Bubar dan Sabar

2 Agu

#Turn On 43

Ramadhan di perantauan memang bertabur cerita, hehe. Banyak hal yang bisa diceritakan, kalau saya sedang jaga pagi plus tidak oncall, saya bisa jalan kemana-mana, apalagi kalau pas libur, wah, bisa dikira hilang dari asrama saya, hehe.

Memang benar pepatah dari berbagai sumber, kalau air yang diam itu akan menjadi basi, akan mengeluarkan bau yang tidak enak, yah, namanya air yang diam. Berbeda dengan air yang mengalir, ia akan terus bertemu dengan sesuatu hal yang baru, akan terus menemukan banyak cerita yang baru, di berbagai tempat, dan tentu saja tidak akan menjadi basi.

Layaknya air, kalau saya sedang tidak jaga, maka saban sore menjelang berbuka puasa, sering keluar atau ngabuburit untuk mencari sesuatu yang baru agar bisa diceritakan, haha. karena salah satu sebab inilah di bulan ramadhan ini saya jarang nulis, membela diri ini namanya, padahal kalau lagi malas ya bilang malas dong. Udah, udah, mbok ya lanjut nulis aja, malah bertengkar sama diri sendiri. J

Namanya puasa, tidak akan dan pasti tidak terlepas dari yang namanya sahur dan berbuka. Kali ini kita akan mengupas tentang indahnya kebersamaan dalam sahur dan berbuka. Kalau sahur dan berbuka sendiri, itu sudah biasa, dan tidak pernah saya lakukan disini. Karena saya hidup di lingkungan rumah sakit serta asrama. Namun, cerita tentang sahur dan buka inilah yang menjadi momen lucu sekaligus hal yang bisa dijadikan bahan cerita untuk anak cucu nanti. Walah, mikirnya udah kesana malahan, haha.

Diawali dengan buka bersama atau kita singkat saja istilahnya menjadi bubar, ingat, saya menggunakan kata bubar saja, kalau buber itu sudah sangat biasa dan lumrah kita dengar. Kalau pas lagi tidak jaga, maka sore menjelang buka puasa saya akan keluar mencari tempat-tempat berbuka gratis, hehe, wah, walaupun sudah bekerja namun semangat mahasiswanya tetap terjaga ini namanya. Sebut saja Masjid Al Mujahidin Orchid Park, masjid yang hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari asrama saya yang setiap sore menghidangkan berbagai menu untuk berbuka puasa. Dimulai dengan ta’jil yang beraneka rupa, mulai dari kurma, roti kecil-kecil yang manis, lemper, bubur dengan ukuran mini, dipadu dengan secangkir hangat teh manis yang kesemuanya itu cukup untuk 50 orang lebih.

Namanya anak asrama, kalau ada hal beginian membuat rajin untuk ke masjid setiap sore dah, hehe, termasuk saya tentunya. Setelah menyantap ta’jil, lalu kami maghriban dulu dan dilanjutkan dengan makan besar. Makan besarnya ada dua pilihan, nasi kotak atau yang terhidang di piring yang biasanya dimasak oleh beberapa ibu-ibu pengajian. Jangan ditanya soal isinya, pokoknya maknyusss dah, niru ucapan pak Bondan.

Lalu, ngabuburit selanjutnya, pernah juga saya ke Masjid Raya Batam. Disini, kami tidak mendapatkan makanan berbuka, waduh. Kata temen saya, niat berangkatnya aja udah salah. Berangkat cari bukaan gratis, haha. malah yang ada kami beli makanan disamping masjid dengan harga bintang lima namun kualitasnya kaki lima. Kami tidak tahu kalau untuk mendapatkan makanan berbuka itu antri dengan pakai kupon, nah, kami (saya, Triyono, dan Heri) berprasangka baik kepada para mas-mas ta’mir masjidnya dengan prasangka kalau menjelang manghrib kami akan diarahkan untuk menuju tempat berbuka, seperti di masjid dekat asrama kami. Namun, salah ternyata, setelah kami datang, shalat tahiyyatul masjid lalu I’tikaf di dalam masjid, sampai adzan berkumandang kami tetap disitu, tidak ada yang terjadi, tidak ada informasi, waduh. Lalu kami keliling-keliling masjid, siapa tahu ada petugas yang mengarahkan kami untuk mendapatkan makanan berbuka, namun nihil. Setelah keliling-keliling, akhirnya ketemu juga ruangan penuh nasi kotak, tanpa rasa bersalah, kami ikut antri saja, setelah mendekati nasi kotak, ternyata orang didepan kami menyerahkan selembar kupon. Lah, kami tidak punya, akhirnya dengan wajah pucat pasi, kami mengundurkan diri dari antrian dan segera mencari makanan di luar saja, haha. padahal saya dulu pernah ngurusin beginian saat masih kuliah, tapi yang namanya lupa, gimana lagi coba.

Pernah juga kami, kali ini saya dan Heri saja karena Triyono sedang jaga siang, pergi ke Masjid Jabal Arafah, masjid yang arsitekturnya indah nian, lampu-lampu yang dijadikan interior sungguh mengesankan hal yang futuristik, lafadz Allah dalam bahasa arab menghiasi langit-langit lantai 1, dan masjid ini karena letaknya di daerah bukit, menjadikan pemandangan dari terasnya sungguh aduhai, kami bisa melihat Batam dari ketinggian. Saat malam tiba, kerlap kerlip lampu menjadikan mata ini tak bosan untuk memandangnya. Namun, bagaimana dengan cerita berbukanya? Hehe, Alhamdulillah kami mendapatkan suguhan berbuka berupa bubur sumsum, 3 buah kurma dan segelas air mineral. Kali ini, saya dan Heri belajar dari kejadian yang sudah, saat berangkat niatnya mau ke masjid untuk jamaah dan tarawihan, karena memang di setiap masjid yang kami kunjungi, kami berusaha untuk jamaah maghrib, isya’, serta tarawihan sekalian. Setelah menyantap hidangan ta’jil, yang tentu saja bagi ukuran perut kami masih menyisakan rasa lapar, akhirnya setelah jamaah maghrib kami keluar untuk mencari makan, Alhamdulillah ketemu warung yang menyediakan berbagai menu, saya kemudian pesan nasi goreng ikan asin dan heri pesan pecel lele. Masakan rumahan memang tidak ada duanya J.

Lalu beberapa waktu kemarin, kami pergi ke Masjid Bukit Indah Sukajadi, masjid di samping salah satu perumahan elit di Batam. Namanya perumahan elit, masjidnya pun penuh dengan berbagai macam acara yang dipandu oleh ustadz-ustadz yang dibelakang namanya tertera gelar M.Ag serta Lc, lulusan-lulusan tinggi dah, dan tentu saja banyak yang hafidz alias para penghafal Al Qur’an. Pas kami kesana, kebetulan bareng dengan acara buka bersama adik-adik dari yayasan yatim piatu. Kami mendapatkan dua keuntungan, bisa mendengarkan tausiyah dan tentu saja nasi kotak untuk berbukanya, hehe.

Itu sebagian cerita saat jalan-jalan ke berbagai masjid, bagaimana dengan kebersamaan di rumah sakit? Ini juga perlu diceritakan. Sebagai perawat di ruangan berdarah, di kamar bedah maksudnya, kami kerap juga diundang oleh beberapa dokter bedah untuk berbuka bersama. Sebut saja beberapa hotel besar disini, kami diundang disitu, dengan berbagai macam makanan yang tersaji prasmanan, sangat memanjakan kami-kami ini yang jarang-jarang mendatangi tempat-tempat seperti ini. namun, walaupun bertempat di hotel, menu yang ada kebanyakan ya menu jawa, tak jarang sambal terasi malahan yang sangat dicari, ditambah kerupuk tentunya. Memang, dimanapun kami ini, jiwa seorang jawa tidak akan pernah luntur. Lalu buka bersama yang kami adakan di ruang makan tempat kami bekerja, dengan mengundang teman-teman kru kamar bedah dan dokter bedah tentunya, menambah keakraban diantara kami, sebagai teman sejawat, dan sebagai sesama suadara muslim tentunya. Satu hal yang perlu diapresiasi, walaupun di tempat kami bekerja tidak semua muslim, ada yang nasrani juga, hal tersebut tidak mengurangi keakraban kami dalam melakukan kegiatan buka bersama. Malah dalam beberapa kesempatan, teman-teman yang beragama nasrani malah yang lebih memperhatikan kami disaat waktu menjelang berbuka, mereka ikut menyiapkan dan ikut heboh saat pengumuman maghrib diinformasikan. Ah, indahnya kebersamaan.

Dibalik cerita-cerita itu, ada juga saat dimana kami berbuka dalam keadaan masih bekerja. yang penting dibatalin dulu puasanya saat maghrib dikumandangkan, makan besarnya nanti saja. Itu terjadi saat beberapa waktu yang lalu, saat saya jaga sore, ada pasien emergency dengan patah tulang terbuka di beberapa tempat, walhasil harus segera dioperasi, padahal sudah jam 4 sore, haha. akhirnya saat maghrib tiba, kami minum seadanya dan baru makan besar sekitar jam 8 malam. Gak apa-apa, sekali-sekali, hehe.

Banyak cerita tentang bubar, sekarang sedikit cerita tentang sabar alias sahur bareng. Kalau lagi di asrama, bisa dipastikan kalau sekitar kam 3 sampai setengah 4 pagi, asrama akan menjadi sepi dan para penghuninya akan pindah ke berbagai warung makan yang ada di dekat asrama kami. Ada warung penyet dan warung nasi campur yang buka dan menyediakan berbagai makanan. Namun, tidak jarang ada beberapa dari kami yang terkadang bangunnya telat, terkadang saya termasuk golongan ini, ketika datang ke warung penyet, yang tersisa tinggal kepala dan  cakar ayam, tahu tempenya sudah habis, haha. bismillah, dibuat sahur saja, hehe.

Lalu sahur bareng juga beberapa kali saya alami di rumah sakit, pernah pas jaga malam, pernah juga setelah melakukan operasi saat jaga oncall. Pernah tim kami dengan dokter bedah melakukan operasi emergency laparatomi KET yang dimulai jam 11 malam dan usai sekitar jam 2 pagi. Nanggung untuk langsung pulang, akhirnya kami sahur bareng sekalian bersama teman-teman disana.

Lalu yang saya lakukan dua hari ini dan semoga bisa istiqomah sampai akhir ramadhan nanti, sahur bareng di masjid dekat asrama. Sahur bareng setelah sebelumnya melakukan shalat tasbih berjamaan. Shalat berjamaah yang dimulai sekitar setengah 4 dan berakhir jam 4, lalu dilanjutkan dengan sahur bareng, Alhamdulillah.

Bubar dan sabar, dua hal yang tidak terpisahkan selama bulan puasa, dan hal ini akan menjadi bagian dari perjalanan cerita kehidupan kita masing-masing. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi saudara saudari sekalian, semoga puasa kita diterima Allah ‘Azza Wajalla, amin.

Batam, 2 Agustus 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: