Mereka Yang Mengabdi Dalam Diam

27 Mei

#Turn On 22

Seven Heroes yang ditulis oleh Ben Shohib, sebuah buku yang bisa dibilang sudah lama saya cari, dan saya beruntung menemukannya beberapa waktu yang lalu di toko buku dekat asrama saya ini. Ini adalah sebuah buku yang bercerita tentang 7 orang yang abnormal, begitu kata salah seorang juri dalam pemilihan Heroes ini dalam acara Kick Andy, beliaulah Imam Budidarman Prasodjo, Ph. D, seorang pengamat politik sekaligus Direktur Yayasan Nurani Dunia.

Dari 7 orang ini, saya sebagai seorang perawat, tentu merasa masih sangat kecil dari dibandingkan oleh orang-orang yang diceritakan dalam buku ini. Sebut saja, Andi Rabiah yang dikenal sebagai suster apung, lalu Maria Gisela Borowka yang mengabdikan dirinya membantu masyarakat yang terkena wabah kusta/lepra di daerah bernama Lembata, Flores Timur. Dan Gendu Mulatif, seorang veteran berdarah betawi yang tinggal di Bekasi yang mengabdikan dirinya untuk mengurusi orang-orang yang mengalami gangguan mental yang oleh kebanyakan orang disebut sakit jiwa.

Masih ada 4 orang lagi yang juga luar biasa, mereka adalah Didik Nini Thowok sang seniman Cross Gender Sejati, Wanhar Umar yang menjadi Oase di Gurun Gersang (Pendidikan), Viktor Emanuel Rayon sang Ekolog sejati dari puing-puing tsunami, serta Sugeng Siswoyudhono sang “Komendan” Revolusi mental yang telah menginspirasi Menristek dalam mengagas program gerakan 1000 kaki palsu.

Mengabdi dalam diam, ini adalah kata yang sungguh sangat pas untuk menggambarkan mereka semua. Mengeluh juga bukan bagian dari kehidupan mereka karena mengeluh adalah tanda orang yang tidak cerdas. Mereka mengabdi demi kemanusiaan, bukan untuk materi yang oleh sebagian orang bahkan sampai dituhankan. Kalau boleh dibilang, Heroes yang dipilih oleh tim juri yang beranggotakan Imam Budidarman Prasodjo, Nafsiah Mboi, Romo Mudji Sutrisno, Komarudin Hidayat serta Erna Anastasia Witoelar ini sungguh jauh dari kesan kaya secara materi. Bahkan lebih dekat dengan kesan tidak berpunya.

Dalam salah satu tulisan di buku ini, Bapak Komarudin Hidayat menuturkan, “Saya sendiri menjadi malu melihat Mas Sugeng yang secara serius dan tulus menolong sesama teman senasib dengan menciptakan kaki palsu. Saya malu dengan “Suster Apung” yang meski berjuang di bawah panas terik matahari dan ganasnya ombak laut, hatinya tetap terpanggil untuk menolong anak bangsa yang sakit dan tidak terjangkau oleh dokter yang praktik di gedung mewah ber-AC dengan bayaran mahal. Saya sebagai dosen tercengang malu melihat Wanhar Umar yang pendidikan formalnya hanya tamat SD, tetapi menjadi Guru sekaligus kepala sekolah dasar di daerah pedalaman. Semua itu dilakukan karena panggilan jiwa dan dorongan cinta untuk memajukan anak-anak kampung pedalaman agar memperoleh pendidikan yang lebih baik daripada dirinya”.

Bagaimana dengan kita? Lalu dengan saya sendiri? Apakah apa yang mereka lakukan, kita juga melakukannya? Apakah yang selama ini kita lakukan, setidaknya, bertujuan seperti mereka? Pengabdian? Mereka yang ikhlas dalam bekerja dan bekerja dengan penuh keikhlasan, tidak hanya sehari dua hari, tidak hanya sebulan dua bulan, tapi mereka bertahan dengan apa yang mereka lakukan selama puluhan tahun, separuh lebih hidup mereka telah mereka sumbangkan dalam bentuk pengabdian, sedangkan kita?

Pernah suatu ketika ada kawan saya yang juga seorang perawat ditanya, “kenapa tidak jadi PNS saja?, kenapa lebih memilih bekerja di swasta?”, ia tidak langsung menjawab, namun beberapa saat kemudian, dia menjelaskan kepada kami alasan kenapa dia tidak mendaftarkan diri sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Dia tidak mendaftarkan diri untuk masuk PNS bukan karena dia tidak pandai, tidak, tapi dia menjelaskan kepada kami kalau dia belum siap mengabdi kepada negeri ini. Dia ingin menimba ilmu dulu di swasta, dia ingin mendapatkan pembelajaran dulu di swasta, tentang kedisiplinan, tentang tanggung jawab, tentang berbagai hal yang ada di swasta yang tidak dimilki oleh institusi negeri.

Dia berpendapat seperti itu karena pengalaman selama praktik semasa kuliah di institusi negeri, telah membuatnya memahami, mereka yang bekerja di institusi negeri, kalah disipilin, kerjanya terkesan kurang produktif alias rutinitas belaka, dan bagi yang memilki keinginan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, harus antri, alias kesulitan untuk segera mengembangkan diri.

Terlebih lagi, fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, untuk menjadi PNS. Sang calon pencari kerja diminta untuk menitipkan sejumlah uang yang tidak sedikit, bisa sampai ratusan juta, hanya sebagai pelicin untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau saya sendiri, saya tidak suka dan sangat tidak setuju dengan hal seperti itu, mending saya kerja di swasta saja, sependapat dengan kawan saya tadi. Daripada harus membayar sejumlah uang dulu, lalu masuk kerja, yang artinya, saya bekerja dan menggaji diri saya sendiri selama bertahun-tahun.

Kalau sesuatu hal, apa saja, termasuk mencari pekerjaan, sudah diawali dengan hal yang kurang baik, lalu bagaimana untuk jalan ke depannya? Seakan kita telah menabur duri di jalan yang akan kita lalui nanti, tinggal menunggu untuk diinjak dan tinggal menunggu sakit yang akan dirasakan nanti.

Sungguh sangat berbeda dengan orang-orang yang telah dianugerahi predikat Hero dalam acara kick andy tersebut. Mereka jauh dari hingar bingar pencitraan, seperti Suster apung, Andy Rabiah, ia berjuang membantu rakyat kecil yang justru jauh dari pemberitaan media massa. Masyarakat di pulau kecil yang jauh dari pencitraan kampanye oleh mereka yang mengaku ingin menjadi wakil rakyat, jauh dari tempat orang-orang yang sibuk bertarung serta berebut kekuasaan.

Ketika para pejabat yang mengaku wakil rakyat kecil itu semakin popular di berbagai media, entah itu media massa atau media elektronik dengan selalu sibuk mengumbar janji untuk mengabdikan diri mereka kepada masyarakat. Andy rabiah, dalam diamnya, telah mengabdikan separuh hidupnya untuk kelangsungan ratusan, bahkan ribuan rakyat kecil yang ada di pulau-pulau terpencil di sekitar pulau Flores.

Penutup dari tulisan ini, saya kembali mengutip kata-kata Bapak Komarudin Hidayat, “Kisah para Heroes menunjukan bahwa dalam masyarakat, banyak orang baik yang dan pejuang kemanusiaan yang bahagia justru ketika bisa berbagi, meski secara ekonomi bukan seorang miliarder atau jutawan. Dari orang-orang yang sederhana justru seringkali muncul jiwa dan tindakan mulia, terpuji, dan agung yang sering kali tenggelam dalam hiruk pikuk politik dan gossip selebritis”.

“Masyarakat pun sudah terkondisikan bahwa hanya figur-figur yang masuk TV yang layak untuk dilihat dan didengarkan. Padahal, pribadi agung pengubah sejarah selalu memilih jalan sunyi danjauh dari niat untuk publikasi. Karena mereka telah berbuat semata-mata panggilan jiwa, label “hero” yang dilekatkan oleh “Kick Andy” dan Metro TV pasti diluar perkiraan mereka. Dari mereka saya belajar berbuat ikhlas yang produktif, atau produktif penuh keikhlasan. Hal inilah yang sulit karena kita mudah sekali merasa berjasa, merasa lebih daripada yang lain, padahal yang kita berikan kepada orang lain sungguh tidak sebanding dengan yang kita terima dari orang lain”.

27 Mei 2013

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: