Intan

23 Sep

#Turn On 64

Dalam keseharian kita, pasti ada saja hal yang terjadi. Baik itu hal yang bisa membuat kita menjadi senang, gembira, atau bahkan sebaliknya. Bisa saja ada hal yang membuat kita merasa sangat marah, sangat jengkel. Semua itu pasti ada.

Bagi yang sedang sekolah, pasti ada hal yang membuat pikiran penat, pusing, sempat berharap hari minggu bertambah satu hari, haha, memang bisa ya?, atau bahkan berharap terjadi hal yang aneh-aneh sehingga memudarkan konsentrasi dalam belajar. Entah anda juga berfikir demikian juga atau tidak. Karena saya juga merasakannya saat masih kuliah.

Bagi yang sedang bekerja, pasti ada juga hal-hal yang terkadang menyebabkan tensi menjadi naik. Seringnya, miskomunikasi menyebabkan gesekan yang bisa menimbulkan masalah yang berlarut-larut jika tidak segera diluruskan. Atau terkadang, perbedaan sifat dan karakter yang kurang bisa disikapi dengan baik, bisa juga menimbulkan masalah. Itu juga pernah saya mengalaminya.

Lalu bagaimana dengan pengangguran?, apakah mereka tidak mempunyai masalah?, pernah saya berfikir bahwa mereka inilah yang bebas dari berbagai masalah yang sering dihadapi oleh orang-orang yang bersekolah atau bekerja. ya, karena pekerjaan mereka adalah menganggur. Dan benar adanya. Mereka memang tidak mempunyai masalah seperti orang-orang tadi. Justeru masalah utama mereka adalah bagaimana mereka bisa bersekolah atau bekerja. ah, malah muter-muter, hehe.

Ilustrasi diatas, betapa sangat sering kita jumpai dalam keseharian kita. orang-orang menyebutnya masalah. Orang-orang memanggilnya dengan kata beban. dan seringnya, orang-orang lebih terbiasa dengan memunculkan keluhan dibandingkan mendiamkannya saja. Mereka, mungkin termasuk saya juga, masih terbiasa dengan mengeluh daripada berfikir bahwa adanya masalah diciptakan adalah untuk menaikkan tingkatan kita. lah kok bisa?

Mari kita perhatikan lingkungan sekitar. betapa banyak orang yang berbondong-bondong melakukan perndaftaran ketika musim pendaftaran sekolah dibuka. Yang tentu saja, mereka sebelumnya telah melakukan riset kecil-kecilan. Mulai dari profil sekolah yang dituju. Ada jurusan apa saja disana. Berapa kemungkinan biaya yang harus dipersiapkan. Apakah bisa masuk dengan beasiswa. Caranya bagaimana. Lalu masih berjajar-jajar pertanyaan yang lain juga.

Pertanyaan demi pertanyaan inilah yang sering menghiasi mereka yang hendak masuk sekolah. Apakah hal ini bisa menjadi masalah. Sangat bisa. Terkadang orang bisa sampai frustasi padahal belum masuk menjadi siswa atau mahasiswa sekolah tersebut.

Jika semua hal yang terkadang memusingkan itu bisa dilewati, maka mereka akan naik tingkatan dengan menjadi seorang siswa atau mahasiwa. Jika tes masuk saja, apalagi perndaftaran, haha, kayak saya dulu, belum bisa dilewati, maka mereka bisa naik tingkat dengan masuk menjadi seorang pelajar.

Begitu juga dengan pekerjaan. Banyak orang yang berceloteh, “enak ya kamu sudah kerja, bisa mendapat uang sendiri”. Lalu ada sebagian dari mereka yang sudah bekerja, juga ada yang berceloteh, “wah, kerjanya kok berat seperti ini ya”, “kok gajinya begini ya”, “kok lingkungannya seperti ini ya”. Dan akan terus ada berbagai pertanyaan yang keluar jika hanya dilihat dari segi itu saja. seakan-akan bekerja hanya untuk mendapatkan materi saja, tidak serta merta dilihat dari pengembangan diri serta masih ada banyak pelajaran yang belum dipelajari selama masa sekolah.

Ya, namanya orang memang berbeda-beda.

Dengan catatan ini, saya hendak mengajak, lebih tepatnya saya mengingatkan diri saya sendiri. Betapa dalam keseharian kita ini lebih banyak diisi dengan mengeluh. Keluhan tanpa mau memperbaiki diri. Dan parahnya. Saat bekerja pun masih belum maksimal. Lebih sering melihat orang lain tanpa instropeksi diri sendiri.

Adanya suhu serta tekanan yang ada, saya kira tidak hanya di tempat kerja. Namun di segala tempat selama perjalanan hidup kita masih berlangsung, akan tetap ada hal-hal yang bisa saja memicu kita untuk merasa jengkel, marah, kecewa, bahkan gara-gara hal yang sepele yang dibesar-besarkan, bisa saja kontak fisik tidak terhindarkan. Lalu, bila terjadi adu fisik, apa yang mau kita banggakan? Bukankah kalah menang jadi abu?.

Catatan ini, terinspirasi dari kalimat indahnya Tere Liye dari novel Negeri di Ujung Tanduk yang berbunyi,

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh”.

Kehidupan sehari-hari, akan terus memberikan pelajarannya bagi kita. hanya tergantung kita saja, mau belajar ataukah mengabaikannya sama sekali. Itu semua pilihan kita. dan kabar baiknya, kita bisa memilih.

Batam, 23 September 2013, 12.31 WIB

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

4 Tanggapan to “Intan”

  1. devisariha 23 September 2013 pada 8:31 am #

    Wahh, sekarang jamnya ditulis niiiih
    Kok bisa jawab pertanyaan mandarinku kemarin siiih?

    • arsyad syauqi 25 September 2013 pada 5:33 pm #

      iya, harus ada perubahan dong, belajar dinamis. bisa lah, kan belajar bahasa, :p

      • devisariha 26 September 2013 pada 3:41 pm #

        kapan update lagi niih?
        nggak pulang kak?
        aku aja pulang besok….

      • arsyad syauqi 27 September 2013 pada 11:07 pm #

        ini baru mau update, 🙂

        Insyaallah aku tanggal 1 oktober mudik Kudus, silahkan kalau mau main, di rumah sampai tanggal 18 Oktober

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: