Tamu Yang Belum Dipersilahkan

25 Agu

#Turn On 52

Banyak yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, pengalaman adalah pelajaran yang tidak terdapat di bangku sekolahan, dan masih banyak lagi yang berpendapat tentang hal ini. Saya, anda, dan kita semua pastilah memiliki pengalaman yang berbeda-beda, pengalaman inilah yang bisa kita bagi bagi kepada sesama, baik pengalaman yang terkadang menyakitkan atau bahkan pengalaman lucu yang membuat malu, hehe. dan saya hari ini akan membagi salah satu pengalaman yang pernah membuat saya terkenal sekaligus malu yang luar biasa saat saya masih kelas 1 MTs dulu.

Kalau tentang pramuka, saya sudah share sedikit beberapa waktu yang lalu, insyaallah tentang cerita pramuka yang lain semoga masih ada kesempatan untuk menulisnya. Cerita kali ini berkaitan dengan hal akademik atau proses belajar mengajar saat masih kelas 1 dulu, tentu saja saya yang belajar dan mengajarnya pasti bapak ibu guru saya yang terhormat.

Saat masih semester I, saya berada di kelas 1 G (karena saat tahun 2002 lalu penyebutannya masih dengan nama kelas 1, belum kelas VII), dan kelas saya merupakan satu-satunya kelas istimewa karena terdiri atas laki-laki dan perempuan yang berada dalam satu kelas.

Saat itu saya masih kurang tahu, istimewanya itu dimana, apakah kelas saya ini unggulan ataukah kelas kumpulan siswa siswa yang agak aneh sehingga dibuatkan kelas sendiri, hehe. Padahal sebelum-sebelumnya, kelas 1 paralel hanya sampai F, kok kali ini sampai G, entahlah.

Kalau kelas 1 yang lain, 1 A sampai 1 C, semuanya laki-laki, begitu juga 1 D sampai 1 F, semuanya juga perempuan. Dan kelas saya, separuhnya laki-laki dan selebihnya perempuan. Hmmpt, saya nurut saja deh sama bapak ibu guru, mungkin ada maksud lain yang saya belum paham. Lhah iya, kalau di sekolah nurut sama bapak ibu guru, masa nurut sama pak polisi, kan nanti beda ceritanya, hehe.

Singkat kata singkat cerita, kami melalui proses pembelajaran yang sudah diprogam sesuai kurikulum. Kurikulum saya dulu masih KBK, kalau sekarang apa ya?. Mulai dari belajar harian, mengerjakan soal, pulang dengan berbagai PR, mengikuti kegiatan ini, itu, sampai tibalah mid semester dan ujian semesteran. Kalau masih SD yang lalu, saya masih menikmati system caturwulan, sehingga setiap empat bulan sekali ada ulangan, dan setiap dua bulan sekali ada tes pertengahan cawu. Kali ini, setiap tiga bulan sekali ada ujian tengah semester dan ujian semester per enam bulan.

Alhamdulillah semua bisa saya lewati, dan setelah melewati satu semester itu, saya baru tahu kalau kelas saya itu kumpulan anak berotak encer, wah, ekstra belajar deh akhirnya.

Di madrasah saya, setiap habis ujian semesteran, ada acara khusus saat upacara, yaitu pengumuman siswa atau siswi yang mendapatkan peringkat utama dan terbaik secara parallel di tiap kelas. Semisal kelas 1, dari kelas 1 A sampai G kan ada tujuh orang yang mendapatkan peringkat pertama, dari ketujuh orang itu dipilih satu orang yang mendapatkan nilai tertinggi untuk kemudian diberikan beasiswa berupa bebas pembayaran SPP selama satu semester ke depan. Itu berlaku untuk kelas 1, 2, dan 3 MTs dan begitu juga untuk MA. Jadi akan ada 6 orang yang akan dipanggil saat upacara untuk mendapatkan sertifikat, beasiswa, serta ucapan selamat langsung dari kepala sekolah. Nah, saat momen upacara itulah, saya membuat ulah yang tidak akan pernah saya lupakan sampai hari ini.

Saat upacara, saya berada di barisan paling belakang bergabung dengan pengurus OSIS yang bertugas mengawasi teman-teman yang sedang upacara. Kalau-kalau mereka ada yang membuat keributan, ya kami-kami ini yang menegurnya, haha, jadi ingat kenangan saat itu.

Saat bertugas bersama teman-teman OSIS itulah pertama kali saya mengetahui kalau akan ada acara pemberian beasiswa seperti yang saya ceritakan tadi. Pengumuman siswa atau siswi yang mendapatkan beasiswa itu akan diumumkan setelah amanat Pembina upacara. Saat itu saya berfikir, “Wah, betapa beruntungnya bagi yang mendapatkannya ya”.

Setelah kepala sekolah menyampaikan sambutannya dalam sesi amanat Pembina upacara, kejadian itupun dimulai.

Nama-nama siswa siswi terbaik di tiap angkatan diumumkan. Tentu saja dimulai dari kelas paling bawah, yaitu kelas satu. Saat pembacaan dimulai oleh bapak Waka Kurikulum, saya merasa gemetar. Ternyata nama saya disebutkan pertama kali. Huwaaaa. Beneran gak nih pak.

Identitas saya disebutkan komplit, kayak mie ayam pakai bakso bonus sawi yang banyak, haha, jadi kangen mie ayam dekat rumah. mulai dari nama, nomer induk, kelas, nama bapak, jumlah nilai. Wahhh, kaget sekaligus bangga karena saya bisa melawan teman-teman saya yang menurut saya masih diatas saya soal pelajaran.

Saat masih pembacaan, ada teman saya yang nyeletuk, saya lupa siapa, yang jelas dia bilang kalau yang disebutkan namanya agar maju ke depan peserta upacara karena nanti akan diberikan ucapan selamat serta penghargaan dari bapak kepsek. Saking lugu dan memang tidak tahu, akhirnya saya maju saja. Jreng, jreng, akhirnya sampailah saya di muka bapak Pembina upacara yang hanya berjarak kurang lebih dua meter.

Setelah pembacaan nama saya selesai, diteruskan pembacaan nama siswa kelas dua, nama ini, nomer induk ini, bla, bla, bla, sampai akhir, dan diteruskan pembacaan nama siswa kelas tiga. “Lah kok mereka tidak maju ya”, tanya saya dalam hati dengan keringat dingin akibat malu yang mulai mengucur se jagung-jagung.

Setelah pembacaan nama siswa terbaik dari MTs, bapak waka kurikulum melanjutkan pembacaan nama siswa dari tingkat Aliyah. “Ada yang kurang beres ini kayaknya”, saya terus bertanya dalam hati dan masih berdiri di depan bapak Pembina dan mulai terdengar beerapa peserta upacara mulai tertawa pelan. Ternyata oh ternyata, setelah semua nama disebutkan, baru ada pengumuman bahwa semua nama yang disebutkan dipersilahkan maju ke depan untuk mendapatkan penghargaan oleh bapak kepsek, haha.

Walhasil, setelah semua nama yang disebutkan maju, kecuali saya karena saya sudah maju duluan, banyak orang yang kemudian tertawa, begitu juga dengan beberapa guru yang sedari tadi terlihat menahan tawanya. Ternyata saya maju sebelum dipersilahkan, haha. wah, gak kebayang malunya saat itu dan saya pun menjadi langsung terkenal, instant kayak mie rebus, jadi kembang sekolah, jadi bahan ledekan teman-teman, haha, pokoknya begitu deh.

Beginilah akibatnya kalau mendapatkan informasi dari teman yang juga belum tahu, dan akhirnya saya menanggung malu yang menahun. Haha. dari pengalaman itulah, saya belajar untuk tidak akan pernah mengulangi hal yang seperti itu, tidak mau mengulangi untuk menjadi tamu yang masuk sebelum dipersilahkan yang empunya rumah.

Alhamdulillah, selama 12 semester selama MTs dan MA, saya mendapatkan peringkat terbaik di tiap semesternya dan bisa sedikit meringankan orang tua saya dalam membayar SPP. Bukan hanya tentang SPP nya, namun saya belajar banyak untuk membagi waktu antara kegiatan dan belajar agar bisa mempertahankan prestasi sebagai anak sekolahan juga.

Belajar, bisa dari bangku sekolah dan dari kegiatan dalam keseharian kita, yang jelas, semoga kita bisa belajar dari hal apapun yang kita lihat dan yang kita lakukan, dan semoga saya tidak mengurangi kejadian yang telah berhasil membuat saya terkenal secara instant itu, hehe.

Batam, 25 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

2 Tanggapan to “Tamu Yang Belum Dipersilahkan”

  1. devisariha 25 Agustus 2013 pada 1:24 pm #

    jadi ngebayangin gimana kalau aku mengalami hal itu, tapi hikmahnya jadi terkenal instan kan kak? Ditunggu cerita pengalaman2 yang lain ya ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: