Periode Emas Anak-Anak

2 Nov

#Turn On 78

Sudah hampir satu bulan lebih saya tidak mendapat jadwal jaga malam. Dan hari ini, saya mendapatkannya dengan catatan, menggantikan teman saya yang sedang sakit. Inilah salah satu hal yang dinamis di tempat kerja kami. Jadwal jaga memang bisa berubah, menyesuaikan kondisi, dan harus siap. Sama juga dengan jaga oncall yang ketika malam hari harus selalu siap untuk dipanggil karena ada operasi emergency.

Kali ini, saya tidak masuk ke pembahasan kamar operasi, insyaallah lain kali saja, hehe. ada hal lain yang ingin saya bagi ke kawan semua. Sekali lagi, sebuah catatan dari Tere Liye yang insyaallah akan menjadikan pemahaman kita akan menjadi semakin baik.

Ada kawan yang bertanya, “Mengapa sering share catatannya Tere Liye?”, “Apakah tidak ada yang lain?”.

Simple saja, karena saya suka dan ada banyak kandungan hikmah yang bisa dipetik.

Catatan yang akan saya share kali ini tentang “Periode Emas Anak-Anak”. Saya membacanya beberapa hari yang lalu. Catatan ini, mengingatkan saya akan suatu masa hampir delapan belas tahun lalu, ketika itu, saya mau masuk SD. sering saya membayangkan akan adanya tulisan seperti ini, namun, kemampuan saya yang masih rendah, menjadikan saya belum bisa menulis catatan sebagus dan selugas ini.

Untuk kali ini, saya baru bisa membacanya berulang-ulang dan membagikannya kepada kawan semua. Silahkan dibaca,

Anak-anak usia 0-6 tahun adalah periode emas. Itu masa-masa yang sangat penting. Apakah di momen-momen ini perlu pendidikan? Ya iyalah. Sungguh butuh. Anak-anak diajarin pipis di kamar mandi (tidak pakai pampers), diajarin makan sendiri, diajarin bertanggung-jawab, diajarin bersosialisasi, diajarin seni, bahkan yg lebih penting lagi diajarin agama, cara shalat, menghafal bacaan shalat, dsbgnya.

Penting.

Apakah PAUD, playgorup, TK itu penting? Ya iyalah, penting.

Tapi jangan bablas, jangan berlebihan. Nyaris semua ahli pendidikan di dunia sepakat, bahwa usia 0-6 tahun adalah masa-masa belajar yang menyenangkan, bukan masa-masa belajar yang dipaksa, dinilai, diberi angka, dan sungguh terlalu ditest/diuji lulus atau tidak. Tanyakanlah ke orang2 yang paham, pasti jawabannya sama.

Lantas kenapa sekarang malah sebaliknya? Banyak orang tua yang mengotot anak-anaknya cepat baca, cepat nulis, cepat berhitung? Karena dunia ini kejam. Mereka memang selalu bilang yang terbaik bagi anak-anaknya, tapi tidak tahu apakah itu sungguh baik atau tidak. Anak-anak usia 6 tahun sudah dipaksa kursus siang malam. Sudah dipaksa sekolah pagi sore. Kenapa? Biar masa depannya cerah, bisa berkompetisi, dsbgnya. Tidak ada yang bisa memaksa orang tua kalau mereka mau begitu, terserah, itu anak-anak mereka juga.

Tapi dalam sistem yang lebih besar, harus ada peraturan lugas agar semua hal tidak bablas, berlebihan.

Persyaratan ijasah TK untuk masuk SD adalah yang bablas. Catat baik-baik, tidak semua orang mampu menyekolahkan anak-anak mereka di TK. Kita harus melindungi keluarga-keluarga ini. Hei, kalau kalian merasa bisa menyekolahkan anak di Singapore, di Amerika atau kursus di Mars, ketahuilah, 30 juta orang di Indonesia ini penghasilannya hanya 10.000/hari. 30 juta orang jumlahnya. Kalau kita makan di kedai fast food sekali duduk 100.000, maka itu setara 10 hari kerja mereka. Bagaimana mereka ini? Tidak boleh SD karena tidak bisa TK? Aduh, nurani mana yang kejam begitu.

Dan terlepas dari itu, harus diketahui semua orang, pendidikan paling dasar (SD) memang tidak membutuhkan prasyarat apapun. Namanya juga pendidikan paling dasar. Apakah anak-anak harus sudah bisa berhitung, menulis dan membaca? Ini keliru sekali, fatal. Saya tahu, bisnis PAUD, TK itu besar nilainya. Saya juga tahu, memang lebih asyik, kalau saya guru SD, kalau semua anak-anak sudah bisa baca, tulis dan berhitung saat masuk, tapi jangan lupakan, anak-anak usia 0-6 tahun itu memang tidak diciptakan untuk jadi profesor semua. Jangan begitu terlalu melupakan prinsip-prinsip guru yang mulia.

Semua orang boleh punya pendapat. Silahkan. Ini jaman kebebasan. Tapi ingat baik-baik, bahkan dalam UU Sisdiknas No. 20/2003, bagian Penjelasan Pasal 28 ayat 1 ditulis: Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan BUKAN merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Itu UU, produk hukum tinggi di negeri ini, tidak bisa kita kangkangi begitu saja. Juga silahkan baca peraturan pemerintah, peraturan kementerian soal PAUD, TK, playgroup dsbgnya, jelas sekali ditulis: itu periode bermain-main, periode mengenalkan dunia pendidikan dengan menyenangkan. Sama sekali bukan belajar berhitung, menulis, membaca lantas di test ini, di uji ini. Tapi kenapa banyak guru/kepsek/sekolah yang tidak tahu? Maka semoga kalian tahu setelah saya merilis catatan ini. Dan kasih tahu orang lain biar pada tahu. Itu UU sudah 10 tahun, seharusnya sosialisasinya sudah sampai galaksi planet Avatar.

Tapi kenapa orang tua sendiri yang maksa agar anak-anaknya yg baru usia 4 tahun, 5 tahun bisa membaca, berhitung, menulis? Sekali lagi, dunia ini kejam, dek. Jangankan usia 4-5 tahun, usia 0-6 BULAN saja saking kejamnya, industri susu formula mau merangsek habis-habisan, jika tidak ada regulasi. Kita selalu bilang: yang terbaik bagi anak-anak kita, hingga lupa, boleh jadi si kecil itu menjalaninya sambil tertawa riang karena kita paksa.

Maka, kalau ada SD yang mewajibkan murid-murid barunya harus sudah bisa baca, hitung, ditest, dsbgnya, punya ijasah TK+PAUD, dll, maka JANGAN masukkan anak-anak kita ke sana. Kita harus cemas sekali dengan pemahaman guru-guru di SD itu.

Syarat masuk SD itu hanya satu: cukup umur. Carilah SD dengan guru-guru yang cemerlang sekali pemahamannya soal ini, guru-guru mulia yang mau repot mengajari anak-anak kita membaca, menulis. Mau mengajari anak-anak kita, tiada lelah dan mengeluh, bukan guru-guru yang malah berseru ketus kepada anak usia 6 tahun: “anak ini kok belum bisa baca sih? sana balik ke TK lagi.”

Pilihlah SD dengan guru-guru yg tulus. Masih banyak kok guru2 yang hebat itu.

Pun sama, pilihlah PAUD, TK, playgroup yang punya guru-guru dengan pemahaman tulus. Tahu posisi dan letaknya. Kalau dia minimal pernah mengambil sarjana pendidikan PAUD, pasti paham sekali hal ini. Bukan TK yang dikit-dikit iuran wajib, dikit-dikit jalan-jalan wajib, dikit-dikit semuanya uang (sorry buat yang tersinggung, kalau kalian tidak melakukannya kalian pasti tidak akan tersinggung; nah kalau tersinggung memang kuch kuch hota hai deh).

Jangan cemas anak-anak kita itu kelak tidak jadi orang karena tidak bisa baca tulis usia 4 tahun. Ketahuilah, orang-orang sukses di dunia ini bahkan drop out sekolah formal. ‘Pendidikan’ itu berbeda dengan ‘sekolah’. Pendidikan adalah pendidikan. Pasti pernah menonton film Three Idiots kan? Semua orang terharu nontonnya, pengin jadi Rancho, tapi lupa, saat di dunia nyata, kita ini hanya Silencer yang sibukkkkkkk dengan ukuran material, lantas mudah cemburu serta tidak bahagia ternyata.

Saya menulis buat yang mau mendengarkan saja. (Tere Liye)

Bagaiamana kawan, ada yang bisa dipelajari dari catatan kali ini?

Batam, 2 November 2013, 2.21 PM

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: