Hari Merdeka Canda dan Tawa

18 Agu

#Turn On 50

Hari minggu yang cerah, secerah bangsa ini yang kemarin telah merayakan hari ulang tahunnya yang ke 68. Ulang tahun yang dirayakan oleh segenap lapisan masyarakat, dari ujung timur sana, di Pulau Sabang, sampai nun jauh di pulau Merauke yang saya sendiri belum pernah kesana. Haha, kapan bisa main sampai kesana ya?.

Ingat tujuh belasan, jadi ingat berbagai kegiatan yang pernah saya lakukan dulu. Setidaknya ada 2 hal wajib yang kudu dijalani saat peringatan hari kemerdekaan ini, yaitu upacara sama lomba. Bicara tentang upacara, pernah saat masih SD dulu, upacaranya pas hari minggu. Padahal kalau hari hari minggu kan saya masih sangat demen-demennya nonton film dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang, haha. jadi setiap film kartun dan berbagai superhero yang ada, seakan menjadi SKS wajib tiap minggu, haha, dasar, masih anak-anak. Kalau sekarang, ya gak selama itu sih, hehe.

Upacara tujuh belasan, saat masih SD memang hanya masih ikut-ikutan, yang penting datang ajalah. Maklum, masih belum banyak baca dulu itu, jadi mengapa kita harus ikut upacara, kenapa mesti dilakukan upacara, masih belum tahu. Kalau sekarang, masih sangat dan sangat mending kita bisa melakukan upacara, dengan damai, dengan tenang, nah, kalau dulu?. Mau mengibarkan bendera merah putih aja mesti harus berdarah-darah, mesti berjuang sampai 350 tahun, kalau kita, apa ya sanggup nunggu selama itu?.

Masuk ke sekolah menengah, lama-lama jadi tahu, dan setiap ada upacara, insyaallah akan selalu hadir. Dan melalui upacara itulah, saya mengenal baris-berbaris, saya mengenal pasukan pengibar bendera, dan diam-diam, saya mengidolakan siapapun yang menjadi pengibar bendera nasional yang ada di istana negara itu.

Namun ya namun, selama 6 tahun saya sekolah menengah, baik di Mts maupun di MA, tidak ada satupun kesempatan untuk melihat Paskibraka nasional di TV saat mereka menaikkan bendera merah putih. Ya gimana mau lihat, wong paginya saya harus ikut upacara di tingkat kecamatan. Sama-sama melihat paskibraka memang sih, namun yang menjadi idola saya kan yang tingkat nasional. Hehe.

Jadi, kalau tidak melihat saat menaikkan bendera, sorenya harus nonton saat menurunkannya. Walaupun tidak seramai dan semeriah saat menaikkannya, namun saat melihat pasukan khusus itu, saat melangkahkan kaki dengan suaranya yang seragam, saat langkah tegapnya mampu membuat merinding, saat semua badannya dalam posisi sempurna, ah, jadi ingin bisa tampil disana, hehe. pernah saat kelas X dulu saya ikut seleksi paskibra tingkat kecamatan, setelah berbagai tes, Alhamdulillah saya dinyatakan “tidak lolos”, haha. namun, beberapa hari setelah itu, ada tes lagi, paskibraka tingkat kabupaten, namun untuk upacara peringatan hari Pramuka, upacara yang diperingati setiap tanggal 14 Agustus itu, malah saya lolos.

Kalau saya pikir, kayaknya saya lebih dekat dengan pramuka dibanding dengan organisasi lain deh. Hanya pendapat saya tapi ini. lha gimana coba, ikut tes paskibra untuk upacara tujuh belasan tingkat kecamatan gak lolos, beberapa hari kemudian ikut tes paskibra tingkat kabupaten malah lolos. Hehe. memang dari kegagalan sebelumnya saya belajar banyak hal sih. Alhamdulillah.

lalu hal kedua yang sering saya lakukan saat tujuh belasan adalah ikut lomba. Maksudnya, lebih sering nonton orang yang berlomba. Kalau saya sendiri, jarang ikut. Ikut memeriahkan sih iya, apalagi kalau ada lomba panjat pinang, kalau di tempat saya namanya lomba “menek pucang” (hanya istilah saja, sebenarnya dulu yang digunakan adalah pohon pinang yang tinggi itu, tapi di kampung saya ada modifikasi, biasanya pakai pohon bambu atau bahkan pohon pisang).

Kalau ada ada lomba panjat pinang, saya ikut barisan orang yang melempar sang pemanjat dengan air, biar gak sampe-sampe atas maksudnya. Bahkan beberapa kejadian, sang pemanjat sampe lemes minta ampun saking banyaknya dilempar air yang dimasukkan dalam plastik. Mereka, orang-orang yang memanjat, terlihat letih, gak berdaya, udah warna badannya berubah hitam karena lumpur yang dicampur sama oli, ditambah menjadi tontonan orang banyak, haha. Lah, kami-kami ini, senengnya gak ketulungan, tertawanya lebar-lebar melihat mereka naik lalu melorot saat hampir sampai puncak. Namun, namanya perlombaan, setelah disemangati lagi, akhirnya mereka bangkit dan memanjat lagi. Alhamdullah bisa sampai, lalu mengibar-ngibarkan bendera merah putih diatas sana. Horeeee. *sambil nyanyi lagu merah putihnya band Cokelat*.

Masih ada banyak lomba, mulai dari balap karung, lomba lari dengan mulut memegang sendok yang ada kelerengnya, lomba mengambil uang recehan yang ditancepin di kulit kelapa, lomba tarik tambang, lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba umpet-umpetan, memang ada ya?, haha, kalau yang ini bercanda aja tapi. ada satu lomba lagi yang membutuhkan tenaga serta pikiran orang banyak. Yaitu lomba menghias gapura.

Saya, walaupun orang Undaan asli, baru tahu setelah duduk di bangku sekolah menengah bahwa kecataman tempat saya tinggal itu mendapat julukan kecamatan seribu gapura. Kok bisa gitu?. Begini ceritanya, kecamatan saya terdiri atas 15 desa. Nama desa saya adalah desa Undaan Kidul, ada juga desa Undaan Tengah, Undaan Lor, Sambung, Medini, Ngemplak, dan macem-macem lagi. Tiap desa terdiri atas gang-gang yang saling berjejer, seperti desa saya ada 14 gang. Nah, di tiap pintu masuk gang ada gapura yang besar, tingginya bisa sampai 8 meter dan lebarnya sekitar 10 meter. Menjelang tujuh belasan, gapura ini selalu diperbarui, sehingga setiap tahun, pasti ada perubahan, paling banyak dari segi warna dan hiasan. Kalau yang merombak total, jarang-jarang yang melakukan. Nah, kalau anda berkesempatan melintas di kecamatan saya, anda bisa menyaksikan gapura yang berderet-deret itu.

Gapura merupakan salah satu pengaruh budaya hindu yang sampai sekarang masih sangat kental di Kudus. Jadi kalau di kota saya, bangunan berbentuk gapura, candi, masih bisa ditemukan tersebar dimana-mana. Kalau anda melihat Masjid Al Aqsha Kudus, atau orang Kudus lebih mengenalnya dengan sebutan Masjid Menara, sangat kental sekali budaya bangunan hindu yang menghiasi sekeliling masjid, itu semua masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan, di dalam serta serambi masjid, masih ada pintu kembar, semacam gapura yang terbuat dari batu bata, gak disemen, entah orang zaman dulu nempelinnya pakai apa, masih dengan ukir-ukiran khas peradaban hindu, dan itu masih ada sampai sekarang.

Hari kemerdekaan, memang hari yang sakral bagi Negeri kita ini. merdeka, berarti bebas, kalau dulu, merdeka berarti harus bebas dari belenggu penjajah yang sudah hampir kerasan sampai 350 tahun gak mau pergi dari negeri ini. nah, kalau sekarang, tergantung kita, apa makna merdeka bagi kita. apakah hanya sebatas seremonial saja, ataukah ada hal lain yang bisa kita lakukan untuk negeri kita ini.

Bagi saya, kemerdekaan saya mulai untuk bisa membebaskan berbagai ide dalam pikiran saya, menuangkannya dalam kata-kata, yang sampai hari ini saya mengakui tulisan saya masih jauh dari kata layak baca, namanya masih belajar, saya hanya akan terus menulis selama masih ada kesempatan, semoga dengan menulis, saya bisa terus membaca juga, serta bisa sedikit menyumbangkan karya dalam dunia tulis menulis.

Akhir kata, kemarin ada yang bertanya kepada saya, “Hari Kemerdekaan diisi apa nih di Batam?”. Dengan nada agak ngeledek gitu ceritanya, karena tahu saya memang tidak di rumah, tidak bisa ikut menonton macem-macem lomba lagi. Saya isi apa ya, hehe. kemarin, saya ini tentu saja dengan upacara dong, lalu masuk kamar operasi karena ada beberapa pasien yang mesti dilakukan operasi sesar atau SC. Yah, selamat datang para dedek bayi di hari kemerdekaan, perjuangan kalian telah dimulai sekarang, saat kalian keluar dari rahim ibu dan menangis untuk pertama kalinya. Eh, kalian pada menangis karena bukan takut ngeliat saya kan?. Hehe.

Batam, 18 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

3 Tanggapan to “Hari Merdeka Canda dan Tawa”

  1. devisariha 18 Agustus 2013 pada 8:19 pm #

    bayinya nangis lihat kakak tuuuh pake brengos kandelll

  2. arsyad syauqi 20 Agustus 2013 pada 2:46 am #

    ohhh, sorry mayori pake sambel terasi lauk teri ya. aku gak pake kumis, lagian kan aku kerjanya di rumah sakit, harus rapi dong. *sambil benerin kemeja*

  3. devisariha 21 Agustus 2013 pada 3:43 am #

    ya udah maaf……. aq kan nggak tahu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: