Saya pun Masih Kalah Dari Dispenser

28 Mei

#Turn On 23

Ide bisa berasal darimana saja, gagasan bisa muncul kapan saja, tanpa diundang, tanpa diterka, hanya perlu kebiasaan yang berkesinambungan untuk menangkap gagasan yang muncul tersebut. Setelah ditangkap, segera tulis dalam bentuk apa saja, bisa tulisan tangan di kertas, buku, atau kalau pas deket dengan benda-benda yang bisa digunakan mengetik, harus segera diketik, kalau tidak, sangat mungkin ide itu akan hilang kembali. Menguap. Tidak berbekas.

Bapak saya pernah bercerita tentang hal yang hampir serupa. Beliau mengutip perkataan Imam Syafi’I, “Ilmu (itu) bagaikan binatang liar dan menulis adalah tali pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali yang kuat. Adalah bodoh sekali jika anda memburu seekor kijang, kemudian anda lepaskan begitu saja tanpa tali pengikat.”

Seperti gagasan menulis untuk kali ini. Alhamdulillah saya mendapatkan gagasan saat kemarin sore pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Batam untuk membeli sebuah dispenser, sebenarnya sudah dari minggu yang lalu ingin membeli, namun karena belum sempat, ya baru kemarin berkesempatan membelinya. Hehe.

Saat pulang dari tempat perbelanjaan, sambil mengendarai motor, sendiri, hehe, saya mendapatkan beberapa hal yang bisa saya jadikan pembelajaran. Yakni tempat perbelanjaan itu sendiri, sekaligus dispenser yang tentu saja baru saja saya beli. Namun perlu diketahui, barang yang satu ini adalah hasil iuran kami bertiga, bukan saya sendiri, karena memang saya menempati kamar di asrama karyawan ini bersama 2 orang adik kelas saya, jadi ya iuran, hehe.

Pembelajaran yang pertama, melihat banyaknya orang yang berbelanja dengan berbagai hal yang mereka beli, secara tidak langsung kita akan disebut sebagai makhluk konsumtif. Nah, disini hal yang perlu digaris bawahi, apakah kita termasuk orang yang konsumtif belaka, atau konsumtif demi produktifitas kita. Kalau hanya sebatas konsumtif tapi belum bisa produktif, itu berarti kita hanya menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk memenuhi kebutuhan diri. Belanja, belanja, dan belanja. Beli ini, beli itu, beli ini dan itu, hehe. Kalau beli banyak hal namun untuk dijual lagi sih namanya pedagang, dan itu produktif, namun, kalau belanjanya barang-barang untuk pemenuhan kepuasan diri, wah, tanda-tanda pemborosan ini namanya. Bisa disebut, besar pasak daripada tendanya, eh, tiang, hehe.

Kejadian yang umum terjadi. Melihat para pelajar, biasanya yang ngaku sudah masuk masa-masa ABG, perilaku konsumtif kerap terjadi. Tidak langsung ke ranah shopping menyopping gitu, namun, contoh yang paling gampang adalah penggunaan uang saku, dan pulsa Hape. Kalau pelajarnya memang niat belajar secara bener, insyaallah uang saku juga akan digunakan dengan baik.

Uang saku yang diberikan orang tua terkadang memang dibuat pas, karena memang salah satu tujuannya juga sebagai pembelajaran bagi anak. Bagaimana caranya uang yang memang di pas tersebut digunakan sebagaimana mestinya, untuk biaya belajar, fotokopi makalah, buat ngeprint, dan sebagainya. Nah, kalau pelajarnya kurang bener, entah kenapa pasti melulu minta tambahan uang saku, pokoknya selalu kurang, entah yang makannya diatas standar makanan bagi mahasiswa, atau malah sering jalan-jalan  ke tempat yang notabene bisa menghabiskan banyak pengeluaran.

Lalu yang lebih menjadi rahasia umum, masalah pulsa. Memang pulsa pada zaman sekarang seakan sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok, terutama bagi orang-orang yang katanya masuk dalam dunia modernitas. Lalu bagi pelajar, pulsa inipun bisa berubah menjadi hal yang bisa sangat memboroskan, terutama bagi mereka yang sudah belajar ngurusi orang lain, yang kata sebagian orang, adik nemu gede atau kakak nemu gede. Hehe.

Dari hal yang remeh temeh, sampai hal yang gak penting, semuanya membutuhkan hal yang disebut pulsa ini. dari yang merhatiinnya biasa aja, sampai masuk ke dalam zona lebay. Dari yang ngingetin makan, ngingetin tidur, ngingetin ini, ngingetin itu, dan berlanjut sampai ada salah satu yang ngambek kalau tidak diingetin. Hehe.

Nah, itu semua membutuhkan yang namanya pulsa, padahal kalau diperhatikan, kebutuhan pulsa bagi sebagian pelajar ini sebatas untuk komunikasi untuk pembelajaran mereka, untuk mendapatkan serta meneruskan informasi yang berkaitan dengan pembelajaran atau perkuliahan. Dalam hal ini memang tidak semua melakukan pemborosan, namun sebagian yang lain, apalagi kalau sudah kecanduan merhatiin orang lain, bisa sangat boros, konsumtif tingkat tinggi. Tergantung kita sekarang, belajar untuk terus konsumtif atau sedikit demi sedikit mulai belajar untuk produktif.

Kembali lagi soal ilmu, tentu saja dalam hal ini tidak bisa lepas dari membaca dan menulis. Semenjak mulai bekerja, saya memang (agak) boros kalau bicara tentang buku. Saya bisa menghabiskan banyak pengeluaran untuk membeli buku, karena memang dari dulu saya ingin membeli buku namun orang tua memang belum punya uang. Paling menabung dulu sampai terkumpul sejumlah harga yang dipatok, baru deh beli. Dan menulis ini sendiri, merupakan pembelajaran bagi saya untuk tidak terus-terusan terjebak dalam ranah konsumtif. Bagi saya, konsumtif boleh, namun harus produktif juga.

Lalu, apakah saya tidak pernah sangat konsumtif, jawabannya pernah, maka dari itu, saya belajar untuk memperbaiki hal yang sekiranya saya anggap kurang baik tersebut. Menulis ini juga sebagai sebuah tantangan bagi saya, tantangan untuk menemukan berbagai ide yang kadang terlintas, gagasan yang muncul tiba-tiba, lalu sesegera mungkin saya tuliskan, kalaupun tidak segera saya ketik, saya menuliskannya dulu pada lembaran kertas, buku, atau apapun yang bisa menjadi pengingat. Karena saya percaya, jika memang tulisan saya yang sekarang belum enak untuk dibaca, maka saya akan terus menulis sampai tulisan saya kelak enak dibaca, bisa sekaliber dengan Andy F. Noya, atau Bapak Komarudin Hidayat yang tulisannya sangat enak untuk dibaca.

Lalu tentang Dispenser, prinsip dasar alat yang satu ini adalah, menerima dan mengeluarkan. Tidak pernah ada dispenser yang secara egois diberi air dalam galon, lalu dia tidak mau mengeluarkannya atau tidak mau memberikannya kepada orang yang memintanya dengan menarik tuas pada keran yang biasanya berwarna biru dan merah ini. artinya apa, seluruh jiwa dan raga dispenser ini dibaktikan kepada manusia untuk memberikan apapun yang diberikan kepadanya. Dalam bahasa kerennya, dia hanya berfikir How to Give, tidak pernah egois dengan berfikir How to Get. Memberi, memberi dan memberi, hanya itu siklus kehidupan sang dispenser ini sampai ia dinyatakan pensiun karena rusak atau karena pindah ke tempat lain. Hehe.

Dispenser, selain selalu memberi, ia juga menghangatkan air yang masuk dalam dirinya. Lalu, apakah kita selalu bisa memberi dan menghangatkan suasana di lingkungan kita?

28 Mei 2013

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: