Bukan Sekedar Ingin

20 Agu

#Turn On 51

Selamat hari selasa kawans, selamat melakukan aktifitas apa saja di hari ini. hehe. bagi yang sedang belajar, baik yang di sekolah mulai dari Play Group, TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, serta bagi yang tidak terikat oleh instistusi namun selalu belajar, semoga lancar semua. Selamat beraktifitas juga bagi kawan semua yang sedang bekerja, baik yang bekerja sambil masih meneruskan pembelajarannya, maupun bekerja untuk membantu sanak family nya. Selamat beraktifitas juga bagi semua, serta bagi yang masih sempat membaca catatan saya kali ini.

Sering tidak kita sadari, begitu banyak hal yang ada di sekitar kita, dan karena kita yang kurang peka, kita sering melewatkannya begitu saja serta tidak mengambil hikmah serta manfaat dari setiap kejadian itu. baik hal yang bersifat serius, bahkan hal yang lucu yang terkadang mengandung banyak saripati ilmu yang bisa diserap.

Ada sebuah cerita yang pernah saya baca, kali ini tentang bagaimana kita melihat diri kita dalam hidup, apakah kita sudah bisa menghargai kehidupan atau belum, kurang lebih seperti ini ceritanya.

Suatu hari, di negeri antah berantah, hiduplah seorang tukang batu. Setiap hari ia melakukan tugasnya dengan memecah batu karang yang sungguh sangat besarnya. Sedikit demi sedikit, ia memecah bongkahan batu yang besar itu menjadi bagian yang kecil untuk kemudian dijual.

Setiap ia memecah batu, terdengar bunyi “tak, tak, tak” tatkala alat yang digunakan menghujam batu yang akan dipecah. Begitu, setiap harinya. Namun, hari itu, semua berubah.

Ketika sedang bekerja, ia melihat seorang bangsawan lewat. Bangsawan itu, lengkap dengan berbagai aksesorisnya, pakaian mewah, menunggangi unta yang besar, makanannya enak, dan kelihatan tidak sesengsara dia dalam bekerja, ah, betapa enaknya. maka hari itu, ia ingin menjadi seorang bangsawan. Menjadi seorang yang tidak perlu berpanas-panas seharian untuk memecah batu.

Seketika ia mempunyai keinginan seperti itu, dalam sekejap ia telah berubah menjadi bangsawan. Lalu ia menunggang unta yang besar, makanannya enak, dan hidup dalam bergelimang harta. Namun lagi-lagi, ada hal yang dilihatnya dan membuat pandangannya berubah.

Ia melihat seorang raja yang lewat, lengkap dengan prajurit yang mengiringi, punya istana yang megah, punya kekuasaan untuk memerintah, setiap titahnya harus dilaksanakan oleh rakyat, ah, betapa enaknya. Maka, ia pun ingin menjadi seorang raja, memiliki prajurit serta rakyat yang diperintah, mempunyai segala macam kemewahan yang tidak dimiliki oleh seorang bangsawan.

Seketika ia mempunyai keinginan seperti itu, dalam sekejap ia pun telah berubah menjadi seorang raja. Sekarang kemana-mana ia ditandu. Kemana-mana selalu ada prajurit yang mengiringi dan siap berkorban untuknya. Makanannya lebih enak daripada bangsawan. Namun, ada hal yang membuat pandangannya berubah lagi.

Ketika sedang asyik-asyiknya menjadi seorang raja. Saat itu ia sedang berada di pelataran istananya, namanya di tempat terbuka, ia pun terkena sinar matahari yang membuatnya kepanasan. Saat ia melihat matahari, ia bergumam. Walaupun aku seorang raja, yang bisa memerintah ribuan prajurit, namun aku tetaplah kepanasan oleh matahari. Betapa hebat matahari itu, bisa membuat panas bumi ini, bisa menyinari segenap lapisan tanah ini, ah, betapa enaknya. Maka ia pun ingin menjadi matahari, yang bisa mempengaruhi alam ini. bisa menyinari dan bisa membuat panas apapun yang dikehendaki.

Seketika ia mempunyai keinginan seperti itu, jadilah ia matahari. Kali ini ia bebas membuat panas apa saja. Jangankan seorang tukang batu, seorang bangsawan dan raja pun tak berdaya dengan kekuatan matahari. Namun, baru sebentar menjadi matahari, ada sesuatu yang mengusik dirinya.

Ketika sedang menggunakan kekuatannya sebagai matahari, membuat panas dimana saja, ada awan yang menutupi sinarnya. sebesar apapun usaha yang dikerahkannya, tetap saja sinarnya tidak bisa menembus awan. Ia melihat awan itu, ia bisa menghalangi sinar matahari yang sebelumnya sangat diinginkannya. Awan juga bisa menurunkan hujan yang bisa meredam panasnya sinar matahari. Ah, betapa enaknya, gumam matahari. Maka ia pun ingin menjadi awan yang mempunyai segala macam kelebihan itu.

Seketika ia mempunyai keinginan seperti itu, jadi lah ia awan. Kali ini, dengan bebas ia bisa menghalau sinar matahari yang turun ke bumi. Sambil menghalau panasnya matahari, ia pun bisa menurunkan air yang bisa membuat tanaman menjadi hijau. Ia berpikir sangat bisa mempengaruhi keadaan di bumi dengan kandungan air yang dimilikinya. Lagi-lagi, baru saja keinginannya dilakoni, ada hal membuatnya melirik lagi. Betatapun hebatnya awan, dengan mudah ia dapat diombang-ambingkan oleh angin yang bisa bergerak kesana kemari. Angin mampu meniup apa saja, termasuk awan. Jadi, awan tidak mampu berbuat apa-apa ketika ia ditiup angin kesana kemari.

Awan melihat angin yang begitu bebas kemana saja, bisa menggerakkan apa saja, membuat kapal bergerak, membuat kincir angin berputar, membuat ombak di lautan, dan tentu saja, dapat memuat awan tidak bisa diam ditempat. Ah, betapa enaknya menjadi angin, gumam awan.

Seketika ia mempunyai keinginan seperti itu, jadilah ia angin. Kali ini, ia bisa leluasa terbang kesana kemari. Bisa meniup apa saja, termasuk awan. Ia bisa menggerakkan banyak hal. Ia bisa memutar kincir angin, ia bisa memberikan manfaat, namun juga bisa merusak kalau angin berubah menjadi topan, menjadi puting beliung. Kesana kemari, terbang secepat apapun yang ia inginkan, bisa.

Sekali lagi, ada hal yang mengganggunya. Walaupun ia bisa membuat apa saja bergerak sekehendak hatinya. Namun, ada batu karang yang besar, tangguh, yang belum mampu ia geser dengan kekuatannya. Sekeras apapun usahanya, tetap saja batu karang itu tetap diam di tempatnya. Batu karang itu, walaupun terkena teriknya sinar matahari, terkena derasnya hujan yang diturunkan awan, terkena angin tornado, angin jenis apapun, tetapi ia tetap diam di tempatnya. Awan pun bergumam untuk kesekian kalinya, ah, betapa enaknya menjadi batu karang ini. kekuatan batu karang ini sungguh sangat tangguh. Matahari, awan, angin tak mampu menggesernya. Ia tetap di tempatnya.

Seketika ia mempunyai keinginan seperti itu, jadilah ia batu karang seperti yang diinginkannya, untuk sekian kalinya. Seperti yang diinginkannya, ia kokoh bertahan terhadap apapun. Tak mampu panas, hujan, serta angin mengganggunya. Namun, baru sejenak ia menjadi batu karang, ada suara yang mengganggunya, suara itu adalah “tak, tak, tak”, (silahkan diteruskan sendiri ya).

Tarik napas sejenak. Lalu, tarik napas dalam. Hehe.

Terkadang, salah satu dari kita mempunyai pemikiran seperti itu. saya juga, sebagai manusia, bisa saja punya keinginan yang ini, itu, dan sebagainya. Dan ada hal yang sering kita lupakan dalam hidup ini dalam setiap fase yang kita alami yang tentu kita bisa memahaminya bersama setelah membaca kisah tadi. Tinggal kita sekarang untuk berfikir apakah diri kita terjebak dalam hal seperti ini atau tidak.

Hayyah, kok catatanku kali ini serius banget yah?

Batam, 20 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

4 Tanggapan to “Bukan Sekedar Ingin”

  1. devisariha 22 Agustus 2013 pada 1:08 am #

    Apa kabar kak Arsyad?
    Lagi sibuk ya kak? Kok nggak update tulisan…
    Ospek sudah selesai, lega banget rasanya.Tapi mungkin aku bakal kangen saat2 ospek kemarin..

    • arsyad syauqi 22 Agustus 2013 pada 11:06 am #

      alhamdulillah baik dev, iya, masih belum nulis lagi. insyaallah besok mau nulis, semoga ada ide.
      mohon doanya saja, oh ya, selama ini kamu belum pernah komen tentang tulisanku, menurutmu, apa yang masih kurang dengan tulisanku?

  2. devisariha 23 Agustus 2013 pada 1:45 am #

    menurutku sih sudah bagus…. tapi tulisan kakak yg aku suka itu tulisan mengenai pengalaman2 kakak.Untuk yg puisi, sajak,atau apalah namanya tidak begitu suka aku.. mungkin dasarnya nggak suka puisi kaleee yaaa

    • arsyad syauqi 25 Agustus 2013 pada 9:55 am #

      terima kasih untuk komentarnya, namun, bagi saya, kalau lagi pengen nulis ya sekenanya, nulis apa saja, namanya baru belajar nulis, jadi belum tahu tulisan saya bentuknya seperti apa, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: