Sungguh, Beda Rasanya

8 Okt

#Turn On 69

Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya sampai di rumah dengan selamat. Perjalanan saya lancar, hampir tengah malam saya sampai rumah. Ah, sampai Undaan, betapa hati ini terasa lengkap kalau sebelumnya ada bagian yang seakan kurang.

Saya mengendarai sepeda motor yang ditinggalkan oleh saudara saya yang sebelumnya berangkat ke Batam pada hari minggu, lalu selasa malam saya bawa sepeda motor tersebut kembali ke Kudus. Perjalanan malam. Walaupun badan terus terang sudah merasa letih, namun, setelah sampai di Semarang, seakan semuanya menguap.

Kurang lebih satu setengah jam saya sampai di rumah. Disambut oleh keluarga serta air hangat yang siap digunakan untuk mandi, hehe. saya mencium tangan kedua orang tua saya. Ah, kangen saya sama mereka. Kami berkumpul, malam itu. saya bercerita, mereka mendengarkan, begitu juga sebaliknya. Betapa liburan seperti ini merupakan salah satu hal special yang saya alami.

Pagi harinya, saya sudah memendam keinginan sejak sebelum pulang untuk membeli lentog. Lentog, makanan terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang, atau secara umum disebut dengan lontong. Saya mengantarkan ibu saya berbelanja, lalu saya pun mendapatkan lentog pecel. Campuran lentog dengan berbagai sayuran hijau ditambah ikan gabus. Aduhai, nikmat sekali, apalagi sedang di rumah. Sungguh, beda rasanya.

Baru satu hari saya di rumah. Keluarga besar kami mendapatkan musibah. Walaupun saya hampir bisa dibilang terbiasa menghadapi hal seperti ini di tempat saya bekerja. namun, beda rasanya ketika hal ini terjadi pada anggota keluarga besar.

Rabu malam, saya mendapatkan kabar, saudara sepupu saya yang sedang menempuh studinya di Kota Gudeg, anak laki-laki dari paman saya, orang jenius yang ada di keluarga besar kami, telah meninggal, dia meninggalkan kami semua.

Kejadiannya sungguh cepat. Baru sore harinya kami mendapatkan kabar kalau saudara kami ini tiba-tiba pingsan saat mengerjakan tugas studi perancangan dengan teman-temannya. Dengan segera, teman-temannya membawanya ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Disini, saudara saya mengalami henti jantung. Tindakan untuk mengembalikan fungsi jantung pun dilakukan, RJP atau Resusitasi Jantung Paru dilakukan oleh tenaga medis yang ada. Namun, Sang Maha Kuasa berkehendak lain.

Manusia berusaha, Allah yang menentukan. Rabu malam, sekitar pukul delapan, kami semua yang berada di Kudus, mendapatkan kabar kalau saudara saya ini telah tiada. Saudara yang tumbuh bersama saya serta saudara-saudara yang lain. Salah satu orang jenius yang rendah hati. Mudah akrab dengan siapa saja. telah dipanggil kembali oleh Sang Maha Pencipta.

Beberapa saat setelah informasi itu sampai, segera keluarga yang ada di Kudus menghubungi ketua RT setempat. Inilah salah satu hal yang saya kagumi di desa kami. Dengan segera, para warga yang ada keluar untuk bergotong royong. Ada yang membawa tenda serta kursi yang menjadi inventaris di kampung kami. Ada yang bahu membahu membersihkan rumah paman saya. Mengeluarkan sepeda motor, menggelar karpet, menyiapkan tempat untuk kedatangan jenazah saudara saya.

Malam itu, campur aduk aduk perasaan saya, masih berusaha menerima, penerimaan yang terkadang agak sulit.

Sekitar pukul sepuluh jenazah sudah diberangktkan dari Jogja. Sanak family segera dihubung. semuanya berkumpul, semuanya masih bersedih, semuanya datang untuk memberikan doa serta penghormatan terakhir.

Saya masih ingat betul malam itu. saya diminta untuk menjadi salah satu orang yang memangku jenazah saat dia dimandikan. Hati ini saya kuat-kuatkan. Semoga air mata ini tidak tumpah. Namun, bagaimana lagi. di beberapa tempat, saudara serta ibu dari saudara saya ini tidak kuasa menahan haru. Air mata memang bisa saya tahan, namun hati ini sudah menangis sejadi-jadinya sejak daritadi.

Gelap malam beranjak menuju pagi. Pagi yang mulai hangat dengan terpaan mentari yang mulai meninggi. Para warga mulai berkumpul. Menyumbangkan tenaga, materi serta menghibur keluarga yang sedang dilanda kehilangan.

Sanak family yang jauh pun mulai berdatangan. Pun dengan saudara saya yang beberapa waktu yang lalu baru tiba di Batam. Dia segera ijin untuk pulang kembali. Hati merasa haru, melepas kepergian saudara yang kami kami kenal dan bersama tumbuh dari kecil.

Teman-teman sebangku mulai dari sekolah menengah sampai perguruan tinggi di tempat saudara saya ini belajar, datang dengan perasaan yang haru. Ada yang memakai sepeda motor, mobil pribadi, serta bus kampus. Pemandangan hari itu, sungguh berbeda, amatlah berbeda.

Prosesi pun dijalankan. Mulai dari dimandikan, dikafani, disholatkan, lantas dikuburkan. Ada salah satu sahabat baik saudara saya ini, yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Memang, sudah berusaha ditahan, namun, seperti menolak permintaan tuannya. Air mata mengalir, bulir-builrnya membasahi tanah tempat kami berada. Sahabat yang akrab semenjak hari pertama ospek di kampus. Dan menjadi sahabat yang juga mengantarkan ke persinggahan terakhir.

Jikalau memang engkau mempunyai kesalahan kepada kami kawan, insyaallah sudah kami maafkan semua. Semua hal yang engkau lakukan semoga menjadi hal yang bermanfaat, bagi keluarga serta sekitarmu. Engkau, yang pergi saat masih belajar, semoga Allah memberikan tempat terbaik bagimu. Semoga Allah mengampuni semua kekhilafanmu.

Engkau yang masih muda, yang masih sebaya dengan kami, telah pergi mendahalui kami. Kami tahu, engkau adalah orang yang sangat baik, bagi orang tua serta bagi keluarga besar. Insyaallah, semua doa-doa baik akan selalu terucap kepadamu.

Semarang, 8 Oktober 2013, 07.22 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Satu Tanggapan to “Sungguh, Beda Rasanya”

  1. devisariha 9 Oktober 2013 pada 7:04 am #

    saya turut berduka cita kak,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: