Keep Calm and Enjoy Your Day

10 Jun

#Turn On 27

Pernahkah anda membayangkan berbagai kejadian di masa lalu, yang membentuk anda hingga mencapai berbagai hal di masa ini? ini cerita saya, maka nanti giliran anda yang bercerita juga ya, hehe.

Tadi pagi, setelah selesai melakukan operasi cito yang membuat tim kami begadang semalaman, waktu menunjukan sudah memasuki adzan shubuh. Tatkala saya melihat orang-orang yang ada di lingkungan rumah sakit menuju mushola yang letaknya di area belakang rumah sakit, seakan ingatan saya terlempar pada berbagai kejadian beberapa tahun yang lalu. Tepatnya ketika saya masih sering mengikuti kejadian pramuka.

Yang namanya pramuka, pasti identik dengan kemah serta perlombaan. Saya sendiri sering mengikuti berbagai perkemahan dengan durasi waktu yang berbeda, terkadang ada yang dua hari satu malam, ada yang tiga hari dua malam, dan yang paling lama adalah tujuh hari enam malam, yaitu saat saya masih berusia 13 tahun dan saat itu perkemahan diadakan di kota Kebumen dalam agenda Jambore daerah XI.

Memang sedari SD sudah suka mengikuti kegiatan-kegiatan outdoor, saat kelas empat dan lima, kemah di lapangan sekolah yang diadakan tiap tahun menjadi hal yang paling saya tunggu. Perlengkapan demi perlengkapan yang tergantung disana sini seakan menjadi sebuah kebanggaan bagi saya. Saat memakai baju cokelat-cokelat, memakai cabaret, hasduk serta pengaitnya yang berlambangkan tunas kelapa, lalu memakai tali yang digantungan di bagian pinggang sebelah kanan (yang sampai saat ini terkadang saya masih bingung tali itu sebenarnya digunakan untuk apa), tempelan berbagai lambang serta logo. Mulai dari lambang kepamukaan sedunia hingga gambar hewan yang menandakan nama-nama regu.

Acara selalu dimulai dengan upacara pembukaan yang sering diadakan pada waktu siang hari. Satu kata yang kami sepakati, panas. Namun, hati kami insyaallah selalu adem, hehe. Dilanjutkan dengan pendirian tenda. Simpul demi simpul dibuat, pasak beradu dengan tanah, suara dentuman pukulan batu atau kayu yang dipukulkan ke pasak, suara-suara itu, hingga saat ini semua hal itu masih membuat saya ceria.

Ketika tenda sudah berdiri, lalu sesegera mungkin kami menggelar tikar yang ditata sedemikian rupa. Tas demi tas dirapikan, disusun, dan sering berebutan memilih tempat, namanya juga masih anak-anak. Malamnya, acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh banyak orang, api unggun. Kayu bakar yang disusun melingkar, dengan tambahan ketrampilan teknik kepramukaan yang membuat seakan kayu bakar itu bisa terbakar dari jarak jauh, membuat saya selalu ingin mempelajarinya.

Upacara malam itu dimulai. Semua peserta upacara api unggun membentuk barisan melingkar dengan formasi lingkaran besar. Dan beberapa meter di belakang kami, biasanya para penduduk juga berbaris, tapi tidak teratur dan semaunya, namanya juga mau nonton.

Peluit ditiup panjang, menandakan pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Semuanya hening. Semuanya khidmat. Apalagi saya, niat saya ingin merekam semuanya, jadi mata ini memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh petugas upacara malam itu.

“Pasukan saya ambil alih, Siaaaaaaaaaaapp, gerak !!!, , istirahat di tempaaaaaaat gerak !!!”. suara itu keluar dari seorang pemimpin upacara bertubuh agak tinggi dari saya waktu itu. Dia memakai sepatu kets hitam dengan kaos kaki hitam yang sesuai. Kabaretnya agak dimiringkan sedikit ke sebelah kiri, beremblemkan lambang tunas kelapa yang menurut sejarah diciptakan oleh beliau, H. Agus Salim.

Lalu Pembina upacara memasuki lapangan upacara, seketika itu pemimpin upacara, dengan suaranya yang lantang, berteriak dengan suara khasnya. “siaaaaaaapp gerak”. Lalu dia maju beberapa langkah menuju ke arah Pembina upacara, “Lapor, upacara api unggun, tanggal 14 Agustus, siap !!!”. Pembina upacara menjawab, “Laksanakan”, lalu ditirukan oleh pemimpin upacara, “Siap, laksanakan !!!”. ah, betapa gagahnya, perasaan saya membatin saat itu.

Lalu, 10 orang terpilih yang membawa obor, berbaris lurus dengan jarak satu lencang kanan, melaksanakan tugasnya. Merekalah 10 orang yang akan mengucapkan Dasa Dharma Pramuka, 10 janji pramuka. Satu orang maju kearah Pembina upacara, menundukan obornya yang kemudian atas bantuan ajudan Pembina, dengan korek api, obor tersebut dinyalakan. Petugas yang akan mengucapkan dharma nomor satu itu kembali ke barisannya. Lalu dengan sebuah aba-aba, mereka yang bersepuluh itu berteriak dengan lantangnya, “Dasa dharma pramuka, pramuka itu…”.

Petugas pertama mengangkat obornya lalu mengucapkan janji pertama, “Satu, Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa”. Lalu ia menghadap ke petugas kedua, petugas kedua mengambil api dengan obornya dari obor petugas pertama, setelah hidup, mereka kembali ke posisi semula, petugas kedua mengangkat obornya, lalu meneriakkan janji kedua, “Dua, Cinta alam dan kasih sayang kepada manusia”, lalu dilakukan berturut-turut kepada petugas selanjutnya, “suara-suara itupun masih saya ingat sampai sekarang, “Tiga, Patriot yang sopan dan kesatria, Empat, Patuh dan suka bermusyawarah, Lima, Rela menolong dan tabah, Enam, Rajin, terampil dan gembira, Tujuh, Hemat, Cermat dan bersahaja, delapan, Disiplin, berani dan setia, Sembilan, Bertanggungjawab dan dapat dipercaya”, lalu petugas terakhir, dengan sikap sempurna, mengucapkan janji yang terakhir, “Sepuluh, Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan”.  

Setelah semua janji terucapkan, lalu dikomando oleh petugas pertama, mereka berlari kecil menuju area api unggun. Lari-lari kecil sembari membentuk formasi melingkar, kemudian semua obor yang dibawa dilemparkan kearah api unggun yang apinya mulai membesar.

Saat api mulai membesar, petugas pembawa obor mulai mundur, dan lagu itupun dinyanyikan. Nyanyian tentang api unggun yang semakin menambah hangat suasana malam itu,

Api unggun sudah menyala, api unggun sudah menyala, api, api, api, api, api,

Api unggun sudah menyala,

Api unggun sudah menyala, api unggun sudah menyala, api, api, api, api, api,

Api unggun sudah menyala,

Acara selanjutnya adalah amanat Pembina upacara. Pemimpin upacara kemudian member komando kepada peserta upacara, “istirahat di tempaaat, gerak !!!”. setelah, amanat disampaikan, upacara selesai yang kemudian dilanjutkan dengan acara pentas seni.

Disinilah kami ditantang untuk mempertunjukkan apa yang kami bisa. Ada yang menyanyi, berpantun, berpuisi, menari dan masih banyak lagi. Malam itu, masih terasa hangat dengan pancaran kehangatan api unggun, membuat hati semua orang hangat serta ceria. Acara dilanjutkan sampai hampir tengah malam, ketika mata sudah mulai redup, saat itulah kami memasuki tenda masing-masing untuk menikmati beristirahat di tenda yang pagi tadi kami dirikan.

Nah, ini juga yang menjadi hal yang menarik bagi saya. Ketika bangun tidur, namanya tidak dirumah, jadi segala pemenuhan kebutuhan di pagi hari harus kami usahakan sendiri. Dalam arti, mencari kamar mandi atau harus antri dengan antrian yang lumayan panjang, dengan catatan itu bangunnya kesiangan. Sering ketika saya berkemah, mulai kecil dulu, sering terbangun sebelum shubuh, sehingga menguntungkan saya untuk bisa menikmati kamar mandi dengan durasi waktu secukupnya. Kalau belum cukup ya ditambah lagi, hehe.

Kegiatan pagi itu, kami berduyun-duyun menggelar tikar di lapangan untuk melakukan shalat shubuh secara berjamaah. Berjamaah di lapangan sekolah, dengan suasana masih gelap, bintang-bintang serta rembulan masih elok dalam pandangan. Semua terasa akrab, saya tidak hanya menemukan sebatas kegiatan baru, namun inilah teman serta keluarga baru.

Setahun setelah kejadian kelas V itu, saya pindah sekolah karena ada beberapa hal. Kemudian di kemah selanjutnya, saya mendapatkan posisi sebagai pemegang obor nomor tujuh, “Hemat, cermat, dan bersahaja”, yang kemudian, pada tahun-tahun berikutnya, bermula dari kemah kelas V ini, saya pergi dan berkemah di berbagai tempat, dengan berbagai kegiatan serta perlombaan yang mengantarkan saya sampai saat ini.

Sikap-sikap yang terkandung dari Dasa dharma pramuka, sungguh sangat elok untuk dipraktikkan dimana saja, tidak terbatas pada kegiatan perkemahan saja. Namun, menjadi apapun kita sekarang, sikap serta perilaku kita perlu untuk memiliki sebuah dasar yang baik.  

Fisik serta mental akan selalu diuji setiap saat, itulah yang saya pahami serta jalani. Karena dengan berbagai ujian itulah kita sampai saat ini. Bertambahnya usia belum tentu menandakan bertambahnya sikap dewasa juga. Karena pendewasaan diri adalah sebuah proses bagi mereka yang mau belajar. Dan semoga saya bisa bertambah dewasa dengan berbagai hal yang saya hadapi. Bismillah.

Batam, 10 Juni 2013

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: