Mencari Kedudukan

2 Jun

#Turn On 25

Tidak hanya orang-orang yang mengaku sebagai wakil rakyat yang mencari kedudukan, saya pun juga sangat mencari kedudukan. pertanyaannya, kedudukan seperti apakah yang saya cari?

Benar-benar bisa dikatakan pergantian bulan yang sangat padat. Padat dengan berbagai persiapan untuk operasi baksos katarak bulan depan, padat dengan jadwal operasi elektif, apalagi yang cito. Bisa bikin tarik napas lebih dalam pokoknya.

Setelah 2 kali jaga malam, tepatnya 3 hari sebelum pergantian bulan mei ke bulan juni. Saya pikir jumlah operasi hanya akan bertambah dengan rencana operasi yang sudah terjadwal mulai minggu yang lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, semua menjadi lain ceritanya.

Semakin mendekati akhir bulan, entah kenapa malah operasi emergency nya bertambah, dan satu lagi, ada beberapa operasi yang membutuhkan waktu yang cukup lama, itupun untuk satu pasien.

Saya sudah pernah bercerita tentang rasanya semalaman ikut tim operasi laparatomi untuk membebaskan usus yang mengalami perlengketan hebat, ya, semalaman. Saya melanjutkan operasi tim jaga sore, sehingga start jam 21.00 dan selesai saat jam dinding menggoyangkan jarumnya pada pukul 7 pagi, itu pun baru selesai operasinya, belum beres-beres ruangan serta alat yang kami gunakan, belum juga menulis berbagai laporan serta catatan tentang obat dan alkes (alat kesehatan-red) yang kami gunakan, dan tentu saja, setelah itu harus operan dengan petugas ruangan yang akan menjadi ruang perawatan pasien pasca operasi.

Keadaan dimana banyak operasi memang sudah pernah saya rasakan, namun untuk operasi yang membutuhkan durasi waktu yang lama, bagi saya, akhir bulan ini agaknya lagi kasmaran-kasmarannya. Entah yang mulai jaga malam yang selesai pagi, jaga pagi dan selesai saat jaga siang, dan yang terakhir, kamarin, saat jaga siang, baru datang jaga siang setelah malam sebelumnya saya oncall dan ikut operasi sampai jam 2 dini hari, saya langsung mendapat tugas untuk operasi yang saya sudah perkirakan waktunya, bisa 5 sampai 6 jam.

Dalam hati saya yakin, insyaallah saya siap. 1 sampai 2 jam pertama masih terasa biasa-biasa saja, namun memasuki 3 jam operasi, saya rasa ada yang aneh. Celaka, saya ternyata lupa minum setelah makan siang tadi. Saya memang punya kebiasaan untuk tidak langsung minum setelah makan, biasanya paling cepat 15 menit sampai 30 menit setelah makan baru minum, dan kebiasaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Saya baru ingat, saya tadi makan makanan yang ada kuahnya, jadi, setelah makan, saya merasa cukup dengan kuah yang ada di makanan tadi.

Inilah imbasnya, tenggorokan mulai berontak, namun saya pertahankan saja. Saya hanya berdoa semoga saya tidak sampai pingsan, hehe. Bayangin aja, kalau lagi nolong orang yang dioperasi malah tim operasinya pingsan, kan malah ngrepotin banyak orang. Oke, untuk masalah tengorokan yang kering masih bisa diatasi, toh saya pikir, tidak akan sampai berhari-hari untuk kemudian saya minum kembali.

selanjutnya, karena ini adalah operasi yang menggunakan teknik laparaskopi atau yang disebut minimal invasive surgery, tentu saja, saya sebagai instrument, akan banyak diamnya, menunggu operator bedah mengganti alat yang digunakan. Karena memang operasi jenis seperti ini membutuhkan ketrampilan tangan yang lumayan tinggi bagi operatornya.

Bagian kami, sebagai perawat kamar bedah, adalah njelimet saat persiapannya. Mulai dari persiapan linen dan membukanya, instrument yang digunakan khusus dan sangat rawan terjadi kerusakan, sebut saja kabe-kabel fiber glass optic yang kalau salah saat menggulung atau menempatkannya di tempatnya, akan sangat berabe akibatnya. Bisa saja serat optic nya putus dan terjadi kerusakan, padahal kalau dilihat dari harganya, wah, bisa untuk membeli mobil roda empat yang lumayan mewah.

Lalu penggunaan monitor serta berbagai alat khusus untuk laparaskopi, bahasa sederhanya, operasi jenis seperti ini seperti mengintip bagian dalam tubuh pasien, menggunakan alat-alat panjang yang dimasukkan lewat sayatan yang kecil, hanya sekitar 5 mm untuk memasukan trocard dan 11 mm untuk memasukan lensa yang akan menjadi mata operator di dalam tubuh pasien, diameter lensa ini berukuran 10 mm, dan yang digunakan memilki sudut 30 derajat di mata lensanya. beberapa pasien yang setelah dioperasi menggunakan teknik ini, biasanya akan melihat bekas sayatannya seperti habis tergores saja, ya memang, kan Cuma 5 mm. namanya juga minimal invasive.

Penggunaan gas karbondioksida juga sangat berperan penting dalam operasi ini. gas ini digunakan untuk menggembungkan tubuh pasien, sehingga memudahkan operator untuk melakukan operasi. Jadi, monitoring terhadap kesediaan gas ini juga menjadi salah satu perhatian utama, kalau memang diperkirakan operasinya lama, ya disiapkan tabung cadangan untuk mengganti saat tabung utama yang digunakan akan habis, sehingga operasi tidak berhenti terlalu lama kalau gas utama habis.

Sekali lagi, karena banyak diamnya, saya tidak bisa memungkiri tubuh ini akan mudah terserang hipotermi (penurunan suhu tubuh) karena jarang bergerak, yang tentu saja suhu di dalam ruangan operasi memang rendah, sekitar 18 sampai 20 derajat celcius. Dan setelah dilanda hipotermi, keadaan selanjutnya karena operasinya lama, sangat mungkin terkena hipoglikemi (keadaan penurunan kadar gula dalam darah atau secara gampangnya, reaksinya disebut dengan lapar).

Saya sudah terserang keduanya, hipotermi masih bisa diatasi dengan bergerak-gerak sederhana, memancing tubuh untuk mengeluarkan hawa panas kembali. Namun untuk hipogilkemi, tentu saja harus makan. Lah, bagaimana bisa, kan sedang operasi. Tenang saja, pikirku, saya masih punya cadangan glukosa dalam bentuk glikogen yang ada dalam tubuh. Hanya saja, tidak akan bertahan lama sampai semua glikogen dipecah dengan brutal karena banyak sel-sel dalam tubuh yang kelaparan dan meminta makan. Sabar perut ya, insyaallah glikogen ini masih mampu untuk mempertahankan keadaan sementara, hehe.

Kembali ke sebelah meja instrument, ketika operasi lama dan semua hal itu tadi dilakukan dengan posisi berdiri, sesekali terkadang mencuri waktu untuk duduk sejenak, hehe. Ya, mencari kedudukan,  untuk merubah posisi yang sekian lama berdiri ini untuk duduk sejenak. Biasanya tidak lama, cukup beberapa saat untuk ngulet dan meregangkan otot-otot yang kaku selama berdiri. Rasanya, sungguh lega. Apalagi kalau operasi sudah hampir selesai, rasanya seperti waktu menjelang buka puasa, semuanya terlihat enak pokoknya.

Kami memang bukan wakil rakyat yang terkadang merasa terhormat dan minta dihormati, tanpa segan mengumbar janji-janji yang tidak pasti, yang mencari kedudukan yang diangap tinggi untuk memenuhi perut sendiri. Memuaskan nafsu sesaat yang kemudian antri mengunjungi terali besi, mendekam di hotel rodeo dan menunggu dipanggil untuk berkilah, bersaksi, dan beralibi. Kami hanya menjalankan tugas di kamar operasi, berusaha membantu sepenuh hati, namun ya, kalau memang kami sudah berdiri lama, sesekali bolehlah mencari kedudukan, yang tentu saja masih dengan kursi, tidak perlu sampai menumbar-umbar janji. Hehe

2 Juni 2013

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: