Pertemuan Angin

19 Jul

#Turn On 41

Salah satu kata yang sering digunakan untuk menggambarkan kesejukan adanya angin adalah sepoi-sepoi. Semisal kita berada di tempat yang tinggi, lalu angin berhembus, menerjang tubuh kita, maka sepoi-sepoi yang kita rasakan. Kesejukan. Kesegaran. Angin yang berhembus itu tidak terlihat oleh kita, kita hanya bisa melihat benda yang bergerak kesana-kemari yang diterjang angin lembut yang melintas tersebut, layaknya pohon yang terlihat melambai, layaknya rerumputan serta ilalang yang terlihat menari-nari, layaknya air danau yang terlihat asyik bermain bersama kawan sendiri.

Angin, sedari kecil kita sudah mengenalnya, entah yang dikenalkan oleh orang tua kita, oleh guru kita, atau oleh teman sepermainan kita. Angin, yang telah diabadikan sejak zaman dahulu, entah oleh pelukis yang mengabadikannya di kanvas sebagai sebuah lukisan yang penuh estetika, entah oleh panyair yang menangkap serta mengabadikan dalam tinta emasnya, entah oleh seorang pengajar yang menjadikannya sebagai sebuah pelajaran terhadap anak didiknya, serta berbagai orang dengan berbagai latar belakang yang dengan caranya masing-masing mengabadikan keindahan angin.

Pertemuan angin, keindahan serta auranya yang khas telah membuat dirinya berada dalam setiap kosakata kehidupan kita. Kelembutannya terasa oleh indra kita. Adanya begitu bermakna bagi setiap insan yang diberikan kesempatan untuk merasakannya. Jiwa-jiwa yang merasakan keindahan angin, merasuk dalam sanubari, menelusup ke dalam hati, hadir dalam setiap mimpi, melengkapi setiap kalimat sastra yang berbaris rapi, menghidupkan kembali pikiran yang terkadang hampir mati, mati oleh kepenatan rutinitas yang setiap hari dilalui tanpa pengembangan diri.

Bersama angin, terlihat layang-layang berbagai jenis dan rupa menghiasi cakrawala. Layang-layang yang terbang dengan menentang angin, memberikan pelajaran kepada kita, bahwa untuk bisa terbang begitu tinggi, ia harus menentang kencangnya hembusan angin, semakin tinggi ketinggian yang ingin dicapai, maka semakin kencang angin yang berhembus. Layang-layang dengan rumbai-rumbai serta pernak-perniknya, dengan berbagai warna yang aduhai, dengan berbagai hiasan yang menghiasinya, terlihat sangat indah pada ketinggian, hanya jarang kita sadari, untuk berada pada ketinggian tersebut, ia harus melawan kencangnya angin, begitu juga dengan kita, untuk bisa berada pada suatu ketinggian yang kita dambakan, kita juga harus menentang “angin” yang kencang dalam perjalanan kehidupan kita.

Bersama angin, ia mampu menggerakkan kincir angin yang sedemikian megahnya, memutar baling-baling yang sedemikian lebarnya, dengan berputarnya mesin yang diciptakan manusia atas izin TuhanNya tersebut, banyak manfaat yang mampu didapat. Energi dari angin yang melintas dapat dirubah menjadi banyak hal, mampu mengallirkan listrik, mampu memberikan penerangan, mampu memberikan kesempatan bagi insan yang belajar dalam memahami, bahwa setiap yang diciptakanNya adalah hal yang tidak mengenal kata sia-sia. Semuanya memberikan kontribusi sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Sang Maha Pencipta, semuanya, tidak ada yang tidak berguna, hanya saja ilmu kita yang terkadang belum mampu menjangkaunya.

Bersama angin, seseorang menghaturkan doanya, menyampaikan harapannya. Tatkala merasakan kemegahan serta kelembutan angin yang melewati dirinya, ia ingat akan TuhanNya, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa, lalu ia menengadahkan tangannya, hatinya tenang, fisiknya diam, lalu segala konsentrasinya tertuju kepada insan yang didoakannya. Doa sepenuh hati yang dititipkannya kepada angin yang melalui dirinya. Ia tahu, dengan izin TuhanNya, angin akan menyampaikan setiap doa yang diucapkannya, setiap harapan baik yang dirasakan hatinya. Sembari terus berharap, dengan kelembutan yang dimiliki oleh angin, doa yang dihaturkannya akan sampai dengan lembut dan sepoi-sepoi juga. Doa yang terucap dengan sepenuh hati, sebuah pengharapan kepada Sang Pemilik Alam Raya ini, yang dititipkannya kepada Angin.

Pertemuan angin, menyampaikan setiap doa yang dirapal, setiap doa yang diucap, setiap doa untuk kebaikan. Seperti para pengajar dan pendakwah, yang berpesan untuk menyampaikan setiap doa. Doa yang terucap sebelum membaca Kitab Suci Al Qur’an, doa yang dirasakan dalam hati serta diucapkan lembut lewat lisan.

Doa yang ditujukan kepada diri sendiri dan keluarga, kepada adik beserta kakak, kepada segenap handai taulan, kepada segenap orang tua yang sudah mendahului kita, kepada setiap pelajar yang sedang berjuang dalam medan perangnya, kepada setiap pengajar yang setiap hari mengajarkan ilmu kepada anak didiknya, kepada segenap pondok pesantren beserta sekolah yang ada, di negeri ini serta yang ada diseluruh dunia, beserta karyawannya, tukang-tukangnya, dan semua yang terlibat didalamnya, kepada setiap orang yang pernah dibuat senang, kepada setiap orang yang pernah disusahkan, kepada setiap orang yang pernah menyenangkan, kepada setiap orang yang pernah mengecewakan, kepada setiap orang yang pernah membantu, kepada setiap orang yang belum pernah membantu, kepada setiap orang yang pernah bertemu, kepada setiap orang yang belum pernah bertemu, kepada setiap orang yang mengajarkan kebaikan, kepada setiap orang yang pernah melakukan kesalahan, kepada setiap orang yang sedang menikmati masa mudanya, masa sehatnya, masa luangnya, masa cukupnya, masa hidupnya, serta kepada setiap orang yang sedang diuji dalam masa tuanya, masa sakitnya, masa sempitnya, masa kurangnya, dan ketika dipanggil kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi, kepada setiap tempat yang pernah dikunjungi beserta masyarakatnya, serta tempat yang belum pernah dikunjungi, kepada setiap permasalahan yang sedang dihadapi, kepada setiap keinginan yang ingin dipenuhi, untuk kesehatan kita, untuk segenap kelancaran akitivitas kita, dan yang paling utama, doa yang ditujukan untuk mengharapkan ridho serta rahmat dariNya, serta berdoa agar menjadi golongan yang nanti dirindukan oleh SurgaNya…

Bersama angin, dihaturkanlah doa demi doa, harapan demi harapan, semoga dengan semangat saling doa mendoakan, kita termasuk orang yang senantiasa berbuat kebaikan, dari waktu ke waktu. Bersama angin, dalam pertemuan angin, saya haturkan doa kepada setiap jiwa yang senantiasa belajar dan berbenah diri untuk menuju pribadi yang lebih baik serta bermanfaat bagi sesama.

Batam, 19 Juli 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse   

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: