Kamis Petang Yang Mengesankan

13 Jun

#Turn On 29

Kalau saya pernah merasakan galau yang sungguh sangat mengganggu, maka malam ini saya pun merasakan kegembiraan yang sungguh sangat mengganggu juga, sampai-sampai sayang kalau tidak dituliskan, hehe.

Kalau dulu saya pernah mempunyai keinginan belajar bahasa inggris dengan orang asing langsung, bisa dibilang inilah komunitas yang membuat saya betah untuk berlama-lama dalam mendengarkan seorang bule yang bercerita banyak hal, menceritakan berbagai pengalamannya, serta satu hal yang membuat saya sering menyesal jika tidak hadir, pertemuan ini adalah jalan menuju harapan saya, jalan yang semakin mendekatkan saya dengan cita-cita saya.

Hampir enam bulan saya bergabung dengan komunitas ini. mulai dari bertemu dengan kawan-kawan baru, dengan berbagai latar belakang pekerjaan serta daerah, yang membuat saya menemukan kembali laboratorium of life di perantauan yang saya jalani ini.

Komunitas bahasa inggris yang bermula dari beberapa bulan yang lalu, dengan 2 kali pertemuan seminggu. 3 bulan pertama masih dengan Indonesian yang sudah berkecimpung dengan expatriate yang merantau kesini, sehingga kemampuan bahasa inggrisnya membuat saya jarang melewatkan kelasnya. Namun, ikut dalam schecule yang ditetapkan terkadang agak sulit, mengingat saya disini bekerja di kamar operasi yang terkadang benturan dengan jadwal dinas serta jadwal oncall yang terkadang membuat saya tidak bisa hadir dalam pertemuan yang telah terjadwal.

Inilah yang menjadi tantangannya, kalau semua datar serta biasa-biasa saja, malah tidak ada yang bisa diceritakan bukan, hehe. Walaupun ikut kelas regular yang jadwal pertemuannya 2 kali seminggu, yang dulu saat masih 3 bulan pertama jadwalnya adalah hari rabu dan kamis, pukul 19.30 sampai 21.00, saya terkadang bisa hadir, terkadang juga tidak. Kalau pas hari itu saya jaga pagi, otomatis malamnya saya akan bisa hadir, namun kalau jaga siang, ya belum bisa hadir.

Saya teringat pesan Ustadz Yusuf Mansur, temukan masalah temukan solusinya. Suatu ketika , kira-kira sudah memasuki pertemuan ke 6, ada sesi tentang penggambaran tempat kerja masing-masing. Saya pun menceritakan apa adanya, termasuk mengapa saya terkadang tidak bisa hadir karena beberapa alasan. Akhirnya, saya mendapatkan tawaran private class tapi dengan catatan, saya harus mengikuti kapan guru pembimbing saya ada waktu luang setelah mengajar berbagai kelas regular.

Tawaran segera saya terima walaupun dengan konsekuensi saya bisa belajarnya diatas jam 9 malam, terkadang saya mulai belajarnya jam setengah 10 malam. Tidak masalah, yang penting saya bisa belajar.

Saya pun merasakan, tidak hanya di tempat kerja saya yang menerapkan sistem oncall, namun tempat belajar saya ini pun demikian. Jadi ketika di tempat saya bekerja, terkadang bisa jam 10 malam saya dihubungi karena ada cito craniotomy atau SC misalnya, maka di tempat belajar saya saya sering mendapat sms dengan isi kurang lebih seperti ini, “selamat sore, bisa datang belajar malam in jam 21.00? kalau bisa mohon segera balas”, hehe.

Apakah dengan mulai mengikuti komunitas semacam ini saya langsung menjadi pandai dalam bahasa inggris? Jawabannya belum. Karena saya menyadari, semakin banyak belajar, semakin banyak hal yang belum saya ketahui. Namun, inilah proses yang harus saya jalani, karena saya yakin pasti ada hikmah dibalik semua ini.

Setelah menyelesaikan pembelajaran dasar selama 24 kali pertemuan yang berlangsung selama 3 bulan. saya masih merasa kurang, sampai saat ini pun saya masih merasa kurang. Saya pun tidak mau berhenti disitu saja. Alhamdulillah, tawaran selanjutnya datang. Informasi yang saya terima itu sungguh membuat saya senang sekali.

Setelah selesai dengan 24 pertemuan, ada kelas baru bagi siapa saja yang tergabung dalam komunitas ini, entah yang baru masuk ataupun yang sudah selesai dengan program yang ditargetkan. Kelas baru dengan seorang bule yang berasal dari Belanda.

Pertama kali saya bertemu, kira-kira awal April lalu. Saya sungguh tertarik dengan aksennya yang khas. Pengucapan inggris belanda nya sungguh unik. Kalau bilang ‘g’ seakan menjadi ‘kh’. Jadi kalau dia sedang bercerita, misalnya tentang anaknya yang bernama Agmeta (diberi nama seperti nama vokalis grup kesukaannya, ABBA), yang saya dengar adalah kata ‘Akhmieta’. Hehe. Maklum, itulah aksen belanda yang sesungguhnya.

Kalau saya hitung, sudah 8 kali saya bertemu dengannya. Banyak sekali hal yang diceritakannya. Walaupun kalau cerita menggunakan bahasa inggris sebagai pengantarnya. Namun terasa sangat enak kalau didengarkan. Tidak terlalu cepat serta jelas dalam pengucapannya serta tidak jarang melontarkan pernyataan, “if you don’t understand, don’t be shy to ask”. Membuat saya selalu mendapatkan pelajaran baru setiap kali pertemuan.

Tidak hanya sebatas pertemuan dan tatap muka saja, namun juga diselingi dengan motivasi untuk bisa berkeliling dunia. Dia sendiri sudah hampir menjelajahi separuh belahan bumi. Setidaknya sudah banyak negara di Benua Asia, Eropa serta Australia dia sudah singgahi.

Di Indonesia sendiri, dari beberapa pertemuan, dia bercerita dia sudah pernah ke Nias, Danau Toba serta Samosir, Ambarita, Tuk tuk, Semarang, Bandung, Jakarta, Makassar, dan berbagai tempat sampai dia menikah dan sekarang berdomisili di kota ini.

Semangat saya pun kembali terpompa setiap ada pertemuan. Saya pun sudah bertekad, saya juga akan menjelajah berbagai belahan bumi ini. dan dalam doa saya, semoga kawasan middle east menjadi tempat pertama yang bisa saya kunjungi. Karena disana ada Hamad Medical Centre di Qatar yang saya selalu kagum dengan apa saja yang ada di dalamnya. Negara yang gede nya hampir sama dengan pulau Madura ini adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Pembangunan disini sungguh sangat pesat. Anda tahu sirkuit Losail yang terkenal itu, anda tahu stasiun TV Al Jazeera, anda tahu Qatar Foundation yang ada di kaos klub Barcelona itu, ya, semua itu ada di negara ini.

Kembali lagi tentang belajar sama bule ini. pertemuan yang diadakan sekali seminggu ini pun tidak luput dari kendala. Beberapa kali saya pun tidak bisa hadir karena benturan dengan jadwal dinas. Kalau pas jaga pagi atau libur, saya usahakan hadir. Disamping saya pasti mendapatkan ilmu baru, jam belajar di kelas ini pun 30 menit lebih lama dari kelas regular. Ya, 120 menit sekali pertemuan. Namun, ternyata ada beberapa orang yang belum bisa mengikuti kelas ini, beberapa orang ada yang memang masih sangat dasar pengetahuan bahasa inggrisnya, jadi kalau ikut merasa gak mudeng, lalu sebagian lain ada yang memang tidak suka. Entahlah. Tiap orang punya pilihannya masing-masing.

Oleh karena itu, bisa dibilang, hanya saya yang masih bertahan mengikuti pertemuan yang sering diadakan tiap rabu petang ini. mulai pukul 18.00 sampai pukul 20.00, namun saya sering telat, ya shalat maghrib dulu lah, hehe. Karena kondisi yang demikian, saya sering menjumpai orang-orang baru di tiap minggunya. Dan dari pertemuan demi pertemuan, baru pertemuan tadi (minggu ini diadakan hari kamis karena kemarin bule nya ada agenda di Singapura), saya merasakan aura semangat belajar yang luar biasa dari teman-teman yang baru. biasanya kalau orang baru, boro-boro mau menjawab pertanyaan, yang ada diem aja. Tapi malam ini, walaupun masih belum bisa, saya juga belum bisa, namun ada saja hal yang dibahas, tawa renyah serta berbagai hal terlontar. Ah, semoga saya bisa bertemu dengan orang-orang yang berani cuap-cuap ini di lain kesempatan.

Chapter demi chapter yang saya lewati. Saya semakin senang untuk membaca serta mempelajari banyak hal yang sungguh masih banyak yang belum saya tahu. Masih bodoh saya ini. Lalu, saya berbisik pada diri saya sendiri, saya harus beranikan untuk bermimpi terlebih dahulu. Dengan mimpi serta harapan, semoga apa yang saya impikan bisa jadi kenyataan.

Dengan semangat yang bersungguh-sungguh, lalu diselimuti dengan kesabaran, semoga saya berada di jalur yang tepat untuk menggapai apa yang menjadi harapan saya. Lawan saya sekarang adalah adik saya yang masih menempuh pendidikan di Gontor yang menerapkan system 24 jam menggunakan bahasa arab serta inggris. Dia masih 16 tahun, dan ketika pulang kemarin, kemampuan bahasa arabnya membuat saya minder, malu saya. Apalagi kalau dia nanti sudah belajar selama 4 tahun disana. Kalau saya tidak mengejar, maka saya akan sangat ketinggalan.

Saya rasa inilah jalan yang harus saya tempuh. Dan memang saya sadari, kalau masih terus di lingkungan yang belum membiasakan bahasa asing ini, betapapun kerasnya saya belajar, toh akhirnya bahasa sehari-harinya masih menggunakan bahasa Indonesia dan bahawa jawa. Maka saya bertekad saya harus hidup di negeri orang asing, sampai saya bisa fasih berbicara dengan berbagai bahasa. Karena dengan berbagai bahasa, saya bisa mempelajari ilmu yang berasal dari negara manapun.

Kamis petang ini sungguh membawa angin yang begitu segar, sampai membuat saya merasakan kesegaran walaupun cuaca malam ini cukup panas untuk ukuran teman-teman yang menyalakan kipas di kamarnya dengan power paling tinggi.

Semoga cita-cita anda sekalian, bisa anda perjuangkan dengan maksimal. Saya selalu berdoa untuk anda semua agar bisa menjalani kehidupan ini penuh dengan rasa optimis, seoptimis orang tua anda selalu mendukung dan mendoakan anda agar bisa berhasil serta membanggakan mereka. Saya juga mohon doanya agar bisa selalu belajar banyak hal serta yang paling penting, mari kita bersama selalu mensyukuri banyak hal yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Pencipta untuk kita.

Batam, 13 Juni 2013

Arsyad syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: