Kisah Tiga Ksatria

31 Agu

#Turn On 54

Saya selalu terkesima dengan kisah-kisah heroik orang-orang yang ada di sekitar kita. salah satu buku favorit saya adalah 7 Heroes yang pernah saya ceritakan dalam catatan saya terdahulu. Kisah-kisah mereka sungguh sangat menginspirasi. Dengan membaca kisah-kisah tersebut, insyaallah mampu membangkitkan semangat yang mungkin sedang kendur dalam diri ini.

Kali ini, saya akan menceritakan beberapa orang di sekitar saya yang mampu mengawal semangat saya untuk terus belajar dan tentu saja, senantiasa mensyukuri setiap hal yang terjadi dalam hidup ini.

Kisah pertama adalah seorang bapak yang rumahnya tidak jauh dari rumah saya di Kudus. Beliau adalah seorang petani. Sampai saya menulis catatan ini, beliau masih tinggal di rumahnya yang berada dekat dengan musholla di kampung saya. Kalau saya di rumah dan pergi jamaah shalat di musholla, saya sering bertemu, sering bercanda. Pembawaannya sederhana, sungguh amat bersahaja.

Yang membuat saya terkesan adalah, walaupun beliau yang notabene seorang petani, yang dalam hal ini beliau hanya punya sepetak sawah kecil, bukan berhektar-hektar layaknya tuan tanah, namun beliau terus memberikan semangat kepada putra-putriya untuk meraih pendidikan yang tinggi.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana putra-putri beliau, dengan usaha yang luar biasa, dengan doa serta semangat dari orang tuanya, mampu meraih gelar sarjana serta bisa mengangkat adiknya juga untuk melanjutkan ke jenjang sarjana juga. Kini, putranya bekerja di salah satu perusahaan bergengsi, untuk urusan pergi dalam dan luar negeri, seakan sudah menjadi hal yang biasa.

Kisah kedua adalah tentang guru saya. Saya dan anda semua pasti mempunyai guru-guru yang hebat. Mulai dari pendidikan paling dasar sampai pendidikan tinggi. Dari kesemua itu, pasti ada salah satu guru yang berkesan di hati kita.

Ketika saya masih duduk di bangku SD dulu, saya pernah pindah sekolah saat kelas 6. Jadi saat itu, orang tua saya memindahkan saya karena beliau merasa kurang cocok dengan system pembelajaran yang ada di sekolah lama saya. Ketika saya pindah, saya menemukan sebuah ruangan yang berisi 47 orang yang sungguh memiliki kemampuan yang dengan segera membentuk saya ikut dalam suasana pembelajaran yang sungguh sangat nyaman dan kondusif.

Suasana seperti itu, dibentuk oleh beliau, guru kelas 6 saya. Awal-awal masuk saat pindahan, saya memang masih tertatih-tatih untuk mengikuti pembelajaran yang ada. Saya merasa kok kayaknya beda dengan yang diajarkan di sekolah yang lama. Setelah proses belajar mengajar berlangsung beberapa hari, ternyata saya merasakan begitu besarnya peran seorang guru terhadap anak didiknya.

Tidak pernah saya melewatkan PR serta berbagai tugas yang diberikan, tentu saja karena iklim belajar yang dibentuk sungguh nyaman. System pembelajaran seperti itu, juga beliau terapkan di rumah. Terbukti, dua putri beliau sekarang sudah bergelar sarjana serta yang satunya masih duduk di bangku kuliah. Keduanya juga mengikuti jejak bapaknya untuk menjadi seorang pendidik.

Kalau saya mengingat jasa beliau dalam mendidik saya beserta teman-teman saya, benar adanya kalimat penghargaan yang sering diucapkan itu, beliau seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Jasa beliau begitu besarnya dalam memberangus kebodohan yang ada dalam diri anak didiknya. Dari sekian banyak guru yang saya miliki, beliau adalah salah satu guru yang mengajarkan banyak hal ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, sekolah yang berperan membentuk fondasi untuk menuju ke jenjang selanjutnya.

Kisah ketiga, adalah seorang bapak yang berprofesi sebagai perawat. Kalau dihitung matematis, secara pengalaman, beliau sudah malang melintang sebagai perawat lebih dari 30 tahun di bidang bedah dan anestesi. Dengan dalamnya ilmu dan kerendahan hatinya, beliau adalah role model saya saat ini.

Walaupun usia beliau bisa dibilang sudah memasuki kepala lima, namun sampai saat ini beliau masih rajin untuk melakukan puasa senin kamis dan hanya absen kalau memang ada udzur. “lebih tenang dan nyaman”, suatu kali jawaban beliau ketika pernah saya tanya. Saat puasa ramadhan kemarin, dalam sehari mungkin beliau hanya tidur paling lama 3 jam dalam sehari semalam. Selebihnya beliau gunakan untuk bekerja, serta melakukan berbagai kegiatan di bulan ramadhan yang tidak bisa dilakukan selain di bulan ini.

Putra-putri beliau, ada yang menjadi akuntan yang keluar masuk dalam serta luar negeri. Terakhir kali putra pertama beliau pergi ke suatu acara di Italy, beliau dibawakan sebuah netbook yang keypadnya berbeda dengan netbook kebanyakan yang pernah saya jumpai. Memang khas buatan sana. Lalu ada yang masuk ke dunia kesehatan juga dan menjadi seorang dokter, saat ini, putri kedua beliau sedang proses untuk menuju jenjang spesialis. Dan putra bungsu beliau, yang masih SMA, mempunyai minat yang besar terhadap bidang bisnis. Dari cerita beliau, putra bungsunya sering ke beberapa kota besar untuk kulakan atau membeli barang yang kemudian dijualnya kembali. Masih SMA namun sudah berpenghasilan sendiri.

Soal kedalaman ilmu yang beliau miliki, jangan ditanya, sekelas sama perawat yang ada di Harapan Kita di pusat ibu kota sana, ini juga yang menjadi salah satu sebab saya semakin tambah semangat untuk belajar, karena di perantauan ini, saya mendapatkan patner kerja sekaligus guru yang memiliki ilmu keperawatan yang begitu luas, begitu mendalam. Dengan kerendahan hati dan wajah yang selalu memancarkan senyuman, membuat beliau mudah akrab dengan siapapun. Semoga saya bisa belajar banyak dari beliau.

Ketiga orang diatas adalah beberapa orang dari sekian banyak orang yang mempengaruhi kehidupan saya. Tentu saja mereka merupakan guru-guru dalam keilmuan dan kehidupan yang mampu mengawal diri ini untuk selalu berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kalau sekarang, saya masih banyak kurangnya, masih butuh banyak belajar, mohon doa dari semua ya. Semoga anda semua juga termasuk orang-orang yang terus belajar serta bisa menginspirasi bagi yang lain.

Ketiga orang itu, telah menjadi ksatria bagi kehidupan orang lain. Petani, Guru, dan Perawat. Bapak saya seorang petani sekaligus seorang guru, dan saya sendiri, masih belajar menjadi perawat yang baik. Lalu, akan seperti apakah kisah saya kelak?.

Batam, 30 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: