Sederhana Saja, dan Menjadilah Air Yang Terus Mengalir

31 Mei

#Turn On 24

Alhamdulillah, saya bisa kembali berjumpa dengan hari Jumu’ah. Karena memang hari ini banyak sekali hal yang bisa dilakukan serta bernilai ibadah. Bagi sahabat-sahabat muslim, terutama kaum adam, sebentar lagi kita harus ke Masjid untuk melaksanakan ibadah Shalat jum’at, tentunya sebelum itu, kita disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu. Lalu memakai wewangian yang kalau bisa jangan yang mengandung alkohol. Mari kita pakai baju terbaik kita untuk menghadap kepadaNya. Lalu Membaca surat Al Kahfi di hari ini sungguh memberikan manfaat yang besar. Dan teringat pesan Ustad Yusuf Mansur, mari kita banyak-banyak berdoa. Berdoa, mendoakan, serta minta didoakan. Bukankah memang Allah memerintah kita untuk selalu berdoa kepadaNya.

Mengawali tulisan ini, saya teringat akan sebuah fakta menarik tentang salah satu organ kita yaitu Jantung. Tulisan berikut adalah salah satu kutipan dari sebuah buku yang saya baca kira-kira 8 tahun lalu. Begini tulisannya.

Jantung manusia memompa 2.200 galon darah tiap hari dan 8.030.000 galon dalam setahun, serta 481.800.000 galon selama enam puluh tahun yaitu dipertengahan usia manusia (beratnya kira- kira 345.000 ton).

Jantung manusia berbentuk seperti buah pear, sebesar genggaman tangan,dan beratnya antara 225 dan 340 gram. Jantung itu berdenyut kurang lebih 70 kali setiap menit atau 4200 kali setiap jam, 108.000 kali dalam sehari, dan 36.792.000 kali dalam setahun. Kalau diambil untuk usia pertengahan ( 60 tahun ) maka jantung yang ajaib itu berdenyut 2.207.520.000 ( dua milyar dua ratus tujuh lima ratus dua puluh ribu ) kali tanpa berhenti. (Aziz Salim B, 1998).

Nah, pertanyaannya sekarang adalah, Apakah ada pompa lainnya selain jantung yang dapat melakukan pekerjaan berat dalam waktu enam puluh tahun tanpa perbaikan atau perawatan?. Lalu, yang lebih penting adalah, apakah kita pernah sekali waktu menyadarinya atau bahkan kita cuek sama sekali? Semua pertanyaan itu hanya masing-masing dari kita yang bisa menjawabnya.

Yang jelas adalah, salah satu organ vital kita yang dikaruniakan olehNya ini telah sangat membantu dalam kehidupan kita. Bayangkan saja kalau jantung ini ngambek dan berhenti bekerja beberapa detik saja saja, diem, gak mau berdenyut, pasti kita yang akan bingung.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah kita telah mengoptimalkan diri kita untuk bersyukur dan melakukan aktifitas yang berguna dalam kehidupan ini? ataukah ya, biasa-biasa saja seakan semua tidak pernah terjadi apa-apa. Tiba-tiba semuanya muncul tanpa pernah ada yang menciptakan dan mengatur semua ini. Semesta Alam sekalian ini.

*ambil gelas, minum dulu, hehe, eits, baca bismillah sebelumnya*

Hidup akan sangat terasa indah jika kita memakai baju yang bernama kesederhanaan. Teringat salah satu penggalan lirik lagu Iwan Fals dalam lagunya “Seperti Matahari”, begini liriknya, “Keinginan adalah sumber penderitaan, Tempatnya di dalam pikiran, Tujuan bukan utama, Yang utama adalah prosesnya”.

Terkadang kita sangat menggebu-gebu untuk ingin memenuhi segala keinginan kita. Ingin ini, ingin itu, tanpa peduli kita butuh atau tidak. Padahal orang yang dikatakan kaya oleh sebagian besar orang, secara materi tentunya, jika masih mempunyai banyak kebutuhan, ya masih disebut orang miskin, begitu kira-kira pendapatnya Cak Nun tentang hal ini. lah, bagaimana bisa disebut kaya, wong dia masih membutuhkan banyak hal, namanya orang kaya kan sudah tidak memerlukan apa-apa. Yang namanya kaya kan adalah keadaan yang sudah cukup, tidak menginginkan ini, itu dan semacamnya.

Lalu ada pertanyaan lain yang sering saya baca ketika berkaitan dengan pembahasan ini, “lalu, apakah kita tidak boleh kaya?”, jawabannya sangat boleh, dan sebagai umat islam kita sangat dianjurkan untuk menjadi kaya, karena seorang muslim yang kaya adalah lebih baik dari seorang muslim yang lemah. Karena lemah secara harta akan mendekatkan kepada kekufuran. Namun, kaya nya itu kaya yang bagaimana, apakah kaya yang menimbun hartanya? Apakah kaya yang memilki banyak hal namun enggan membantu saudaranya yang membutuhkan? Itu yang perlu kita pahami.

Menjadi sederhana dalam keadaan apapun, itulah tantangannya. Karena orang yang sederhana, dimanapun ia berada, akan sangat mudah untuk berbaur dengan keadaan, dan yang paling penting, ia mampu merasakan nikmatnya hidup. Menjadi sederhana dalam keadaan tidak berpunya itu tidak sesulit ketika dalam keadaan berpunya. Ketika banyak rizki yang kita punya, seringkali kita menyingkirkan kesederhanaan dalam hidup ini, alhasil, pemborosan terjadi dan parahnya, banyak hal yang kita inginkan itu tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

Banyak membeli sesuatu namun yang terjadi setelah memilikinya, malah tidak terpakai alias nganggur, kenapa hal itu terjadi? Karena tidak sesuai dengan kebutuhan, misal, sudah memilki tas, namun masih saja membeli tas, baju sudah bejibun, masih saja membelinya, alasannya klasik, lagi Sale, lagi banyak diskon, dan setelah semua keinginan itu dituruti. Jreng, jrenggg, malah banyak yang tidak terpakai.

Namun bagi mereka yang hidupnya kenyang dalam kesederhanaan, semuanya terasa sangat nyaman. Dalam keadaan kaya materi ia lebih banyak memberi, dalam keadaan sedang tidak berpunya, ia tidak dirasuki keinginan untuk mencuri. Dalam kesehariannya, ia asyik dengan perilaku memperbaiki diri, karena ia sadar, masih banyak kekurangan dalam dirinya yang harus diperbaiki, masih banyak sifat kurang baik dalam dirinya yang perlu diintrospeksi.

Karena bagi kita, pepatah gajah di pelupuk mata tak tampak dan semut di seberang lautan itu tampak, begitu menjadi kenyataan. Asyik membicarakan kekurangan orang lain, namun lalai untuk membenahi kekurangan diri sendiri. Entah secara sadar ataupun secara tak sadar (karena sudah menjadi kebiasaan) sering sebagian besar dari kita melakukan hal itu, malah sudah ada yang menjadi bagian dari kehidupan kita, ini yang perlu kita waspadai, apakah kita termasuk dalam kategori ini atau tidak?

Mengapa orang terkadang begitu mudahnya membicarakan orang lain dalam kehidupan sehari-hari? Salah satu jawabannya adalah, karena ia menjadi air yang diam, kenapa diam? Coba kita perhatikan disekitar kita, air yang diam akan mengeluarkan bau yang tidak enak, akan mengeluarkan bau yang sangat mengganggu lingkungan sekitar. Begitupun juga dengan manusia, jika ia menjadi air yang diam, maka yang keluar dari dirinya, entah itu ucapan atau perilakunya, akan sangat mengganggu masyarakat yang ada di sekitarnya.

Saya jadi teringat salah satu perkataan Bruce Lee dalam buku yang ditulis Moshe Kai Cavalin, “Tai Jet Kune Do” : “Air yang mengalir tidak akan pernah basi. Jadi, kau hanya perlu terus ‘mengalir’”.

Menjadi air yang terus mengalir, tidak henti-hentiya mengalir, adalah jalan yang paling utama dalam hidup ini. mempelajari hal baru, memahami kosakata kehidupan baru, mengenal serta menjadi akrab dengan berbagai perbedaan yang ada, adalah jalan untuk mendapatkan intisari kehidupan.

Menjadi sederhana bukanlah tujuan akhir dalam perjalanan ini, karena kesederhanaan adalah salah satu baju yang harus kita kenakan dalam perjalanan ini. Perjalanan singkat yang akan membawa kita memasuki fase selanjutnya, perjalanan air, menuju muara kebahagiaan. Bukankah air yang diam hanya akan terus tinggal di tempat, dan tentu saja tidak akan pernah sampai ke muara. Iya kan?

31 Mei 2013

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: