Mengaji Pada Gus Mus (Episode Ramadhan Yang Khas)

13 Jul

#Turn On 37

Alhamdulillah saya bisa membaca buku ini lagi, mengambil saripati hikmahnya, insyallah bermanfaat bagi diri sendiri dan semoga juga bagi orang lain yang berkenan membacanya. Gus Mus, saya selalu menyukai tulisan-tulisannya. Beliau mampu menuturkan persoalan yang kiranya sulit menjadi mudah untuk dipahami. Menuturkan sesuatu yang kaku menjadi sebuah kalimat yang penuh seni. Sering melihat kejadian lalu dituangkannya dalam kanvas yang menjadis sebuah karya yang tidak hanya sebatas duniawi saja.

Bahkan, ketika bertemu dengan sang maestro music Indonesia, Iwan Fals, dalam suatu kesempatan, beliau pun menyukai puisi yang berjudul “Aku Menyayangimu” yang ketika itu juga langsung digubah menjadi sebuah lagu, dalam acara itu juga. Penampilannya di acara talkshow Kick Andy beberapa tahun lalu, sudah saya download semua, dan masih sering saya lihat, karena semua itu penuh dengan hikmah yang bisa dipetik.

Semoga tulisan beliau “Ramadhan yang Khas” di bawah ini, bisa memberikan manfaat bagi kita semua, amin. Silahkan dibaca.

“Ramadhan Yang Khas”

Mustofa, Ramadhan bulan suci katamu,

Kau menirukan ucapan Nabi ataukah kau telah

Merusakkan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu?

Tetapi bukankah kau masih menunda-nunda menyingkirkan kedengkian

Keserakahan ujub riya takabbur dan sampah-sampah lainnya yang mampat

Dari comberan hatimu?

(a. mustofa bisri dalam “Nasihat Ramadan buat A. Mustofa Bisri”)

Tidak terasa bulan Ramadhan telah datang kembali. Seperti biasa kaum muslimin pun bersemangat menyambutnya. Bahkan “program-program ramadhan” sudah disusun jauh-jauh hari baik oleh perorangan maupun oleh instansi-instansi, tidak ketinggalan-atau terutama-oleh kalangan industri.

Masjid dan musholla, misalnya, didandani laiknya akan kedatangan tamu agung. Spanduk-spanduk pun berbentangan di jalan-jalan, mengelu-elukan kehadiran Ramadhan, “Marhaban, ya Ramadhan; Marhaban, ya Ramadhan!” Ormas, orsospol, istansi-instansi, media massa, mengatur jadwal dan acara kegiatan khusus sereligius mungkin. Daftar kegiatan 30 hari dicetak rapi dan dibagikan kepada para pemeluk teguh dimana-mana. Pesantren-pesantren kilat bermunculan dengan berbagai tawaran program keagamaan. Stasiun-stasiun TV berlomba mengadakan kontrak dengan para artis dan ustadz-ustadz untuk acara khusus Ramadhan.

Kemudian kita akan menyaksikan fenomena yang khas dan merasakan suasana yang khas sebagaimana Ramadhan-ramadhan yang lalu. Makan bersama keluarga pada waktu berbuka dan sahur. Hiruk-pikuk di masjid-masjid dan musholla-musholla (termasuk musholla kantor) menjelang, pada saat, dan sesudah shalat Taraweh. Teriakan-teriakan pengeras suara dari berbagai penjuru. Kultum, kuis dagelan, dan hiburan-hiburan lain menyerbu rumah-rumah melalui layar kaca TV sejak bangun tidur hingga bangun tidur.

Pendek kata jadwal dan acara yang menyibukkan kita di hari-hari Ramadhan seperti sudah siap tersedia, tingga mengikutinya. Ramadhan pun seperti tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. Kita telah memprogram Ramadhan bukan sebaliknya Ramadhan memprogram kita. kita yang merekayasa “kesucian” Ramadhan bukan Ramadhan yang menyucikan kita.

Tentu saja itu hanyalah gambaran umum. Selalu ada pengecualian pada gejala yang umum. Pastilah ada hamba-hamba beriman yang kukuh bergeming, mencoba tidak terbawa arus. Mereka yang memandang Ramadhan dan puasa sebagai anugerah Allah, setelah sebelas bulan sebelumnya seperti umbar-umbaran, sibuk dengan hal-hal yang sering kali jauh dari kepentingan diri.

Bagi mereka ini, Ramadhan adalah merupakan hadiah Tuhan berupa kesempatan mengevaluasi dan memperbaiki diri sebagai hamba dan khalifah-Nya. Boleh jadi mereka melihat dengan kritis fenomena umum kaum beragama di dalam menyikapi Ramadhan.namun mereka sadar bahwa mereka tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah arus yang sudah terpolakan. Maka mereka pun memilih untuk memulai saja dari diri mereka sendiri.

Mereka berpuasa sebagaimana saudara-saudara mereka berpuasa. Namun mencoba mencari makna yang lebih dalam dari puasa itu sendiri. Mereka tidak sekedar mengubah jadwal makan; apalagi dengan semangat “balas dendam”. Mereka tidak hanya melatih menahan diri dan nafsu makan dan minum. Tetapi mencoba menelisik gejolak nafsunya yang lebih canggih untuk melawannya atau menghindarinya. Bukankah ada hadis Nabi yang menyebutkan “Inna akhwafa maa atkhawwafu ‘alaa ummatii al-isyraaku biLlahi; amma innii lastu aquulu ya ‘buduuna syamsan walaa qamaaran walaa watsanan walaakin a’maalan lighairiLlahi wasyahwatin khafiyyah” (“Sesungguhnya yang paling khawatirkan atas umatku ialah menyekutukan Allah; ketauhilah aku tidak mengatakan mereka akan menyembah matahari, bulan, atau berhala; tapi amal-amal perbuatan yang dilakukan bukan demi Allah dan nafsu yang tersembunyi”)

Mereka merasa bahwa bulan Ramadhan ialah kesempatan yang paling baik untuk melakukan perenungan, terutama terhadap amal perbuatan mereka yang bersifat keagamaan. Apakah amal kegamaan mereka murni demi dan untuk Allah atau jangan-jangan secara halus disusupi kehendak nafsu yang tersembunyi. Shalat dan puasa mereka, misalnya, apakah murni dipersembahkan kepada Allah sebagaimana ikrar mereka “Inna shallatii wanusuki wamahyaaya wamamaatii liLlahi Rabbil ‘aalamiin”, (Sesungguhnya shalat dan ibadahku, hidup dan matiku liLlahi Rabbil ‘aaalamiin) atau masih tersusupi kehendak-kehendak lain. Mengapa dzikir dan bacaan Al Qur’an mereka mesti melengking-lengking (hingga seringkali mengganggu orang lain), kalau itu semata-mata diperuntukkan untuk Allah yang Mahadekat? Dan sebagainya dan seterusnya.

Alhasil; mereka ini. di bulan Ramadhan ini, berusaha seoptimal mungkin berpuasa dari hal-hal selain yang berkaitan dengan dambaan memperoleh ridha Allah.

Apakah Anda termasuk mereka ini? Ataukah…

Batam, 13 Juli 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: