Sampingan

Jangan Sampai “Wujuduhu Ka ‘Adamihi”

20 Jun

Jangan Sampai “Wujuduhu Ka ‘Adamihi”

#Turn On 31

Alhamdulillah, satu buku lagi bisa saya selesaikan. Memang tidak tidak terlalu tebal, namun mengingat beberapa kegiatan yang lumayan padat beberapa hari ini, bagi saya, ini merupakan suatu prestasi tersendiri.

Buku yang ditulis oleh seorang muallaf yang berasal dari Palembang, Felix Y. Siauw, yang berjudul “How To Master Your Habits” ini sayang untuk dilewatkan bagi para pecinta buku. Buku ini, sebenarnya sudah agak lama masuk dalam daftar buku yang harus saya baca, namun, saya masih asyik mengikuti ceramah sang penulis di twitter lewat akunnya, @felixsiauw. Namun, beberapa waktu yang lalu, kira-kira 2 minggu yang lalu, saya bermimpi membeli buku ini, pertanda apakah ini? saya kurang tahu, yang jelas, pagi harinya, saya segera ke toko buku untuk segera membeli buku ini, lalu segera memulai untuk membacanya, hehe.

Setelah menyelesaikan buku ini, banyak hal baru yang saya ketahui, serta, ada beberapa pertanyaan yang bisa terjawab melalui tulisan-tulisan di buku ini. buku yang berbicara tentang habits ini, recommended banget buat teman-teman yang punya masalah dengan kebiasaan yang kurang baik.

Nah lho, kebiasaan yang kurang baik kok dipelihara, nanti ya yang akan  berkembang serta menjadi besar ya itu tadi, kebiasaan kurang baiknya. Lalu, bagaimana kalau kita balik, kebiasaan baik yang kita pelihara? Apa kira-kira yang akan kita panen?.

Ada 2 hal di buku ini yang selalu diulang-ulang, bahkan dilabeli khusus, kalau dalam bahasa saya, menjadi trademark nya, yaitu kata practice dan repetition. Ada apa dengan dua kata itu?

Sebelum melanjutkan pembahasan, kita pasti sudah sangat akrab dengan istilah “Siapa yang menanam, pasti akan menuai”. Nah, inilah pokok tulisan saya hari ini.

Kita, sebagai manusia yang menempati planet biru nan indah ini, dimanapun kita berada, selama sehari semalam, diberikan porsi yang sama yang dinamakan waktu. Ya, 24 jam sehari. Tidak akan pernah ada di belahan bumi ini ada seseorang yang menikmati waktunya 25 jam sehari, apalagi 33 jam sehari. Semuanya sama. Hanya yang menjadi perbedaan, apakah kita terletak di negara yang memilki 2 musim ataukan negara yang memilki 4 musim. Apakah kita berada di negara yang jumlah waktu siang dan malamnya seimbang ataukah di negara yang siangnya lebih panjang daripada malamnya, ataupun sebaliknya. Namun, berbicara tentang waktu, semua sama porsinya yaitu 24 jam.

Pertanyaannya adalah, selama 24 jam ini, apa kegiatan yang paling banyak kita lakukan?. Apakah kita lebih banyak melakukan pekerjaan kita, apapun pekerjaan kita, entah yang membaca, menulis, memasak, mengajar, menukang, apapun itu. Ataukah kita lebih banyak menghabiskan waktu yang ada untuk tidur?

Ada beberapa slogan yang bisa kita temukan yang terkait dengan hal ini. misal, “Kesehatan anda adalah apa yang anda makan”,  “Anda adalah apa yang anda minum”, dan sebagainya. Lalu, kaitannya dengan kehidupan kita? “Anda adalah apa yang paling banyak anda kerjakan setiap harinya”.

Seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang penulis jika kebanyakan waktu yang ada digunakan untuk tidur, jika dia menggunakan waktu 12 jam sehari untuk tidur sedangkan waktu untuk menulis hanya 1 jam sehari, ya, namanya tukang tidur, bukan penulis namanya. Seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang pelajar jika sebagian besar waktunya digunakan untuk bermain game, itu lebih cocoknya disebut dengan gamer, bukan pelajar. Seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang pengajar jika sebagian waktunya digunakan untuk memancing, nah lho, lama-lama semakin tidak nyambung kan, hehe.

Berbicara tentang practice dan repetition, mari kita sederhanakan bahasanya menjadi bahasa kita, yaitu, latihan dan pengulangan. Jika kita, setiap harinya, bermalas-malasan, enggan melakukan suatu pekerjaan, lebih senang hanya memperhatikan dan tidak mau andil dalam suatu bidang, itu akan sudah menjadi ajang latihan kita. Nah, kemalasan pun ternyata suatu latihan, dan celakanya, itu bisa kita perkuat dengan pengulangan yang akhirnya menjadi suatu kebiasaan.

Malas + selalu diulang-ulang setiap harinya = kebiasaan untuk berbuat malas.

Ya, malas itupun sebuah perbuatan, yang mungkin sekarang, bagi sebagian anak muda menjadi hal yang biasa, namun, tunggu saja, akhirnya nanti. Toh, kita tidak akan selamanya bertumpu pada orang tua kita. Toh, kita tidak akan selamanya mendapatkan zona nyaman dengan pemberian orang tua kita. Lalu, apabila nanti sudah saatnya kita berkeluarga, apakah kita akan tetap meminta orang tua kita? Wah, pertanyaan yang dalam ini, hehe.

Tapi, memang benar adanya. Kalau malas saja bisa menjadi kebiasaan, mengapa kita tidak melatih diri kita untuk menjadi rajin. Bagi yang menekuni bidang seperti saya, di area keperawatan, sungguh sangat kelihatan sekali kalau dalam pekerjaan yang kita lakukan setiap harinya, kita memperlihatkan kemalasan. Semisal, ketika yang lain sedang bekerja, eh, tahu-tahu ada rekan kerja yang malah bermain sendiri seenaknya, tidak mau andil dalam pekerjaan tersebut, apapun alasannya. Itu sungguh jelas membuat suasana yang penuh ketidaknyamanan, tidak hanya bagi rekan kerja yang lain, namun juga akan sangat dirasakan oleh pasien dan keluarga pasien.

Atau dalam contoh lain, semisal kita dalam menghadapi pasien yang dalam status emergency, kita malas menanganinya, akan sangat mempengaruhi kinerja kita dalam hal cepat dalam bertindak serta merusak kinerja tim yang sangat dibutuhkan dalam hal ini, dan tentu saja, bisa sangat mengancam nyawa pasien bukan?.

Kalau itu terjadi, sangat mungkin masuk dalam istilah “Wujuduhu Ka ‘Adamihi”, yang berarti, “Adanya seperti saat tidak adanya”.

Apa kita mau masuk dalam golongan manusia seperti ini? yang adanya sudah seperti tidak adanya, alias sama saja. Ada ataupun tidak ada, ya, tidak ada efek serta pengarunya bagi lingkungan. Kalau dalam klasifikasi manusia yang pernah disebutkan oleh Cak Nun, yang pernah saya baca di bukunya Muhammad Assad, dikhawatirkan masuk dalam golongan manusia haram. Yang ketika ada, malah membuat suasana menjadi tidak harmonis, yang kalau tidak ada, malah membuat lingkungan menjadi senang.

Saya berdoa, semoga kita tidak masuk dalam golongan manusia seperti ini. kalau bisa, semoga kita masuk dalam golongan manusia wajib, yang ketika ada sangat dibutuhkan dan ketika tidak ada, sangat dirindukan. Kalau belum bisa, minimal kita menjadi manusia sunnah, yang ketika ada bisa membantu pekerjaan yang ada, tidak merepotkan, yang kalau tidak ada, yang biasa saja. Namun yang jelas, poin membantu serta ikut andil itu harus ada.

Bukankan ada kalimat yang mengingatkan, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”. Nah, sekarang tinggal diri kita, apakah kita ingin bermanfaat bagi orang lain, ataukah hanya akan mengacaukan system yang ada.

Kembali soal habits. Bicara tentang rajin ataupun malas, tentu kembali ke diri kita masing-masing. Menjadi apapun kita, kalau masih memelihara rasa malas serta memupuknya dengan pupuk terbaik. Maka kita akan hidup dengan sedikit sekali pelajaran yang kita dapatkan, karena apa? Kita saja tidak mau mencari serta mempelajari hal-hal yang ada.

Berbeda dengan mereka yang sudah melewati tahap “sakit” untuk memperoleh nikmatnya kebiasaan rajin dalam mengerjakan hal yang positif, apapun yang mereka lakukan sekarang, yang dirasa oleh sebagian besar orang itu adalah hal yang sangat berat, maka bagi dirinya adalah hal yang biasa saja karena itu sudah menjadi kebiasaan, atau dalam istilah menyebutkan “No Pain No Gain”.

Seperti kebiasaan baru saya ini, menulis serta meng-uploadnya di facebook serta blog. Ini saya niatkan untuk bisa belajar lebih banyak, membaca serta menuangkan ide dalam tulisan, semoga suatu saat saya pun bisa menjadi seorang penulis yang bisa bertemu dengan para penulis-penulis yang saya kagumi konsistensinya serta sumbangsihnya dalam dunia tulis-menulis yang tidak hanya di Nusantara ini, namun di seluruh belahan dunia.

Penulis dengan basic seorang perawat, tidak menjadi suatu kemustahilan, karena saya mengenal penulis yang eksis di dunia maya lewat blog perawat internasional yang dikelolanya, dia adalah Pak Syaifoel Hardy serta Pak Sugeng Bralink. Sedikit cerita, Pak Syaifoel Hardy, lewat berbagai tulisannya telah memenangkan pengharagaan Diaspora Award di Los Angeles tahun kemarin. Nah, sudah ada contohnya bukan, kalau masih penasaran, bisa berkunjung ke alamat web nya, indonesiannursingtrainers.com

Saya menyadari, tulisan saya tentang habits ini juga masih sangat sedikit jika dibandinkan jumlah halaman yang ada di buku aslinya, kalau masih penasaran, anda bisa mencarinya di toko buku terdekat dimana anda berada sekarang. *promosi bang Felix ya, hehe*

Dalam keseharian kita, menjadi apapun, serta melakukan pekerjaan apapun. Semoga ucapan bismillah selalu mengawali langkah kita, semoga kita bisa menjadi orang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, dan jika kita merasa belum bisa memberikan manfaat bagi sesama, mari kita belajar dulu, banyak membaca, banyak mendengarkan hal-hal yang berguna, karena lambat laun, dengan menjadikan itu sebagai sebuah kebiasaan, insyaallah langkah kaki kita akan menjadi mudah melakukan semua kebaikan itu, dan yang terpenting, jangan sampai keberadaan kita sama saja dengan tidak adanya kita.

Semangat kamis pagi, semoga semuanya selalu sehat dalam menyongsong bulan Ramadhan yang insyaallah tinggal 18 hari lagi. Semoga kita bisa bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini. aammiin.

Batam, 20 Juni 2013

Arsyad Syauqi

OR Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: