Pintu Ajaib Doraemon, Kita pun Punya

25 Mei

#Turn On 21

Selepas shalat shubuh pagi ini. Saya mendapati beberapa pemberitahuan (notifications) di handphone saya. Yang pertama, mendapakan informasi bahwa kontributor untuk The Sleeping Giant Writing Project 2013, yang diselenggarakan oleh INT (Indonesian Nursing Trainers) yang dikomandoi oleh bapak Syaifoel Hardy, telah mencapai 24 orang, dan saya salah satunya, hehe.

Lalu yang kedua, ada tulisan baru di forum terbuka di grup facebook tersebut, yang ditulis oleh salah satu dosen yang dimiliki oleh Poltekkes Semarang, Prodi Keperawatan Blora, berjudul The Giant Who Travels the World. Beliau adalah Ibu Sutarmi, MN. Walaupun secara fisik saya belum pernah bertemu, namun sekali lagi, kalau sudah berbicara tentang almamater, secara tidak langsung rasa nasionalisme almamater pun akan muncul. Saya merasa bangga, salut, dan tentu saja, masih bodoh dibandingkan beliau yang sudah berkelana ke berbagai penjuru dunia.

Diawali dengan ceritanya masuk Akademi Keperawatan Karya Husada di Semarang. Dengan lika liku perjuangannya, Alhamdulillah beliau dinayatakan lulus. Mindset awal, beliau hanya ingin kuliah, lulus, lalu bisa mengabdi di kampung halaman tercinta di Kota Demak sebagai mantri, karena beliau terinspirasi dari seorang mantra di dekat desanya. Namun, setelah mendapatkan ilmu serta informasi semasa kuliah, ia ingin masuk ke AEA/SOS setelah kuliah, dengan harapan ingin berkelana di Bumi Indonesia.

Namun Allah punya rencana lain, ia belum bisa masuk kesana. Lalu ia melamar ke sebuah klinik, Alhamdulillah diterima, dan disini ia menuturkan, salah satu cita-cita nya telah terpenuhi, untuk menjadi seorang mantri. Lalu perjalanannya dilanjutkan menjadi perawat di RS Sultan Agung Semarang. Karna keinginannya yang besar untuk belajar, membawanya masuk menjadi salah satu dosen di Akademi Keperawatan Depkes di Blora, yang kala itu beberapa Akademi Keperawatan Depkes belum bergabung menjadi Poltekkes.

Walaupun masih berstatus sebagai CPNS, beliau tidak berkecil hati untuk mengikuti seleksi untuk program “Sekolah lagi” atau yang kita kenal sebagai Tugas Belajar yang kala itu diselenggarakan oleh Depkes. Pengiriman dosen untuk melanjutkan jenjang Master di Melbourne, Australia ini, beliau ikuti dengan sepenuh hati. Salah satu hal yang sempat membuat beliau ragu adalah informasi bahwa untuk mengikuti program ini harus berstatus sebagai PNS, jadi yang CPNS belum boleh. Namun setelah informasi ditelusuri yang ditanyakan ke berbagai pihak, akhirnya beliau bisa ikut dan Alhamdulillah bisa lolos untuk mengikuti program ini. Tentu saja dengan perjuangan yang tidak ringan, mulai ikut kursus bahasa inggris di semarang, tepatnya di CLT UNIKA Soegijapranata, harus lulus TOEFL minima 500, bolak balik sana-sini untuk mengurus berbagai berkas, dan masih banyak lagi.

Cerita mulai tambah menarik lagi setelah beliau bercerita tentang bagaimana suasana belajar disana, tentang kelas bagi mahasiswa yang maksimal jumlahnya 20 per kelas. Coba bandingkan dengan kita, ada yang 40, 80, bahkan ratusan, hehe. Bagaimana dosen yang sangat menghargai waktu, menghargai janji, sungguh, sangat kontras dengan keadaan perguruan tinggi disini pokoknya.

Lalu cerita bagaimana Ibu ini mengambil kelas online saat liburan, disaat yang lain mengambil libur, ia memberikan waktu ekstranya untuk mengambil mata kuliah lagi. Cerita demi cerita dituturkan secara bersahaja sampai ia bisa memperoleh ilmu dalam bidang master, Master Of Nursing, tentu saja ijazahnya berstandar internasional, hemmm, bikin ngiri aja bu, hehe.

Kembali ke tanah air untuk mengabdi kembali kepada institusi. Tidak menyurutkan hasrat belajarnya, inilah salah satu hal yang saya suka, ia pun menjadi scholarship hunter, sama seperti penulis Notes From Qatar, Muhammad Assad. Melalui media internet, ia mendapatkan beasiswa short course selama 2 minggu di Amsterdam, Belanda. Ya, Belanda. Berawal dari Belanda, lalu beberapa tahun kemudian ia mendapatkan beasiswa lagi di India, dan cerita terakhir yang disampaikan adalah beliau diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah haji secara free, hemm, karena beliau terpilih menjadi salah satu perawat yang bertugas mendampingi orang-orang yang pergi haji.

Sungguh, campur aduk hati ini rasanya kalau sudah membaca cerita dari orang-orang yang memiliki pengalaman yang sedemikian rupa. Sama halnya ketika kemarin membaca cerita perawat Indonesia yang menjadi dosen di Belanda, dengan tulisannya yang berjudul “Giliran saya dari Belanda”, lalu cerita perawat Indonesia yang sedang mengambil S2 nya di Spanyol, lalu ada lagi yang bercerita tentang jatuh bangun menjadi seorang entrepreneur, serta masih banyak lagi. Kalau anda berminat, silahkan mampir ke http://indonesiannursingtrainers.com, maka anda akan dibawa berkeliling dunia lewat berbagai bacaan tentang perawat yang mendunia.

Sama halnya dengan tokoh kartun yang dicitakan oleh Fujiko dan Fujio, Doraemon, yang sebagian besar dari kita pasti mengenalnya dan tidak sedikit yang bahkan menjadi penggemarnya. Salah satu benda ajaib yang paling saya suka adalah pintu ajaibnya yang bisa membawa kita, beserta imajinasi kita tentunya untuk kemana saja. Mau ke tempat ini, tinggal masuk, lalu sampai, mau ke tempat itu, masuk, lalu sampai. Oh, alangkah enaknya kalau kita memilki benda seperti ini, tidak usah cari tiket pesawat, tidak usah berdesak-desakan dalam bus, tinggal keluarkan pintu itu, dan sampai lah kita pada tempat yang ingin kita tuju.

Namun, sekali lagi, itu hanya ada dalam alam fantasi kita, hehe. Karena semua yang kita lakukan adalah proses, sama seperti kalau kita ingin makan, ya makanannya dimasak dulu. Kalau kita ingin ke Batam, ya naik pesawat dulu. Namun, sebenarnya kita pun punya pintu ajaib layaknya Doraemon, berupa apa? Berupa-rupa tulisan orang yang sudah pernah sampai di tempat atau negara tertentu, tulisan berbagai orang yang telah menjelajah ke tempat yang belum pernah kita datangi, serta berupa berbagai rasa yang mereka rasakan dan tuangkan dalam tulisan yang mereka bagi kepada kita.

Sekarang tinggal kitanya saja, mau apa tidak menggunakan pintu ajaib tersebut untuk pergi kemana saja, pergi ke berbagai tempat serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang menulis cerita tersebut.

Pagi ini, Alhamdulillah saya sudah merasakan nikmatnya berkelana ke Australia, Amsterdam, serta India, masih lewat tulisan tapi, hehe. Sekarang tinggal anda, mau kemana anda pagi ini? Ataukah mau menunggu Doraemon tampil di layar kaca lalu bilang kepadanya, “Wahai Doraemon, ajaklah aku berkeliling dunia dengan pintu ajaibmu”, hehe, peace !!!

26 Mei 2013

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: