Catatan dari Sebelah Ibu Kota

8 Okt

#Turn On 68

“Saya harus menulis disana”, saya bergumam beberapa hari yang lalu. Saya memang ingin menulis catatan tentang perjalanan saya saat mudik kali ini. dan Terminal 1B Soetta akan menjadi salah satu saksinya.

Pagi tadi, saya bangun lebih pagi dari biasanya. biasanya saya bangun sekitar jam empat atau seringnya saat adzan shubuh berkumandang. Namun, tadi pagi, saya terbangun gara-gara ada sms iseng yang datang entah darimana. Pesan singkat yang berbunyi, “Invite pin BB aku ya, maaf kontaknya ilang”. Hadeh, saya kan bukan pengguna BB, saya kan pengguna system robot hijau itu. namun, sudahlah, tak perlu dibahas panjang-panjang. Saya sudah terlanjur bangun.

Saya mencoba memejamkan mata lagi. sulit. Coba berguling kanan, berguling kiri. Sama saja. ya sudah, saya memutuskan untuk bangun saja. segera mengambil air wudhu lalu menunaikan shalat malam. Sambil menunggu waktu shubuh tiba, saya membuka laptop. Menyambunkan laptop dengan internet. Iseng membuka alamat maskapai penerbangan yang akan membawa saya mudik hari ini. saya memasukkan kode tiket yang tertera dan muncullah nama saya beserta detail lainnya. Saya tersenyum simpul. Nama saya masih ada, hehe.

Setelah shalat shubuh, saya mencoba memejamkan mata sejenak. Bisa, namun segera kembali bangun. Ah, apakah saya homesick? Entahlah. Saya segera bangun dan keluar dari kamar. Saya pergi ke kantin rumah sakit untuk mengambil sarapan. Sambil menyapa satu dua orang teman yang melintas. Dengan ekspresi yang entahlah saya bingung mengartikannya, mereka menyapa serta melihat penampilan saya yang kusut serta memakai celana olahraga. Dikira habis olahraga, padahal baru bangun tidur dan lapar juga, haha.

Sarapan saya habiskan. Saya pulang ke asrama dengan beberapa botol minuman yang saya siapkan untuk dibawa nanti. Masih ada sekitar empat jam sebelum pesawat saya berangkat. Masih agak mengantuk. Mencoba tidur sejenak. Berhasil. Belum ada sepuluh menit, saya kembali terbangun. Ibu saya telpon. Menanyakan persiapan saya dan beberapa hal lain yang mesti dibawa. Saya jawab dengan suara parau. Maklum, kembali bangun tidur walaupun sejenak.

Niatnya ingin kembali tidur, namun rasa khawatir bangun kesiangan menjadikan saya segera bersiap-siap. Bersih-bersih badan serta merapikan koper dan tas yang akan saya bawa. Saya menuruti apa yang menjadi nasihat orang tua saya untuk shalat sunnah lissafar (shalat sunah untuk perjalanan) sebelum berangkat. Setelah semua persiapan beres. Saya pergi ke bandara dengan diantar kawan asrama. Sepeda motor melaju pelan. Menerabas pagi yang masih menyisakan hawa sejuknya sebelum panas datang menyengat. Alhamdulillah sampai bandara Hang Nadim Batam. Baru dua hari lalu saya dari sini. Hari ini saya mengunjunginya lagi.

Pemberangkatan saya terjadwal pukul 11.40. saya sampai disini masih pukul 09.40. masih ada waktu untuk melanjutkan bacaan saya yang terhenti tadi malam. Novel “Negeri Para Bedebah” nya Tere Liye masih menyisakan separuh dari tebal halamannya.

Setelah berbincang sejenak dengan Malvin. Dia akhirnya undur diri. Pamitan pulang. Saya persilahkan. Sambil menunggu waktu check in dibuka, saya melanjutkan membaca. Sambil sekali dua kali saya  meminum air dari botol yang saya bawa tadi.

Sungguh. Semakin seru jalan ceritanya. Dari sekian buku yang dtulis Tere Liye. Novel yang saya baca, yang berjudul Negeri Para Bedebah dan satunya lagi yang merupakan sekuelnya, Negeri DI Ujung Tanduk, merupakan kategori bacaan untuk dewasa. Bacaan untuk usia delapan belas tahun keatas. Bukan karena isinya yang dilarang untuk usia anak-anak. Namun tulisannya yang mengedepankan konflik serta analisis, akan merepotkan dipahami oleh usia anak-anak.

Seperti Komik Death Note yang berjumlah dua belas seri itu juga. walaupun komik, namun itu ditujukan untuk dewasa. Konflik yang dibuat serta deskripsi yang digambarkan, membuat kepala ini terus berfikir. Benang merahnya dimana. Bagaimana kok bisa menjadi seperti ini. wajar saja jika dikategorikan untuk dewasa.

Saya terus melanjutkan bacaan. Namun sepertinya harus terhenti. Saya harus segera check in. saya masuk dengan menenteng koper serta menggendong tas daybag yang selalu setia menemani. Melakukan check in di di loket. Alhamdulillah, kali ini saya berkesempatan naik maskapai paling elite di negeri ini. walaupun tetap di kelas economy. Maklum, beberapa bulan lalu saat saya cek di internet pas ada promo. Jadi langsung ambil deh.

Setelah check in dengan menunjukan tiket serta kartu tanda pengenal, segera saya memasukkan koper ke area bagasi. Lalu menuju ke bagian boarding pass. Wah, ternyata saya tidak perlu membayar boarding pass. Setela menunjukan tiket pesawat yang akan saya tumpangi. Saya segera dipersilahkan lewat. Kalau sering-sering seperti ini boleh juga. namun ya itu, hal ini hanya khusus di maskapai ini. kalau maskapai lain ya tetap membayar.

Saya dipersilahkan menunggu di ruang tunggu A8. Sambil menunggu, kembali saya melanjutkan bacaan saya. Terus dan terus membaca. Menikmati cerita yang semakin seru. Beberapa kali terpotong saat saya memperhatikan seorang anak kecil, perempuan, berlari-lari didepan saya. Ibunya sampai repot mengejarnya. Maklum, masih usia dua tahunan mungkin.

“Natalie, Natalie, disini aja Nak”, ibunya memanggil nama anak itu. bocah kecil yang mungkin merasa senang itu, berlari kesana kemari. Terkadang bermain di dekat pintu, meloncati kursi yang disediakan untuk calon penumpang. Walaupun kerepotan, ibunya tetap menasehatinya dengan lembut. Memegang tangannya, memberitahukan kalau hal seperti itu kurang baik. Ah, saya senang melihat bocah kecil berkepang dua itu.

Beberapa saat kemudian. Saya beserta calon penumpang yang lain. Dipanggil untuk memasuki pesawat yang akan membawa kami ke Ibu Kota. Pesawat yang baru kali ini saya tumpangi, dengan nomor penerbangan GA 0155.

Kami dipersilahkan memasuki kabin pesawat. Lalu memasukkan tas di bagasi yang terletak di atas kursi. Rupa-rupa wajah berbagai negara ada. Beberapa bule ada di depan kursi saya. Segera kami duduk. Mendengarkan instruksi standar sebelum terbang. Sebentar lagi pesawat ini akan berangkat.

Take off, atau lepas landas adalah salah satu hal yang saya sukai dari proses peerbangan. Saat badan ini tertarik oleh gaya gravitasi. Saat pesawat mulai melaju dan badan seakan tertarik ke belakang. lalu melihat pemandangan daratan yang lamat-lamat menjadi kecil, kecil, tidak terlihat karena tertutup awan.

Jika dulu saya suka melihat pesawat yang mengeluarkan asap saat terbang. Ada asap putih yang keluar dari bagian belakang pesawat. Maka kali ini adalah kebalikannya. Saya melihat perahu yang melintas di laut dengan semburat air di belakangnya. perahu yang melaju dengan menciptakan gelombang air di belakangnya. terlihat seperti pesawat yang mengeluarkan asap. Dan saya menyaksikan ini dari ketinggian, saat pesawat masih dalam proses lepas landas.

Saya beruntung mendapatkan seat dengan nomor 33A yang berarti di dekat jendela. Jadi, semua hal yang ada di luar jendela bisa saya nikmati. Persis di luar jendela saya adalah sayap kiri. Dengan baling-baling besar yang meraung-raung. Tentu saja tidak terdengar di dalam kabin. Saya menyaksikan panorama yang aduhai. Sambil sesekali perut diguncang oleh turbulensi.

Di dalam pesawat, mungkin tak ubahnya di kendaraan di darat. Ada goncangan seakan jalannya tidak rata. Hal ini terjadi karena cuacanya berawan. Jadi sering menabrak awan atau lebih dikenal dengan nama turbulensi. Semakin menanjak, semakin kecil daratan yang terlihat. dan semakin menanjak lagi, pesawat sudah sejajar di ketinggian 9000 kaki diatas permukaan laut.

Oh laut, betapa banyaknya pulau yang tersebar di seantero negeri ini. saya melihat berbagai gugusan kecil pulau yang menjadikan negeri ini mendapat julukan negeri kepulauan. Saat masih berada di daerah Kepualauan Riau dan diatas Bangka Belitung. Betapa banyaknya pulau yang tersebar.

Dan kali ini. saya mendapatkan kesempatan untuk makan siang di atas awan. Kami mendapatkan jatah makan siang dengan minuman memilih. Jus atau kopi hangat. Saya memilih jus jambu. Jus jambu yang menyegarkan, manis, dan tentu saja berasa jambu, hehe. makan sambil menimati layar monitor kecil yang ada di depan tempat duduk. Ada beberapa film yang bisa dipilih. Saya memilih film Indonesia saja.

Setelah makanan habis. Saya mematikan monitor itu. masih ingin membaca. Lalu saya teruskan membaca. Masih ada beberapa bab lagi. saya kembali tenggelam di dalam cerita. Bagaimana Thomas lari dari kejaran polisi. Dibantu oleh teman baiknya Rudi. Bagaimana mereka bisa lolos dari pemerikasaan imigrasi bandara yang dijaga puluhan polisi khusus. Bisa mendarat di Denpasar dengan meloncat saat pesawat baru menyentuh tanah di lapangan pacu. Berguling-guling di atas rumput. Pertempuran di Yacth dan akhirnya mereka bisa menyelamatkan saudara-saudara mereka yang ditawan oleh orang yang menaruh dendam sejak puluhan tahun silam.

Alhamdulillah saya menyelesaikan Novel ini masih di langit pulau Sumatra. Misteri demi misteri terungkap. Dan setelah ini, saya akan membuka buku bagian kedua, Negeri Di Ujung Tanduk yang sudah tersedia di dalam tas saya.

Pesawat ini, walaupun melaju sangat kencang. Menempuh jarak 845 Km menuju Jakarta. Namun, kalau dilihat dari dalam, seakan burung besi ini hanya diam. Mematung. Entahlah. Saya juga bingung. Hanya awan-awan yang bergerak pelan. Beriringan. Sesekali menabrak gumpalan awan lagi. terjadi turbulensi. Inilah sensasinya menaiki burung besi.

Bacaan saya selesai. Lalu dari pengeras suara dikabarkan pesawat sebentar lagi akan mendarat. Cuaca Jakarta cerah, suhu di luar 33 derajat celcius. Dari kejauhan, sudah terlihat sebuah daratan, Pulau Jawa. Akhirnya, setelah hampir satu tahun, saya bisa sampai disini lagi.

Pesawat mulai turun. Keindahan daratan mulai terlihat. awan-awan yang berada dilangit mengucapkan selamat jalan bagi kami, begitu juga segenap kru pesawat dengan pengeras suaranya.

Alhamdulillah, pesawat mendarat dengan selamat. Mendarat dengan membawa penumpang yang sudah rindu kampung halaman. Membawa senyuman yang ada di setiap rona wajah yang selalu terlihat gembira. Saya turun. Bergegas menuju terminal 1B untuk penerbangan selanjutnya.

Ya, akhirnya saya bisa menulis sedikit catatan ini. sebagai pengingat. Sebagai kenangan saya pernah berada disini. penerbangan saya selanjutnya masih beberapa jam. Masih ada waktu untuk keluar sebentar membeli makan di Kota sebelah ibu Kota ini.

Semoga perjalanan saya ke Semarang nanti malam juga lancar. Mohon doa dari semua. Semoga saya bisa menulis lagi di lain kesempatan. Dengan berbagai cerita selama liburan yang tentunya dari Kota Kudus tercinta.

Tangerang, 1 Oktober 2013, 16.00

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: