Awal Bulan, Saatnya Perbaikan Lagi

1 Nov

#Turn On 77

Hari jumat di awal bulan ini. Cerah. Di depan rumah-rumah menggelayut embun yang sedari tadi kelihatan malas untuk bergerak. Udara di pagi hari, memang sangat terasa kesejukannya. Alangkah bahagianya bagi mereka yang bisa merasakan hal ini. merasakan indahnya pagi bersama segarnya udara yang mampu mengisi energi hari ini.

Alhamdulillah, kita memasuki bulan baru lagi. bulan kesebelas dari duabelas bulan yang ada di tahun ini. sudah hampir khatam tahun 2013 ini. Dan juga, dalam beberapa hari lagi, kita akan memasuki tahun baru hijriah yang insyaallah akan tiba besok hari selasa.

Pertanyaannya sekarang, apakah sudah ada perbaikan lagi dalam diri kita?

Atau jangan-jangan, diri kita ini sama saja sejak bertahun-tahun lalu. Seperti sebuah cerita yang sering saya dengarkan di radio, cerita yang hampir tiap hari diulang-ulang. sampai-sampai saya hafal ceritanya.

Cerita tentang seekor lalat yang melihat makanan di sebuah rumah. Masuklah ia kesana. Namun, setelah ia masuk, dan setelah mencicipi makanan yang ada, ia dipanggil kembali oleh teman-temannya yang ada di luar jendela rumah.

Lalat itu pun berusaha keluar dari rumah tersebut. Ia berusaha keluar dengan menerobos jendela kaca yang ada. Sekali, dua kali, tidak berhasil. Lalu ia ulangi lagi, sekali, dua kali, tiga kali, tidak berhasil juga. sampai akhirnya, lalat itupun menjadi jatuh karena lemas.

Selang beberapa saat, datanglah sekelompok semut yang mencari makanan melintasi lalat itu. mereka menemukan lalat itu sudah menjadi bangkai. Lantas, ada seekor anak semut bertanya kepada orang tuanya.

“Mengapa lalat itu mati Pak?’, tanya si anak semut,

Orang tuanya pun menjawab, “Lalat itu terkulai lemas dan menjadi seperti ini karena ia ingin keluar dari rumah ini. sayangnya, ia terus melakukan hal yang sama tanpa memikirkan cara lain. Hanya menerobos jendela kaca yang sama. Semakin keras ia berusaha, tapi dengan caranya yang sama, hasilnya pun akan sama, jadilah lalat ini sekarang menjadi bangkai yang akan menjadi santapan kita hari ini”.

Si anak semut itu pun paham, saya juga demikian.

Ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. jika setiap harinya kita hanya melakukan hal yang sama. Rutin, tanpa ada perubahan, tanpa adanya inovasi, bisa-bisa kita bisa mati sebelum kita dinyatakan mati. Karena tidak adanya perubahan dalam diri kita.

Lalu, mengapa kita menjadi demikian. Saya kira, salah satu hal yang membuat kita menjadi seperti ini adalah begitu mudahnya kita berkeluh kesah. Begitu mudahnya kita melakukan hal yang demikian terhadap apapun yang terjadi dalam keseharian kita. Apa saja. mengapa saya berpendapat demikian?.

Lihatlah kawan, begitu berserakannya hal ini di jejaring sosial. Begitu berceceran mereka menuliskan apa saja yang entah mereka sadar atau tidak, hal itu bisa dibaca oleh siapa saja. iya kalau yang ditulis bisa memberikan manfaat bagi orang lain, bisa memberikan informasi yang dibutuhkan orang banyak. Tapi, yang ada, lebih banyak tulisan-tulisan bernada galau yang menghiasi dinding dunia maya ini yang kiranya kurang pantas dibaca. Memang, itu jejaring sosial milik mereka, akun-akun mereka, namun, bukankah lebih baik jika media ini bisa digunakan secara sehat dan bermanfaat?.

Saya membaca sebuah tulisan yang insyaallah bisa membuat pemahaman kita menjadi lebih baik tentang hal ini. bolehkah kita berkeluh kesah?, tentu saja, tapi ada cara dan tempat yang baik bagi kita, silahkan dibaca tulisan Tere Liye dengan judul “Pengumuman Seluruh Dunia” ini.

Nabi Yakub, adalah ayah Nabi Yusuf. Semasa kecil, Yusuf ditinggalkan oleh kakak-kakaknya yang iri di dalam sumur tua, lantas mengarang kisah kepada Ayah mereka bahwa Tusuf diterkam srigala dengan membawa pakaian dengan darah (palsu).

Sedih sekali Nabi Yakub kehilangan anak tersayangnya. Berpuluh tahun dia merindukan anaknya. Belum cukup dengan itu semua, Bunyamin, anaknya yang lain juga ditahan di negeri Mesir. Mata Nabi Yakub yang terlalu sering menatap kejauhan, menerawang, memikirkan anak-anaknya tersebut bahkan berubah menjadi putih, dan butalah dia. Berat sekali kehilangan dua anak.

Nah, yang menarik adalah, apakah Nabi Yakub berkeluh kesah?

Dalam surah Yusuf 86 jelas ditulis: “Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”

Silahkan buka kitab suci, baca kisah-kisah terbaik di dalamnya, maka sempurna semua jawaban orang-orang terbaik adalah: hanya kepada Allah-lah aku mengadukan kesusahan dan kesedihan, tempat berkeluh kesah.

Manusia itu memang sifatnya berkeluh kesah, itu sudah dikunci dalam Al Qur’an juga. Tapi pertanyaannya, apakah kita akan berkeluh kesah kepada yang menerima semua pengaduan, atau berkeluh kesah kepada manusia–yang terkadang justeru menambah rumit masalah.

Apapun pilihan kalian, please pastikan, kita tidak berkeluh kesah di Facebook, Twitter, di jejaring sosial. Oh Allah, bagaimana mungkin kita berkeluh kesah secara massif di dunia maya? Apa gunanya? Untuk mencari perhatian? Puas? Jadi plong? Hentikanlah memamerkan kesedihan, kegalauan. Itu jelas, memang hak setiap orang mau ngapain saja di dunia ini. Tapi pikirkanlah dengan baik. Sungguh, tidak ada ruginya berpikir. (Tere Liye)

Kawan, semua hal yang ada di dunia ini bisa berubah, tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Mari, di awal bulan ini, kita berdoa semoga kita diberikan kesempatan untuk bisa memperbaiki diri. Bisa mengerti apa kekurangan kita sehingga kita bisa lebih mudah untuk memperbaikinya.

Karena, banyak juga dari kita yang belum bisa menemukan apa yang menjadi kekurangan dalam diri ini.

Batam, 1 November 2013, 07.26 AM,

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: