Selamat Pagi Kudus

14 Okt

#Turn On 70

Pagi ini, masih dengan suasana khas kampung kecil kami. Suara burung berkicau disana sini, ada Murai Batu, Bentet, serta beberapa burung lainnya, yang kesemuanya ada di dalam sangkar milik sang empunya. Udara pagi yang sejuk, karena tepat di sebelah rumah saya adalah ladang luas dan ada sungai yang memisahkan Kudus dengan Demak.

Kampung saya terbilang kecil. Semisal dibuat prosentase. Mungkin hanya sekitar sepuluh  persen saja yang digunakan untuk tempat tinggal penduduk. Selebihnya?, Hamparan sawah, ladang dan sungai membentang sejauh mata memandang.

Ada beberapa sungai di kampung kami. Mulai dari sungai besar yang menjadi batas kota antara Kudus dan Demak yang letaknya di sebelah barat desa, sungai buatan yang ada di timur desa, ada juga sungai yang alami yang mengalir sepanjang tepi persawahan yang luas di kampung kami.

Sungai yang menjadi pembatas kota, namanya Sungai Wulan. Sungai ini terletak sekitar tiga ratus meter di belakang rumah saya. Sekedar cerita. Dahulu kala, rumah penduduk di kampung kami ini terletak di dekat aliran sungai. Di sepanjang aliran sungai ini, masih bisa ditemukan bekas-bekas kuburan. Ada beberapa nisan yang terbuat dari kayu yang masih tersisa. Bapak saya pernah bercerita kalau beliau pernah melihat tulang manusia di tepian sungai.

Namun, karena sungai ini mulai meluap, dan setelah itu sering meluap karena terjadi pendangkalan. Maka rumah penduduk dipindahkan sekitar tiga ratus meter di sebelah timur sungai. Disilah sekarang kami bertempat tinggal. Dan di belakang rumah kami, diberi tanggul yang berfungsi menahan air ketika sungai meluap.

Kalau dua sungai lainnya, terletak di sebelah timur kampung kami. Sungai buatan yang terbuat dari beton yang berfungsi sebagai irigasi bagi sawah di kampung kami. Inilah salah satu sungai kesukaan saya. Setelah sekolah agama di sore hari, biasanya saya beserta teman-teman kampung akan mandi disini. melompat dari tepian suangai. Byur, byur, suara terdengar. Kulit kami yang memang berwarna coklat akan menjadi hitam, haha. tak ayal kami sering kena marah sama orang tua kami masing-masing karena pulang menjelang maghrib dengan kondisi yang gak karuan.

Lalu ada juga sungai yang membentang sepanjang tepian sawah di timur desa kami. Kalau yang satu ini, dalam sungainya. Airnya jernih. Orang-orang sering memancing di tempat ini. saya pun tidak ketinggalan. Pernah juga, saya bermain dengan kawan sekolah saya untuk menangkap ikan dengan jala. Saya kagum dengan teman saya ini. tangannya kuat untuk mengibaskan jala yang begitu besarnya. Beda dengan saya, jarang bermain dengan benda seperti itu. jadi ya karena memang tidak terbiasa jadi belum bisa, hehe.

Pernah kah banjir melanda desa kami?. Jawabannya pernah. Sudah dua kali banjir melanda kampung kami. Yang pertama, sekitar akhir tahun 1992 menjelang tahun 1993. Saya hanya mengingat sedikit tentang kenangan itu. tentu saja karena saya masih sangat kecil untu bisa memahami kejadian itu. yang saya ingat sampai sekarang, ketika itu saya digendong oleh ibu saya, menusuri tanggul buatan yang begitu panjangnya. Mengungsi ke tempat saudara yang rumahnya tidak terkena banjir. Sepanjang jalan yang saya lihat hanya air, air, dan air. Ditambah orang-orang yang mengangkat berbagai barang bawaan mereka.

Yang kedua, akhir tahun 2007 lalu. banjir yang kedua ini, saya masih ingat betul kejadiannya. Mulai dari air yang perlahan-lahan merembes ke lantai rumah. kemudian, dengan perlahan meninggi. Sore itu, hari kamis, tanggal 27 desember. Saya masih mengingatnya.

Kami sekeluarga tidak mengungsi. Hanya bertahan di lantai dua tempat tinggal kami. Ketinggian air diperkirakan mencapai dua meter. Malamnya, ada suara seperti gemuruh yang membuat merinding. Tapi itu cerita orang yang mendengarnya. Karena saya sudah tertidur sebelum jarum pendek sampai di angka sepuluh. Baru pagi harinya saya tahu, tanggul penahan air yang membentang di sepanjang belakang rumah saya ada yang jebol. Sekitar lima pulu meter di sebelah kanan rumah serta sekitar seratus meter di sebelah kiri. Rumah kami, beserta beberapa tetangga kami yang belum mengungsi, sempurna terisolasi.

Bantuan dari luar agak sulit masuk. Air yang mengalir deras dari area yang jebol sungguh sangat derasnya. Beberapa perahu karet yang berusaha masuk tertahan. Saya hanya bisa memandanginya dari atap rumah. beruntung dengan pengalaman orang tua saya. Sebelum banjir datang. Berbagai barang yang penting diselamatkan, surat-surat berharga, alat-alat masak seperti kompor, panci, beras sudah diselamatkan. Alhamdulillah kami bisa bertahan, namun tidak akan lama.

Setelah dua hari surut, kami bisa keluar untuk bisa mendapatkan nasi bungkus bantuan dari dapur umum. Dan saya segera keluar ke pasar terdekat, yang berjarak sekitar lima kilometer dengan membawa sepeda untuk membeli beberapa bahan makanan. Alhamdulillah banjir sempurna surut setelah sekitar lima hari merendam kampung kami.

Dua kejadian itu, semoga menjadi yang terakhir di kampung kami. Kalau sudah di kampung, nostalgianya malah jadi begini, hehe. tapi, itu adalah sedikit sejarah kampung kami kawan. Itu juga yang saya jelaskan kalau ada kawan yang bertanya mengapa di tepi jalan saya, di kampung kami kok ada tanggul yang panjang. Saya juga bisa panjang menceritakannya, hehe.

Masih di pagi ini, sektar pukul lima pagi tadi. Matahari disini lebih dulu menyapa dibandng saat saya masih di Batam dua belas hari lalu. Kalau bangun jam empat disini, suara adzan sudah sahut menyahut. Dan suasana pagi di kampung kecil ini juga, sudah sangat ramai orang berlalu lalang untuk berangkat bekerja. ada yang ke sawah, menyiangi rumput atau melakukan penyemprotan terhadap hama. Karena saat ini di kampung kami sedang masa tanam benih padi.

Pemandangan lain di kampung kami di pagi ini. Orang-orang pergi ke pasar, dengan berbagai barang dagangannya, juga orang-orang yang belanja untuk kemudian dijual kembali atau sekedar untuk keperluan sendiri. Karena rumah saya dekat dengan pasar, sehingga saya bisa dengan leluasa menikmati pemandangan ini.

Saya masih ingat masa kecil dulu, ketika kakek saya masih hidup. Saat itu, saya belum tahu apa manfaat permainan yang diajarkan kakek saya. Yang saya tahu, ketika pagi-pagi seperti ini, saat ada pasar di kampung kami. Karena pasar ini beroperasi lima hari sekali. Nama pasarnya Pasar Wage. Jadi hanya setiap wage (nama-nama pasaran yang ada di Jawa, antara lain Wage, Kliwon, Legi, Paing, Pon) pasar ini ada, selain hari itu, kosong tidak ada yang berjualan.

Kakek saya mengajari saya menghitung delman yang lewat. Masih sekitar kelas dua SD saya saat itu. jadi, mulai sekitar pukul lima pagi. Saya sudah duduk di depan rumah. bersama kakek saya, bersama-sama, menghitung jumlah delman yang lewat. Setelah itu, saya diajak jalan-jalan ke timur desa, ada tanggul buatan juga yang membentang sepanjang kampung kami. Biasanya, setelah jalan-jalan, kami akan ditraktir makan. Lentog pecel adalah makanan yang biasa kami santap bersama.

Suara lauk pauk yang digoreng. Suara yang jarang saya dengar ketika masih di asrama. Biasanya sepagi ini, saya hanya menemukan suara alarm yang sahut menyahut untuk membangunkan yang memasang alarm. Beberapa ada yang bangun, dan ada juga yang bangunnya entah jam berapa. Seakan alarm yang berbunyi malah menjadi semacam lagi nina bobo yang semakin membuat terlelap bagi yang mendengarnya, haha.

Pagi ini, ibu saya sedang menggoreng sesuatu guna dihidangkan untuk sarapan pagi. Ah, sarapan di pagi hari. Lagi-lagi ini menjadi sesuatu yang khas ketika di rumah. makan bersama keluarga. Mumpung sedang di rumah, mari dinikmati.

Suasana kebersamaan, menjadi barang mewah bagi keluarga kami. Karena anak-anak ibu kami berada di peratauan semua. Ada yang di Jogja, di Ponorogo, dan saya jalan-jalan di Batam, hehe. seminggu kemarin kakak saya berkunjung ke Kudus, insyaallah besok gantian saya menjenguk saudara yang ada di Ponorogo. Saudara yang kebanyakan orang dibilang kembar dengan saya, padahal jarak umur kami tujuh tahun, kok bisa ya?, entah lah, hehe.

Kudus, 12 Oktober 2013, 06.40 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: