Keluarga x Persahabatan x Perantauan

23 Mei

23 Mei 2013

#Turn On 19

Waktu menunjukan pukul 6 pagi. Tetes air hujan menerpa wajah saya, pelan dan perlahan turun dari langit. Air yang turun perlahan ini belum menjadi hujan sepenuhnya, indah nian di pagi hari ini. Langit masih mendung, namun di ujung timur terlihat warna semburat kuning ingin keluar. Semua saya saksikan dari lantai 3 asrama saya disini, asrama yang menjadi tempat berteduh, tempat beristirahat, tempat bercengkrama, serta menjadi tempat bagi sebuah keluarga baru. Keluarga dari orang-orang perantauan.

Tatkala beberapa tetes air mengenai wajah saya, ada sebuah gagasan yang muncul dan harus segera dituangkan. Saya segera ke kamar dan membuka laptop, menekan tombol turn on, menunggu sebentar, lalu membiarkan jari jemari saya menari sesuka hatinya dalam lembaran kertas virtual ini.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kabar, seorang sahabat saya jatuh sakit. Bagi saya, dia bukan hanya sebatas sahabat, namun sudah menjadi bagian dari keluarga dalam kehidupan saya. Banyak suka duka yang kami alami semasa saya masih di bangku kuliah dulu. Tentang pelajaran, oganisasi, janji, serta eratnya persahabatan. Keluarga yang terbentuk dari sebuah persahabatan. Ikatan yang terjalin dari rasa saling menjaga dan mengisi. Beberapa hal yang saya saksikan, berhubungan dengan hal ini.

“Kita tidak boleh meninggalkan keluarga”, itulah kata-kata khas yang sering diucapkan oleh Dominic Toretto yang diperankan oleh Vin Diesel dalam Fast and Furious. Seperti film terbarunya yang baru dirilis bulan ini, Fast and Furious 6.

Film yang dari awal sampai akhir selalu dipenuhi adegan laga ini, sungguh kuat pesan moral yang ingin disampaikan. Bukan hanya tentang balapan mobilnya, namun lebih dari itu. Ini bagaimana tentang kekuatan dari sebuah keluarga, keluarga yang terbentuk dari orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru dunia, bergabung menjadi satu untuk memburu buronan kepolisian internasional (Interpol) yang bernama Owen Shaw, yang diperankan oleh Luke Evans, yang juga dekat dengan salah seorang anggota keluarga mereka.

Letty Ortiz, salah seorang anggota keluarga mereka yang sebelumnya telah dianggap meninggal dalam 2 film sebelumnya, muncul di film ini. Dengan berbagai cerita yang mengantarkan sampai pada kesimpulan Letty masih hidup, maka keinginan Dom (nama panggilan untuk Dominic Toretto) untuk menyatukan keluarga ini muncul kembali. Berbagai cerita dan aksi yang seru pun tersaji dari awal sampai akhir film ini, dan yang turut menjadi sebuah kebanggan. Aktor film The Raid, Joe Taslim, ikut andil dalam film ini. Tidak canggung aksinya ketika menghajar Roman Pierce serta Han dengan kemampuan Judonya. Dan ada 2 kata yang menjadi kebanggan Joe dalam film ini, yang tentu saja memakai bahasa ibu pertiwi, “Ve, Hantam mereka”.

Well, kayaknya malah semakin menjauh dari topic. Kalau masih penasaran dengan film ini, saya persilahkan untuk nonton sendiri, pasti seru, hehe.

Kembali lagi tentang keluarga, ada satu film lagi entah sudah berapa puluh kali saya lihat dan selalu bisa membuat saya merasakan hangatnya sebuah persahabatan. Persahabatan yang terjalin antara 3 orang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di India. Ya, 3 Idiots.

Ranchodas Syamaldas Chancad, Farhan Qureshi, dan Raju Rastogi adalah tokoh sentral dalam film ini. Lika-liku perjuangan serta persahabatan mereka semasa kuliah di ICE, Imperial College Enginering, sungguh sayang untuk dilewatkan. Pesan moralnya banyak sekali, bisa diambil dari berbagai adegan yang tersaji dalam film ini.

Inti dari film ini adalah percarian Rancho, nama panggilan dari Ranchodas, yang dilakukan oleh Farhan dan Raju setelah mendapat informasi dari Chatur, teman mereka yang dijuluki Silencer yang gemar makan pete dan kalau sudah buang angin ,hmmmpt, bisa bikin snewen bagi yang menghirupnya.

Dalam perjalanan pecarian Rancho, alur mundur pun menceritakan semua kejadian yang mereka alami semasa kuliah. Cerita tentang persahabatan yang luar biasa, sampai ketika Raju sakit dan terbaring koma di rumah sakit. Kedua sahabatnya memberikan dukungan penuh sampai Raju sadar dan bisa mengikuti tes wawancara kerja. Sampai Farhan diterima oleh seorang Fotografer tingkat dunia untuk magang bersama. Sampai saat mereka semua bertemu, di suatu pantai, dengan cerita kesuksesan mereka masing-masing.

Kedua film diatas, tentang persahabatan, dialami mereka yang sedang melakukan perantauan. Ketika semua merasa senasib dan seperjuangan, maka seiringnya waktu, persahabatan akan memasuki babak baru, menjadi sebuah keluarga.

Hari demi hari terlewati, dan saya mendapatkan kabar lagi kalau sahabat saya sudah mulai membaik kesehatannya. Sungguh senang hati ini mendengarnya. Kalau ingat tentang canda tawanya, senyum simpulnya serta berbagai hal yang pernah kami lakukan dulu, seakan semua terbayar sudah tatkala mendengar dia sudah sehat kembali. Berbagai kegiatan juga sudah menunggunya untuk dilakukan, karena saya tahu, dia bukan tipe yang suka berpangku tangan.

Ketika dia pernah bilang, dan juga teman-teman dari Marginal team, banyak belajar dari saya selaku kakak tingkatnya, saya bilang kepada mereka bahwa saya lah yang lebih banyak belajar dari mereka. Bukan hanya tentang kuliah, ataupun pekerjaan, tapi ini adalah sebuah keluarga. Sungguh sangat membahagiakan ketika anggota keluarga berkumpul, saling mengisi dengan diskusi serta canda tawa, saling memberikan masukan yang lebih baik. Oh, alangkah indahnya.

Perantauan ini, membukakan mata hati bahwa persahabatan bukanlah hanya sebatas sahabat, namun melebihi itu semua, sahabat telah berubah menjadi sebuah keluarga, hanya jarak yang memisahkan, namun keberadaan keluarga ini, tidak akan pernah bisa diputuskan.

Dimanapun engkau serta kalian semua berada sekarang, saya berdoa semoga Allah selalu membimbing kita ke dalam jalanNya. Semoga kalian senantiasa sehat, dan bagi yang sedang diberikan cobaan berupa sakit, semoga bisa sabar, insyaallah Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita semua. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali dan menceritakan kesuksesan kita masing-masing. Aamiin.

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: