Peliharaan Kesayangan

6 Nov

#Turn On 79

Saya pernah mempunyai peliharaan. Yang pertama, saat saya masih SD. Saat itu, anak-anak di kampung kami lagi heboh-hebohnya memelihara jangkrik.

Jangkrik. Saat itu, saya dan teman-teman sepermainan saya tidak membelinya seperti yang lumrah terjadi waktu itu. Kami mencarinya. Tak ayal, tiap malam selepas mengaji di surau, ramai-ramai kami pergi ke daerah semak belukar di sebelah desa. Mencari jangkrik dengan mendengarkan suaranya yang khas. Krik, krik, krik.

Saya tidak sepandai teman saya yang entah dengan kemampuannya, sering mendapatkan jangkrik yang bagus. Walaupun kecil, tapi suaranya nyaring sekali. Kalau saya, yang tidak sepandai teman saya ini. namun, dengan berusaha giat, mencari jangkrik maksudnya, akhirnya saya dapat. Itupun dalam kondisi basah kuyup karena kehujanan. Saya mendapatkan jangrik dengan menggali beberapa celah bebatuan di sebuah pasar di dekat rumah saya.

Bukan main senangnya saat itu. lantas, saya tempatkan dimana?. Saya pun belajar membuat kandang jangkrik. kandang jangkrik yang terbuat dari bambu. Tidak ada masalah untuk mendapatkan bambu di kampung kami, karena disini terdapat bambu yang meilmpah. Dengan berbagai ukuran dan jenis.

Bambu dipotong dengan ukuran yang sama, yang telah diukur sebelumnya. Lalu menempatkan kulit bambu yang mengkilap itu di bagian dalam, sehingga mencegah jangkrik yang ada di dalam kandang memakan dinding kandang itu dan melarikan diri.

Untuk makanannya?, saya belajar dari teman saya kalau jangkrik bisa makan berbagai sayur dan buah. Kadang saya beri daun kol, sawi, timun, dan berbagai macam jenis makan lainnya. Tergantung saat itu ibu saya masak sayur apa. Hehe.

Lumayan lama saya menyukai hal ini. Memelihara jangkrik. Setiap hari saya bersihkan kandangnya, membuang makanan kemarin, menggantinya dengan yang baru. setiap malam saya mendengarkan suaranya yang khas, nyaring, sahut menyahut, karena saya mempunyai lebih dari sepuluh jangkrik waktu itu. Dan hampir setiap hari saya mendapat keluhan dari ibu saya karena terganggu dengan suara jangkrik-jangkrik itu. mengganggu waktu istirahat ibu lebih tepatnya.

Saat itu, semakin ditegur oleh ibu, malah saya menjadi bangga. Menandakan jangkrik saya suaranya nyaring. Haha. memanglah, masa anak-anak yang patut dikenang.

Saya masih ingat teman-teman saya dalam menyebut jangkrik itu. Kata teman saya, karena saya juga tidak terlalu tahu, kalau jangkrinya warnanya hitam menyeluruh, namanya Jaliteng, kalau yang ada warna kemerah-merahan di punggungnya dan suaranya nyaring, namanya Mega Mendung, dan ada beberapa nama lain yang saya lupa.

Lalu ketika beranjak ke sekolah selanjutnya, saya berganti peliharaan. Saya ganti memelihara Ikan Lohan (apa benar nulisnya ya?). Lalu kemana jangkrik-jangrik itu. Saya bosan dan melepasnya semua. Sudah tidak musim jangkrilk, hehe.

Nah, untuk yang satu ini, kalau saya pikir sekarang, boleh dibilang saya menjadi korban keadaan. Karena saat itu, lagi gencar-gencarnya pada memelihara Lohan, saya pun ikut. Saya meminta bapak saya untuk membelikannya. Dua ekor Lohan yang masih imut-imut, namun harganya saat itu seakan tidak masuk akal. Sebuah akuarium yang dibuat menjadi dua bagian. Dan tidak ketinggalan, orang tua saya memesan tutup akuarium yang mirip dengan atap rumah. Atap rumah-rumahan lebih tepatnya. Dicat warna orange dan hijau muda. Sekali lagi, saya merasakan kesenangan untun memelihara dua ikan ini.

Setiap hari, selama hampir dua tahun saya memeliharanya. Saya mengganti airnya tiap hari. Walaupun sudah memakai alat penyaring air yang indah dipandang itu. namun, oleh bapak saya, saya diminta menggantinya setiap hari. Dengan menggunakan ember saya mengambil air PDAM. Padahal saya seringnya mandi menggunakan air sumur. Haha.

Hampir empat ember setiap hari. Dua ember pertama untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada di dinding akuarium. Ada lumut, sisa makanan yang berupa pellet dan cacing beku dan tentu saja, kotoran dari Lohan itu sendiri.

Makanan ikan ini khusus. Dan saya membelinya di toko ikan hias. Setiap minggu habis dan harus beli lagi. cacing kecil-kecil yang telah dibekukan. Dan juga pellet untuk ikan. Saat itu, saya rajin sekali mengganti air, membersihkan akuarium. Sampai salah satu ikan saya kejang-kejang. Entah. Keracunan atau kenapa. Saya tidak tahu.

Ikan yang berada di bagian kana akuarium ini terlihat berbeda dengan kawannya. Berenang tak tak tentu arah. Menabrak-nabrak kaca. Saya sedih melihatnya. Dan tidak lama kemudian, ikan itu mati. Mengambang. Saya sangat tidak tega melihatnya. Sedih hati ini. walaupun ditinggal oleh seekor ikan. Namun ikan inilah yang saya pelihara lebih dari satu tahun. Saya menjadi dekat, dekat dengan ikan maksudnya, hehe.

Oleh ibu saya, ikan itu digoreng. Saya sangat tidak tega untuk melihatnya, apalagi memakannya. Saya hanya meminta ibu saya untuk menghabiskannya tanpa sepengetahuan saya. Haha. jadi lebay malahan.

Dan ikan yang di akuarium itu pun tinggal satu. Saya terserang wabah malas untuk melanjutkan hobi ini. oleh orang tua saya, akhirnya ikan itu diberikan kepada saudara. Beserta akuarium dan segala peralatannya. Semenjak saat itu. saya belum berminat memelihara binatang lagi.

Apa kaitannya dengan catatan kali ini?. cerita tentang dua peliharaan itu hanya sebagai pembuka catatan. Karena saya akan melanjutkan dengan sebuah cerita, lebih tepatnya nasehat dari salah satu guru saya.

Apapun yang kita pelihara. Boleh jadi kita mempunyai peliharaan yang bertahan lebih lama dari dua contoh diatas. Kita punya peliharaan yang meski sudah bertekad untuk berpisah dengannya, seringnya, bisa balik dan bersayang-sayangan lagi dengan yang satu ini.

Boleh jadi, ada dari kita, dan saya tentu menjadi salah satunya, lebih sayang kepada peliharaan yang dinamai malas ini.

Memelihara kemalasan lebih tepatnya.

Coba kita perhatikan keseharian kita. boleh jadi, hal ini yang lebih kita sayang-sayang daripada hal lain. Mau melakukan apapun, kita sering membawa hal yang satu ini. mau beranjak dari tempat tidur misalnya, kita lebih senang bermain-main dengan peliharaan yang satu ini. Lagi malas ngapa-ngapain. Nah lho.

Mau belajar. Ah, entar aja lah. Masih ada waktu. Lebih baik sekarang bermalas-malasan dulu. Masih enak dengan hal lain yang akhirnya, banyak pekerjaan yang tertunda karena peliharaan yang satu ini.

Di tempat kerja. Ah, karjaannya dikerjakan nanti saja. waktunya masih panjang, lebih baik ngobrol dan menjadi jamaah ngrumpi ria saja. Tidak terasa, tiba-tiba waktu pulang sudah dekat, dan banyak pekerjaan yang belum disentuh. Kalau diingatkan oleh atasan, jawabannya macem-macem. Ngelesnnya lebih pandai daripada menyelesaikan pekerjaan yang diberikan.

Mau melakukan ini, mau melakukan itu, sering kita lebih menyayangi peliharaan yang satu ini. Bahkan, saking sayangnya sama peliharaan ini, hampir kemana saja dan pekerjaan apa saja yang ada, pasti ada kehadiran makluk yang satu ini. hehe.

Agak telat memang  untuk mengucapkan ucapan selamat tahun baru Hijriah ke 1435. Namun, tidak ada salahnya saya mengucapkannya.

Selamat Tahun Baru Hijriah ke 1435 untuk kawan semua. Tahun 1434 telah kita akhiri bersama dengan bacaan doa akhir tahun. Dan awal tahun 1435 H ini, telah bersama-sama juga kita awali dengan bacaan doa awal tahun. Yang khidmat dan penuh harapan di tahun baru ini.

Semoga catatan kecil ini bisa menjadi bagian dari awal tahun baru ini. Saatnya terus memperbaiki diri, saatnya memilih peliharaan kesayangan yang baik buat kita.

Batam, 6 November 2013, 08.02 AM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: