Baik Terhadap Sesama

18 Okt

#Turn On 72

Alhamdulillah, kiranya, itulah kata pembuka yang paling pas untuk membuka catatan kali ini. Alhamdulillah, perjalanan saya lancar, semenjak dari Kudus, transit Semarang untuk naik pesawat, lalu transit lagi di Jakarta, dan Alhamdulillah malam ini saya sudah berada di Batam lagi. episode Merantau akan dilanjutkan lagi, hehe.

Kita semua tahu, beberapa waktu yang lalu kita merayakan Hari Raya Idul Adha atau lebih dikenal dengan nama Hari Raya Kurban. Dan sebagian besar dari kita, saya yakin, sudah banyak mendengar cerita seputar kejadian istimewa ini. dan tentu saja, Hari Raya Idul Adha sangat erat kaitannya juga dengan pelaksanaan ibadah Haji di Tanah Suci di Mekkah.

Kali ini, saya ingin menulis uang sebuah artikel yang berjudul “Haji Mabrur, Baik Terhadap Sesama Jamaah” yang saya baca dari buku “Membuka Pintu Langit” nya Gus Mus. insyaallah, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari catatan ini. silahkan dibaca,

Haji Mabrur, Baik Terhadap Sesama Jamaah

Segala kesibukan itu- dari  menghitung tabungan, urusan ke Departemen Agama, antre di bank, periksa kesehatan, kursus manasik haji, pamit-pamit, tasyakuran, menerima tamu-tamu yang titip doa, sampai upacara pelepasan di rumah, di kabupaten, hingga di embarkasi- sungguh melelahkan para calon jemaah haji. Belum lagi urusan di bandara-bandara. Segala kesibukan itu tentunya pertama-tama karena didorong oleh keinginan hidup bahagia di akhirat. Di surga Allah. Bukankah para penatar manasik selalu menyitir sabda Nabi Muhammad SAW, “Wal hajjul mabruur laisa lahu jazaa-un ilal jannah”? Haji mabrur tak ada balasan kecuali surga.

Maka, bukan saja dalam kerelaan menanggung segala- biaya (termasuk biaya yang tidak seharusnya), tenaga, dan pikiran yang dapat kita lihat dari kesibukan calon haji itu, tetapi juga dari semangat dan keseriusan mereka saat beribadah di tanah suci. Siapa yang mau bersusah payah sedemikian tanpa hasil, sia-sia, gara-gara haji tidak mabrur.

Semuanya ingin haji mabrur. Para petugas dari Departemen Agama, perkumpulan-perkumpulan haji, dan KBIH-KBIH pun senantiasa memujikan hal itu. namun sayang, pengertian tentang “mabrur” itu sendiri jarang atau bahkan tidak pernah diterangkan. Hal ini mungkin karena mereka sudah mempunyai husnuzhzhan bahwa para jamaah sudah paham, atau boleh jadi, mereka sendiri pun kurang paham. Yang selalu dijelas-jelaskan justru bagaimana cara thawaf, sa’I, wuquf, melempar jumrah, serta amalan ibadah haji dan doa-doanya. Di beberapa daerah, bahkan, didirikan kabah-kabahan permanen atau semi permanen untuk keperluan “latihan” thawah. Ini sebenarnya lucu.

Mengapa harus kursus dan latihan?. Haji adalah ibadah amaliyah. Ibadah laku. Tidak seperti shalat yang disamping laku, ada bacaan-bacaan yang wajib juga. sedangkan amalan atau laku ibadah haji, tidak ada yang sulit. Ihram hanya memakai pakaian, shalat sunnah, dan niat. Thawaf hanya berputar-putar mengelilingi Kabah 7 kali. Anda tidak bisa membayangkan orang-sebodoh apapun tanpa dilatih sekalipun-keliru thawaf, misalnya keliru berputarnya. Sebab, jika keliru berputar, orang itu akan tertabrak orang-orang yang lain. Sa’I hanyalah mondar mandir dari Shofa ke Marwah. Jalur jalannya sudah diatur dua jalur; yang menuju ke Marwah dan kembali ke Shofa. Tak mungkin orang keliru, kecuali-paling-paling-lupa hitungannya.

Wuquf yang merupakan inti ibadah haji justru hanyalah berdiam diri. Thenguk-thenguk, bahasa Jawanya. Masak berdiam diri saja mesti dilatih? Hanya beberapa anak kecil yang biasanya sulit thenguk-thenguk. Melempar jumrah pun ya hanya melempar. Bagi mereka yang di waktu kecil nakal dan suka melempar jambu tetangga, melempar jumrah pun perkara kecil, sedangkan yang namanya tahallul, tidak lain hanyalah mencukur atau memotong rambut.

Jadi, menurut saya, hal-hal yang seperti itu perlu dikurangi-jika berat menghapusnya-dari kurikulum penataran manasik haji. Yang justru perlu adalah memberikan penerangan kepada jamaah calon haji-yang umumnya orang-orang awam-tentang hal-hal teknis lainnya. Misalnya, apa yang sebaiknya dibawa dan apa yang tidak perlu dibawa, bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana menghadapi “kehidupan luar negeri”dan tetek bengeknya, bagaimana menghadapi berbagai macam manusia yang berbeda adat-istiadatnya, dsb, dst.

Berkenaan, dengan hadis tentang kemabruran haji itu, ada riwayat yang menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat saat Nabi Muhammad SAW menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu : “Wamaa birrul hajji ya Rasulallah?” apa kemabruran haji itu ya Rasulallah?, dan ternyata jawaban Rasulallah tidak berhubungan dengan thawaf, sa’I, dan sebagainya itu. tetapi, justru yang ada hubungannya dengan pergaulan dengan sesama jamaah yang sama-sama beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan. Bila riwayat ini dianggap dhaif, kita masih bisa menyimak sunah Rasul saat melakukan ibadah haji. Bagaimana sikap tawadhu’, kemurahan, kelembutan, dan hal-hal lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba kepada Tuhan dan teposliro beliau kepada sesama hamba-Nya.

Boleh jadi, semangat yang menggebu-gebu untuk mendapatkan kemabruran tanpa memahami makna kemabruran itu sendiri dapat menyeret jemaah haji kepada sikap egois dan mau “menang sendiri”. Lihatlah mereka yang berusaha mencium Hajar Aswad itu, misalnya. Alangkah ironis. Mencium Hajar Aswad paling tinggi hukumnya adalah sunnah, tapi mereka sampai menyikut saudara-saudara mereka sendiri kanan kiri. Bagaimana berusaha melakukan sunnah dengan berbuat yang haram? Jangan-jangan, dalam banyak hal lain, kita juga hanya mengandalkan semangat yang menggebu dan mengabaikan pemahaman. Masya allah.

Nah, jika ingin menjadi haji mabrur, jagalah hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama hamba Allah. Selamat beribadah, semoga benar-benar mabrur!.

Demikian catatan kali ini, selamat malam, selamat membaca serta selamat beristirahat bagi kawan semua. Semoga hari esok kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Batam, 18 Oktober 2013, 20.52 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: