Terima Kasih

20 Nov

#Turn On 83

Rasa-rasanya, dalam keseharian kita menjalani hari demi hari, merangkai waktu demi waktu, tidak akan bisa berjalan lancar tanpa adanya bantuan. Bantuan dari siapapun, bahkan yang utama, bantuan dari Sang Maha Mengasihi.

Maka kiranya, tidak sepantasnya ada kata keluhan yang terucap dari diri ini. Namun, sudah menjadi kodrat manusia akan adanya sifat berkeluh kesah ini. walaupun sejatinya sifat ini ada, bersemayam dalam diri ini, kita juga mempunyai pilihan. Pilihan yang amat sangat menentukan sikap kita terhadap kehidupan. Memilih untuk berkeluh kesah atau memilih untuk berterima kasih.

Dulu, saat saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Waktu masih diminta menolong orang tua saya untuk pergi ke sawah. Untuk hal ini saya harus meminta maaf banyak-banyak kepada orang tua saya atas banyaknya keluhan yang saya tujukan kepada mereka. Pernah terlintas sebuah kegiatan harian yang sebenarnya cukup sederhana. Rata-rata kegiatan satu ini dilakukan sebagian besar oleh kita. Makan sepiring nasi.

Ada apa dengan nasi?. Dalam sebuah perjalanan ke sawah menggunakan sepeda. Lamat-lamat saya melihat indahnya hijau persawahan yang membentang di sebelah timur desa saya. Pemandangan hijau luas, menyenangkan untuk dipandang, menyegarkan suasana. Apalagi kalau kalian berkesempatan berjalan-jalan di lahan persawahan luas ini di pagi hari. Indah nian. Segarnya tak terlukiskan.

Sepiring nasi yang menjadi santapan kita sehari-hari ini. membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menjadi nasi. Nasi yang sebagian besar orang hanya merasa tahu tiba-tiba terhidang di sebuah piring, lantas dicampur dengan aneka lauk pauk dan beberapa sayuran yang telah dimasak. Jarang dari kita yang memperhatikan banyaknya tangan yang turut berperan dalam proses ini.

Mulai dari pemilihan benih. Hal ini tentu saja akan sangat berperan dalam penentuan kualitas nasi yang akan menjadi hasil akhir dari serangkaian perjalanan ini. Benih padi direndam semalaman sebelum ditaburkan ke lahan persawahan yang telah ditata sedemikian rupa untuk lahan pembibitan.

Lahan pembibitan dan juga tanah yang akan ditanami padi ini telah mengalami proses pembajakan sebelumnya. Dibajak menggunakan mesin atau tenaga dari hewan-hewan berkaki empat yang kekar. Lalu adanya orang yang bertugas khusus untuk membuat petak-petak di lahan sawah. Setelah lahan dan benih siap. Maka ditaburkanlah benih-benih itu. Dirapikan. Ditata sedemikan rupa agar tidak tidak bergerombol terlalu banyak di satu titik. Sedangkan yang lain terlihat botak.

Benih ditabur. Waktu pun melakukan tugasnya. Pupuk melengkapi perjalanan benih ini untuk tumbuh. Berkecambah. Daun-daun muda keluar dari benih tersebut. Lantas tumbuh serempak bak anak-anak kampung yang sebaya. Lahir di tanggal dan bulan yang sama. Para pemilik sawah sibuk mengawasi pertumbuhan. Irigasi diperhatikan. Adanya hewan pengerat dicegah supaya benih tidak dikerat dan menjadi rusak. Lahan yang digunakan untuk pembibitan diberi plastik melingkar dengan tiang pagar betis sebagai penguatnya.

Waktu melakukan tugasnya dengan baik. Hanya saja, terkadang ada beberapa benih yang tidak berkembang dengan baik. Banyak faktor memengaruhi. Layaknya anak kecil yang tumbuh dan berkembang. Ada banyak hal juga yang turut berperan dalam proses tumbuhnya benih-benih ini.

Kecambah demi kecambah mulai bertambah tinggi. Sampailah waktu tanam tiba. Lebih banyak tangan yang berperan. Lebih banyak tenaga yang dibutuhkan. Benih-benih padi yang telah tinggi daunnya diikat menggunakan bambu yang diiris tipis sehingga beralih fungsi sebagai tali pengikat. Diikat seperti kangkung-kangkung yang diunduh dari kebun-kebun dan kemudian dijual.

Benih yang telah diikat disebar ke seluruh lahan persawahan untuk kemudian ditanam. Istilah jawanya ditandur. Tandur yang berarti ditata sambil mundur. Kalau ditatanya sambil maju, entah nanti yang terjadi seperti apa. Boleh jadi malah rusak karena terinjak-injak. Tandur atau benih padi yang daunnya sudah agak tinggi itu ditata dengan gerakan mundur. Kegiatan seperti ini bagi beberapa teman saya yang lama didaerah lautan beton adalah salah satu hal yang menarik untuk disaksikan. Beribu-ribu benih padi yang ditancapkan di tanah. Hijaunya lahan yang asalnya hanya coklat kehitaman. Berubah menjadi tanah coklat yang bertabur toping warna hijau. Setelah semua tertanam. Lalu waktu akan menunaikan tugasnya lagi.

Apakah cukup sampai disitu?. Belum kawan. Masih penjang perjalanan. Benih padi yang telah disemai tetap masih membutuhkan kasih sayang. Dari pemilik lahan dan juga dari Sang Penguasa Alam. Tanpa itu. entah apa jadinya. Sejadi-jadinya mungkin.

Sawah dijenguk setiap hari. Rumput dan tanaman liar yang tumbuh disela-selanya disemai. Dibersihkan. Jangan harap tanaman ini akan tumbuh besar dan memberikan bulir padi yang besar jika hal ini diabaikan. Yang ada malah rumput-rumput pengganggu itu semakin subur. Melebihi tingginya padi yang diharapkan bulirnya.

Belum lagi soal hama. Entah yang dari kelompok serangga atau juga dari kawanan pengerat. Ada juga keluarga keong emas yang hidup bebas di lahan ini. ini juga harus diperhatikan. Butuh pikiran dan banyak tangan untuk mengerjakannya. Untuk membersihkannya. Karena sekali lagi jika diabaikan, hal ini akan membuat padi tidak bisa berbuah maksimal. Sementara sang waktu terus melakukan tugasnya. Tanpa pernah berhenti barang sejenak, kecuali atas perintah Sang Penciptanya.

Jika sudah sampai saatnya. Batang-batang padi mulai bunting setelah serangkaian proses penyerbukan. Maka ancaman hewan pengerat dan berbagai hama lainnya akan semakin serius. Sekali lagi, para petani akan bertambah kewaspadaannya. Akan bertambah kasih sayangnya jika ingin hasil padi yang mereka tanam menjadi baik. Bisa memberikan bulir-bulir terbaiknya. Bisa berbulir banyak sehingga kehidupan petani semakin makmur.

Setelah bulir-bulir padi menguning. Maka tugas selanjutnya adalah memanen. Bukankah kata-kata panen ini terdengar menyenangkan kawan. Namun, butuh tangan juga untuk mengerjakan tugas ini. kalau dulu para petani menggunakan ani-ani untuk menebang batang padi lalu merontokkannya. Sekarang bisa semakin praktis sebab sudah adanya mesih perontok padi yang otomatis. Bahkan untuk kasus kacang hijau pun sudah ada mesin penggilingan otomatisnya.

Bulir padi dari tangkainya dirontokkan. Lalu berpindah ke puluhan kantong padi yang telah disiapkan. Setelah itu, dijemur. Dikeringkan. Lantas dikirim ke mesin penggilungan untuk kemudian dikuliti dan menjadilah beras. Beras lalu dikirim ke berbagai penjual di toko dan swalayan. Lalu berpindah lagi ke tangan ibu-ibu rumah tangga atau para penjual nasi campur yang ada di sekeliling kita. Beras dimasukkan ke dalam pandi dan diberi air dengan takaran secukupnya. Jadilah nasi yang hamir setiap hari kita santap dengan aneka pelengkapnya.

Lalu. Pernahkah kita teringat untuk mengucapkan ucapan terima kasih untuk perjalanan panjang ini?. Entahlah. Saya harap kita tidak sering lupanya daripada ingatnya.

Itu baru nasi. Masih ada banyak hal yang ada disekitar kita yang sering kita lupa untuk mengucapkan dua kata itu. ucapan terima kasih kepada banyak orang yang telah membantu. Apalagi kepada Dzat yang Maha Agung yang telah menciptakan hal sedemikian rupa. Banyak lupanya.

Saya teringat pesan yang bernada kekhawatiran dari guru saya. Dan semoga kekhawatiran ini tidak menjadi nyata.

Beliau khawatir. Kebanyakan dari kita yang telah mengenyam bangku sekolah. Karena lupa akan rasa terima kasih ini. Malah sebal dengan sekolah itu sendiri. Mengapa sekolah harus ada pekerjaan rumah. Mengapa sekolah harus ada tugas yang banyak. Mengapa pula sekolah harus ada pelajaran ini, pelajaran itu. dan lebih banyak lagi kata “Mengapa” yang memenuhi rongga kepala kita. Dan memenuhi sebagian besar waktu yang terus menunaikan tugasnya. Tanpa pernah bilang kepada kita kalau ia hanya akan terus melaju. Tanpa pernah mempunyai semacam lampu merah untuk berhenti barang sebentar. Tidak. Ia terus melaju. Waktu sekolah terlewati. Banyak pelajaran yang belum sempat dipelajari. Entah pelajaran yang disampaikan oleh guru-guru maupun pelajaran kehidupan semasa sekolah itu sendiri. Yang ada?. Hanya selembar kertas bertuliskan “Lulus” dan pertanyaan “Mengapa” yang belum bisa dibelokkan ke arah yang lebih baik.

Beliau juga khawatir. Sebagian dari kita yang sudah bekerja. Yang sudah mempunyai kesempatan untuk bekerja. Lebih sibuk membicarakan berbagai hak-haknya tanpa memenuhi kewajiban yang ada. Lebih banyak membanding-bandingkan pekerjaan orang lain, pendapatan orang lain, pernghargaan yang diterima orang lain, yang justeru melupakan diri sendiri sudah berbuat apa. Lebih sering menyalahkan keadaan waktu, menyalahkan keadaan. Sibuk dan sibuk melontarkan keluh kesah yang justeru mengalahkan produktivitas yang mestinya diutamakan.

Saya malu mendengar pesan guru saya ini. Malu sekali. Masih jauh dari layak bagi saya untuk disebut orang yang mampu berterima kasih. Terima kasih untuk banyak orang, banyak orang, dan banyak hal yang telah membantu perjalanan saya sampai hari ini. kepada orang tua juga yang dengan segala jerih payahnya. Dan terima kasih yang utama, kepada Dzat Maha Agung yang dengan limpahan kasih sayangnya. Malu saya. Sering lupa terhadap hal yang terkesan dianggap sepele ini.

Pesan guru saya yang selanjutnya yang lebih ke nada pertanyaan, “Bagaimana hati ini akan menjadi tenang kalau kita saja sering lupa untuk sekadar berterima kasih?.

Batam, 20 November 2013, 02.05 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: