan tentang tidur pagi. Toh, sudah banyak yang menjelaskan. Secara garis besar, tidur di kala pagi memang kurang baik. Itu yang saya pahami dari kecil. Itu karena di daerah asal saya dulu mayoritas pekerjaannya adalah pekerja yang bekerja di waktu pagi. Semisal guru, petani, karyawan kantor, dan saya sangat asing dengan profesi perawat yang sedang saya jalani ini.

Namanya orang berinteraksi, dimanapun ia berada. Entah yang sedang di tempat sekolah ataupun di tempat pekerjaan. Pasti ada saja yang terjadi. terkadang, kita suka dengan kawan kita, lain hari, bisa juga kita kurang menyukainya. Wajar. Saya kira semua orang pernah mengalaminya. Dan inilah salah satu hal yang menjadi pembelajaran untuk kita dalam bersikap.

Mengapa demikian?. Saya ingat pendapat salah satu orang bijak, “Jangan sampai kebencian kita kepada orang lain menutup hati kita untuk memandang kebaikan yang dimilikinya”.

Nah, ini yang kurang baik. Kadang kalau sudah benci terhadap orang lain. Hati dan pikiran kita akan menjadi egois. Hanya melihat dari sisi yang dibenci saja. padahal, walaupun demikian, masih tetap ada sisi baik yang dimilikinya.

Terkait dengan hal ini, saya membaca sebuah kultwit bagus yang akan memberikan pemahaan baik bagi kita semua. Sebuat kultwit dari Gus Awy, dengan nama akun Twitter @Awyyyyy, bagi yang punya twitter silahkan berkunjung, Insyaallah banyak pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai hal yang dibahas.

Kultwit dengan Judul “Kebaikan Fir’aun” ini, insyaallah akan membuka wawasan kita tentang salah satu kebaikan orang yang mungkin kita kenal dari sisi kurang baiknya saja. Silahkan dibaca.

***

Mungkin sebagian teman dan sesepuh agak gerah dengan twit-twitku beberapa waktu terakhir ini, kok terasa begitu keras. Tidak seperti biasa. Ya, mohon dimaklumi saja sebab siapapun selama dia itu manusia maka pasti memiliki dua (atau beberapa) sisi. Meski tingkatannya berbeda-beda.  Tidak ada ceritanya manusia itu seluruh sifatnya lembut. Tidak ada juga manusia yg seluruh sifatnya kasar/keras. Pasti ada keduanya. Hanya saja di antara kedua sifat yang bertentangan itu, mana yang lebih dominan dalam pribadi tiap-tiap manusia.

Oke, sebelum aku masuk pada hal yang ingin aku bicarakan, sedikit aku akan bercerita. Baru saja aku baca hadits menarik di Syu’abul Iman. Kita tak usah membicarakan bagaimana status hadits yang akan aku sampaikan, itu persoalan teknis. Yg penting adl pelajaran besarnya. Hadits unik ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, salah satu pionir dalam dunia ilmu hadits.

Setiap orang Islam pasti tahu siapa sosok antagonis yang tersebut abadi dalam al-Qur’an dg segala kesombongan & kejumawaannya, Fir’aun. Jika disebutkan kata Fir’aun, maka segera terlintas dalam benak kita segala predikat dan track record buruk. Ikon kejahatan dlm sejarah. Segala sepak terjang kesombongannya yang luar biasa terekam dlm al-Qur’an. Bagaimana juga cara Nabi Musa menghadapinya.  Hingga kematiannya yang tragis di telan oleh Laut Merah setelah laut itu terbelah oleh mukjizat pukulan tongkat Nabi Musa.

Hadits yang aku maksud tadi, berkenaan dg Fir’aun. Sebelum Nabi Musa diutus untuk menghadapi Fir’aun, beliau sempat bertanya kepada Allah. Bahwa kenapa Fir’aun dibiarkan hidup begitu lama dengan segala kesombongannya, perilakunya yang memperbudak bangsa Israel, bahkan mengaku Tuhan.

Oleh Allah, Nabi Musa diberitahu, bahwa meski Fir’aun seperti itu, dia tetap mempunyai sisi yang lain, terutama kepada sesama bangsanya. Bahwa Fir’aun, meski seperti itu, dia punya kebaikan perangai jika pada bangsanya dan tak mempersulit siapapun yg ingin menemuinya. Maka oleh Allah, sisi kebaikan Fir’aun itu dibalas oleh-Nya dengan usia panjang dan tak pernah mengalami sakit. Versi hadits itu, 400 tahun.

Makanya oleh Allah, Nabi Musa & Harun diarahkan untuk bertutur kata yang baik meskipun tetap tajam, siapa tahu Fir’aun mau bertaubat. Fa qulaa lahu qoulan layyinan la’allahu yatadzakkaru aw yakhsya. Begitu di al-Qur’an, sebab Fir’aun jg tetap manusia yg punya sisi baik.

Dan seperti yang terekam di al-Qur’an pula diceritakan bagaimana Fir’aun membesarkan Musa kecil dalam asuhannya dengan penuh kasih sayang. Meskipun kekejamannya pada rakyatnya (khususnya yang non koptik) sangat luar biasa. Bahkan dengan kearoganannya dia mengaku tuhan.

Pelajaran moral apa yg bisa kita ambil? Bahwa mungkin kita tidak suka seseorang akan kekerasannya. Namun bagaimanapun jangan tutup mata. Jika bisa jadi dia punya sisi kebaikan yg lain. Begitu pula dengan seseorang yg dominan bersifat baik, pasti ada sisi jelek yg tdk kita suka

Maka semisal kita respek dg seseorang sebab dia selalu bertutur kata sejuk, lalu tiba-tiba dalam satu tempo dia berubah tegas dan tajam, yang bahkan membuat kita sendiri gerah atau bahkan tidak suka, maka kita tidak perlu heran dengan perubahan-perubahan sejenak itu, namanya manusia. Mungkin hanya para Nabi saja yang tidak punya sisi menyebalkan sebab mereka punya kemampuan super tinggi mengontrol perilakunya. Khususnya Nabi yg sangat kita cinta, Rasulullah S.a.w. Itupun mereka yang kebaikannya tak terilustrasi itu saja masih banyak yg benci. Apalagi kita yg tidak pernah stabil antara sifat baik dan sifat buruk kita. Alhasil dengan pelajaran-pelajaran semisal Fir’aun ini kita bisa belajar

Bagaimana bersikap ke sesama manusia, khususnya ke sesama muslim. Sebab banyak sekali di antara kita yang kerap merasa paling benar. Kita juga tak perlu heran saat lihat orang marah-marah dalam mengingatkan orang lain. Saat sekolah saja jika kita salah menjawab, dimarahi guru. Apalagi ini kesalahan level akidah misalkan. Cuma memang caranya saja yg perlu dimanajemen dg baik.

Karena pada dasarnya, semelenceng apapun pemikiran dan ideologi, ia tetap bermula dari satu titik kebenaran, hanya salah penafsiran saja. Dan dalam cara mengingatkan, cara menjewer, keras lembutnya tergantung level kesalahan. Hal yang sangat maklum sekali dlm dunia pendidikan.

Bukan lantas misalkan perintah Allah pada Nabi Musa untuk menasihati dengan lembut itu sebagai bentuk toleransi. Tak ada yg memaknai gitu. Karena toleransi itu hal, dan mengingatkan, menasihati juga hal yg lain. Tempatkanlah segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Sebab seseorang (apalagi jika dia muslim) yg tidak pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, artinya dia belum bijak dan juga belum adil.

Dan kata lain belum bisa adil artinya seseorang itu masih pada wilayah dzalim. Perlu segera mengkoreksi diri untuk beranjak dari situ. Semoga mencerahkan dan semoga kita bisa terus menaikkan kualitas kepribadian kita dengan belajar bersikap sesuai keharusan masing-masing.

***

Ini menarik untuk kita pikirkan bersama.

Batam, 23 November 2013, 09.48 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: