Coretan di Pagi Lembayung

15 Nov

#Turn On 81

Siapa yang suka jalan-jalan?, lalu, siapa juga yang suka bertamasya?, menikmati keindahan alam sekitar atau sekadar berkumpul bersama keluarga, kawan, atau handai taulan yang berkunjung?, kalau ada salah satu dari Kalian, Kawan, yang mempunyai kesukaan jenis ini, kurang lebih kita sama. Setidaknya, ada tiga jenis jalan-jalan yang sering saya lakukan disini kawan.

Yang pertama, Jalan-jalan di Dunia Imaginasi. Jalan-jalan jenis ini, oleh kebanyakan orang, secara fisik, terlihat hanya diam di tempat. Jalan-jalan jenis ini bisa dengan menonton film atau membaca buku yang terkait dengan imaginasi. Pikiran kita akan diajak berpetualang memasuki dunia yang penuh dengan pesona. Berpetualang menyusuri negeri antah berantah yang digambarkan dengan elok oleh sang penulis.

Dalam dunia imaginasi. Kita bisa diajak untuk menikmati indahnya suatu tempat, semisal gunung. Indahnya gunung akan digambarkan secara elok, lalu kita diajak untuk menaikinya. Seakan-akan kita merasakan terjalnya tebing pegunungan, tingginya lereng yang didaki, dinginnya udara pegunungan yang menusuk, batu-batu yang tidak sengaja jatuh dari ketinggian akibat tersenggol oleh kaki-kaki pendaki, burung-burung yang saling bermain-main di ketinggian, rimbunnya dedaunan yang masih basah oleh kristal-kristal embun di pagi hari.

Kita memang masih berada di tempat, tapi tidak dengan pikiran kita. Kita akan mendapati pikiran kita yang sedang melanglang buana ke berbagai tempat yang digambarkan. Hal ini sungguh sangat mengasikkan.

Seperti beberapa buku fiksi yang saya baca dalam dua bulan ini. Dua diantaranya adalah novel “Negeri Para Bedebah” dan “Negeri Di Ujung Tanduk” karangan Tere Liye yang bagus untuk diikuti jalan ceritanya. Dalam novel ini, kita akan diajak untuk berkeliling di ibu kota dan beberapa negara lainnya. Novel ini dibuka dengan cerita seorang tokoh utama yang melarikan pamannya yang sedang diburu polisi, namun, dibalik perburuan ini, ada sebuah rahasia besar yang perlu diungkap. Perjalanan pun dilakukan. Pelarian, tempat persembuyian, pertarungan, saling adu strategi, serta masih banyak jalan cerita yang tidak terduga. Dan tentu saja ada pesan moral yang disampaikan dalam setiap buku.

Seperti di akhir novel “Negeri Di Ujung Tanduk”. Ada sebuah quote yang patut kita pikirkan bersama. “Sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh”.

Yang kedua, jalan-jalan dunia maya. Sebenarnya, saya masih memikirkan tentang kategori satu ini. apakah bisa diketgorikan sendiri atau boleh jadi, dunia imaginasi pun bisa masuk dalam dunia maya juga. Dunia maya, entah mengapa oleh kebanyakan kita lebih identik dengan jejaring sosial. Mulai dari facebook, twitter, dan berbagai jejaring sosial lainnya.

Berbagai informasi dan cerita akan sangat mudah ditemukan disini. Sangat mudah malahan. Kita hanya perlu mengetikkan beberapa huruf di keyboard dan akan sangat banyak informasi yang muncul.

Jika kita sudah lama tidak bertemu dengan teman kita misalnya. Cukup kita masuk ke alamat jejaring social, mengetikkan namanya, dan keluarlah berbagai catatan yang dibuat. Kalau teman kita ini aktif untuk berbagi informasi (sering update maksudnya), akan sangat mudah bagi kita mengetahui dimana dia, sedang apa dia, tanpa perlu kita menanyakan kepadanya.

Namun kawan, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam jejaring sosial ini. Salah satunya, tentu saja ini menurut penilaian saya, adalah begitu mudahnya orang-orang menuliskan keluh kesahnya disini. Hal ini juga yang sering diingatkan oleh guru saya, dan saya juga sudah beberapa kali menuliskannya di beberapa catatan saya.

Coba perhatikan. Begitu kita membuka jejaring sosial, blog, atau bermacam-macam situs pertemanan lainnya. Akan begitu banyaknya catatan tentang hal ini, begitu tumpah ruah, begitu berserakan. Apakah ini salah?, saya tidak bilang begitu. Namun, apabila kita bisa menuliskan hal yang bermanfaat, bukankah itu lebih baik?. Itu memang sepenuhnya hak mereka. Namun, sekali lagi, apabila kita bisa membagikan tulisan yang lebih baik, daripada sekadar berkeluh kesah, akan lebih banyak manfaat yang bisa diberikan kepada sesama tentunya.

Dunia maya, memang tidak sekadar jejaring sosial saja. masih banyak hal lain tentunya yang bisa dibuka, bisa dibaca. Hal ini, kembali lagi kepada kita, kembali kepada pilihan kita, apakah yang hendak kita baca. Apakah kita juga akan menggunakan dunia maya ini secara sehat ataukah kurang sehat.

Terlebih lagi, dengan banyaknya informasi yang ada, jika kita tidak belajar memilah-milahnya, hanya akan terjadi pemborosan waktu saja. sudah tidak mendapatkan informasi yang diperlukan, atau tidak mendapatkan bacaan yang bisa menambah khazanah kelimuan, namun, yang didapat malah adanya tontonan debat kusir atau tulisan yang saling mengejek yang jauh dari etika. Kabar baiknya, kita bisa memilih kawan.

Lalu yang ketiga, jalan-jalan dunia nyata. Terkait dengan hal ini, seorang guru pernah berpesan,

“ Akankah kita menghabiskan waktu menatap dunia dari jendela kendaraan, rumah, kantor yang itu-itu saja sepanjang hidup kita? Lantas menghela nafas seolah lega? Ayo, berpetualanglah. Perjalanan melihat dunia itu penting. Pindah ke tempat yang baru agar lebih baik juga penting. Teladan ini ada di banyak pelajaran luhur.”

Sering sekali saya bertanya ketika saya memberitahukan kepada mereka bahwa saya sedang merantau. Sedang berada di pulau orang. “Kok jauh sampai sana?”, Kurang lebih pertanyaannya seperti itu. Entah yang dari pesan singkat atau sekadar obrolan lewat telepon.

Dulu, saya belum mengerti benar apa jawaban yang pas untuk pertanyaan jenis ini. Lama saya mencari jawaban atas hal ini. Dan saya pun ingat pesan guru saya tersebut. Ayolah kawan, sungguh akan sulit terbuka wawasan kalau hanya berada di satu tempat saja tanpa ada perjalanan. Tanpa ada keberanian untuk bergerak.

Saya kira, tidak ada tempat di belahan bumi ini yang terlampau jauh untuk masa sekarang ini. Untuk sebuah masa yang teknologi informasi dan transportasi sudah sedemikian canggihnya. Dunia yang dulu butuh waktu lama untuk dijelajahi, dari satu tempat ke tempat yang lain. Saya kira, sudah sangat berbeda jalan ceritanya untuk masa sekarang.

Perjalanan yang dulu butuh waktu lama, seakan tidak berlaku lagi untuk masa sekarang. hanya dengan hitungan jam, kita bisa berpindah antar pulau, bahkan antar negara. Sungguh, akan banyak hal yang akan kita dapat dengan berpetualang. Dengan mengunjungi tempat-tempat yang berbeda, orang-orang dengan kebudayaan yang bermacam-macam, bahasa-bahasa yang menunjukan identitas masing-masing, oh, alangkah menyenangkannya hal seperti ini.

Bukankah hidup ini memang perjalanan, Kawan. Sejatinya, walaupun kita hanya berdiam diri di satu tempat saja, tanpa bergerak kemanapun, kita pun akan melakukan perjalanan itu sendiri. Berjalan dari waktu ke waktu, dari pagi menuju siang, siang menuju sore, sore menuju malam. Dan seterusnya. Bergerak dari musim hujan ke musim kemarau. Dari musim durian ke musim rambutan. Haha. Nah, perjalanan bagaimanakan yang akan Anda pilih Kawan?.

Negeri ini sungguh luas ,Kawan, jalannya, gunungnya, lautnya. Alangkah sayang kalau kita hanya berdiam diri di kamar saja.

Ini menarik untuk kita pikirkan bersama.

Batam, 15 November 2013, 07.00 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: