Lawan Yang Tangguh

1 Nov

#Turn On 76

Saya buka catatan kali ini dengan sebuah cerita, tentu bukan saya yang membuatnya, karena yang membuatnya adalah Tere Liye. Saya hanya melihat adanya kandungan hikmah serta akan memberikan suatu pemahaman yang baik bagi yang membacanya.

Ada seorang atlet dunia yang mengagumkan–masih hidup, dan masih terus mengejar rekor-rekornya. Saat ditanya, apa rahasia terbesarnya hingga dia berkali-kali memecahkan rekor dunia? Jawabannya pendek: saya bertanding melawan diri sendiri, saya berusaha terus menerus mengalahkan diri sendiri. Meski amat simpel, tapi ini sesungguhnya jawaban yang super, menjelaskan banyak hal. Tetapi hei, bagaimana bisa dia jadi juara dunia jika dia hanya sibuk melawan dirinya sendiri? Bukankah dia harus peduli dengan catatan waktu pesaingnya? Bagaimana pesaingnya berlatih? Kemajuan pesaingnya.

Tidak, dia tidak peduli.

Baginya, setiap hari menjadi lebih baik, setiap hari memperbaiki rekor sendiri, jauh lebih penting dibanding memikirkan orang lain. Maka itulah yang terjadi, resep ini berhasil, berkali-kali dunia menyaksikan atlet hebat ini memecahkan rekor dunia, rekor yang tercatat atas nama dirinya sendiri. Jika dia hanya sibuk memikirkan orang lain, pesaingnya, boleh jadi dia hanya berhasil memecahkan rekor itu sekali, lantas berpuas diri, merasa cukup. Game over.

Logika memperbaiki diri sendiri dan terus melakukan yang terbaik ini sangat efektif dalam banyak hal. Sekolah misalnya. Kita tidak perlu peduli kita ranking berapa, kita lulusan terbaik atau bukan, sekolah terbaik atau bukan, pokoknya belajar yang terbaik, maka lihat saja besok lusa, ternyata semua hal datang dengan sendirinya, termasuk ranking dan kesempatan melanjutkan di tempat lebih baik. Juga pekerjaan. Kita tidak perlu peduli siapa pesaing di sekitar, siapa yang akan menyalip dsbgnya, posisi dsbgnya, pokoknya bekerjalah yang terbaik, memperbaiki diri sendiri secara terus menerus. Maka, lihat saja besok lusa, semua pintu2 kesempatan akan terbuka dengan sendirinya.

***

Hari senin ini, mungkin sama dengan hari-hari sebelumnya. Hari senin yang digunakan oleh sebagian besar kita untuk memulai aktifitas bagi yang telah menikmati akhir pekan dengan liburan. Tentu saja bagi yang libur, kalau yang bekerja shift seperti kami, libur di hari minggu tentu saja karena jadwal libur yang kebetulan jatuh di hari itu, hehe.

Namun kawan, hari senin ini bertepatan dengan peringatan salah satu hari besar bagi bangsa kita. 28 oktober, puluhan tahun lalu, telah terjadi sebuah kejadian yang hingga saat ini masih terasa dampaknya. Sumpah oleh para pemuda. Sumpah yang menggerakkan para jiwa muda untuk bersatu, bergerak, melakukan perubahan yang kemudian berujung kemerdekaan bagi bangsa ini. kemerdekaan yang tentu saja tidak diraih dengan harga murah. Butuh keringat dan darah yang bercucuran, bahkan tidak sedikit para pahlawan yang gugur untuk tegaknya kemerdekaan bagi bangsa ini.

Cerita selanjutnya dari Tere liye tentang hari “Sumpah Pemuda” ini, cerita yang insyaallah bisa kita teladani bersama. Berikut ceritanya,

*Sumpah

Maukah kalian mendengar cerita tentang seorang pemuda? Tampan orangnya, pintar sekali, dermawan dan baik hati, dan jelas dia seorang pembicara yang ulung, disukai banyak orang. Tapi, orang melupakan fakta yang sangat mengharukan, bahwa pemuda ini, menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam penjara, di pengasingan.

Jika kalian harus menghabiskan lebih dari 10 tahun di penjara, dalam pengasingan, bagaimana kira-kira? Dan semua pengasingan itu sederhana, karena kita tidak bersalah. Kita diasingkan karena memiliki cita-cita luhur, memiliki mimpi-mimpi indah, memiliki kecintaan yang luar biasa atas orang banyak. Kita diasingkan untuk semua kebaikan yang kita lakukan. Bagaimana kira-kita? Lebih mengharukan lagi.

Tapi beginilah nasib pemuda ini. Akan saya catat satu-persatu pengasingannya di seluruh negeri Indonesia secara kronologis.

Cerita ini bermula 80 tahun silam, tahun 1929, saat usianya 28 tahun ketika dia ditangkap pertama kali, lantas dijebloskan dalam penjara Banceuy, Bandung. Kalau kalian pernah ke Bandung, pasti tahu jalan Banceuy. Beliau pernah dipenjarakan di sana. Kemudian dipindahkan ke Penjara Sukamiskin Bandung (tempat top tahanan korupsi sekarang), tapi pemuda ini sungguh tidak dipenjara karena hal hina tersebut. Dia dipenjara 2 tahun di sini.

Dibebaskan, menikmati kebebasan selama 3 tahun, pada usia 33 tahun, dia dibawa ke nun jauh ke pulau Flores, Ende, NTT. Diasingkan habis-habisan dari apapun. Di sini, dia harus menelan sepi selama 4 tahun 9 bulan. Bahkan hingga hari ini, pulau Flores tetap saja tidak mudah digapai dari Jakarta, apalagi masa itu, 80 tahun silam. Naik kapal, naik kuda, jalan kaki. Itu perjalanan panjang. Masa itu, kiriman surat dari Flores ke Jakarta, butuh waktu berbulan-bulan untuk tiba.

Lepas dari Ende, dia diangkut ke Bengkulu, sempat dijebloskan ke penjara Benteng Marlborough yang seram itu, kemudian diasingkan di rumah selama 4 tahun. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, hidupnya hanya pindah lokasi pengasingan saja. Dari Bengkulu, saat usianya 41 tahun, dia dibawa ke Padang dan Bukit Tinggi, lagi-lagi pindah lokasi. Dan bahkan cerita belum selesai, dia juga diasingkan di Muntok beberapa tahun kemudian, saat Indonesia sudah merdeka.

Pemuda ini adalah Soekarno. Kita mungkin tidak pernah tahu–atau tidak peduli, dia pernah dipenjara, diasingkan oleh penjajah lebih dari 10 tahun, mulai usia 28 hingga usia 42 tahun. Kenapa dia dipenjara? Karena dia ‘bersumpah’ akan memerdekakan bangsa ini. Kenapa pula dia harus repot-repot memerdekakan bangsa ini, apa untungnya? Mending ke Belanda sana, jadi orang terdidik yang kaya dan terkenal. Saya tidak tahu alasan pastinya. Pemuda ini pastilah memiliki kecintaan yang baik atas orang banyak. Dia ingin semua orang hidup merdeka, layak, aman, sejahtera. Maka dia siap menebus keinginan tersebut dengan apa saja.

Sejarah selalu mencatat: orang-orang hebat, yang memang hebat, pasti pernah mengalami masa-masa  sulit dan mengharukan. Dipenjarakan adalah salah-satu resiko yang paling mudah terlihat. Saya tidak bilang Soekarno adalah orang yang sempurna, pasti masuk surga, dsbgnya, tapi kita bisa belajar banyak dari pengalaman hidupnya. Adanya negara Indonesia, tentu MUTLAK atas berkat rahmat Allah (yg disebut dalam preambule), tapi daya upaya Soekarno menjadi bagian dari jalan kemerdekaan tersebut–termasuk daya upaya pemuda2 lain seperti Bung Hatta (yg juga diasingkan 10 tahun lebih), Syahrir, dsbgnya. Allah memilih pemuda2 ini sebagai jalan kemerdekaan, jalan kehidupan kita yang damai tenteram–tidak seperti Suriah, Afganistan, dll yang masing perang.

Maka, mengenang masa-masa itu, hari ini, di hari sumpah pemuda, semoga sejarah tidak terbalik, semoga masih ada pemuda-pemuda yang memiliki kecintaan kepada orang banyak. Punya mimpi agar anak-anak di sekitar kita hidup lebih baik, hidup lebih bermartabat dan bahagia. Pemuda-pemuda yang peduli, mau bermanfaat bagi banyak orang. Bukan hanya memikirkan dunia, sikut menyikut, merusak diri sendiri, dan zalim sekali. Lihatlah, penjara Sukamiskin Bandung, tidak lagi menahan pemuda seperti Soekarno, yang ditahan karena kecintaan yang baik, Sukamiskin Bandung sekarang lebih banyak menampung pemuda yang korup, yang kecintaannya pada harta benda lebih tinggi.

Semoga dua cerita tadi bisa menambah pemahaman kita, pemahaman baik tentang bagaimana kita bersikap dan berperilaku. Saya merasa, akan sangat tidak berguna sekali kalau kita menyombongkan diri di depan orang-orang. memamerkan apa-apa yang yang dipunya, yang parahnya, bisa jadi masih merupakan pemberian orang tua.

Masih ada yang perlu kita perbaiki kawan, masih banyak. Mari bersama kita memperbaiki diri dan belajar untuk menghilangkan rasa sedikit-sedikit mengeluh yang mungkin masih ada diantara kita.

Kalau dulu Soekarno pernah meminta 10 pemuda agar bisa mengguncang dunia. Lantas, apakah kita bisa masuk dalam salah satu daftar pemuda itu?

Batam, 28 Oktober 2013, 19.53 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: