Melakukan Penelitian, Perlukah ???

24 Mei

24 Mei 2013

#Turn On 20

Pagi hari ini, saya membuka file-file yang ada di laptop. Saya senyum-senyum sendiri ketika menemukan berbagai tulisan yang saya buat ketika masih berstatus sebagai mahasiswa dulu. Ada salah satu tulisan menarik yang ketika itu saya kumpulkan sebagai salah satu tugas mata kuliah saya, silahkan dibaca.

Masyarakat ilmiah, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menyebut warga kampus, para mahasiswa, dan mahasiswi di suatu perguruan tinggi. Suatu kegiatan akademis mempersatukan mereka di tempat yang dinamakan kampus, dari latar belakang yang berbeda, tempat asal yang berbeda, dan peminatan yang berbeda-beda, baik dari jenjang diploma sampai tingkatan professor.

Bila kita memperhatikan dengan seksama, maka akan terlihat fenomena unik dalam masyarakat ilmiah ini. Setiap tahun, ratusan ribu calon “lulusan” di negara Indonesia ini, dari berbagai jenjang pasti membuat dan melakukan suatu penelitian. Bisa kita simpulkan, setidaknya sekali dalam hidup mereka, meraka menjadi seorang peneliti. Entah itu tugas akhir, skripsi, thesis, dan lain – lain.

Dalam suatu teori pernah disebutkan bahwa bangsa yang memiliki sumber daya yang melek penelitian, maka akan menjadi bangsa yang tangguh. Bagaimana tidak, jika mereka mencintai “penelitian”, maka mereka akan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi bangsa ini. Tidak mustahil, bangsa Indonesia akan merubah Negara Indonesia yang sedang berkembang ini menjadi Negara maju dalam waktu yang cepat. Dalam abad yang mengedepankan teknologi serba mutakhir ini, suatu bangsa akan disebut sebagai bangsa yang unggul bukan lagi karena sumber daya alamnya yang melimpah ruah, bukan lagi karena banyaknya jumlah penduduk yang menghuni Negara ini, akan tetapi keunggulan bangsa ini ditentukan oleh penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK).

Fenomena lain yang terjadi pada masyarakat ilmiah sekarang ini, pemuda – pemudi yang ada di perguruan tinggi yang memilki beban moral terhadap bangsanya, untuk memajukan bangsanya, malah enggan meningkatkan kemampuan IPTEK mereka, mereka enggan melakukan suatu penelitian. Yang ada sekarang ini, dunia kita ini justru dipenuhi dengan hal – hal yang tidak rasional, baik itu yang bersifat mistik, kehidupan glamour ala artis, dan yang lebih ironis lagi mereka justru tertarik pada hal – hal yang hanya membuat mereka senang sesaat, adanya publikasi yang terus menerus tantang bad news malah membuat mereka tertarik, daripada konsentrasi terhadap bidang keilmuan mereka.

Kita lihat saja lingkungan kita, sedikit sekali, bahkan mungkin tidak ada camat, bupati, ataupun konglomerat – konglomerat yang berkantong tebal berlomba – lomba memberi hadiah bagi mereka yang menciptakan hal – hal yang baru melalui penelitian, tidak adanya penghargaan yang sepadan bagi pemenang lomba karya tulis ilmiah, ataupun remaja yang melakukan penelitian. Mereka lebih senang memperikan apresiasi dan dana jor – joran bagi pemenang lomba audisi menyanyi ataupun pemenang lomba sulap yang dalam anggapan mereka para pemenang lomba yang tidak berbasis iptek tersebut sudah pasti ditawari jadi bintang iklan dan bersinggungan dengan nilai ratusan juta rupiah.

Melihat fenomena tersebut, maka muncul suatu pertanyaan, perlukan mahasiswa melakukan penelitian?. H. Fahmi Amhar dalam makalahnya menyatakan bahwa jadi seorang peneliti atau ilmuan di Indonesia ini belum menjadi idola banyak orang, lain dengan menjadi seorang dokter spesialis, jadi selebriti, dan jadi anggota legislatif (yang malah sering bersinggungan dengan penegak hukum). Dan fakta yang ada sekarang, jadi peneliti sekarang ini masih harus menjadi “Oemar Bakrie”, tuturnya. Tunjangan peneliti yang tertinggi (untuk ahli peneliti utama) baru Rp. 1.400.000,00 bersama gaji pokok tertinggi (Rp. 3.000.000,00), seorang peneliti senior (yang konon kepalanya sampai botak) dengan pengalaman akademis minimal 20 tahun, hanya akan membawa pulang kurang dari 5 juta. Jumlah ini bisa didapat Inul hanya dengan goyang pantat selama 10 menit, demikian tutur H. Fahmi Amhar.

Fakta di lapangan, anggaran dana untuk riset di Negara kita ini sangat kecil dibandingkan dengan negara – negara tetangga yang anggaran dana untuk risetnya besar. Karena mereka sadar, penguasaan iptek itu penting. Kalau di Indonesia ? entah, kapan akan maju, jika terus menerus keadaannya seperti ini.

Sebenarnya, suka meneliti tidaklah harus jadi seorang peneliti. Akan tetapi sikap (attitude) dan kemahiran yang didapatkan tatkala duduk di bangku kuliah itu terus dibawa sampai ajal menjemput, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Tidak ada jeleknya, ketika seorang yang pernah dilatih penelitian kemudian menjadi pejabat politik, menjadi wakil rakyat yang duduk di kursi pemerintahan. Karena dengan begitu, dia dia tidak hanya mengikuti gossip murahan, wangsit yang tidak jelas asal – usulnya, atau keputusan dukun belaka, namun bisa menjadi garda depan dalam mengkaji suatu permasalahan secara ilmiah, sehingga keputusan yang diambil itu bisa dipertanggungjawabkan kepada public secara rasional.

Jadi, melakukan suatu penelitian, Perlukah??? Apakah selamanya kita menjadi follower  ataukah kita merubah sikap dan perilaku kita untuk jadi trendsetter ??? tentu jawabannya ada pada diri kita masing – masing.

Arsyad Syauqi

O.R Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: