Hari Yang Haru

17 Sep

#Turn On 62

Ketika sedang sendiri, apalagi ketika sedang rindu rumah, ada saja kejadian yang tiba-tiba terlintas yang mengingatkan saya pada banyak hal. Ketika saya mengalami situasi seperti ini, saya merasa ada banyak sekali ide yang terlintas untuk bisa dituliskan. Namun, terkadang ketika sudah hampir akan menulis, ada saja yang hilang dari kepingan cerita tersebut, hehe.

Kesendirian, saya merasakan dan sering membutuhkan hal ini ketika ingin membaca dan menulis. Saya masih belum bisa berkonsentrasi penuh jika suasana gaduh, ya, saya masih belum bisa, karena ada beberapa orang yang saya kenal bisa fokus walaupun suasana sedang ramai, ketika suasana bumi sedang gonjang ganjing, haha.

Ada sebuah kejadian di kamar operasi yang sekali lagi, membuat saya rindu dengan orang tua saya, terutama Ibu. Saat itu, ketika saya sedang jaga pagi. Ada beberapa jadwal operasi yang sudah tertera di papan penjadwalan. Ada beberapa operasi sesar, ada eksisi, dan beberapa operasi lainnya. Pagi itu, saya kebagian tugas untuk maju operasi sesar.

Seperti biasa, saya dan tim operasi yang telah ditunjuk segera melaksanakan tugas, mulai dari menyiapkan ruangan, instrumen dan perlengkapan lainnya untuk operasi ini. lalu menerima pasien, operan dengan bidan yang mengantar, mengecek segala jenis kelengkapan administrasi, surat ijin tindakan pembedahan, surat ijin tindakan pembiusan, pemeriksaan penunjang berupa lab, serta beberapa hal lain yang mesti di cek ulang.

Setelah semua di cek, pasien lalu diganti baju lagi, baju dari ruangan diganti dengan baju yang khusus untuk memasuki kamar operasi. setelah operan selesai dan pasien sudah diganti bajunya, lalu pasien dimasukkan ke kamar operasi untuk kemudian dibius.

Setelah pasien memasuki kamar operasi dan sudah berada di atas meja operasi. dokter spesialis anestesi segera melakukan cuci tangan untuk melakukan bius regional atau spinal anestesi. Dibantu dengan perawat penata anestesi, pasien dibius dengan posisi duduk dan memeluk bantal. Karena yang dibius ada di bagian tulang belakangnya. Setelah pasien dibius, selang beberapa saat, pasien akan terasa kebas atau mati rasa dibagian perut ke bawah. Saat itulah saya juga, sebagai perawat instrument, melakukan tugas saya dengan menata alat yang akan digunakan operasi.

Sebelum cuci tangan, saya memakai apron atau semacam plastik yang melindungi tubuh. Seperti ibu-ibu yang akan masak itu, ada celemek di badannya. Lalu saya melakukan cuci tangan yang terdiri atas cuci tangan prosedural, cuci tangan bedah, lalu diakhiri dengan cuci tangan prosedural lagi, setelah itu, saya memasuki kamar operasi.

Saya mengambil handuk untuk mengeringkan tangan yang habis kena air dan sabun tadi. Lalu mengenakan jas operasi dibantu oleh perawat onlop untuk mengikatkan tali jas yang ada di bagian belakang badan saya. Setelah jas operasi terpakai sempurna, segera saya menyusun instrumen yang akan digunakan untuk operasi.

Sekilas tentang instrumen operasi SC yang terdiri atas handle scalpel nomer 4 dan scalpel nomer 20. Lalu ada bengkok atau kidney trey untuk meletakkan scalpelnya. Lalu berturut-turut instrumen yang digunakan ada yang bernama pinset anatomis, pinset sirrurgis, pinset sirrurgis adson, klem bengkok atau khrom klem, kocher klem, gunting jaringan, gunting benang dan gunting tali pusar, kom dengan ukuran kecil, sedang dan besar, lalu ada ringtang atau ovarium klem, ada mikulik atau seperti kocher namun ukurannya besar, ada needle holder atau alat yang digunakan untuk menjahit, dan yang tidak ketinggalan, ada dua klem yang berukuran agak besar untuk menjepit tali pusar bayi.

Maaf kalau ada beberapa pembaca yang kurang familiar dengan nama-nama alat di atas, ya karena itulah yang memang kami gunakan untuk operasi jenis ini. itupun tergantung juga dengan operator bedahnya, ada juga yang menggunakan tambahan berupa vacuum, forcep, yang digunakan untuk memudahkan perjalanan operasi.

Setelah semua saya tata dan pasien sudah dalam kondisi terbius. Maka prosedur operasi pun dilaksanakan. Kalau sudah memasuki keadaan seperti ini, yang ada ya suara ESU (Elektro Surgery Unit) atau alat yang bisa digunakan untuk memotong serta menghentikan perdarahan, suara suction pump yang menderu-deru, ditambah alunan suara monitor anestesi yang seperti piano yang terdiri satu tut saja, tut, tut, tut, hehe.

Ceritanya malah kemana-mana ya, hehe. kembali ke inti ceritanya saja ya.

Alhamdulillah bayi bisa ditolong dengan selamat, lalu bayi tersebut diserahkan kepada perawat bayi yang didampingi dokter spesialis anak, yang segera melakukan tindakan resusitasi di luar kamar operasi. saat itulah, saya mendengar ibu dari sang bayi, tak henti-hentinya berucap syukur Alhamdulillah, syukur kepada Allah Sang Maha Pencipta, dan saat itu juga, masih sambil berucap syukur, ibu itu menangis. Suasana kamar operasi pun berubah haru. Hati saya tersentuh oleh kejadian hari itu.

Kejadian seperti itu jarang terjadi dalam keseharian saya di kamar operasi. Terkadang ada ibu yang mengekspresikan kegembiraannya setelah melihat bayinya keluar dengan tersenyum saja, dan ada juga yang terkadang diam saja tanpa ekspresi, entah saya kurang mengerti maksudnya.

Hari itu, saya kembali menjadi rindu orang tua saya, yang atas karuniaNya telah melahirkan saya di bumi ini. dengan segala jerih payahnya membesarkan saya. Dengan segala pengorbanannya, mereka memberi kesempatan kepada saya untuk menikmati pendidikan sampai saat ini. sampai-sampai banyak hal pribadi yang dikorbankan untuk anak-anaknya.

Sampai saat ini dan sampai hari-hari ini berlanjut sampai nanti, saya sadar dan menyadari dengan sepenuhnya bahwa saya tidak akan pernah bisa membalas semua yang telah dilakukan orang tua kepada saya.

Hari itu, sekali lagi, memberikan pelajaran kepada saya bahwa tidak akan ada gunanya untuk menyombongkan diri, karena bagaimanapun juga, saya saja masih belum bisa membalas kebaikan orang tua, lalu apa yang bisa bisa saya sombongkan kepada dunia, tidak ada.

Ibu, Bapak, semoga ucapan doa serta permohonan ampun kepada Sang Maha Kuasa bisa menjadi sedikit kebaikan saya kepada kalian. Tolong jangan pernah bosan untuk mendoakan saya, mendoakan kami, semoga bisa terus belajar, berkarya, dan bisa memberikan manfaat bagi sesama.

Karena ucapan kalian, adalah sebaik-baiknya doa.

Batam, 17 September 2013

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: