Mahfud Wafda x Kebebasan x Harapan

15 Mei

#Turn On 15

Batam pagi ini diselimuti hujan lembut yang turun perlahan, menyejukkan hati bagi siapa saja yang bangun pagi, yang segera mengambil air wudlu serta segera bersujud kepadaNya, berdoa, mendoakan serta minta didoakan, alangkah indahnya pagi ini.

Masih dalam suasana hari ulang tahun adik kandung saya. Saya ingin membuat catatan kecil tentang dia, semoga suatu saat dia membacanya, kapan saatnya itu? Saya pun belum tahu.

Tadi malam saat saya membaca Quote Cak Nun di Twitter, saya menemukan kata-kata bagus yang isinya seperti ini, “kadang kita sebagai orang tua seringkali menjadi “penjajah” bagi anak kita sendiri, sebab kita terlalu memaksakan sesuatu/menginginkan anak kita menjadi sesuatu tanpa memperhitungkan bakat, minat dan hak anak untuk tumbuh sebagaimana potensi yang dimilkinya”

Ketika membaca penggalan dari kultwit tersebut, saya teringat adik saya dan sedikit cerita tentangnya saat proses memasuki Pondok Modern Gontor di Ponorogo, saya mau share kepada para pembaca sekalian, semoga bermanfaat.

Nama lengkapnya Mahfud Wafda, lahir di Kudus, 15 Mei 1997. Saya mengikuti perkembangannya dari kecil sampai sekarang, hanya bedanya, semenjak saya kuliah tahun 2008, saya sudah jarang bertatap muka langsung, maklum, karena saat itu saya mulai kos di Semarang.

Waktu masih kecil, aduuh, susah kalau diminta sekolah, masuk TK pun, kadang mau kadang enggak, lebih banyak gak mau masuknya, hehe. Giliran saudara-saudara sepupu sudah lulus TK, baru ia mau masuk.

Masuk SD 03 Sambung, masih dengan wajah polos serta (maaf ya Fud) agak cerewet, hehe. Karena suka berbaur serta cepat dengan siapapun itulah, yang akan mengantarkannya pada kondisi mudah diterima dimana saja.

Saya masih ingat betul ketika di SD, dia ikut dokter kecil, dan saat kelas 5 (ini yang membuat saya saat itu merasa iri sekaligus bangga dengan dia), dia benar-benar memborong 11 seritifikat juara berbagai perlombaan dalam satu tahun. Mulai dari cerdas cermat, pramuka, bermain alat musik, serta berbagai lomba lainnya. Bahkan saat kelas 6 dan mendekati ujian, dia masih diminta untuk ikut lomba yang entah nama lombanya saya lupa.

Masuk MTs Nahdlatul Muslimin, Undaan, Kudus. Satu almamater dengan saya, ketika itu tingginya hanya selisih 10 cm dari saya. Ketika saya kuliah, tinggi badan saya 174 cm dan ketika dia kelas VII MTs, tingginya sudah sekitar 164 cm. wah, benar-benar pertumbuhan yang cepat.

Disini pun, dia cepat beradaptasi. Dan darah organisasipun mengalir deras dalam urat nadinya, walaupun terkadang beberapa guru ada yang membandingkan dengan saya di beberapa hal. Saya bilang ke dia, “kita ini, walaupun bersaudara, tapi kita punya kelebihan dan kelemahan masing-masing, jangan disamakan, jadi kalau diomongkan orang, ya dengarkan saja, tidak usah terlalu serius ditanggapi, biar mereka berpendapat, karena kita lah yang berbuat”.

Benar saja, kelas VII sudah masuk pengurus OSIS dan kelas VII dia terpilih sebagai ketua OSIS. Hemm, benar-benar anak ini. Walaupun kami sama dalam hal fisik, kurus maksudnya, namun kami secara berproses dalam kegiatan demi kegiatan, menjadikan kami semakin tahan dengan berbagai keadaan dan situasi. Alhamdulillah, inilah salah satu keuntungan ikut berbagai organisasi. Ditempa di panasnya siang hari, kadang begadang di malam hari, dalam menyiapkan acara serta kegiatan yang telah terjadwal di kalender organisasi.

Selanjutnya, setelah dinyatakan lulus UN. dia bimbang ingin melanjutkan kemana, saat itu saya bertanya kepada dia, “Fud, kamu ingin melanjutkan sekolah kemana?”, dia menjawab. “Saya ingin ke SMA Negeri yang ada di Kudus mas”, saya Tanya balik, “kenapa ingin kesana”, “karena banyak teman saya yang kesana mas”, ucapnya. “jadi kamu sekolah ikut teman atau mau cari ilmu?”, saya melanjutkan. Mahfud masih terdiam, saya melanjutkan pembicaraan, “ya sudah, begini saja, saya punya ide, kamu datangi sekolah yang kamu sukai dan saya usul kamu baca novel Negeri 5 menara dan datangi Pondok Modern Gontor di Ponorogo, setelah semua kamu datangi, silahkan cari  sekolah terbaik yang menurut kamu cocok”, dia pun menyanggupi.

Mengapa saya memberinya Novel itu,?, bagi saya, Bang Ahmad Fuadi telah secara jelas menggambarkan keadaan di Gontor dengan detail dan mudah untuk dipahami. Saya berkeyakinan, ketika kita menguasai ilmu alat (ilmu bahasa), maka dunia akan mudah dijelajahi, karena kita sudah memegang kuncinya.

Ini pendapat pribadi saya tentang SMA Negeri yang ada hubungannya dengan Mahfud, bukan saya tidak suka, toh nyatanya saya juga dari Madrasah Aliyah (MA) swasta, bukan negeri, namun saya melihat Mahfud akan lebih berkembang disana, dengan sistim pondok dan belajar bahasa 24 jam sehari, bahasa arab dan bahasa inggris, didukung dia yang suka ngomong alias agak cerewet, hehe.

Setelah beberapa hari tidak ada kabar, dan setelah dia berkunjung ke Gontor bersama bapak saya. Sampai disana malah tidak ingin pulang, ingin langsung disana, weleh, weleh, bocah yang satu ini. Padahal saat itu niatnya kan berkunjung, lihat-lihat dulu, kok malah minta langsung sekolah, langsung ditinggal saja, haloooo, kan belum bawa uang pendaftaran, belum bawa perlengkapan untuk tinggal lama disana, hehe.

Dalam sebuah film India yang sudah lama saya tonton yang berjudul “Taare Zameen Par”, ada ungkapan bahwa “Every Children Is Special”. Jadi tinggal kita menemukan kelebihan itu, dan kita arahkan ke jalan yang sesuai, bukan memaksakan kehendak harus kesini, harus kesitu. Yang ada, minat dan potensinya tidak berkembang, malah anak senantiasa merasa di bawah tekanan, belajar pun tidak nyaman, pencapaian juga tidak maksimal.

Sekarang, sudah setahun Mahfud disana, dan kalau ngomong bahasa arab mulai cas, cis, cus, saat pulang liburan kemarin, dia update status di facebook pun pakai bahasa arab. Saya kalah deh kalau tentang yang satu ini, maklum, dia disana, setiap hari ngomongnya pakai bahasa arab, bahkan kalau ada kesalahan, kakak tingkatnya pun marahnya pakai bahasa arab,

Saat saya berkunjung kesana akhir Oktober tahun lalu, saya merasakan atmosfer belajar yang luas biasa disana. Mungkin karena baru kali ini saya menjumpai sistim pembelajaran seperti ini. Disiplinnya, hormat sama kakak tingkatnya, semuanya, luar biasa.

Satu lagi hal yang membuat saya terkesan, untuk sekarang dan seterusnya. Masuk Gerbang Gontor, langsung disuguhi tulisan gede yang membuat para siswa dan kita akan selalu berfikir tentang kehidupan kita, “Ke Gontor, apa yang kamu cari?”

Bagaimana dengan kita???

16 Mei 2013

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: