Pertemuan Ke 3, Marginal Team

17 Mei

#Turn On 15

Entah dibilang tidak sengaja atau memang ini sudah digariskan. Yang jelas, saya menemukan kembali tulisan tangan saya hampir 3 tahun lalu yang berada di sebuah buku catatan di kamar saya malam ini. Tulisan pada bulan September 2010. Mengingatkanku pada teman-teman yang menjadi partner belajarku selama kuliah. Menjadi ajang debat, diskusi, atau sekedar sharing hal-hal kecil. Merekalah, Marginal Team.

Marginal, sebuah team dengan misi membimbing adik tingkat yang baru dengan tujuan menghilangkan jarak. Menghilangkan kesan senioritas, tidak berkawan dengan anak baru, dan merupakan suatu pelarian buatku. Karena memang pada dasarnya aku tidak betah sendiri, butuh komunitas untuk berbagi, (baik itu) pengalaman, suka duka, dan segala bentuk dari berbagai hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Mau tahu Marginal terispirasi darimana? Mengapa tidak memakai kata Shadow seperti tahun lalu. Berasal dari ketidaksengajaan melihat tulisan di kaos milik seorang teman, di kaos itu ada tulisan “Marginal, famous is not everything”. Aku teringat akan diriku, terkenal tidak, (sering) terpinggirkan dari komunitas mayoritas, iya, haha.

Mengapa terpinggirkan dari komunitas mayoritas. Mayoritas yang bagaimana? Mayoritas dalam pandanganku sendiri, kalau ada yang sama, berarti tidak ada unsur kesengajaan, karena ini nyata, bukan fiktif yang seperti ada dalam sinetron-sinetron yang gak jelas ceritanya itu.

Mayoritas anak kampus (kalau) libur pulang, padalah di rumah juga kemungkinan tidur, hehe. Dan suka mendadak, maju presentasi, mendadak, ujian tanpa persiapan, mendadak, tugas-tugas yang diselesaikan tidak tepat waktu, mendadak, akhirnya lulusnya, mendadak. Iya kalau paham tidak apa-apa, kalau tidak, maka akan datang yang namanya celaka secara simultan : mendadak.

Marginal, bisa dibilang pinggiran. Tapi bila margin ini kuat, tentu akan membawa dampak yang signifikan. Ibarat pizza, marginnyalah yang lebih enak, jika ingin yang lebih besar, kehidupan serba maju di Australia lah yang bisa dijadikan contoh. Kehidupan margin maksudnya mayoritas kehidupan yang ada di pinggir negara raksasa itu malah berkembang. Ditengah-tengahnya malah terbentang gurun yang luas, kehidupannya tradisional, kembali lagi ke Marginal, bukan soal Australia, tapi inilah Indonesia Raya.

Refleksi dari Shadow team, eksperimen 10 orang, 1 semester, telah memunculkan 3 orang peraih top rank dalam perolehan nilai tertinggi. Tapi, beda dengan Shadow – bukan berarti membedakan-, Shadow merupakan kebanggan tersendiri, mereka pandai, pintar, cakap, dan yang paling penting, mereka telah mengajariku bagaimana cara bersosialisasi, belajar menghargai, mendebat dengan etika, berprasangka tanpa menyakiti. Inilah Shadow, Independent People.

Berangkat dari latar belakang Shadow yang demikian, terlahirlah nama Marginal yang tiba-tiba. Seperti pemberian nama Naruto oleh gurunya, Jiraiyya. Yang digambarkan dalam ceritanya, diambil secara tidak sengaja dari nama (merk) mie ramen. Naruto yang berarti pusaran, sejak kecil diasingkan, ketika dewasa malah jadi tumpuan, anak dalam ramalan, tekad, semangat, serta keberanian dalam menentang segala ketidakmungkinan.

Harapanku juga sama, semoga pemberian nama Marginal yang tidak sengaja ini bisa mewujudkan tali silaturrahim yang kuat. Tidak terpisahkan oleh usia, tempat, dan waktu. Melihat senyum mereka, sudah memberikanku arti lebih, dalam kehidupan ini. Teringat pesan Ibnu Sina, pakar kedokteran yang dimilki umat islam, kata-kata tersebut bukanlah kata yang sembarang diucapkan. Pendapatnya begini, “Aku lebih baik hidup sempit dalam keluasan daripada hidup luas tapi dalam kesempitan”.

Karena kita hanya manusia yang tidak akan pernah mengerti sampai kapan masa aktif kita di dunia ini. Diriku belumlah menjadi manusia yang bisa menciptakan sesuatu yang besar, tapi setidaknya, aku ingin meletakkan apa yang menjadi sekehendak hatiku. Karena aku yakin. Kata hati pastilah benar.

Marginal, merupakan laboratoriumku. Laboratorium perilaku yang mewakili beberapa tempat di provinsi ini. Dari mereka aku belajar, dari mereka aku mengenal, dari mereka aku menemukan sahabat yang baik, menyenangkan, yang tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Setiap pertemuan memiliki arti tersendiri bagiku. Setiap pertemuan yang diawali dengan doa yang khidmat, karena kami yakin, ilmu itu sepenuhnya milik Allah SWT. Kita sebagai hambaNya, harus meminta kepada Beliau, Sang Maha Pemilik Segala Ilmu. Seusai berdoa, teman-teman Marginal diharuskan menuliskan keluhan mereka pada selembar kertas.

Nah, disini uniknya, ketika semua keluhan itu terkumpul dan kubaca. Seakan aku terlempar ke masa lalu yang penuh dengan berbagai pengalaman, yang menyenangkan, tidak menyenangkan, semuanya.

Terlempar tanpa melalui mesin waktu, tanpa pintu, langsung. Alam bawah sadarku seakan membuka semua ingatan masa lalu dengan otomatis, tanpa perlu kunci pembuka, tanpa adanya kode rahasia, bahkan tanpa hal-hal yang tidak pernah kusadari semuanya.

Pengalaman pahit masa lalu menjadi senjata andalan untuk merubah masa depan. Merubah suatu perilaku yang berimbas pada kenyataan serta realitas yang bisa diprediksi. Seketika itu, lembaran demi lembaran kubaca, hatiku senang tiada terkira.

Prinsipku, kesalahan yang pernah kulakukan, lubang yang pernah membuatku jatuh dan terpeleset, jangan sampai membahayakan adik kelasku. Jangan sampai mereka jatuh pada lubang yang sama, karena aku, lebih suka melihat orang yang tersenyum dengan bahagia daripada melihat hal yang menjadikan sedih tanpa arti.    

Terima kasih tiada terkira untuk 3 sahabatku yang selalu menemani dalam membimbing Shadow dan Marginal. Ahmad Sholih, Evi Kurniati serta Dyah Faria Utami, semoga kalian sukses dimanapun kalian berada sekarang kawan…

17 Mei 2013

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: