Buka Keran Bebaskan Imaginasi

17 Jul

#Turn On 39

Deburan ombak di tepi pantai, riak-riak kecil yang terbentuk dari ombak yang menerjang, suara-suara burung-burung berbulu putih yang terbang rendah, melihat-lihat keindahan birunya air yang membentang, sembari dengan seksama memperhatikan kalau-kalau ada ikan yang sedang lengah, semuanya itu dipadukan dengan hangatnya mentari di pagi hari. Ah, suasana seperti itu, ingin sekali saya menikmatinya lagi.

Apalagi ketika terjadi hujan di pantai, hujan yang terkadang hanya turun beberapa kali dalam setahun, yang sehabis itu akan ada pelangi yang indah nian menghiasi cakrawala. Pelangi yang kadang terlihat seperempat bagian, kadang juga separuh lingkaran penuh yang beraneka rupa. Sekali lagi, itu menjadi suatu hikmah yang bisa kita petik bersama, apapun yang terjadi sekarang ini, entah mendung, atau hujan deras yang ada dalam diri kita, tenang, sabar, jalani saja, insyaallah akan ada pelangi yang indahnya bisa menutup segala mendung yang pernah ada.

Jejak-jejak kaki yang terbentuk oleh sebuah perjalanan seseorang yang sedang menikmati indahnya pantai, pasir putihnya, hijau pohon kelapanya, birunya air laut dipadu dengan buih yang terbentuk saat ombak mendatangi bibir pantai, sungguh akan menentramkan hati, menenangkan kalbu, serta membuat betah siapa saja yang diberikan anugerah bisa menikmati suasana seperti ini.

Jejak-jejak kaki yang terbentuk, oleh panjangnya perjalanan, seringkali terlupakan dan dihiraukan begitu saja. Namun, oleh sebagian yang lain, itu menjadi sebuah rekam jejak yang sangat berharga. Rekam jejak yang bisa membuat hati merasa gembira tatkala gundah melanda, yang bisa menjadi penyemangat diri ketika rasa putus asa tiba, yang bisa memberikan arti bagi siapa saja yang mau meluangkan waktu sejenak untuk merenung serta memahami setiap kejadian yang melaluinya, yang bisa menjadi cerita pengantar tidur layaknya sebuah nostalgia.

Berhenti sejenak setelah perjalanan yang cukup panjang, menelisik kembali beberapa langkah yang telah terbentuk layaknya jejak yang ditinggalkan di hamparan pasir di tepi pantai, terkadang, jarang orang yang mau melakukannya. Banyak diantara kita yang sering merasa resah dengan keadaan yang dialami karena merasa kurang dengan apa yang dimiliki atau yang ingin dimiliki, sering merasa gundah karena merasa masih banyak yang belum didapati, sering merasa kecewa karena melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang diri sendiri sudah pernah memilki.

Berhenti sejenak, bernostalgia dengan segala kejadian yang ada, melihat perjalanan kaki dalam hamparan pasir yang pernah dilalui, atur napas senyaman mungkin, masuki dunia yang mungkin belum pernah dimasuki, pikirkan keadaan yang sering kali terlewati, pahami setiap denyut kejadian yang sering kali kita tidak sadari.

Banyak kejadian yang telah kita lewati sampai berapapun usia kita saat ini, entah yang memasuki masa remaja, dewasa, atau sedang berproses untuk menjadi orang tua dalam sebuah keluarga yang sering diidamkan. Kejadian demi kejadian yang sering hanya dipikirkan ketika merasa susah saja, itu menjadi tidak seimbang kalau kita tidak memikirkan keberhasilan atau segala jenis kegembiraan serta saudara-saudaranya. Ibarat sebuah koin, tidak adil bagi kita untuk hanya melihat satu sisi saja, karena, sebuah koin pasti mempunyai dua sisi yang berbeda.

Kalau banyak dari kita, yang menghabiskan energinya hanya untuk memikirkan segala sesuatu yang bersifat kegundahan semata, saya mencoba untuk sebaliknya saja, kenapa kita tidak sering-sering memikirkan serta membuat diri kita nyaman dengan segala kegembiraan yang pernah kita alami, segala keberhasilan yang kita capai, serta segala senyum yang pernah kita jumpai, bukankah itu lebih menyenangkan serta membuat nyaman hati?

Melihat jejak yang terhampar di pasir yang membentang di sepanjang pantai, kita bayangkan segala keindahan yang ada. Kita bebaskan pikiran kita dari aliran yang yang menymbat, yang bisa membuat masalah, kita bebaskan pikiran kita hanya untuk membuat diri kita merasa nyaman, jangan sampai kita dikontrol oleh masalah dari luar, tapi, dengan menenangkan diri, kita lebih bisa mengontrol segala macam masalah yang ada dari luar.

Buka keran imaginasi kita, bebaskan segala macam ide yang ada, keluarkan semuanya, biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya. Saya sependapat dengan seorang penulis yang berpendapat bahwa lebih baik kita sering berpikir seperti anak kecil saja. Tanpa merasa takut untuk mencoba segala hal yang baru, tanpa pernah merasa takut untuk menaiki sebuah sepeda baru yang dengan pasti akan sering terjatuh, tanpa pernah merasa takut untuk mencoba mencorat-coret lembaran yang ada pada buku gambar walaupun gambarnya entah nantinya berbentuk apa, tanpa pernah takut untuk menceburkan diri ke air kolam walaupun nanti tenggelam juga, tanpa pernah takut untuk ini, itu, yang jelas, bebaskan diri kita, buka keran imaginasi selebar-lebarnya.

Ingatan masa kecil kita sering kita lupakan dengan dalih kita sudah dewasa. Padahal masa kecil kita lah yang membentuk kita sekarang, sama seperti sekarang, masa muda kita lah yang akan membentuk masa kita yang akan datang. “Perhatikan masa mudamu!”, begitu pekik salah seorang penulis yang mengingatkan diri kita akan pentingnya masa sekarang untuk masa yang akan datang. Tidak ada istilah nanti-nanti saja berbuat baiknya, sekarang ya main-main saja, itu hanya bualan bagi sebagian mereka yang hanya mengerti mengisi perut semata dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat peta dengan kanvas sebuah bantal di kepala mereka.

Ibarat orang yang sedang menjalankan puasa Ramadhan, tidurnya saja mendapatkan pahala, nah, apalagi kalau kita bergerak dan berkarya?. Tidur lebih baik kan untuk sebagian dari kita yang ketika saat bangun malah melakukan hal yang kurang baik, malah menggosip, membuat rusuh, mencaci maki, malah membicarakan aib sesama, malah mengganggu orang lain, untuk kasus seperti ini, lebih baik tidur saja sana, bangun saat shalat dan buka saja. Lalu untuk sudah terbiasa berbuat baik, yang tiap harinya minimal membaca satu lembar Al Qur’an beserta artinya, untuk yang setiap harinya berusaha membaca shalawat minimal 50 kali, untuk yang setiap harinya menghiasi shalat fardhunya dengan qobliyah dan ba’diyah, apakah lebih baik tidur saja saat puasa dilakukan, bukankah itu sangat tidak menguntungkan?

Entah malah saya ngomong kearah mana ini jadinya, hehe, yang jelas, saya hanya mencoba membuka keran imaginasi yang ada, mencoba mengeluarkan segala macam ide yang terlintas, ide yang dianugerahkan olehNya, Sang Maha Pencipta Subhaanahu Wa Ta’ala.

Saya bukanlah siapa-siapa, bukan seorang anak bangsawan atau petinggi kenegaraan, oleh karena itu, saya berharap bisa menulis untuk mengabadikan diri saya sendiri, menulis untuk tulisan itu sendiri, menulis untuk mengabadikan rekam jejak yang ada di hamparan pasir putih pantai yang ada dalam imaginasi saya, sebuah pantai yang nyata yang pernah didatangi, pantai yang membuat hati selalu merasa kagum dengan keindahannya, pantai yang suatu saat akan menjadi saksi lahirnya sebuah generasi yang disaksikan oleh senyuman indah pelangi, pantai yang indah ditaburi rintik air hujan yang terjadi saat matahari sedang hangat-hangatnya menyinari segenap makhluk yang setiap hari melantunkan tasbih kepada Ilahi Rabbi.

Batam, 17 Juli 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: