Selamat Datang Di Bumi Reyog Kawan

14 Okt

#Turn On 71

“Tinggal bentar lagi mas, lurus saja”.

Pernyataan yang datang dari penduduk yang tinggal di tengah hutan itu, akan menjadi salah satu hal yang akan saya ingat untuk waktu lama. Mengapa demikian?.

Pagi ini, waktu menunjukkan pukul 05.30,  setelah direncanakan jauh hari sebelumnya, saya dan bapak akan pergi mengunjungi adik saya yang ada di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Tepatnya di Gontor satu. Sebenarnya, setelah saya membaca novel “Negeri Lima Menara” nya Ahmad Fuadi sekitar empat tahun lalu, justeru saya yang ingin ke tempat ini. untuk menuntut ilmu. Untuk belajar bahasa-bahasa dunia. Karena memang system disini mengharuskan para santri untuk menggunakan bahasa arab dan inggris selama tujuh hari kali dua puluh empat jam.

Namun, orang tua saya belum mengijinkan, dikarenakan saya tinggal setahun lagi masa belajar saya di akademi dan keadaan ekonomi keluarga paska banjir yang belum pulih benar. Akhirnya saya mengalah. Saya melanjutkan masa belajar saya yang tinggal setahun dan mengambil pelatihan kamar operasi selama tiga bulan. Alhamdulillah sekarang saya bisa melihat adik saya yang sedang belajar di tempat ini. sedikit banyak bisa terobati keinginan saya untuk sekarang.

Setelah shalat shubuh. Kami bersiap-siap. Segala perlengkapan dan makanan ringan yang akan dibawa selama perjalanan dan juga akan diberikan kepada adik saya, ditata dengan rapi. Dimasukkan ke dalam tas berukuran sedang. Ada juga yang dimasukkan kardus. Saya sendiri?, selalu saja membawa tas punggung dengan perlengkapan utama antara lain, baju ganti, laptop, serta buku bacaan. Buku yang saya bawa adalah “Negeri Di Ujung Tanduk” nya Tere Liye, Alhamdulillah tinggal separuh lagi selesai. Karena rencana di Gontor mungkin sampai dua hari. Garing banget kalau tidak ada yang bisa saya baca.

Bismillah. Perjalanan kami mulai. Berangkat dari rumah sekitar pukul enam pagi. Belum sarapan, rencana kami akan sarapan di Purwodadi. Setelah sekitar satujam perjalanan, akhirnya kami sampai di Purwodadi. Kota yang terletak di sebelah selatan kudus ini menjadi tempat pertama kami istiirahat.

Tahun lalu, saat saya bersama bapak juga, pergi ke Ponorogo. Kami mengambil jalur Kudus-Purwodadi-Sragen-Ngawi-Madiun-Ponorogo. Perjalanan ditempuh sekitar enam jam ditambah waktu istirahat serta shalat jum’at. Karena tahun lalu saya pergi bertepatan dengan hari jum’at.

Kali ini, bapak minta rute berbeda. Kami akan melewati daerah Randu Blatung. Daerah yang ada di kawasan Blora ini, kata teman bapak saya, akan menyingkat perjalanan sekitar dua puluh kilometer menuju Ngawi. Kejadian inilah yang kemudian akan menjadi hal menarik dalam catatan saya kali ini.

Kami sarapan masakan rumahan. Pecel dan mendoan. Ah, nikmatnya. Agak susah menemukan masakan seperti ini di Batam. Mumpung di rumah, hal-hal seperti ini menjadi salah satu kesukaan saya. Selain masakannya beda, harganya jauh lebih murah, hehe.

Saya belum tahu benar rute yang diminta bapak saya. Sedangkan bapak saya hanya berbekal keyakinan saja. yakin kalau pendapat temannya itu benar. Jadi, kami banyak bertanya selama perjalanan.

Setiap ada jalan yang memisah menjadi dua, ada pertigaan, ada perempatan dan tidak ada petunjuk jalannya. Kami pasti berhenti. Bertanya sejenak sambil meluruskan kaki untuk peregangan. Entah berapa kali kami bertanya selama perjalanan ini, hehe.

“Nuwun Sewu, ke arah Ngawi mana ya Pak?”, Bapak bertanya pada tukang becak di pertigaan jalan.

“Lurus saja pak, sampai perempatan Wirosari, belok kanan”, kata bapak tukang becak itu.

Kami melanjutkan perjalanan. Menuju daerah yang disebutkan bapak tadi. Saya masih belum ada bayangan tempat itu seperti apa. Saya hanya mengikuti arahan dari bapak tersebut.

Setelah beberapa saat, sampailah kami di tempat yang disebutkan bapak tadi. Lalu belok kanan. Lurus terus. Meneruskan perjalanan. Disinilah saya melewati daerah wisata Bledug Kuwu. Daerah wisata yang pernah saya kunjungi saat masih umur enam tahun. Sekitar tujuh belas tahun lalu. Saya dan mbak saya diajak ke tempat ini. pulang membeli oleh-oleh dan sebuah buku sejarah tentang objek wisata ini. saya senang membaca buku itu. buku yang mengisahkan tentang asal mula adanya huruf Jawa Ha Na Ca Ra Ka. Buku mitos tentang ular di tempat ini. saya lupa namanya. Dan hari ini, saya melewatinya lagi. memang belum bisa mampir. Insyallah lain kali saja, hehe.

Setelah melewati tempat itu. saya berasa berada di tempat yang asing. Belum pernah saya jamah sebelumnya. “Yaudah, dibuat rekreasi saja”, kata bapak sambil bercanda.

“Bagaimana ceritanya ini dibilang rekreasi?”, pikir saya. “Kalau nanti tersesat? Kesasar?, bagaimana coba”, hati saya masih terus bergumam. Namun, inilah salah satu hal yang terkadang saya sukai dari bapak saya. Mencoba hal yang baru. yasudah, berangkat, semoga tidak tersesat.

Kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini memang berjalan pelan. Pelan dalam artian kami berjalan sekitar empat puluh sampai enam puluh kilometer per jam. Karena biasanya, hehe, saya sering ngebut kalau naik motor. Kalau ini jangan ditiru kalau bisa.

Sampailah kami di daerah itu. Randu Blatung. Karena kami menjumpai pertigaan, kami harus bertanya lagi.

“Nuwun sewu pak, ke arah Ngawi kemana ya?’, bapak kembali bertanya pada orang yang ada di tepi jalan.

“Ada dua jalan pak, kalau ke kiri, ke arah Cepu, masih sekitar tiga puluh kilometer, lalu masih ke arah Ngawi. Kalau ke arah kiri, itu jalan pintas Pak, tapi lewat area Perum Perhutani”.

Kalau ada dua pilihan seperti itu, tentu saja kami memilih jalan pintas. Akhirnya kami memutuskan jalan yang dianggap jalan pintas itu.

Kami memasuki jalan yang disebutkan itu. masuk pertama, saya hanya bergumam dalam hati semoga jalan ini baik. Dalam arti jalannya tidak banyak berlobang dan tidak banyak batunya. Baru bergumam seperti itu, bertemulah kami dengan jalan yang saya khawatirkan itu.

Jalan dengan kontur berlubang, naik turun, tidak rata, aspal (atau lebih tepatnya mantan aspal) yang sudah mengalami luka terbuka. Naik turun, kecepatan maksimal sepeda motor yang kami kendarai paling cepat hanya lima belas kilometer perjam.

Masuk area Perhutani. Malah jadi horror suasananya. Selama perjalanan kok hanya kami yang melewati tempat ini. benar tidak ini jalannya. Suara-suara dalam hati saya bertarung sendiri. Sambil berdoa, semoga tidak ada halangan selama perjalanan. Kalau sekali saya ban saya bocor atau mesin motor berhenti.  Pasti sangat berat nanti perjalanannya.

Ada hal yang sempat saya khawatirkan. Kalau ada orang yang berniat kurang baik kepad kami. Di tengah hutan sepi seperti ini. wah, tidak tahu lagi nanti jalan ceritanya. Kami hanya terus berjalan, berdoa, dan pasrah saja kepada Yang Maha Membuat Hidup.

Selama perjalanan, hanya terlihat jalan yang terlihat setelah tikungan yang dilewati. Setelah jalan Perhutani kami lewati, tentunya dengan jalan yang penuh dengan lobang disana-sini. Akhirnya kami memasuki daerah Ngawi. Kawasan Perhutani Ngawi. “Ahamdulillah”, saya bergumam dalam hati. “Akhirnya sampai juga di Ngawi”, saya melanjutkan gumaman saya.

Tapi, belum berhenti sampai disitu. Masih panjang perjalanan saya ternyata saudara-saudara. Kali ini, lebih parah. Jalannya tidak ada aspalnya sama sekali. Hanya da batu-batu yang dibuat landasan aspal. Celaka sekali kalau ban sepeda motor ini tidak kuat. Bisa-bisa kami tidak jadi sampai Ponorogo hari ini. apalagi, selama perjalanan kami, tidak ada satupun orang yang melintas.

Namun, kekhawatiran kami segera sirna. Ada beberapa orang yang melintas. Itupun dengan kecepatan yang melebihi kami. Mereka adalah penduduk asli daerah sini. Sudah hafal betul mereka dengan kontur tanah deerah sini. Mereka segera menyalip kami, segera hilang lagi. kami pun jadi sendiri lagi.

Akhirnya kami menemukan rumah penduduk. Kami kira sudah hampir sampai jalan besar, jalan raya yang akan menyudahi penderitaan kami dalam bersepeda motor kali ini. kami berhenti sejenak, beristirahat, minum air yang kami bawa sebelumnya. Kemudian bertanya kepada penduduk sekitar.

“Tinggal bentar lagi mas, lurus saja”, kata salah seorang penduduk kepada kami. Saya bersemangat mendengar kata-kata tersebut. Segera kami melanjutkan perjalanan. Namun, inilah jalan terberat sepanjang perjalanan kami kali ini. Jalan yang kami lewati?, baru kali ini saya menemui jalan seperti itu.

Jalan yang sudah tidak ada aspalnya sama sekali. Hanya menyisakan bebatuan yang sangat susah dilalui. Kami melewati jalan setapak yang sudah sering dilalui penduduk asli disini. kalau boleh membandingkan, ini seperti jalan yang ada di permainan “Nascar Rumble”, permainan di Play Station yang sering saya mainkan dulu. Jalannya sungguh membuat saya berkeringat dingin disaat cuaca terik seperti ini.

Ternyata, yang dimaksud dekat itu masih sebelas kilometer. Itu kami ketahui saat kami bertanya lagi kepada penduduk yang kami temui. Kami bertanya karena menurut kami jalan yang kami lewati kok tidak selesai-selesai. Seperti lomba offroad, saya yang mengemudi dan bapak saya yang menjadi navigatornya.

Lompat kanan, lompat kiri. Cari jalan yang baik, lewati jalan berbatu. Wah, kok gak selesai-selesai. Namun, hati saya bergumam ini akan menjadi salah satu cerita yang akan sulit saya lupakan.

Setelah hampir satu setengah jam menari di jalan berbatu dan seakan tidak berujung. Akhirnya kami menjumpai seseorang yang sedang duduk di sebuah gubug. Kami bertanya kembali.

“Masih satu kilometer lagi pak”, kata orang tersebut. Entah, kami merasakan sudah menempuh puluhan kilometer sedari tadi. Katanya masih sebentar, tapi kami malah perjalanan kami menempuh jalan tanjakan.

“Lah, ini kok malah nanjak”, saya berseru kepada bapak saya. Entah, ini akan kemana kami juga semakin bingung. Yang kami tahu, kami berjalan terus saja. akhirnya, kami menemukan rumah penduduk lagi. hati kami menjadi lega. Keringat dingin di leher saya perlahan-lahan menguap.

“wah, nggak lagi-lagi lewat jalan ini pokoknya”, saya berkata kepada bapak saya.

Perjalanan kami lanjutkan. Kami memasuki Ngawi. Melewati jalan beraspal, mulus. Perjalanan kami pun lancar. Lalu kami memasuki Madiun. Mencari pecel yang katanya terkenal tersebut. Namun, tidak jadi. Kami malah melanjutkan perjalanan sampai membaca sebuah tulisan,

“Selamat Datang Di Bumi Reyog”,

Waktu menunjukkan pukul 15.30, alhamdulillah, akhirnya sampailah kami di Ponorogo. Segera kami menuju desa Gontor, Kecamatan Mlarak, tempat Pondok Modern Gontor berada, tempat adik saya sekarang menempuh masa studinya.

Akhirnya hari ini saya bertemu adik saya, sekali lagi, beberapa orang mengira kami saudara kembar. Ya sudahlah, terserah saja, haha. pertemuan kali ini, sekali lagi, saya menimati mendengarkan adik saya cas cis cus berbicara memakai bahasa arab. Dan saya? Perlu belajar dari adik saya kayaknya.

Perjalanan yang luar biasa. Seberat apapun yang terjadi, yakin, berusaha, insyaallah semua akan sampai tujuannya. Seberat apapun, insyaallah, semua akan indah pada waktunya.

Ponorogo, 13 Oktober 2013, 16.52 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: