Salah Satu Rahasia Kecil Dari Diri Kita

20 Okt

#Turn On 74

Dalam salah satu Kalam Ilahi, tentu saja saya mendengarnya dari para guru yang menyampaikan, adalah jika kita bersyukur atas apapun yang dikaruniakan oleh Tuhan, maka Tuhan akan menambahnya. Itu pasti, bukan hanya sekedar janji. Hanya saja, seringnya, kita lupa terhadap hal yang satu ini.

Kita, sering melewatkan hal ini. bersyukur. Seringnya, kita malah lebih sibuk memperhatikan kesibukan serta apa-apa yang dilakukan orang lain. Sekolah, dari jenjang apapun, saya rasa sebagian dari kita sudah menempuhnya dengan (sebagian besar) dibiayai oleh orang tua dan tentu saja lebih banyak bantuan dariNya. Dan sekarang, jika sudah bekerja, lagi-lagi juga  sudah diberikan kesempatan olehNya. Namun, semuanya itu pun serasa masih kurang. Masih belum cukup. Inilah salah satu hal yang mesti kita perbaiki. Perlu sesegera kita benahi.

Pengaruh sosial media pun tidak luput dalam hal ini. Sesibuk-sibuknya kita, dengan apapun kegiatan yang kita lakukan sekarang. Pasti akan meluangkan waktu untuk sekedar jalan-jalan di dunia maya. Kita jalan-jalan sambil melihat banyaknya orang yang menulis disana-sini dengan berbagai hal yang mereka lakukan.

Bahayanya, kalau kita tidak bisa memfilter setiap informasi yang ada dan menelan mentah-mentah setiap hal yang berserakan di dunia maya itu. banyak orang yang menulis dengan rapi, bermanfaat, perlu dan dibutuhkan dibaca orang lain. Namun lebih banyak lagi orang yang menulis hal-hal yang seharusnya bisa tidak dibagikan ke orang banyak, tidak sepantasnya menjadi konsumsi publik. Entah itu mulai dari perdebatan tiada ujung, bertengkar di dunia maya, dan yang lebih banyak lagi tentang banyaknya orang yang mengeluh.

Nah, kaitannya dengan hal “mengeluh” inilah saya menulis catatan ini. seringnya, kita mengeluh dengan berbagai hal yang kita alami sekarang. Seakan tiada cukup-cukupnya apapun yang telah diberikan kepada kita. selalu kurang dan selalu ingin minta lebih. Padahal yang sudah ada, kita belum meluangkan waktu untuk mensyukurinya, untuk sekedar berterima kasih. Saya pun sering melewatkan hal sederhana ini yang harus segera dibenahi.

Terkait dengan hal ini, saya menemukan bacaan yang kiranya bisa memberikan manfaat bagi diri kita semua. Sebuah catatan dari Bang Tere. Tulisan dengan judul “Rahasia Rakus “ ini, mengena, atau banyak orang yang bilang “mak jlebb”, kata-katanya mudah dicerna dan banyak hikmah yang bisa dipetik dari tulisan sang ahli fiksi ini. Silahkan dibaca, semoga bermanfaat.

Rahasia rakus

Monyet itu makan buah-buahan di hutan. Apa saja dia makan. Favorit makanan monyet–menurut pemahaman semua orang–adalah pisang. Wah, sepertinya pisang ini lezat sekali bagi monyet. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana caranya monyet ini bisa makan buah-buahan? Jangankan disuruh berkebun, menanam pisang. Disuruh yang lebih mudah saja, makan tanpa belepotan misalnya, susah. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan monyet, yang tidak punya kemampuan berkebun, bagaimana cara agar monyet ini bisa bertahan hidup di dalam hutan sana?

Cicak itu merayap di dinding. Makanannya adalah nyamuk, hewan yang bisa terbang. Satu hanya merayap, satu lagi bisa terbang kemana-mana. Aduh, lagi-lagi, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan cicak yang merayap dengan makanan nyamuk yang terbang? Nggak setara sama sekali. Bagaimana itu nyamuk akan menangkap nyamuk? Tidak masuk dalam pikiran.

Belum lagi kura-kura. Sudah lambat, merangkak pula, susah kemana-mana. Bagaimana mungkin si kura-kura ini bisa menafkahi keluarganya? Jangan-jangan istri si kura-kura akan terus teriak ke suaminya, “Kamu ini, sudah lelet, cuma tidur-tiduran, lihat, anak-anak kita minta makan. Ayo kerja sana.”

Apalagi cacing, kerjaannya cuma merambat di dalam tanah. Bagaimana dia cari makan? Bahkan entahlah kenapa cacing itu bisa besar-besar. Makan humus? Makan tanah? Kecuali yang masuk ke dalam tubuh manusia/hewan, wajar bisa beusar-beusar, karena inangnya berlimpah makanan. Pun binatang-binatang lain, yang melata di muka bumi, yang berlari di atas bumi, yang berenang, yang terbang. Terkadang logika mencari makan mereka susah dipahami.

Tapi ternyata mereka hidup semua. Cicak misalnya, tidak ada yang memposting di jejaring sosial: “aduh, nasib malang, seharian saya merayap mengejar nyamuk, nggak berhasil-berhasil.” atau posting yang lebih serius: “ya Allah, kenapa aku nggak dikasih sayap sih? dan si nyamuk itu merangkak?” Nyatanya tidak. Si cicak sukses menangkap banyak nyamuk. Apa resepnya? Bersabar mengintai. Bersabar mencari posisi paling strategis. Lantas saat si nyamuk mendekat, hap! lalu ditangkap. Bersabar dalam usaha yang sungguh membutuhkan rasa sabar.

Juga monyet, mereka beramai-ramai terus mengelilingi hutan, mencari makanan. Naik, turun, kiri, kanan, depan, belakang. Terus menyisir setiap jengkal hutan mencari nafkah. Mereka memang tidak bisa bercocok tanam, tapi mereka bisa mencari rezeki yang dijanjikan Allah bagi keluarga monyet-monyet ini. Dan kura-kura pun tidak cemas. Meski mereka lambat, mereka tetap mencari rezeki tersebut. Boleh jadi, istri si kura-kura selalu menyemangati suaminya, “Kamu hari ini sudah lebih cepat kok, Beb. Besok pasti bisa lebih cepat lagi nyari makan buat anak-anak kita.” Tentu saja, ini cuma buat lucu-lucuan, di dunia nyata, tidak semua hewan bertanggungjawab atas nafkah anak2 mereka.

Jadi, tidakkah kita memperhatikan, jika rezeki binatang-binatang itu saja terjamin, maka kita pun akan terjamin. Tinggal bagaimana kita menjemputnya sekarang. Bersabar, terus tekun berusaha, tidak mudah menyerah.

Dan jangan lupakan nasehat kecil ini: binatang-binatang itu bahagia dengan rezeki mereka. Saya tidak pernah menemukan hewan yang mengeluh sedih, atau curhat. Tidak ada. Binatang-binatang itu bahagia dengan rezeki mereka. Kenapa mereka bisa bahagia? Karena mereka selalu merasa cukup dan senantiasa bersyukur.

Semua manusia itu dijamin rezekinya, sepanjang mau berusaha. Dijamin cukup. Tapi tidak semua dari manusia dijamin akan MERASA cukup. Karena bagi orang-orang yang serakah, rakus, bahkan di rumahnya ada 10 mobil super mewah, dia tetap tamak, dan orang2 ini sangat berbahaya, karena mereka tega menzalimi, mengambil rezeki orang lain demi memenuhi nafsu belaka.

Kita ini kadang lupa, bahkan seekor singa buas, tidak akan membunuh kijang kedua hanya karena dia tamak. Sekali singa kenyang, dia tidak akan berburu lagi, mengumpulkan daging.

Manusia, kadang lebih binatang dibanding binatang–padahal Allah, memberikan kita petunjuk hidup.

***

Semoga catatan kecil ini bisa bermafaat bagi sesama, mohon koreksinya saja bila ada hal yang kurang berkenan. Tidak ada kata terlambat untuk bersyukur. Hal ini sederhana, hanya saja sering kita lupakan keberadaannya.

Batam, 20 Oktober 2013, 14.45 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

2 Tanggapan to “Salah Satu Rahasia Kecil Dari Diri Kita”

  1. devisariha 22 Oktober 2013 pada 6:37 pm #

    Assalamualaikum…
    Nihao ma?

    • arsyad syauqi 2 November 2013 pada 2:42 pm #

      waalikumsalam warahmatullah, alhamdulillah baik dev

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: