Naik Tangga Lagi

12 Sep

#Turn On 60

Terkadang, ketika kita menutup mata, maka kita justru dapat melihat hal-hal yang tidak mampu kita lihat saat mata kita terbuka lebar. Terkadang juga, saat kita diam, maka kita justru dapat berbicara hal-hal yang tidak mampu kita katakana saat mulut terbuka lantang.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, terlebih dari cerita para orang tua, bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan yang sudah dimulai semenjak orang tua kita membisikkan doa-doa serta berbagai ucapan pengharapan. Ucapan pengharapan yang tulus yang berselimut kasih sayang yang tiada tara saat kita masih berada di dalam rahim ibu kita. Saat itu, ketika mulut orang tua terus membisikkan doa-doa kepada kita, ikatan batin antara kita dengan mereka mulai terbentuk, melalui darah yang mengalir ke tubuh kita saat itu, doa-doa  serta pengharapan mereka akan terus mengalir dalam tubuh kita.

Mozaik demi mozaik yang ada, telah dilewati, dan masih banyak potongan mozaik yang belum terisngkap cerita serta kisahnya. Sebagaimana adik-adik kelas saya yang dalam hari-hari dalam minggu ini, rasa suka, duka, sedih, kecewa, bangga, haru, serta berbagai rasa yang mereka alami semasa duduk di bangku kuliah, dipertemukan dalam agenda tahunan yang sakral, sebuah prosesi wisuda ibarat menjadi sebuah kanvas yang telah berisi berbagai goresan serta coretan berbagai warna yang telah mereka lukiskan bersama.

Saya pernah mengalami hal seperti itu, tepatnya dua tahun yang lalu. Entah mengapa, setelah mendengar kabar seperti ini, berbagai ingatan saya seakan keluar dan ingin mengabadikan dirinya lewat huruf dan kata, ingin menjadi sebuah lukisan yang terdiri atas warna-warni kalimat yang tergores kesana kemari, dan saya, tinggal menurutinya saja, membiarkannya lepas untuk menemukan tempat yang ingin ditemuinya.

Awal masuk kuliah dulu, banyak hal yang saya lihat yang kemudian bisa menjadi sebuah cerita. Berbagai warna calon mahasiswa pun tampak di hadapan saya. Ada yang semangatnya luar biasa, seakan melebihi batas parameter yang ada, ada yang malu-malu seakan merasa jadi pusat perhatian, ada yang selalu gelisah takut tidak masuk, padahal daftar saja belum, ada yang datang dengan didampingi orang tuanya, lengkap dengan mobil yang entah punya sendiri atau sewa, ada yang hanya diantar saudaranya, karena orang tuanya berhalangan mengantar, dan beberapa ada yang datang sendiri.

Saya masih sangat ingat perkataan ibu saya hampir lima tahun lalu, “kalau nanti tidak bisa masuk, tolong bersabar untuk mencoba lagi tahun depan ya”. Perkataan itu seakan membungkus rasa optimis dengan pesimis sekaligus. Optimis untuk bisa lolos, namun pesimis jika harus mengulanginya tahun depan. Mengapa ibu saya berkata demikian?. Bagi saya itu hal yang wajar, karena saat saya hampir masuk kuliah, orang tua saya juga sedang membiayai kakak saya yang sedang memasuki semester kelima di perkuliahannya juga. Dan kampus yang akan saya masuki adalah kampus negeri yang otomatis biaya kuliahnya lebih ringan dibandingkan dengan kampus swasta.

Setelah mendaftar, berbagai tes saya jalani. Tes pertama adalah tes tertulis di sebuah gedung gelanggang olahraga. Saat itu, saya melihat berbagai orang yang datang dari berbagai penjuru. datang dengan segenap doa serta pengharapan, tak jarang dari mereka selama tes berlangsung, raut mukanya seakan terprogram untuk selalu menampakkan raut muka yang serius yang tegang, kalau saya sendiri? mungkin saya akan ketakutan jika saat itu saya melihat wajah saya di cermin, haha. Berbagai ekspresi campur aduk menjadi satu, saya sudah usahakan untuk tenang, berhasil untuk beberapa saat, sisanya? Entahlah, hehe.

Setelah berhari-hari menunggu hasil tes tertulis, saat pengumuman itu pun tiba. Saat itu, saya masih sangat awam dengan dunia yang bernama internet. Maklum, di desa saya lima tahun yang lalu belum ada yang namanya warnet. Jadi kalau ingin melihat hasil tes itu harus ke kota, karena hasilnya diumumkan online.

Pagi hari sekitar pukul Sembilan, saya pamit ibu saya untuk melihat hasil pengumuman. Setelah sampai di sebuah warnet, saya membaca doa berulang-ulang sebelum membuka browser yang akan mengantarkan saya ke alamat web calon kampus saya itu. bismillah, saya membukanya. Menuju ke alamat web, lalu mencari kotak hasil pengumuman. Setelah saya klik dua kali, saya masuk, seakan jantung saya berdetak lebih kencang dibanding biasanya. Nihil, ya, kotak pengumuman itu masih kosong. Apakah saya tidak masuk?, apakah saya gagal tes?.

Ternyata hasil tes belum diumumkan. Lega sekaligus was-was. Masih ada harapan. Lalu saya pulang ke rumah. Sampai di rumah, hari itu, pikiran saya masih belum bisa tenang. Dibuat tidur agak susah, dibuat makan, entah kok rasa masakan hari ini kok aneh. Entahlah.

Sore hari nya, untuk kedua kalinya, saya pergi lagi ke kota, mengunjungi sebuah bilik warnet yang berada di dekat Masjid Menara Kudus. Bismillah, saya membuka alamat web calon kampus saya lagi. Dan kejadian itu berulang lagi, ternyata belum di upload. Huwaaaaaaaaa. Saya semakin panik. Saya mencoba menenangkan diri. Dan selalu mencoba menasehati diri ini. insyaallah masih ada kesempatan. Namun jika belum masuk bagaimana ya?. Sebersit pikiran itu muncul, namun bergegas saya tolak, istighfar menjadi senjata ampuh untuk menepis semua itu. hasil belum diumumkan, saya pulang lagi untuk sore itu.

Malam hari, saya sudah dilarang ibu saya untuk ke kota lagi. “Besok saja, ini sudah malam, masih ada waktu untuk melihat hasil itu”. namun, pikiran saya belum bisa tenang. Akhirnya jalan itu pun datang. Ada saudara yang rumahnya di depan rumah kami, ternyata punya komputer yang terkoneksi dengan internet. “mengapa tidak daritadi pagi?, hmmpt”, pikir saya. Segera saya ke rumah saudara saya. Masih dengan deg-degan. Saya meminta ijin untuk menggunakan computer itu. langsung saya masuk ke alamat web yang sedari tadi pagi sudah beberapa kali saya buka.

Ada. Sebuah kertas virtual berformat pdf. Telah diunggah. Bismillah, saya download. Setelah terunduh, segera saya klik dua kali pada mouse bagian kiri. Terbuka. Lalu saya mencari nomor pendaftaran saya. Menyusuri kiri, kosong. Lalu pindah ke kolom sebelahnya. Waktu itu, mulut saya terus berkomat kamit, membaca doa sebisanya. Membaca shalawat terus.

Ada. Ya, ada. Alhamdulillah nomor pendaftaran saya ada. Tertera di nomor 13 dari sekitar 85 calon mahasiswa yang lolos tes. Segera saya ke rumah, memberitahukan informasi ini kepada orang tua saya. Hari itu, saya merasakan rasanya naik sebuah tangga. Tangga pendidikan yang sudah menanti saya. Sebuah kampus negeri, program studi keperawatan. Sebuah sekolah yang dulu hampir tidak pernah ada dalam pikiran saya. Sekarang saya akan memasukinya. Setelah hari itu, berbagai cerita menghiasi perjalanan saya, semoga tulisan-tulisan mendatang bisa menceritakannya lebih jauh.

Pelajaran terbesar dari lolosnya saya di kampus keperawatan ini adalah sikap menerima serta belajar ikhlas. Mengapa demikian? Karena sebelumnya, saya sangat ingin kuliah di non pendidikan, ada dua universitas negeri di Yogya yang ingin saya masuki. Ternyata belum rezeki saya. Entah mengapa saya dua kali gagal mendaftar karena ada persyaratan yang kurang. Perlu dicatat, baru mendaftar, belum ikut tes dan segala macamnya. Dan Alhamdulillah, ketika mulai mendaftar sampai masuk kuliah di kampus saya, dengan berbagai macam tesnya, semua serasa dimudahkan. Insyaallah inilah jalan saya.

Sebagai penutup catatan ini, saya mengucapkan selamat kepada adik-adik kelas saya yang dalam seminggu telah menjalani wisuda serta angkat janji. Seperti catatan sebelumnya, ini merupakan akhir yang merupakan sebuah awal yang baru. Mari tetap belajar serta menikmati indahnya ilmu pengetahuan di sekitar kita. Salam totalitas perjuangan !!!.

Batam, 12 September 2013

Arsyad Syauqi

Operating Room Nurse

Iklan

3 Tanggapan to “Naik Tangga Lagi”

  1. devisariha 13 September 2013 pada 11:50 am #

    Huwaaaaa khas kak arsyad dech, ceritane koq ngepaske aku sing lagi dadi mahasiswa baru. Ha ha ha

  2. devisariha 14 September 2013 pada 7:55 am #

    Ayo kak arsyad nulis lagi…
    SEMANGATTTT!!!!

    • arsyad syauqi 15 September 2013 pada 4:43 pm #

      alhamdulillah habis posting lagi, silahkan mampir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: