Suatu Malam di Nongsa

7 Mei

#Turn On 10

“Kalau liburan ya yang maksimal, begitu juga kalau kerja juga yang maksimal”, itulah salah satu pesan guru saya dulu ketika masih kuliah. Mengapa demikian?, kita sering tidak fokus, sering tidak konsentrasi. Tatkala kuliah, saatnya belajar, malah berfikirnya entah kemana. Lalu saat liburan tiba, eh, malah tugas yang dipikirkan. Jadinya, saat belajar berfikirnya malah libur, sebaliknya, saat liburan malah pikirannya melulu tentang tugas. Kacau, kacau. Hehe

Dari siang tadi saya berada di Nongsa. Daerah yang masih asri, sejuk, namun tetap panas di siang hari (ya iyalah, namanya juga siang hari, hehe). Sudah hampir satu setengah tahun saya di Batam, dan sudah 4 kali saya kesini. Silaturahim ke tempat saudara saya, saudara yang masih satu Buyut. Memang terakhir saya kesini saat lebaran fitri tahun lalu, dan sudah berkali-kali saya diminta saudara saya untuk kesini. Karena memang mempunyai kesibukan masing-masing, beberapa kali juga saya mau kesini juga tidak jadi, dan akhirnya hari ini saya bisa kesini. Alhamdulillah

Saya tertarik dengan cerita saudara saya, saat sore tadi saya diajak ke beberapa pantai yang ada disini. Hmmmpt, indah nian pemandangannya. Cerita tentang Batam ya dimulai dari Nongsa. Nongsa adalah sebutan dari warga keturunan Tionghoa yang kesulitan mengucapkan kata Noeng Isa. Jadi simpelnya ya diucapkan Nongsa. Noeng Isa sendiri adalah sebutan bagi Raja Isa bin Raja Ali yang menurut warga di Nongsa, nama aslinya adalah Nur Isa. Noeng Isa adalah rang pertama yang memerintah daerah Nongsa dan sekitarnya atas mandat dari Sultan Riau Yang Dipertuan Muda Riau VI. Nah, dikeluarkannya surat mandat tersebut adalah pada tanggal 22 Jumadil akhir 1245 atau bertepatan dengan 18 Desember 1829. Lalu, setelah terjadinya peristiwa itu, tanggal 18 Desember ditetapkan sebagai hari jadi kota Batam.

Saya tidak puas hanya dari cerita masyarakat saja. Lalu saya melakukan riset kecil-kecilan menggunakan netbook dan modem yang sering saya bawa dalam day-bag yang sudah menemani bertahun-tahun ini. Ternyata asal usul nama kota Batam ini juga memilki sejarah yang panjang. Saya masih penasaran dan terus mencari di beberapa literature terutama yang dikeluarkan oleh web nya pemerintah kota Batam. Ketemulah dengan kata “The Batam Brick Works”, sebuah perusahaan batu bata yang terkenal kala itu. Entah mengapa dari nama perusahaan batu bata kok bisa jadi sebuah nama kota ya?. Kenapa tidak Nongsa saja yang dijadikan nama kotanya ya ?. padahal jelas-jelas Noeng Isa lah yang menjadi cikal bakal di daerah ini?, menarik untuk diberbincangkan memang.

Kembali ke Nongsa zaman sekarang. Kalau anda jalan-jalan kemari, pertama kali akan dimanjakan dengan jalan rayanya yang mantap dah pokoknya. Mulus bagaikan apa hayooo?, bebas macet dan pemandangannya yang aduhai. Disini banyak resortnya, lapangan golfnya gede-gede. Namun sayangnya, kebanyakan dikelola oleh pihak asing. Dan yang sering menggunakannya juga orang-orang yang hidungnya mancung-mancung itu.

Jika melihat dari pelabuhannya, Nongsa sendiri punya dua pelabuhan. Padahal daerah lain hanya punya satu, seperti di Batam centre, Sekupang, dan Harbour Bay. Padahal kalau sekilas dilihat, disini itu sepi. Rumah penduduknya juga jarang-jarang. Namun menurut penjaga pelabuhannya, tiap hari ramai terus pelabuhan yang ada disini. Heran saya. Ketika melihat kebanyakan orang disini senang jalan-jalan ke Singapura, malah orang –orang dari Singapura sana senang jalan-jalan disini, ya klop lah. Yang satu pengen melihat gedung-gedung megah, tinggi, dimana-mana aspal dan beton saling bersaing megah dan mewahnya, dan yang satu lagi ingin menikmati indahnya daerah yang hijau, masih asri dan yang terpenting, bebas polusi.

Baiklah, kebebasan bagi tiap orang dalam menentukan pilihannya. Termasuk pilihan dalam berliburnya. Hanya berharap, negeri yang kaya dan indah ini jangan sampai lambat laun kepemilikannya menjadi milik orang asing. Memang daerahnya tetap tidak bergerak, masih diam anteng gak kemana-mana. Tapi ya lucu kalau suatu saat kita mau ke Nongsa yang indahnya gak karu-karuan ini malah masuknya harus pakai dolar. Hehe.

Membaca sejarah, bukan hanya lewat tulisan yang telah diabadikan oleh tangan-tangan penulis yang sudah mendahului kita. Namun membaca sejarah juga dengan mendatangi daerah-daerah yang masih ada dan memancarkan auranya, mereka masih ada dan terus berharap kita menjaganya. Tidak menjualnya hanya untuk kepentingan pribadi.

Nongsa malam ini terasa temaram, terasa hangat, sehangat sambutan keluarga saudara saya dalam menerima saya dan tamu-tamunya dalam jalinan persaudaraan.

O.R. Nurse

Arsyad Syauqi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: