Sudah Dimaafkan

9 Agu

#Turn On 45

Suara takbir saling sahut menyahut dalam menyambut datangnya hari raya Idul Fitri, atau yang lebih kita kenal dengan nama lebaran. Lebaran, entah mengapa dalam hari yang datang setahun sekali ini, dada terasa lebih lapang dari biasanya, pikiran terasa lebih luas dari biasanya, dan tentu saja, karena sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun di negeri Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya ini, semangat untuk bersilaturrahim, bermaaf-maafan sungguh begitu besarnya.

Hari ini, adalah kali kedua saya berlebaran di pulau orang, haha, biasanya kalau membaca cerita itu ada kalimat “di negeri orang”, namun saya masih berada di negeri sendiri, hanya saja di gugusan pulau Sumatra, tepatnya pulau Batam.

Cerita tentang lebaran, dimulai dengan 29 hari bulan Ramadhan yang telah terlewati, semoga kita semua bisa berjumpa dengan bulan suci ini lagi tahun depan, amin ya Allah. Banyak cerita yang terjadi, mulai dari sahur bareng, buka bareng, bangun malam, dan masih banyak pernak-perniknya, dan ditutup dengan sidang itsbat penentuan awal bulan syawal yang dilaksanakan di kantor Kemenag, yang disiarkan langsung oleh berbagai stasiun televisi.

Sekali lagi, entah mengapa, walaupun ini merupakan agenda rutin yang diselenggrakan tiap tahun, terutama sidang penentuan awal bulan syawal alias penentuan hari lebaran, namun hati ini selalu deg-degan saat menantikan keputusan diambil serta dibacakan. Setelah menunggu waktu berbuka yang datangnya sedikit lebih lama dari Kudus, bahkan Jakarta, akhirnya waktu berbuka pun tiba, kami pun berbuka puasa tanggal 29 Ramadhan, dalam benak kami, mungkin ini adalah hari puasa terakhir di bulan Ramadhan tahun ini.

Setelah berbuka, beberapa dari kami melihat siaran di TV untuk menantikan keputusan dari pemerintah, dan akhirnya, keputusan itupun diambil berdasar ilmu dalam penentuan awal bulan. Awal bulan syawal atau hari raya idul fitri jatuh pada tanggal 8 Agustus 2013 atau besok pagi, ini karena saya menyaksikan siaran TV nya pada tanggal 7 Agustus waktu sore.

Setelah itu, berbagai stasiun radio, berbagai masjid, berbagai orang, entah yang tua entah yang muda, entah pemuda atau pemudi, semuanya mengumandangkan takbir, tanda hari kemenangan telah tiba. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illahhu Wallahhu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu. Terdengar ramai riuh suara takbir dikumandangkan, apalagi kalau di radio dengan volume suaranya dikencengin, hehe. Ah, jadi rindu kampung halaman.

Malam takbiran kali ini pun, menjadi sebuah cerita yang berbeda dan baru pertama kali dalam hidup saya. Kalau biasanya, malam takbiran, saya bersama saudara-saudara di rumah bisa begadang di musholla kampung, takbiran bersama-sama, terkadang apasaja yang bisa dipukul untuk menambah takbiran semakin semangat, entah bangku yang dibuat mengaji, terkadang juga, entah darimana ada beberapa teman mendapatkan gallon tempat air minum itu, semua yang bisa dijadikan pengganti alat perkusi digunakan, asal jangan sampai memukul teman sendiri saja, hehe.

Nah, kalau malam takbiran kali ini, juga meriah, meriah dengan suara kenceng dari radio sambil melakukan operasi bersama tim. Malam takbiran kemarin, kami melakukan operasi emergency, debridement pada open fraktur digiti II dan III manus dekstra.

Sebenarnya akan ada 2 operasi, sama-sama emergency. Namun karena pasien yang satunya, ketika dicek lab nya, terjadi pemanjangan pada proses pembekuan darahnya, sehingga operasinya ditunda dulu untuk perbaikan keadaan umum. Menunggu sampai esok harinya, yakni saat lebaran. Kira-kira jam 8 pagi akan dicek darahnya untuk mengetahui indikator pembekuan darahnya, sudah stabil belum, kalau sudah masuk dalam batas normal, akan segera dioperasi.

Karena pasien yang seharusnya dilakukan operasi jam 8 malam batal, saya pikir saya bisa pulang untuk takbiran di masjid dekat asrama. Namun, mendekati waktu pulang, telpon ruangan kami berbunyi, dari UGD mengabarkan ada penjadwalan operasi cito alias emergency alian harus segera dioperasi, penjadwalan itupun segera kami terima, operasi debridement atau membersihkan jari tangan kedua dan ketiga, tangan kanan, patah tulang terbuka karena terjadi kecelakaan kerja pasien tersebut yang bekerja di bengkel.

Baiklah, akhirnya saya bersama tim melakukan operasi sambil takbiran sambil mendengarkan suara takbiran dari radio, hehe. kalau takbir keliling kan sudah biasa, ya yang gak biasa ya takbiran sambil melakukan operasi seperti ini. kalau takbir keliling kan biasanya disingkat dengan nama tarling, nah, kalau takbiran saat operasi enaknya disingkat dengan nama apa ya?.

Akhirnya saya pulang saat tengah malam, setelah selesai operasi, membereskan instrumen, merapikan ruangan, serta membuat laporan alkes apa saja yang telah dipergunakan selama operasi tadi. Saat pulang, di jalan saya merasa takut sekaligus khawatir. Bagaimana tidak, sekali lagi, saya menyebutkan kata entah, entah mengapa, setiap malam takbiran seakan jalan-jalan di kota ini saya melihat para pengendara sepeda motor yang kebanyakan tidak memakai helm, kebanyakan juga pengendaranya anak-anak yang saya pikir masih belum mengantongi surat ijin mengemudi, mungkin masih dalam batas usia SMP, berbocengan sampai 3, dan parahnya lagi, kebut-kebutan.

Saya tidak mempermasalahkan apakah mereka dari kalangan berada atau tidak, saya hanya berpikir kalau mereka jatuh, kecelakaan, nanti dikirim ke rumah sakit dan harus menjalani operasi, saya hanya merasa kurang sreg untuk datang ke rumah sakit lagi saat malam takbiran gara-gara terjadi kecelakaan yang seharusnya sangat bisa dihindari bahkan tidak perlu terjadi itu, saat malam yang seharusnya bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Saya memang tidak bilang melakukan operasi bersama teman-teman OK itu tidak bermanfaat, menolong orang itu sangat bisa memberikan manfaat, tapi kalau yang masuk kamar operasi dengan luka, entah patah tulang, entah yang mengalami perdarahan otak, entah yang tendonnya sobek, entah yang mukanya mencium aspal, dan berbagai kecelakaan yang seharusnya bisa dihindari itu, jadinya gimana ya.

Baiklah, semoga kita semua bisa berfikir dewasa dan mendewasakan orang lain. Bisa terus belajar dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga kesadaran untuk melakukan hal yang berguna bisa mengiringi diri kita, pribadi kita.

Dan pagi hari lebaran, Alhamdulillah saya bisa melaksanakan shalat idul fitri di Masjid Al Mujahidin Orchid Park, masjid yang dekat dengan asrama yang sangat berjasa dalam kehidupan ruhani kami disini. Setelah shalat, prosesi salam-salaman pun dilaksanakan, dan di asrama, beberapa teman yang pada malam sebelumnya telah membuat makanan berupa opor ayam, sambal goreng ati, sayur pelengkap opor, dan tentu saja, nasi disertai ketupat. Wah, serasa di kampung saja, bahkan di kampung saja tidak semeriah ini. hehe. ya awes, bismillah, mari makaaaan, hehe.

Acara makan pagi selesai, asrama pun berubah menjadi semacam wartel. Kalau wartel kan warung telpon, kalau ini asrama yang penuh orang telpon. Kami melakukan sungkem jarak jauh, sungkem lewat telpon dengan orang tua kami, saudara-saudara kami beserta beberapa orang lagi yang bisa ditelpon pagi itu. Kalau ditanya ada yang menangiskah? Jawabnya ada, kalau saya sendiri? Alamdulillah tidak menangis lagi, karena tahun kemarin saat saya sungkem lewat telpon, saya menangis sejadi-jadinya, haha, masih cengeng ternyata.

Rencananya, setelah makan pagi, setelah acara sungkem jarak jauh kami lakukan, kami akan ke tempat beberapa atasan yang mengadakan open house. Rencananya begitu, namun ternyata Allah mengagendakan acara lain buat saya, ya, buat saya. Karena saya tanggal 8 Agustus mendapatkan jadwal oncall, jadinya kalau ada operasi emergency yang dilaksanakan, ya ketika dipanggil saya harus berangkat. Benar ternyata, baru saja merebahkan diri di kasur, mau istirahat sejenak, hape saya pun berbunyi-bunyi. Dari OK, haha. ternyata pasien yang seharusnya dilakukan operasi tadi malam, setelah dilakukan perbaikan keadaan umumnya, pagi ini telah diijinkan untuk dioperasi. Ya, saya berangkat deh. Dan ternyata, ada 4 operasi emergency hari ini, mulai dari laparatomi ekspolrasi, SC, debridement dan reposisi. Lebaran hari pertama kali ini pun saya habiskan dirumah sakit, lantai 2, ruang penuh darah. Hehe.

Satu lagi, mumpung masih bisa ngetik. Mewakili segenap kru yang bertugas, lah, malah kayak reporter berita aja. Eh, serius nih. Iya, iya, lanjutkan, lanjutkan. Saya mengucapkan, minal aidzin walfaizin, saya minta maaf lahir batin atas segala salah dan khilaf yang pernah saya lakukan, baik kepada anda yang sudah mengenal saya ataupun yang belum mengenal saya, saya minta maaf juga kalau ada tulisan saya di facebook dan blog yang kurang berkenan di hati. Segala kesempurnaan hanya milik Allah, segala kekurangan adalah milik pribadi saya sendiri. Untuk anda semua, tanpa perlu meminta maaf kepada saya, insyallah sudah saya maafkan, sudah saya maafkan semuanya.

Semoga kita tetap bersemangat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang rutin kita laksanakan di bulan Ramadhan kemari, semoga tidak hanya lewat saja, dan saya mohon doanya agar bisa tetap menulis, entah dengan bentuk apapun tulisan saya, mohon dimaklumi, wong masih belajar nulis.

Akhir kata, selamat berlebaran bagi kita semua, selamat merayakan hari kemenangan, semoga segala impian, harapan, serta doa-doa kita segera terwujud. Salam dari ruangan berdarah lantai 2. Peace !!!

Batam, 9 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: