Habis Gelap Terbitlah Terang di Bulan Juni

24 Jun

#Turn On 32

Namanya Mas Supri, dia berasal dari daerah yang lumayan dekat dari desa saya. Kalau naik kendaraan bermotor, insyaallah setengah jam akan sampai ke desanya. Nama desanya Pakem, Kecamatan Sukolilo, Pati. Sementara desa saya adalah desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Memang terasa kebetulan saya bertemu dengan orang yang berprofesi sebagai perawat ruang bedah spesialis mata yang sehari-hari bekerja di ruang bedah RSCM (Rumah Sakit Cipto Mngunkusumo), rumah sakit pusat di Jakarta yang bisa bikin orang tersesat kalau belum pernah masuk ke dalamnya.

Pertemuan kami jum’at petang lalu, saat sedang bekerja sama menyiapkan 2 ruang OK untuk dijadikan tempat operasi bakti sosial yang akan berlangsung di hari sabtu tanggal 22 juni 2013. Bersama tim yang berjumlah sekitar 6 orang, mereka sangat cekatan. Saya sendiri merasa senang karena selain bertemu orang yang rumahnya sangat dekat dengan desa saya, juga saya bisa belajar banyak hal tentang persiapan operasi sekelas bakti sosial yang menurut kabar terakhir, pasien yang sudah melewati skrining berjumlah 230 pasien.

Awalnya, saat belum begitu akrab, kami semua menggunakan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pembuka. Saling bantu, dorong meja operasi, bawa masuk mikorskop, dan sebagainya. Sekitar setengah jam berjalan, saya dengar dia menggunakan bahasa jawa, ya tentu saja saya balas menggunakan bahasa jawa juga. Setelah hampir satu jam bersama mas supri dan tim, suasana akrab mulai muncul dan terbentuk. Barulah dia tanya nama dan asal saya, “saya Arsyad Mas, dari Kudus”, “lah, Kudus nya mana?”, dia balik tanya, “Saya Undaan Mas, Undaan Kidul”, saya jawab kemudian. Kemudian dia tertawa lalu ngomong, “Aku wong Pakem Syad, Daerah Prawoto (Aku Orang Pakem Syad, Daerah Prawoto-red)”, kami pun sama-sama tertawa. “walah, dekat to mas ternyata, saya sering ke Sendang Prawoto waktu kecil lho”,  saya melanjutkan obrolan. Dan kerja hari jum’at sore itupun terasa semakin ringan, ditambah dengan datangnya  Mas Toni, teknisi mesin phaco, lalu kekocakan ditambah oleh Pak Rus, teknisi mikroskop sekaligus ketua tim baksos, lalu ada emak-emak yang sudah malang melintang dalam operasi katarak, Bu Nur, yang kemudian saya memanggilnya, sesuai dengan yang lain saat memanggilnya, Mak Nur.

Dua ruangan yang sesuai rencana akan digunakan untuk operasi baksos, setelah 3 jam di make over, akhirnya berubah menjadi ruangan yang berisi 10 meja operasi, 8 mikroskop, 5 set instumen phaco, 3 set instrument ECCE/ICCE,  yang insyaallah sudah siap digunakan untuk esok harinya. Sambil membantu menyiapkan ruangan operasi, saya pun banyak belajar, walaupun terasa masih sangat kurang sekali, namun sekali lagi, inilah proses, jadi dinikmati saja, hehe.

Sabtu pagi, jam 6, tim diharuskan sudah stanby di OK untuk sarapan terlebih dahulu, ada lontong opor euy, hehe, untuk kemudian menghadapi 230 pasien yang sedari shubuh sudah ada yang datang. Pasien-pasien itu rata-rata sudah memasuki kepala 6, bahkan ada yang sudah kepala 8. Namun, ada juga yang dibawah 40 tahun, serta ada 1 pasien anak yang berusia 10 tahun dengan katarak di mata kanan dan kiri yang sesuai rencana akan dioperasi dengan keadaan dibius umum.

Saya berada di OK 1 bersama Suzan, teman yang biasa melakukan operasi dengan tim di RS ini kalau ada jadwal di hari-hari biasa jam kerja, dan juga dengan Mak Nur, perawat RSCM yang pensiun semenjak 2003 lalu ini, yang sudah merasakan manis asam asinnya operasi katarak dalam jangka waktu yang lumayan lama. Ya, maklum kalau beliau lebih mahir serta lebih cepat dari saya, wong pengalaman serta usianya juga beberapa kali lipat dari saya, hehe. Just kidding. Dari Mak Nur inilah, saya belajar bagaimana menyiapkan instrument operasi katarak dengan baik serta lebih rapi. Sementara Mas Supri serta beberapa teman yang lain berada di OK 2. Sehingga saat baksos berlangsung, saya tidak mengetahui hal apa saja yang terjadi di OK sebelah.

Karena tidak menggunakan alat yang terbiasa saya gunakan, saya harus belajar dengan cepat dikarenakan saya menggunakan alat dari SPBK PERDAMI (Seksi Penaggulangan Buta Katarak Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia). Setelah 2 kali melihat Mak Nur operasi bersama dokter Indra Syarif, Sp.M, saya segera menyiapkan instrument di meja mayo, tentu saja saya masih banyak bertanya kepada Mak Nur. Dibantu mas toni, teknisi mesin phaco tadi, Alhamdulillah instrument di meja saya siap. Saya segera cuci tangan dan memakai jas operasi beserta sepasang sarung tangan steril. Setelah dalam keadaan steril, saya merapikan instrument sambil menunggu operator datang. Dan operasi pertama saya dengan dokter Anas, Sp.M.

Pelajaran saya dimulai. Inilah berkah dari perbedaan. Yang biasanya saya disini, durante operasi yang biasanya berkisar 30 sampai 40 menit. Rata-rata operasi yang dkerjakan dalam kegiatan baksos ini berkisar 15 menit, ada juga yang 10 menit, dengan catatan. Persiapan sebelum operasi bagus serta komunikasi dengan pasien berlangsung lancar.

Saya harus segera beradaptasi dengan operator yang ada di meja operasi saya, inilah yang saya katakan keras-keras pada diri saya sendiri. Walaupun standar alat yang digunakan sama, namun, setiap operator memiliki irama serta lagu yang berbeda dalam perjalanan operasi. Ada yang suka menggunakan alat ini daripada alat itu, semisal, ada dokter yang lebih suka menggunakan simski daripada chopper, ada yang membilas cairan trippan blue yang dinjeksikan untuk menandai nucleus hanya menggunakan cairan steril (hidrodiseksi), namun ada juga yang suka menggunakan cairan yang berisi lidocain + adrenalin + cairan steril yang dicampur dalam syringe 1 cc. Ya, kembali lagi ke kebiasaan operatornya, ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk memahami berbagai perbedaan yang ada. Jalan satu-satunya ya harus belajar serta memahami dengan cepat, serta banyakin doa, beneran ini, hehe.

Lalu tentang bahasa, ini juga sangat mempengaruhi perjalanan operasi. Ketika ada pasien yang sulit diajak komunikasi, maka yang ada perjalanan operasi menjadi sulit juga. Kemarin ada pasien yang sudah sepuh, dari daerah NTT. Nah, di ruang kami ini tidak ada yang bisa bahasa asli NTT, pasiennya juga tidak bisa berbahasa Indonesia. Maka bahasa tubuh pun menjadi satu-satunya yang bisa digunakan. Lalu ada lagi ibu-ibu yang berusia 81 tahun, saya ingat betul dengan pasien satu ini, dia tidak bisa bahasa Indonesia, bisanya hanya bahasa mandarin, kami pun kesulitan mengarahkan pasien yang seperti ini. ibu nya berbicara terus dan tanpa kami pahami artinya, haduh, andai ada google translate protable yang bisa mengubah suara mandarin itu ke bahasa Indonesia, haha. Kami pasti bisa lebih mudah memahami apa yang dikatakan ibu tersebut.

Setelah 10 pasien yang dioperasi di meja operasi di bagian saya, waktu menunjukan pukul 13.00, waktunya istirahat sejenak untuk makan serta shalat dhuhur. Alhamdulillah, saya selalu diingatkan oleh teman-teman di ruangan untuk shalat dulu. Kan saya tidak musafir seperti tim yang datang dari Jakarta, jadinya saya tidak bisa menjamak shalat, sehingga setiap waktu shalat datang, saya selalu minta ijin untuk shalat.

Waktu terus berjalan, dan pasien pun terus berdatangan masuk ke OK. Saya merasa kok seperti air yang keluar dari sumbernya, gak berhenti berhenti, hehe. Setiap pasien yang sudah selesai dioperasi, ada lagi yang masuk, begitu terus sampai malam. Saya melihat jam dinding menunjukan pukul 21.00, saya pikir sudah selesai. Namun, ada 3 pasien lagi yang dimasukkan, namun ini adalah 3 pasien terakhir yang tidak memiliki katarak, namun pterigium, semacam selaput daging yang tumbuh di lapisan luar mata.

Well, semuanya selesai pukul 22.00 WIB ditambah beres-beresnya hingga pukul 23.00. total waktu saya berdiri hari ini adalah 17 jam dikurangi waktu shalat dan makan saja, hehe. Kalau ditanya capek, ya jawabannya pasti iya, namun, saya merasa senang bisa andil dalam baksos ini, serta bisa belajar banyak hal dari berbagai dokter mata yang memiliki berbagai keahlian, sehingga saya, tentu saja, belajar berbagai irama operasi yang insyaallah merupakan pelajaran yang sangat berharga.

Yang lebih membahagiakan lagi, saya bisa melihat serta merasakan para pasien yang bisa melihat cahaya lagi setelah penglihatan mereka tertutup oleh katarak yang ada di mata mereka. Pertanyaan dari dokter setiap selesai operasi, “matanya sudah silau bu/pak?”, lalu pasien menjawab, “iya dok”. Hati saya terenyuh mendengar hal semacam itu. Mereka, yang sudah menjadi tua itu, sungguh merasakan kebahagiaan tatkala bisa melihat dengan jelas lagi. Inilah yang saya sebut “habis gelap terbitlah terang di bulan juni”, karena biasanya ungkapan itu adanya di bulan april, hehe.

Mereka, yang bisa melihat cahaya lagi, tentu sangat bersyukur terhadap karunia Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan ilmu yang bisa membawa mereka bisa melihat cahaya kembali. Ini pun menjadi pelajaran bagi kita semua. Mata kita, yang menjadi alat utama dalam indra penglihatan, apakah sudah digunakan sebaik mungkin dalam kehidupan ini?, sudahkah kita melihat untuk mempelajari banyak hal yang ada?, hanya kita sendiri yang mampu menjawabnya, apalagi mau bertanya kepada rumput yang bergoyang, sudah jelas ia tak akan pernah tahu jawabannya, hehe.

Ucapan terima kasih saya haturkan kepada segenap tim yang datang dari Jakarta yang telah memberikan banyak pelajaran yang mahal serta berharga bagi kami, khususnya saya pribadi, semoga kelak kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Serta untuk untuk semua yang telah bekerja sama dalam acara ini, saya pribadi mengucapkan terima kasih atas kerja samanya yang luar biasa, dan untuk para pasien, semoga lekas baikan serta sembuh.

Habis gelap terbitlah terang, tidak hanya ada di bulan april saja, namun bisa saja terjadi setiap saat dan setiap waktu, dan di bulan juni ini, Alhamdulillah sekitar 230 pasien yang memiliki katarak telah melihat cahaya kembali, episode terbitlah terang, telah dimulai lagi.

Batam, 24 Juni 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: