Senandung Maaf

6 Agu

#Turn On 44

Pada langit yang membentang luas, hamparan bintang-bintang tersebar rapi, membentuk konstelasi tertata dengan susunan yang sungguh eloknya. Disinari oleh bulan yang membentuk sebuah senyuman. Senyum menyenangkan sekaligus merupakan tanda perpisahan terhadap bulan yang namanya sering terucap dalam setiap doa, doa yang terlantun semenjak beberapa bulan lalu. Senyum bulan sabit di malam kedua puluh sembilan di bulan Ramadhan Karim. Senyum yang mengingatkan kita akan kuasa Tuhan Semesta Alam.

Pada langit yang membentang luas, masih di malam ini. awan putih bergerak pelan. Bergerak menuju suatu arah yang telah ditentukan olehNya. Bergerak dengan tiupan angin sepoi yang menenangkan hati, menentramkan jiwa. Menelusup halus, masuk ke dalam sanubari tiap manusia yang melihat keindahan ciptaan Tuhan. CiptaanNya yang membentang dari ujung timur hingga barat, yang berada di permukaan, ketinggian serta di kedalaman.

Pada langit yang membentang luas, masih di malam yang mungkin menjadi malam turunnya keberkahan seribu bulan. Terlihat kerlap kerlip cahaya dari berbagai penjuru. Cahaya yang membawa kedamaian bagi setiap makhluk yang memandangnya. Cahaya yang sahut menyahut di balik awan, cahaya yang melintas di ufuk katulistiwa, serta cahaya yang terpancar dari setiap bilik rumah yang terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an yang mulia.

Pada langit yang membentang luas, terasa angin masih mendekap dengan lembutnya, mendekap mesra, berharap tidak ingin berpisah dengan malam-malam yang diisi dengan berbagai aktifitas mereka, yang selalu ingat akan TuhanNya. Ia melintas di berbagai tempat yang tidak terlihat oleh mata kita. ia masuk, tersenyum serta merasakan kegembiraan yang luar biasa dengan malam-malam pada bulan suci ini, namun, kali ini ia mulai merasakan suatu kesedihan, sedih karena ia tahu harus segera berpisah dengan bulan yang dirindukan tidak hanya olehnya saja.

Ia lalu naik ke atas, dengan segera ia mencapai pada kumpulan awan yang senantiasa mengingat penciptaNya, mengingat dengan selalu mengucapkan tasbih, kalimat yang penuh berkah bagi siapa saja yang membacanya, pengucapan yang lembut, lirih, namun penuh dengan penghayatan yang dalam. Dalam mengiringi awan, tak terasa angin mulai menitikkan air matanya, dan di malam ini, rintik halus hujan mulai turun ke hamparan bumi yang sedang merasakan kesedihan akan datangnya perpisahan yang sudah jelas akan kedatangannya.

Setelah menyaksikan para awan yang senantiasa mendendangkan syair kerinduan kepada Sang Pencipta, kemudian angin turun mengiringi rintik hujan yang turun pelan memenuhi undangan gravitasi bumi. Mengiringi serta menunjukan arah yang telah dikehendaki. Rintik hujan malam ini, menyejukkan serta mendinginkan hati yang sedang dilanda emosi, merubah kemarahan menjadi kedamaian, merubah kebencian menjadi kasih sayang, merubah kedengkian menjadi eratnya rasa persahabatan. Rintik hujan yang turun, membawa kabar kegembiraan bagi setiap kehidupan yang ada.

Malam kedua puluh sembilan, bisa jadi ini adalah malam perpisahan, perpisahan yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya, namun, sudah menjadi sebuah ketetapan yang tidak bisa dirubah jika ia harus segera berpisah dengan malam keberkahan yang di dalamnya terdengar lantunan berbagai pengharapan serta bermacam-macam doa.

Rintik hujan berusaha menenangkan kesedihan sang angin, ia membelainya pelan, hanya saja rintik hujan tidak bisa menghangatkan, ia hanya mampu memberikan kesejukan bagi angin yang masih menitikkan air matanya. Pelan, perlahan, suasana hati angin mulai berubah. Raut senyum mulai terpancar, berbinar dengan elok warna di keheningan malam yang terus beranjak menjadi pagi. Suasana yang menyejukkan hati. Suasana yang sangat disayangkan untuk dilewati. Suasana yang sangat jarang ditemui. Suasana yang nyaman untuk mengucapkan berbagai pengharapan, memohon ridho, serta ampunan dari Ilahi Rabbi.

Senandung maaf terucap di penghujung malam akhir bulan ramadhan karim, terucap oleh angin yang telah melihat cahaya keberkahan yang sangat dirindukan, ia menyadari bahwa hampir dalam satu bulan ini ia belum melakukan sesuatu yang berarti, masih banyak hal yang belum dilakukan, masih banyak hal yang belum direnungkan, masih banyak hal yang belum diperbaiki, setelah sebelas bulan sibuk hanya memikirkan diri sendiri.

Senandung maaf terucap dengan air mata yang masih membasahi keheningan malam, terucap dengan nada sesenggukan, banyak hari-hari dalam bulan ini yang belum dipergunakan sebagaimana anjuran para Kekasih tatkala menasehati, banyak hari-hari yang terlewati begitu saja tanpa perbaikan diri yang berarti, banyak hari-hari yang telah dipersembahkan olehNya, dan sering dilewati oleh besarnya ego yang masih menguasai diri.

Senandung maaf terucap pada malam terus mendekati sepertiga bagian akhirnya. Terucap dengan hati yang terus berharap atas rahmat serta ridho Ilahi Rabbi. Berharap akan ampunan atas segala kesalahan yang pernah terjadi, kesalahan yang sering dilupakan begitu saja, kesalahan yang sengaja dilakukan ataupun karena khilaf terjadi pada diri ini. kesalahan yang pernah mengecewakan sahabat serta kawan sendiri. Kesalahan yang pernah membuat hubungan baik menjadi berjarak. Kesalahan yang membuat hati menjadi tidak tenang. Angin menyendiri, ia bermuhasabah, merenung serta menyesali setiap kesalahan yang pernah melintas dalam perjalanannya.

Senandung maaf terucap, dalam hening angin berdoa, semoga semua kegiatan baik yang terpola di bulan berkah ini bisa terus dilakukan sampai dan semoga Sang Pencipta mempertemukan kita dengan  bulan berkah di tahun kemudian, semoga hati yang keras ini perlahan bisa menjadi lembut, bisa merasakan nikmatnya air mata yang keluar mengaliri perjalanan kehidupan kita. merasakan indahnya keberagaman dalam kesatuan serta kesatuan dalam keberagaman. Semoga bulan berkah ini terlewati tanpa lewat begitu saja. Semoga setiap ucapan baik, doa yang baik, serta pengharapan yang baik, dikabulkan oleh Beliau, Tuhan Semesta Alam.

Batam, 7 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: