8 Hari Yang Ramai

11 Agu

#Turn On 46

Kalau di Kudus, khusunya di kampung saya, Undaan, 8 hari di awal bulan syawal masih sangat ramai. Hampir setiap hari, selama 8 hari tersebut, berlalu lalang lah masyarakat untuk saling bersilaturahim. Berkunjung ke tempat tetangga, ke tempat saudara, sanak family, guru-guru, serta masih banyak lagi yang bisa dikunjungi.

Sudah menjadi tradisi di kampung kami, kalau lebaran hari pertama, kami berkumpul di rumah mbah putri, karena memang rumah anak-anak mbah putri beserta cucu-cucunya berdekatan, jalan kaki 5 menit saja sampai. Kami berkumpul, sekeluarga besar, saling bermaaf-maafan, dan tentu saja menikmati jajanan lebaran yang beraneka rupa, enak-enak, dan yang paling penting, gratis, haha. ya iyalah, namanya juga suguhan untuk tamu.

Setelah berkumpul di rumah mbah putri, kami lalu bersilaturrahim ke rumah para tetangga satu kampung. Saya masih ingat ada sekitar 40 rumah yang kami datangi di hari pertama lebaran. Jadi ya mampirnya sebentar-sebentar. Datang, mengucapkan salam, duduk, makan hidangan yang disuguhkan, gak banyak-banyak karena masih banyak rumah yang mesti didatangi lagi, lalu sungkem sama tuan rumah, lalu pamitan. Prosesinya kira-kira 10 sampai 15 menit tiap rumah. Terkadang kalau bertemu di jalan, bermaaf-maafannya ya saat ketemu itu, mampir ke rumahnya entar-entaran aja, hehe.

Setelah rumah sekampung kami datangi, istirahat dulu, biasanya makan siang di rumah masing-masing. Sorenya kami lanjut silaturahim ke rumah guru-guru SD. Karena keluarga besar kami sekolah dasarnya satu almamater, jadi ya sekalian. Guru SD kelas 1 sampai kelas 6 kami datangi. Sungkem. Lalu bermaaf-maafan. Begitu seterusnya sampai guru kelas 6. Kalau sudah seperti ini, ramainya minta ampun. Apalagi adik saya itu, cerewetnya gak ketulungan, kalau kakaknya insyaallah pendiam kok (kalau tidur tapi), hehe.

Setelah tetangga, guru SD, hari selanjutnya kami pergi ke sanak family yang agak jauh, yang rumahnya beda kelurahan. Wah, banyak yang bisa kami kunjungi dan seakan menjadi agenda rutin tahunan, setidaknya sampai 2 tahun lalu sebelum saya terdampar di pulau ini, hehe.

Kalau dibuat daftar, ada saudara dari keluarganya bapak, mulai dari kakak laki-laki serta perempuannya bapak beserta anak-anaknya, begitu juga saudara dari ibu, mulai dari kakak laki-laki, adik perempuan beserta orang-orang di sekitar rumah mereka. Lalu pergi ke setiap rumah dari keluarga mbah buyut saya yang dari Bapak yang Alhamdulillah sampai saat ini, hubungan kekerabatannya masih terbina dengan baik. Untuk mengunjungi semua tempat ini, bisa sampai 3 hari kami keliling-keliling.

Kami break pada hari raya keempat dan kelima biasanya, karena gantian menerima tamu. Entah yang dari saudara ataupun murid-muridnya bapak, karena bapak saya memang seorang guru di MTs di desa kami. Jadi bisa antri murid-muridnya untuk bersilaturahim, terkadang ada 5 sampai 6 bus mini setiap harinya. Karena memang para murid men carter bus sebagai alat transportasi mereka, mereka datang dengan busana yang beraneka rupa, ada yang masih unyu-unyu, ada yang seadanya, dan kesamaan diantara mereka semua adalah mereka datang sambil membawa buku daftar nama guru sekaligus minta tanda tangan sebagai bukti telah berkunjung, hoho, sampai segitunya.

Setelah break dan hari raya sudah memasuki hari ke tujuh, keramaian menjadi agak sepi, dan hari-hari ini biasanya digunakan para alumni untuk mengadakan reuni. Macem-macem acara serta tempat diadakannya. Ada yang bertempat di gedung sekolah, ada juga yang bertempat di rumah salah satu personil kelas.

Dan hari raya ke kedelapan, atau di tempat kami disebutnya lebaran ketupat, suasana kembali ramai. Bunyi petasan hampir sama saat lebaran hari pertama, musholla dan masjid kembali penuh dengan jamaah masing-masing. Semua berkumpul, syukuran, membawa nampan yang berisi berbagai makanan yang antara lain, ketupat, lontong, lepet, dan beraneka lauk pauk mulai dari opor ayam, semur ayam, telor, daging, dan masih banyak lagi. Huwaaaaaaaa, cerita begini malah kangan sama masakan ibu di Kudus. Bisa dipaketin gak ya makanannya.

Setelah acara syukuran di kampung, pulang dengan perut yang kekenyangan lontong, ketupat dan berbagai saudara kandungnya itu. kami lalu siap-siap dengan acara penutup di rangkaian lebaran di keluarga kami. Halal bil Halal keluarga mbah buyut dari keluarga bapak, yang tiap tahun tempatnya selalu berganti, ada giliran masing-masing dari tiap keluarga besar.

Kalau sudah berkumpul, saya menjadi ingat kalau keluarga besar kami memang besar ternyata. Selain ada yang memang berbadan besar, hehe, jumlahnya pun tiap tahun bertambah karena memang ada yang menikah dan bertambah pula saudara-saudara saya yang kecil serta unyu.

Acaranya sederhana, yang jelas ada pembacaan tahlil bagi simbah-simbah serta angggota keluarga yang seudah meninggal. Dan fakta uniknya, banyak saudara saya yang perempuan dibanding laki-laku, ehem-ehem, hehe. namun ya itu, kebanyakan sudah pada menikah, hehe. jadi tinggal para laki-laki yang masih bertahan dengan status bujangnya yang sering kena ledekan pada saat kumpul-kumpul, tapi semua itu ya sebatas candaan karena setahun sekali bisa berkumpul dengan orang yang sebegitu banyaknya.

Lebaran di Jawa, khususnya di Kudus memang sangat meriah, semeriah para anak kecil yang mendapat uang saku saat lebaran tiba, saya dulu pernah mendapatkannya, lalu sekarang?

Batam, 11 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: