Sedikit Tentang Kerjaan Saya di Kamar Operasi

28 Agu

#Turn On 53

Saat kecil dulu, saya sering beranggapan kalau setiap orang nantinya kalau dewasa, kalau tidak jadi petani ya menjadi guru. Mengapa saya berfikiran demikian? Jawabannya sangat sederhana, itu karena saya tumbuh di lingkungan petani dan guru. Bapak saya, seorang guru swasta sekaligus petani yang mengenalkan saya pada dua profesi itu.

Bapak saya adalah seorang guru yang mengampu bidang Bahasa Arab, tentu saja beliau sangat akrab dengan pelajaran Nahwu dan Shorof, yang ketika dirumah, ketika sedang membuka kitab-kitab berbahasa arab, selalu membawa dua kamus besarnya, kamus Munawwir dan Munjid, semacam kamus Oxford kalau pelajaran bahasa inggris.

Walaupun bisa dibilang saya anak seorang guru yang mengampu bahasa arab, namun saya nol besar dalam pelajaran ini, hehe. Dulu saat masih di Mts dan MA insyaallah masih bisa, itupun sedikit-sedikit karena kurangnya pembiasaan menggunakan bahasa ini, malahan saya lebih senang belajar bahasa inggris, walaupun ya masih dalam tahap belajar juga sampai sekarang.

Setelah mulai beranjak remaja, saya mulai kenal dengan banyak hal dari guru-guru saya. Berbagai pelajaran disampaikan dan membuat mata saya mulai mengenal dunia dan berbagai profesinya. Ada yang menjadi ini, menjadi itu, berkontribusi ini, menemukan penemuan ini, mempunyai perusahaan ini, dan masih banyak lagi.

Bagi saya yang dulu sangat takut mendengar ada orang yang kecelakaan, takut melihat darah orang, takut dunia kesehatan lah pokoknya. Hal ini terkadang lucu juga kalau saya pikirkan mengingat saya sekarang bekerja di kamar operasi, yang tiap hari sangat akrab dengan berbagai pasien dengan berbagai kondisinya. Ada yang memang menjalani operasi terjadwal dan ada juga yang menjalani operasi karena kasus gawat darurat atau emergency.

Beberapa hari terkahir ini, saya sering mendapatkan SMS dari adik-adik tingkat, maklum, mereka yang tingkat akhir sedang menjalani proses menuju wisuda, sehingga dunia pekerjaan sedang menanti mereka. Ada pertanyaan dari adik kelas yang masih duduk di tingkat III sekarang maupun dari mereka yang sudah menyandang gelar sebagai kandidat lulusan.

Ada salah satu pertanyaan yang membuat saya menulis catatan ini, pertanyaannya kurang lebih seperti ini, “Mas, kerjaanmu di kamar operasi itu apa saja”. Saya terhening sejenak, wah, saya harus membuat tulisan khusus untuk menjelaskan hal ini kayakanya, sehingga kalau ada yang bertanya lagi tinggal saya beri alamat facebook atau blog untuk membacanya sendiri, kalau diketik lewat sms, saya bingung memulainya darimana, hehe.

Sesuai dengan literature, ilmu perioperatif yang dipelajari dalam perkuliahan kami, saat semester III dulu, ada dua peran perawat di kamar operasi. Perawat sirkuler dan perawat scrub. Saya hanya akan menjelaskan bagian perawat scrub saja karena ini yang menjadi pekerjaan sehari-hari saya, kalau perawat sirkuler, bisa di googling sendiri ya, hehe.

Perawat scrub atau lebih dikenal dengan perawat instrument alias adalah perawat yang mengurusi instrumen saat operasi. Jadi tugas utama saya adalah ngurusin alat sebelum operasi sampai operasi kelar dan kemudian mengantarnya ke CSSD (Central Sterilization Supply Departement/ pusat penyeterilan alat yang ada di RS) untuk dicuci dan disterilkan lagi.

Bicara tentang instrumen operasi, setiap operasi membutuhkan peralatan yang tidak sama. Kalau operasi sesar (SC) dengan operasi patah tulang, tentu saja beda. Kalau operasi pengangkatan ginjal dengan operasi pengangkatan tumor otak di kepala, tentu saja beda. Jadi setiap operasi membutuhkan peralatan yang berbeda dan itu semua perlahan-lahan harus kami kuasai, dan tentu saja ilmu anatomy fisiologi sangat berperan dalam hal ini.

Semisal, operasi katarak, yang nantinya lensa yang keruh itu akan diganti. Pemeriksaan sebelum operasi yang dilakukan oleh dokter spesialis sangatlah berperan. Misal tentang ketebalan lensa berapa, kekuatan lensa berapa, itu akan mempengaruhi implant yang akan ditanam di mata pasien, implant maksudnya lensa buatan, karena setiap mata berbeda kekuatan lensanya sehingga akan berbeda juga nomer lensa yang akan diberikan.

Lalu operasi tulang, letak patahnya dimana, bentuknya seperti apa, itu akan sangat mempengaruhi dalam memposisikan pasien di kamar operasi. Patah tulang tangan dan kaki tentu saja berbeda dalam memposisikannya, dan tentu saja penggunaan alatnya, karena tulang tangan semisal os radius ulna dan tulang di kaki, os femur, berbeda besarnya, berbeda diameternya. Ada intrumen untuk operasi tulang yang digunakan untuk memasang plat dan screw yang berdiameter 2,5 mm, ada yang 3,5, ada yang 4,5, dan masih ada beberapa lagi jenisnya.

Untuk jenis alat-alat yang digunakan, namanya macem-macem juga. Mulai dari handle mess atau pemegang scalpel atau bisturi atau pisau bedahnya. Ada intrumen pemotong seperti gunting jaringan, gunting metzembaum, gunting khusus tali pusat, gunting benang, gunting kassa. Ada instrument penjepit seperti pinset anatomis, pinset sururgis, pinset adson, pinset cutter, arteri klem, kocher klem, ellis klem, bebcock klem (klem yang digunakan untu operasi pengangkatan usus buntu yang meradang, nama operasinya appendiktomy, digunakan juga untuk operasi steril bagi perempuan, nama operasinya MOW), ovarium klem (digunakan untuk menjepit uterus setelah bayi dikeluarkan dari rahim, nama operasinya Sectio Cesaria), stone tang (klem khusus untuk mengambil batu pada operasi pengangkatan batu ginjal, nama operasinya pielolitotomy) dan masih banyak alat penjepit lainnya.

Ada juga instrument yang digunakan untuk memegang jarum jahit saat operasi, namanya needle holder, dengan berbagai ukuran, untuk menjepit jarum benang untuk ukuran benang mulai dari 3, 2, 1, 0, 1.0. 2.0, sampai benang 10.0. Ada yang namanya retractor, atau alat yang digunakan untuk mempermudah melebarkan area operasi, ada yang manual dan ada yang otomatis. Lalu ada set ESU atau Electro Surgical Unit, saya dulu mengenalnya dengan nama laser, alat yang bertenaga listrik ini mirip dengan dengan pensil yang ujungnya bisa memotong jaringan dan menghentikan perdarahan. Lalu ada suction, alat yang digunakan untuk membersihkan dan menghisap cairan saat operasi, bisa darah, bisa cairan air ketuban, bisa cairan elektrolit yang digunakan selama operasi.

Untuk operasi yang khusus semisal minimal invasive surgery atau bedah dengan sayatan minimal, seperti operasi laparascopy appendiktomy, saya dan tim harus menyiapkan alat-alat berupa trocard berukuran 5 mm dan 11 mm untuk nantinya dimasuki lensa, alat-alat penjepit seperti klem dan pinset namun sudah dimodifikasi untuk operasi ini, nama alatnya merylen dan yoan. Lalu ada Harmonic Scapel, alat yang digunakan untuk memotong jaringan serta mempunyai fungsi koagulasi juga. Operasi ini juga membutuhkan monitor untuk menampilkan gambaran dalam tubuh. Setelah operasi, tubuh pasien hanya ada bekas luka yang panjangnya 5 mm, kayak tergores saja.

Apakah hanya itu saja? Tidak, masih ada lagi. Itu kaitannya dengan hal teknis kalau sudah  masuk operasi. Masih banyak hal lain yang mesti dipelajari, misal ketika menerima pasien dari ruangan, ada lembar khusus yang berisi ceklis Sign In, Time Out dan Sign Out, yang bertujuan untuk patient safety. Sign in misalnya, berisi ceklis pengecekan mulai dari identitas pasien, operasi apa, operator bedah dan ansetesinya siapa, tanda-tanda vitalnya bagaimana, apakah pasien mempunyai riwayat sakit sebelumnya, riwayat operasi sebelumnya, riwayat alergi, ada persiapan darah atau tidak jika operasinya dimungkinkan ada perdarahan banyak, dan masih ada ceklis untuk Time Out dan Sign Out yang insyaallah saya tuliskan lain waktu.

Yang saya ceritakan itu masih sedikit dari berbagai kegiatan yang kami lakukan di kamar operasi, dan jika catatan saya belum bisa memahamkan, saya maklum, saya masih belajar untuk menulis, mungkin masih ada kesalahan di sana-sini, mohon maaf serta mohon kereksinya saja. Yang jelas, tidak berhenti sampai kuliah selesai proses belajar itu, malah di tempat kerja inilah saya mendapatkan banyak hal yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah dulu.

Saya pernah merenungkan kata-kata ini dan insyaallah benar adanya, “Salah satu kenikmatan menjadi orang yang tidak tahu adalah kita bisa belajar banyak hal”. Tetap semangat, tetap belajar dan mari bersama menikmati indahnya ilmu pengetahuan. *sungkem*

Batam, 28 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Satu Tanggapan to “Sedikit Tentang Kerjaan Saya di Kamar Operasi”

  1. chery maila 13 Mei 2016 pada 4:54 pm #

    Saya sedang belajar tentang OR nurse. Trimakasih sudah berbagi cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: