Naik Pancung di Bawah Jembatan Barelang

1 Sep

#Turn On 56

Menikmati hari minggu yang hangat-hangat mendung, mengapa demikian, ini karena seharian ini cuaca seakan saling bergantian jaganya, kayak saya ketika kerja saja, pake shift. Namun, memang inilah yang terjadi hari ini, panas, hujan, di beberapa bagian terang benderang, di salah satu bagian hujan deras. Inilah Batam, mulai semenjak saya disini, akhir 2011 lalu, sering sekali saya menjumpai kejadian seperti ini, apa karena global warming itu juga kali ya.

Hari ini, di awal bulan September ceria, saya mendapatkan jadwal jaga malam, artinya, seharian ini saya bisa kemana-mana, hehe. tempat tujuan jalan-jalan kali ini adalah Jembatan Barelang atau kalau di peta, kita akan melihat nama yang tertera juga Tengku Fisabilillah Bridge.

Sedikit informasi, dinamakan Barelang karena jembatan ini menghubungkan beberapa pulau disini. Barelang berarti Batam, Rempang, dan Galang. Ada pulau Setoko juga sebenarnya yang ada diantara jembatan ketiga dan keempat, kok namanya tidak Baserelang ya? Hehe, saya juga kurang tahu.

Pagi tadi, kami bertiga, saya, Dayat, dan Pak Riyono pergi ke jembatan ini. kami ingin melihat air laut yang mengalir di bawah jembatan, karena memang jembatan ini menjadi penghubung antar pulau. Jadi di bawahnya ya laut, bukan sungai lagi, airnya juga sudah air asin. Kami refreshing disini, melihat indanya pemandangan alam, masa melihat darah terus tiap hari, hehe.

Bagi saya sendiri, ini merupakan kali ketiga saya kesini. Pertama kali, saat ada acara perpisahan karyawan di bulan februari 2012 lalu. Yang kedua, saat bersama Triyono bulan maret lalu, saat itu sekalian saya sampai di jembatan lima, mengunjungi tempat wisata sejarah, eks kampung Vietnam, foto-fotonya sudah pernah saya upload. Lalu ke pantai Mirota juga, namun saat itu, karena saking ramainya, karena bertepatan dengan hali libur nasional, hari nyepi, saya dan Triyono hanya mampir sebentar, tidak lebih dari 30 menit, lalu melanjutan perjalanan lagi.

Dan hari ini, setelah tertunda dua kali, Alhamdulillah akhirnya saya sampai disini lagi. Kami berangkat sekitar jam tujuh lewat seperempat. Setelah sarapan di kantin rumah sakit dan sekalian shalat dhuha, kami berangkat. Kami membawa 2 motor, Dayat memboncengkan Pak Riyono, dan saya memboncengkan tas daybag, hehe. bismillah, berangkat.

Awal perjalanan, matahari masih hangat-hangatnya menyinari kota ini. maklum, sunrise dan sunset disini sedikit lebih lambat daripada di Kudus, terbit matahari saja disini sekitar pukul enam, jadi pukul tujuh pagi ya masih terbilang pagi. Perjalanan ke jembatan ini membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Alhamdulillah selama perjalanan lancar, namun, saat hampir sampai, awan hitam mulai menggelayut. Haduh, kami kompak lagi, tidak membawa jas hujan semua, haha. moga-moga terang, moga-moga terang. Kami terus berdoa.

Sempat turun rintik hujan, mungkin sekitar 200 meter menerpa kami, namun, setelah itu, Alhamdulillah terang kembali, dan sampailah kami di jembatan barelang yang masih sepi. Hanya ada beberapa kendaraan lewat dan kami bertiga yang seperti orang hilang saja. Haha. maklum, kepagian sih. Namun tidak apa, justru inilah enaknya. Kami bisa kesana kemari berfoto-foto ria. Melihat orang-orang di bawah jembatan yang sedang memancing. Dan pemandangan yang selalu membuat saya senang, melihat perahu-perahu kecil yang melintas.

Saya jadi ingat ketika masih kecil dulu. Salah satu mainan kesukaan saya adalah perahu kertas. Jadi, selepas hujan, saat air masih menggenang, atau bahkan di selokan-selokan yang airnya melaju cukup deras, saya dan teman-teman sepermainan yang ada di kampung berlomba siapa yang perahu kertasnya melaju paling cepat, siapa yang perahu kertasnya berada di garis paling depan. Tak jarang kami bertengkar kecil, meributkan siapa yang menang. Ah, masa kecil itu tak akan bisa diulangi lagi, hehe.

Perahu kecil disini terbagi dalam 2 jenis, ada yang bernama Pancung dan Pompong. Bedanya hanya terletak pada mesin yang melekat. Kalau Pancung, menggunakan mesin tempel. Jadi sewaktu-waktu mesinnya bisa dilepas dan dipasang kembali sesuai dengan kebutuhan. Nah, kalau Pompong, mesinnya melekat, sudah terpasang mesin dan baling-baling yang berada di bawah perahu. Kurang lebih itulah penjelasan dari Pak Ghafur, yang nanti akan saya ceritakan bagaimana kami bisa bertemu dengannnya.

Setelah cukup lama berfoto-foto dengan berbagai pose, mulai dari gaya bintang iklan sampai gaya orang yang mau nyebur ke laut, kami pun terdiam cukup lama, memandangi riak-riak air laut, dan ada beberapa bagian yang tenang namun memiliki arus bawah laut yang sangat kencang.

Hari ini, saya baru memahami istilah yang sering digunakan itu, bahwa air beriak tanda tak dalam dan air tenang menghanyutkan. Kalau beriak, berarti air itu tidak terlalu dalam, mungkin sama dengan orang yang beriak, tandanya tidak dalam juga, hehe. dan ketika di permukaan air laut itu terlihat tenang, bisa jadi dibawahnya terdapat cekungan yang cukup dalam, sehingga terlihat air itu berputar menuju atas dan bawah jika dilihat dari atas jembatan. Mungkin seperti itu juga, orang yang pembawaannya tenang, bisa sangat dalam orangnya, bisa menghanyutkan juga, haha.

Cahaya mentari semakin panas, kami bertiga mulai mengeluarkan keringat. Jarang-jarang kami dalam bekerja sampai keluar keringat, maklum, kami kerjanya di tempat ber AC, kadang kalau AC nya lagi bermasalah, dinginnya serasa menusuk tulang. Karena memang standar suhu di tempat kerja saya antara 18 sampai 20 derajat Celsius.

Kami lalu melihat ke bawah jembatan. Muncullah ide saat melihat ada rumah kecil yang terlihat di depannya beberapa perahu. Segera saja kami mencari jalan turun ke bawah jemabatan. Setelah ketemu, kami segera meluncur kesana.

Sampai di rumah itu, bau amis dari tanaman yang dijemur sudah menyambut kedatangan  kami. Awalnya kami mengira yang dijemur di depan rumah itu adalah rumput laut, tapi setelah beberapa saat diperhatikan, itu merupakan sejenis ganggang. Ganggang hijau, ini juga yang menyebabkan laut di sekitar sini berwarna hijau, karena dibawahnya tumbuh subur ganggang ini.

Kami bertanya kepada sang pemilik rumah, apakah perahu kecilnya bisa disewa untuk sekedar jalan-jalan di bawah jembatan dan melihat pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar sini. Di rumah itulah kami bertemu dengan Pak Ghafur yang tinggal bersama keluarganya. Disitu ada tiga rumah dengan tiga KK. Ada seorang nenek yang dituakan, yang setelah beberapa saat saya mengobrol, mereka adalah penduduk asli Batam, bukan pendatang seperti kami. Logat melayu sangat kental, jadi kami seperti mendengar percakapan yang ada di film Ipin dan Upin itu.

Setelah bertanya, Pak Ghafur dan istrinya terlihat agak kesulitan menentukan harga. Maklum, mungkin baru kali ini ada orang yang menyewa perahu mereka untuk sekedar bertamasya ria. Yang biasanya perahu mereka digunakan untuk mengambil ganggang yang ada di laut. Setelah proses bargaining selesai, akhirnya disepakati, kami bertiga membayar 60 ribu untuk jalan-jalan.

Pak Ghafur meminta waktu sejenak untuk menyiapkan Pancung nya, itu nama perahu yang menggunakan mesin tempel. Sambil menunggu beliau menyiapkan pancungnya, saya mengobrol dengan keluarga disitu. Anaknya pak Ghafur yang sulung, perempuan, mungkin berusia sekitar 4 tahun. Namanya Diah. Anaknya terbilang bisa langsung akrab dengan kami yang notabene tamu, apalagi setelah saya ajak bermain tepuk tangan. Wah, langsung nempel dengan kami lah pokoknya.

Here we go, setelah pancung siap, kami segera turun ke bawah. Mesin dihidupkan, bismillah, berangkat deh. Sepanjang perjalanan, saya yang awalnya pendiam, haha, sejak kapan saya pendiam yah. Saya mengobrol ngalor ngidul dengan Dayat, Pak Riyono, dan tentu saja dengan Pak Ghafur. Tanya ini, tanya itu, ini namanya pulau apa, itu mengapa kok seperti itu. haha, berasa jadi wartawan dadakan aja.

Jalan-jalan kami ini tidak terlalu jauh, hanya mengitari sebuah pulau yang bernama pulau Angkar. Kami memang ingin melihat secara dekat pulau yang satu ini, karena dari kejauhan, saat kami di jembatan Barelang, terlihat sebuah masjid yang berwarna kuning keemasan dibagian kubahnya.

Sepanjang perjalanan, saya menikmati semilirnya angin yang menerpa dan deburan air yang terbelah oleh Pancung. Burung-burung terbang rendah sembari mencari mangsa, dan kami melihat orang-orang yang sedang bersantai di jembatan yang tadinya kami juga disitu. Kami juga meihat orang-orang yang sedang memancing di bawah jembatan, mereka bersenandung sambil melemparkan umpan pancingnya, ah, adat melayu memang tidak terpisah dari sajak dan sastra.

Setelah beberapa lama menaiki Pancung yang bergerak, kami mendekati pulau Angkar, terlihatlah masjid yang dari kejauhan ingin kami dekati. Nama masjid itu Nurul bahari, Cahaya Lautan, kurang lebih itu artinya. Disitu, sumber penerangannya masih menggunakan genset, karena belum ada aliran listrik dari tiang pancang semacam Sutet. Saya melihat anak-anak kecil berlarian, menceburkan dirinya ke lautan, balapan renang, duduk santai di atas keramba. Memang benar-benar kehidupan kepulauan. Dan inlah Indonesia kawan, Negeri dengan ribuan gugusan pulau yang tersebar dari Sabang sampai merauke. Sekarang saya sedang menikmati salah satu keindahan pulaunya, menaiki Pancung, pas juga kalau sambil menyanyikan lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut nih.

Sekitar setengah jam jalan-jalan, akhirnya kami kembali ke rumah Pak Ghafur, bercengkama, melihat berbagai fauna laut di keramba yang dikelolanya bersama keluarganya. Ada sotong yang gede-gede, ada kerapu merah dan hitam, ada udang yang besar juga, ada berbagai ikan yang saya belum tahu namanya. Kami merasa jalan-jalan kali ini sangat menyenangkan, dan kami pun bilang pada pak Ghafur, insyaallah suatu saat akan mampir lagi dan juga mau menyewa Pancungnya lagi. Dengan senyum ramahnya, beliau memperbolehkan dan insyaallah menunggu kadatangan kami lagi.

Kami pulang siang tadi dengan wajah gembira, di perjalanan kami disambut hujan yang mulai turun lagi. Kami berhenti di sebuah warung mie ayam dan bakso Solo, karena yang jualan orang Sukoharjo. Dimana-mana ketemu orang Jawa lagi, hehe. saya pun segera memesan mie ayam dengan sawi ekstra, haha. bismillah, mari disantap dan insyaallah lain kali semoga bisa share cerita lagi, mohon doanya saja.

Salam dari sebuah pulau dari gugusan kepulauan Nusantara, Jalasveva jayamahe, di lautan kita Jaya !!!

Batam, 1 September 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: