Saatnya Semangat di-Charge Lagi

18 Nov

#Turn On 82

Ketika kita melihat sebuah gunung, pasti akan ada bagian yang naik dan turun. Sama halnya dengan semangat yang kita miliki. Akan sama fluktuatifnya dengan sebuah gunung tersebut. Bisa naik, bisa juga turun.

Nah, yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana supaya semangat ini tetap berada dia atas. Semangat ini selalu bisa menyelimuti tubuh yang punya segudang pekerjaan yang mesti dilakukan setiap hari ini.

Ada sebuah nasehat dari seorang guru yang saya gigit keras. Nasehat itu berbunyi, “Jatuh bukanlah suatu kekalahan. Namun, tidak adanya kemauan untuk bangkit lagi setelah jatuh adalah kekalahan yang sebenarnya.”

Hal ini berlaku untuk kegiatan apa saja. Entah yang sedang belajar, bekerja, ataupun dalam situasi apapun. Seperti kegiatan menulis yang saya lakukan ini. kadangkala ketika timbul semangat untuk menulis, saya sedang dalam kondisi tidak bisa menulis, entah lagi bekerja atauapun benda-benda yang bisa membantu saya untuk menulis sedang tidak ada. Sebaliknya, ketika sedang semangat untuk menulis, ada saja yang terjadi, entah idenya menguap entah kemana, entah yang ketik hapus, ketik hapus, dan seterusnya, namun, proses inilah yang saya nikmati. Betul betul saya nikmati.

Ada sebuah cerita bagus yang saya dengarkan beberapa saat yang lalu, yang tentu saja cerita ini menjadi salah satu pembakar semangat saya ketika saya lagi diserang virus kemalasan yang menjadi- jadi. Sebuah cerita yang mampu menjadikan pemahaman kita semakin baik. Cerita tentang seorang remaja berusia enam belas tahun yang memilki masalah di keluarganya. Broken home. Remaja ini kita kasih nama saja biar enak dalam membacanya. Sebut saja Amy.

Amy memiliki sebuah keinginan untuk menulis. Namun ia bingung mau menulis apa. Datanglah ia ke rumah gurunya. Ia menceritakan keinginannya untuk menulis. Gurunya pun memberikan saran kepada Amy agar menulis apa saja yang dikehendakinya. Apa aja. Menulis dan mengunggahnya di blog.

Masih di rumah gurunya. Amy mendengarkan dengan seksama. Ia mengerti apa yang dimaksudkan gurunya. Namun yang menjadi masalah, Amy hanya mempunyai cerita tentang keluarganya yang broken home tersebut. Sedikit ia menceritakan masalah tersebut. Gurunya paham. Gurunya pun melanjutkan memberikan nasehat.

“Tulislah apa saja Amy.”

Amy dan gurunya membuat kesepakatan. Amy harus menulis dan mengunggahnya di blog setiap hari selama satu tahun. Amy menyanggupi kesepakatan tersebut. Dan setelah hari itu, Amy mulai menulis.

Tiga bulan pertama. Tulisan Amy masih seputar kebencian dan kekesalannya kepada orang tuanya. Tulisan-tulisannya masih bernada kesal dan sebal. Kesal dengan bapak ibunya. Sebal mengapa mereka bisa sering bertengkar. Apakah tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain bertengkar, bertengkar, dan bertengkar.

Amy masih terus menulis. Walaupun yang ditulis relatif masih sama. Tulisan yang mengungkapkan kebencian. Tulisan yang didalamnya terdapat banyak kalimat dengan nada kekecewaan. Ada satu hari dalam tiga bulan pertama ia ingin berhenti menulis. Namun, ia teringat janji dengan gurunya. Ia mengurungkan niat untuk berhenti. Ia terus menulis.

Tiga bulan berikutnya atau hampir enam bulan ia menulis. Ia mulai menyadari beberapa hal. Mengapa selama ini ia hanya menulis tentang kebencian saja. hanya menulis tentang rasa kecewanya saja. menyadari hal itu, ia mulai menulis dengan isi yang berbeda. Ia menulis tentang mimpi-mimpi, harapan-harapan, teman-teman, keadaan lingkungannya dan masih banyak lagi yang akan menghiasi tulisan-tulisannya.

Terus dan terus ia menulis. Apa saja ia tulis. Satu hari di tiga bulan kedua ia menulis. Ia mengirimkan surat elektronik kepada gurunya. Memberitahukan bahwa ia masih akan menjaga semangatnya untuk menulis. Masih akan menulis sampai batas waktu yang telah disepakati bersama. Gurunya membalas singkat pesan yang dikirimkan Amy. Memberikan balasan dengan ini menyemangati. Semangat untuk terus menulis.

Hari-hari pun berlanjut. Amy terus menulis. Ia bahkan belum sempat berfikir apakah gurunya pernah mampir ke blognya apa tidak. Apakah ada orang lain yang pernah membaca tulisannya. Entahlah. Yang ia tahu, ia hanya perlu untuk terus menulis.

Apakah yang dilakukan Amy sia-sia Kawan?. Tidak, bahkan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Satu hari dimana Amy hampir menyelesaikan tulisannya. Ia masih menulis dan masih tidak tahu apakah ada orang yang mengunjungi blognya atau tidak.

Ada teman sepermainannya. Sebut saja Ayu. Remaja berusia enam belas tahun juga yang mempunyai masalah yang sama dengan Amy hampir setahun yang lalu. Keluarganya broken home. Banyak masalah. Sering bertengkar. Tidak jarang Ayu malah yang kena masalah yang ada di rumahnya. Ia hampir putus asa. Pernah ia berfikir untuk menyudahi saja hidupnya. Buat apa hidup jika hari-hari hanya diisi dengan keadaan seperti ini. Hanya melihat ayah bundanya bertengkar melulu. Hari-hari hanya diisi dengan kekecewaan yang entah kapan berakhirnya.

Saat Ayu hampir sampai di penghujung masa putus asanya. Ia menemukan blog milik Amy. Blog yang ditulis oleh teman sepermainannya itu ia baca. Tulisan demi tulisan ia baca dengan seksama. Ia membaca dari tulisan yang dibuat pertama kali oleh Amy, berjam-jam ia membaca tulisan di blog itu. Banyak sekali yang ia baca. Ia menyukainya. Ia merasakan “ini masalah gue banget.”

Kawan, inilah salah satu hal berharga yang saya maksudkan. Menulis bukanlah untuk mencari ketenaran semata. Namun, ada hal yang lebih berharga dari sebuah tulisan yang kita buat. Terlepas dari persoalan kita tahu atau tidak siapa yang akan membaca atau mengunjungi blog yang tiap waktu kita isi tulisan tersebut.

Coba kita bandingkan mana yang lebih bermanfaat. Ribuan eksemplar buku yang dicetak, dibaca banyak orang, namun belum bisa memberikan sesuatu yang berarti dibandingkan satu blog kecil yang ditulis dengan sepenuh hati yang bisa menyelamatkan satu nyawa yang hampir menyudahi hidupnya?.

Saya masih ingat nasehat selanjutnya dari guru tersebut.

“Jadikanlah kegiatan menulis untuk meluruhkan perasaan yang ada. Untuk mengungkapkan apa yang belum bisa disampaikan lewat ucapan. Teruslah menulis. Jangan hanya mencari ketenaran semata. Karena ada sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding embel-embel ketenaran.”

Selamat hari senin buat semuanya. Semoga tulisan pendek ini bisa memberikan manfaat bagi semua. Jika kita masih bisa memilih untuk tetap semangat, mengapa harus memilih untuk berputus asa?.

Batam, 18 November 2013, 10.12 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: