Berkawan Dengan Ketakutan

20 Mei

20 Mei 2013

#Turn On 17

Hampir 4 hari ini saya merasakan kebosanan yang sungguh mengganggu. Entah apa yang terjadi. Apakah fisik ini butuh istirahat atau pikiran yang lebih membutuhkannya. Imbasnya, saya pun baru bisa menulis hari ini.

Mulai dua hari yang lalu setelah menulis bagian yang keenam belas, saya memang menargetkan untuk membaca dulu. Itung-itung menabung kosakata baru untuk bekal menulis selanjutnya. saya telah merampungkan membaca separuh tulisannya Muhammad Assad dalam bukunya Notes From Qatar 2. Betapa cerita pemuda ini luar biasa di mata saya. Selain dikenal sebagai Scholarship Hunter untuk S1 dan S2 ya, koneksinya, wiiih, mantap. Dia pernah makan lesehan bersama pak JK dan Rahmat Gobel di Qatar, iya, lesehan. Lalu bermain basket dengan pak Sandiaga Uno, bercengkrama dengan Ustad Yusuf Mansur, dan masih banyak orang-orang hebat yang menjadi sahabatnya.

Ternyata saya merasakan ketakutan. Ketakutan yang tidak beralasan. Nah, ini penyakit yang harus segera dibuang jauh-jauh. Namun, apakah wajar kalau manusia takut? Sangat wajar, ini merupakan salah satu hal yang dialami setiap manusia. Namun, ketakutan ini harus dikelola untuk membangun diri kita lebih baik, bukan malah menjadikan kita menadi terpuruk.

Berbicara tentang ketakutan. Saya menjani profesi ini pun berawal dari ketakutan. Banyak teman-teman yang bertanya, “apa gak takut jadi perawat? Kan banyak darah, kan sering menyuntik orang”, apalagi saya yang bekerja di kamar bedah alias kamar operasi, hampir tiap hari berhadapan dengan pekerjaan bedah membedah bersama dokter bedah, “gak takut ya mas liat bagian dalam perut manusia? Gak takut ya mas liat banyak darah?” dan sederetan pertanyaan lainnya yang pernah ditujukan kepada saya.

Saya menjadi berani dalam hal ini bukanlah sesuatu hal yang tiba-tiba saya dapatkan. Keberanian ini saya dapatkan melalui sederetan proses yang lumayan panjang. Padahal dulu, saat saya masih kecil, melihat orang kecelakaan yang ada di dekat rumah saya, saya adalah orang pertama yang melarikan diri alias penakut. Kok bisa-bisa nya sekarang malah akrab dengan hal-hal yang dulu saya takuti.

Masuk ke akademi keperawatan pertama kali, saat mata kuliah Anatomi Fisiologi. Saat kuliah baru mulai, saya masih ingat betul, saya diperlihatkan gambar rahim (uterus) yang diangkat karena ada penyakitnya (mioma uteri dan dilakukan total hysterectomy), dan rahim itu diletakkan dalam sebuah wadah yang belakangan saya tahu itu namanya Bengkok (Kidney Tray atau Nirbeken). Saya terus terang merasa takut, namun saat diperlihatkan gambar tim operasinya yang berbaju hijau-hijau, kok saya malah merasa senang. Entah saat itu dengan saat ini saya rasakan kok ada hubungannya, namun ya Wallahu a’lam juga, Allah yang lebih tahu.

Lalu pembelajaran pun berjalan, semester demi semester saya lewati. Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran bagi saya dalam mengikuti perkuliahan. Posisi 10 besar pun saya sering meraihnya. Berbagai tugas pribadi dan kelompok Alhamdulillah bisa saya kerjakan.

Sampai saat itu tiba. Praktik. Pertama kali praktik keluar akademi adalah di Laboratorium FK Undip di RSUP dr. Kariadi Semarang. Saat itu kami praktik mata kuliah Mikrobiologi. Memasuki ruangannya, awalnya biasa-biasa saja. Namun setelah masuk lebih dalam, berbagai tabung yang berisikan formalin (cairan pembalseman) berderet-deret di ruangan tersebut dengan berbagai hal yang diawetkan didalamnya. Ada berbagai organ manusia, bayi hasil abortus, dan macam-macam benda yang membuat saya mual dan takut pada saat itu. Namun setelah beberapa kali datang ke tempat itu, Alhamdulillah ketakutan saya berangsur-angsur menurun dan menjaid biasa.

Lalu praktik perdana di akhir semester dua. Kami dari kelas regular A2 ditempatkan di Rumah sakit Daerah Tugurejo Semarang. Minggu pertama, saya mendapatkan jadwal di ruang penyakit dalam. Berbagai macam karakteristik orang yang sakit, mulai dari TBC, Hepatitis, sampai Gula yang tidak terkontrol alias Diabetes yang pada saat itu ada pasien yang kakinya sakit dan lama lembuhnya hingga berbau yang kebanyakan orang tidak tahan baunya, karena sudah terifeksi menjadi gangrein. Saya pun takut saat pertama kali masuk ke ruang tersebut, namun setelah dijelaskan dan diberikan contoh bagaimana praktik disana, ketakutan pun dapat di manage agar kami bisa memberikan asuhan keperawatan secara baik dan benar.

Lalu berturut-turut kami mendapatkan jadwal praktik di ruang penyakit Kusta, lalu ruang perawatan pre dan post pembedahan. Di minggu keempat saya praktik inilah, saya bertemu dengan seorang nenek yang mempunyai penyakit wasir (ambient atau hemoroid) stadium akhir, sehingga setiap dia BAB, akan mengiritasi pembuluh darah vena yang membesar di bagian anus. Kalau anda pernah mendengar varises yang ada di kaki, nah, ini hampir sama, namun tempatnya di anus.

Saat itu saya mendapatkan tugas membersihkan (maaf) daerah anus nenek tersebut setelah di BAB, jadi saat itu ada darah juga yang keluar. Sebelum menuju ke pasien tersebut, saya pun merasa ketakutan. Berkat dukungan dari teman-teman, saya pun maju dan melakukannya. Alhamdulillah saya pun bisa mengalahkan ketakutan saya tersebut.

Saya pernah takut dan sampai merasa pusing saat praktik di ruang bedah saraf RSUP dr. Kariadi. Ketika itu, saya belum tega melihat anak kecil yang menderita Hidrocepalus. Saya yakin anda juga pernah melihatnya, anak kecil dengan kepala besar karena kelainan saat lahir atau istilahnya penyakit kongenital.  Jangan dibayangkan saya langsung berani, tidak, saya sampai harus menjauhkan diri dari ruang perawatan untuk beberapa waktu untuk menenangkan diri saya. Setelah hampir 15 menit menjauh dan berdiam diri. Alhamdulillah saya kuat meneruskan kegiatan praktik saya bersama teman-teman.

Nah, untuk ketakutan yang tidak berasalan. Ini merupakan yang paling mengganggu. Alhamdulillah dengan berfikir positif, ini juga saya perlu belajar. Dengan membaca hal-hal yang positif (saat ini saya sedang membaca buku Seven Heroes nya Kick Andy yang terbit tahun 2009), mengingat segala jerih payah orang tua sampai saya bisa sejauh ini, dan juga, berbagai hal yang pernah saya hadapi, ketakutan demi ketakutan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan saya. Semua bisa teratasi, dan yang paling penting, takut kepada Allah SWT. Adalah sebenar-benarnya takut yang mesti kita pikirkan dan kita laksanakan.

Takut kepada Allah SWT., dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, sedari kecil kita diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua dan guru-guru kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah sebenarnya-benarnya takut kepada Allah SWT?, Sang Maha Pemilik Alam Raya ini.

Arsyad Syauqi

O.R. Nurse

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: