Hampir Dua Tahun , “Beberapa Jawaban untuk Adik Kelas”

3 Sep

#Turn On 57

Terus terang, beberapa kali saya menilai diri saya sendiri terasa maju mundur untuk menuliskan hal ini. saya kurang tahu pasti apa yang terjadi. Namun, dengan pertimbangan sebagai catatan pribadi sekaligus sebagai bahan pembelajaran yang mungkin dan semoga diambil manfaatnya, saya memberanikan diri untuk menulisnya.

Sebelum membaca lebih jauh, saya mohon maaf jika ada yang kurang berkenan di catatan saya kali ini, dan lebih ke arah koreksi dari semua jika banyak kata serta kalimat yang sekiranya kurang pas, dan sekali lagi, ini juga sebagai bagian dari pembelajaran saya dalam menulis.

Setelah membahas sedikit tentang gambaran pekerjaan saya dalam catatan beberapa waktu yang lalu, kali ini saya mencoba membahas tentang beberapa pertanyaan lain yang saya terima, sekali lagi, pembahasan ini menurut pendapat saya serta beberapa pengalaman dari beberapa teman yang saya anggap bisa mewakili.

Saya maklum jika ada beberapa adik kelas yang menanyakan tentang seputar pekerjaan, dan saya pun dulu melakukannya. Ini sudah seperti menjadi sebuah ikatan yang tidak akan terpisahkan, dan inilah yang saya sebut sebagai salah satu simbiosis mutualisme dalam kehidupan kita.

Saya dulu pun, ketika sedang menjalani pelatihan perawat kamar bedah atau kamar operasi, tepatnya 3 bulan sebelum di wisuda, karena memang kuliah saya liburnya dipangkas sehingga kami bisa yudisium lebih awal daripada akademi yang lain, kira-kira empat bulan sebelum wisuda. Sembari menunggu wisuda, sesuai dengan program yang telah dicanangkan kampus, kami menjalani program sertifikasi keahlian atau lebih mudahnya kita sebut saja sebagai pelatihan khusus yang berlangsung selama tiga bulan.

Dalam pelatihan ini, seangkatan kami, dibagi menjadi empat tempat pelatihan. Ada pelatihan PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) serta magang IGD (Instalasi gawat darurat), ada ICU (Intensif Care Unit), ada IBS (Instalasi Bedah Sentral) atau lebih dikenal sebagai Kamar Operasi, serta HD (Hemodialisa) atau cuci darah. Saya dan 9 orang lainnya memilih pelatihan kamar bedah dan Alhamdulillah bisa menjalaninya di RS Margono Soekarjo di Purwokerto. Pengalaman pelatihan 3 bulan itulah yang menjadi salah satu sebab saya ditempatkan di kamar bedah di RS tempat saya bekerja sekarang ini.

Alhamdulillah, sampai hari ini, saya sudah hampir dua tahun saya disini. bagi adik kelas yang akan segera diwisuda, mungkin waktu 2 tahun merupakan waktu yang cukup lama, namun bagi kakak kelas saya yang sudah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai perawat, yang ada di bagian mana saja, waktu yang saya tempuh ini masih begitu sangat singkatnya, ibaratnya mungkin saya baru belajar berjalan jika kemarin baru melewati tahap berdiri di atas kaki sendiri.

Ada beberapa pertanyaan yang coba saya jelaskan sesuai dengan pengalaman saya, semoga bisa membantu. Yang pertama dan paling sering ditanyakan oleh orang-orang yang menghubungi saya, “betah mas disana?”. Saya cukup paham pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang paling personal, seperti seorang ayah yang bertanya pada anaknya yang mungkin baru masuk sekolah, atau baru ngekos untuk pertama kalinya karena kuliah di luar kota, atau beberapa anak yang baru masuk pondok pesantren. Ada banyak jawaban untuk hal ini, ada yang menjawab, betah yang dibetah-betahkan, ada yang menjawab spontan, saya betah, dan kalau saya, hemmm, tarik napas dulu bias agak dramatis, hehe. ini merupakan pertama kalinya saya merantau ke luar kota yang ada di luar pulau, yang biasanya pergi jauh paling sampai Jakarta, Malang juga pernah, namun hanya hitungan hari sampai seminggu, dan ini, baru bisa ambil cuti setelah masa kerja minimal setahun, kecuali ada hal-hal penting yang bisa menjadikan alasan pulang kampung tentunya.

Pada awalnya bisa dibilang saya mencoba betah, ya, ini adanya, dan mungkin dirasakan oleh sebagian besar orang yang merantau, karena dalam proses ini, kita harus menjalani adaptasi dalam segala hal. Mulai dari adaptasi tempat, setelah turun dari pesawat yang kami tumpangi, sejauh mata memandang masih terlihat hijaunya pohon. Karena memang Bandara Hang Nadim terletak di area khusus yang jauh dari pemukiman warga, tidak seperti saat saya take off di Semarang dan Jakarta. Jadi saat pesawat mulai landing, yang terlihat dari kaca pesawat hanya warna hijau, hijau dan birunya lautan serta pulau-pulau kecil yang seakan bertebaran disana sini.

Setelah sampai di Bandara, kami dijemput oleh pihak rumah sakit yang saat itu juga ditemani oleh orang bagian SDM yang kemudian saya mengetahui namanya, Kak Deni. Ini merupakan kali pertama saya mendapatkan pengalaman seperti ini, saya memasuki dunia kerja. Lalu adaptasi dengan kawan-kawan baru, ini yang juga membutuhkan waktu, tidak bisa instan kayak mie rebus. Saat saya kesini, saya bersama 6 orang kawan baru yang sealmamater dan saya? Sendiri serta berbeda almamaternya.

Namun, inilah yang menjadi salah satu pesan dari Beliau, Imam Syafi’I, yang berbunyi “Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti kerabat dan kawan”. Dan disinilah saya menemukan komunitas Nusantara. Saya tinggal di asrama yang didalamnya terdapat kawan baru yang berasal dari berbagai daerah. Dari Jawa sendiri, ada yang berasal dari Blitar, Jombang, Semarang, Demak, Brebes, Yogya, Bandung. Dan yang dari luar Jawa, ada yang berasal dari Lombok, Pangkalan Bun, Padang, Jambi, Medan, serta Pekanbaru. Disinilah saya menemukan kesukaan baru dengan memperhatikan berbagai nama marga yang kebanyakan berasal dari Medan. Ada yang marganya Sinaga, Sirait, Simatupang, Siregar, Lubis, Panjaitan, Ritonga, Siagian, Gultom, Purba, dan masih banyak yang lainnya.

Dan bagaimana dengan saya sekarang ini, Alhamdulillah bisa juga dikatakan betah, dan saya lebih nyaman dengan jawaban, “Mumpung saya lagi disini, ya dinikmati saja, hehe”. ada juga kawan saya yang bertanya, “Kok jauh-jauh sampai ke Batam?”, kalau pertanyaan yang satu ini, sering saya jawab dengan candaan, “disini belum jauh kok, kan masih di Indonesia, hehe”. karena memang saya bercita-cita suatu saat ingin menjelajah lebih dari ini, dan ini bagi saya memang masih dekat karena masih termasuk territorial Indonesia.

Lalu ada pertanyaan lain, “Bagaimana dengan biaya hidup disana Mas?”. kalau pertanyaan yang satu ini, dulu saya bingung juga menjawabnya, karena saat itu saya berfikir, kalau saya jawab, mungkin adik kelas saya tidak ada yang mau kesini. Lhah mengapa demikian?. Karena biaya hidup disini cukup tinggi, bisa saya katakan sekelas biaya hidup di Jakarta, malah bisa sedikit lebih terjangkau di Jakarta malahan. Alasan Batam yang sebagai sebuah pulau yang kebanyakan banyak bahan makanan yang mengimpor dari luar mungkin bisa sebagai salah satu sebab. Karena semuanya membutuhkan transportasi yang juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun di kemudian hari, ada delapan orang adik kelas saya yang menyusul, mereka terbagi di Kamar bedah, IGD, serta ICU. Jadi ada teman sealmamater saya sekarang.

Sebagai perbandingan, kalau nasi ayam penyet di Semarang masih bisa dibeli dengan harga sekitar 8 sampai 9 ribuan, maka disini harga 14 ribuan adalah harga yang wajar. Jika mie ayam warung dekat rumah saya masih 5 ribuan, maka disini paling murah ya 8 ribuan, apalagi kalau sampai menyebrang ke pulau sebelah yang harus menggunakan passport, harga mie ayam yang pernah saya beli kalau dirupiahkan bisa sampai 30 ribuan per mangkuk. Jika air gallon bermerk Aqua yan terkenal itu di Jawa masih sekitar 12 ribuan, maka saat gallon itu sampai di pulau ini bisa berubah menjadi 30 ribuan.

Namun, sekali lagi, biaya hidup itu juga tergantung juga dengan gaya hidup kalau saya pikir. Walaupun harga terbilang terjangkau namun kitanya yang hidup berlebihan, ya sama saja. Dengan biaya hidup yang lumayan tinggi disini, namun kitanya yang pandai menyisihkan untuk menabung misalkan, atau sebagian ada yang diberikan ke orang tua serta masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat. Apalagi saya sendiri disini, asrama serta makan 3 kali sehari sudah ditanggung pihak rumah sakit, akan sangat disayangkan dan rugi jika saya hidup boros.

Karena, entah darimana infonya juga, Batam katanya terkenal dengan barang elektroniknya yang lebih murah serta terjangkau, ini katanya kalau dibandingkan dengan di Jawa sana. Hal ini memang ada benarnya, namun untuk barang yang sudah terstandart, bergaransi Nasional, saya tanya ke beberapa teman saya di beberapa daerah di Indonesia kok sama saja ya. Lalu, darimana barang elektronik yang murah, jangan tanya saya, mungkin ada orang lain yang lebih tahu. Kalau saya sendiri, tahun kemarin membeli salah satu smartphone android yang membantu kebutuhan saya untuk berkomunikasi dan juga untuk menjelajah dunia maya, bisa dibilang harganya dibawah rata-rata standar dengan yang harga tertera di tabloid-tabloid itu, selisihnya sampai 500 ribuan. namun sekali lagi, kalau ingin bertanya tentang barang elesktronik, tolong jangan sama saya, bukan tempatnya dan saya juga kurang tahu, hehe.

Lalu hal lain yang sering ditanyakan adalah tentang gaji atau salary. Menurut saya, hal ini kok agak sensitive untuk dibicarakan, namun, tak apalah, sebagai pembelajaran. Sebagai gambaran umum, salary di tempat saya bekerja sesuai dengan UMR Kota Batam, anda bisa mencari sendiri besarannya. Memang kalau membicarakan tentang hal ini, apalagi terkait materi, pembicaraan yang dimungkinkan timbul adalah cukup atau kurang. Hanya itu. ada yang merasa cukup dan ada juga yang merasa kurang. Kembali lagi tergantung diri kita.

dengan salary yang ada, ada yang bisa memanfaatkannya dengan baik sehingga tidak pernah terucap kata kurang darinya, dan ada juga yang selalu mengeluh kok yang didapat selalu habis, selalu kurang, sekali lagi, ini kembali kepada diri kita dalam mengelolanya.

Kalau pendapat saya pribadi, dibandingkan dengan di daerah asal saya dan Semarang, salary disini bisa dibilang lebih tinggi, mungkin sama dengan standar UMR di Jakarta. Namun, bukan itu saja yang menjadi pertimbangan saya saat itu untuk berani merantau kesini, saya juga mempertimbangkan apakah saya bisa belajar tidak, bisa mengembangkan diri tidak, serta ilmu seperti apa yang bisa saya dapatkan setelah saya memasuki dunia kerja ini. karena sebagai mahasiswa yang baru lulus, tentu kemampuan saya masih sangat sedikit, masih waktu serta praktik untuk belajar. Jadi kalau hanya memikirkan tentang salary saja, ya yang didapat hanya salary saja, ilmu menjadi tidak berkembang. Tergantung anda semua, terutama yang sebentar lagi akan merantau, bisa ditata niat serta tujuannya juga, hal apa sajakah yang akan dicari setelah menapakkan kaki dan keluar dari kampung halaman. Insyaallah itu adalah salah satu hal penting dari sekian banyak hal penting yang harus kita pikirkan.

Sebagai penutup catatan kali ini, ada sebuah catatan kecil dari Novelis yang tulisannya bisa menggugah jiwa kita semua, beliaulah Bang Darwis Tere Lije, berikut adalah catatan yang saya baca dari fanpage beliau.

Ada sebuah keluarga PNS sederhana. Bapaknya kerja di pemda urusan perijinan, istrinya ibu rumah tangga biasa. Seumur2, 40 tahun bekerja sebagai PNS, tidak sekalipun minta uang, menyulitkan orang lain. Justeru sebaliknya bekerja tepat waktu, selalu berusaha memenuhi janji, memudahkan orang lain, takut sekali telah mengambil hak orang lain.

Saat tua, masa-masa muda yg penuh kesempatan berlalu begitu saja, 40 tahun bekerja, apa yg dia dapat? Hasilnya ya begitu2 saja. Rumah type 36, motor tua sering ngadat, tabungan tak ada, hanya uang pensiun. Dia PNS yang amat jujur, teguh pendirian.

Tetapi hidup ini tidak pernah tertukar, Kawan. Satu mili pun tidak. Anak mereka, 6 orang, semua berhasil. Lulusan luar negeri, memiliki profesi baik, punya keluarga baik, cucu2 yg pintar, cantik, tampan, ilmu agama mumpuni, saleh, hidup berkecukupan, 6 orang anaknya sukses. Semua kejujuran, kemudahan dan pertolongan yg diberikan bapak PNS ini mantul, membal, kembali kepada anak2nya. Si sulung ingin daftar S1, banyak sekali yg bantu, anak nomor 2 ingin memulai bisnis, tidak terhitung kemudahan terbuka. Bahkan urusan sepele, saat anak2 mereka masih kecil, dan jatuh sakit, meski hidup sederhana, semua pintu pertolongan seperti terbuka begitu saja. Menakjubkan. Dan itu baru di dunia, kita tidak tahu, akan seberapa besar membal, mantul, kembalinya semua kebaikan bapak PNS ini kelak di akherat kepadanya.

Nah, begitu pula sebaliknya dgn semua keburukan. Hidup ini tidak pernah tertukar. Jadi mari direnungkan, dicamkan, diyakini. Tidak perlu dikomen panjang lebar. Silahkan share kemana2, kemana2, jika merasa ada manfaatnya. (Tere Lije)

Demikian catatan saya kali ini, memang agak panjang, sekali lagi saya mohon maaf jika ada kekurangan serta khilaf dalam menuliskan catatan ini, semoga bisa memberikan manfaat bagi sesama serta semoga keberkahan selalu menaungi kita semua, amin.

Batam, 3 September 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: